Wednesday, December 08, 2010

Mavericks, Mother and Soldier


Catatan kenangan 28 tahun wafatnya Bapak Kastanto Hendrowiharso

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Hari Sabtu dan Minggu adalah hari humor keluarga.

Karena hari itu ayah saya, almarhum Kastanto Hendrowiharso (1928-1982), datang dari Yogya. Sebagai seorang prajurit TNI-AD, ia berdinas di Yogyakarta. Sementara keluarganya tetap tinggal di Wonogiri.

Saat itu, tahun 1966, saya duduk di bangku klas 6 SD Wonogiri III. Ketika lulus saya memperoleh piagam setengah kuarto dengan ketikan yang border-nya berupa tanda uang Amerika Serikat : $$$$$$$. Piagam itu sebagai tanda “Pemegang kedjuaraan ketjakapan didalam kelasnja.”

Yang menandatangani adalah Pengurus Persatuan Orangtua Murid (POM), terdiri pimpinan sekolah Siswomihardjo (ayah dari pelukis Godod Sutejo), ketua Hadisoebroto (ayah dari teman saya, Sugeng Sudewo) dan secretaris (memang tertulis pakai huruf “c”), Samto, bapak guru kelas 5 saat itu.

Saya tidak ingat lagi pada momen apa piagam itu saya terima. Hanya berkat ketelatenan ayah saya yang menyimpan dan melaminasinya dengan, plastik walau toh sebagian pinggirnya sudah gripis dimakan rayap, kenangan tentang masa 44 tahun yang lalu itu dapat tertayang. Memang hanya sepotong-sepotong.

Yang pasti, kehadiran ayah setiap Sabtu dan Minggu merupakan hari kegembiraan bagi kami bertuju, anak-anaknya saat itu. Kini anaknya ada sepuluh. Antara lain, Mayor Haristanto, Bhakti Hendroyulianingsih, Broto Happy Wondomisnowo sampai Basnendar Heriprilosadoso yang kreator logo Galeri Nasional di Gambir, Jakarta. Dalam foto di bawah ini, saya paling kiri, diambil tahun 1960. Ke kanan : Budi, Bari dan Mayor bersama Ibu. Dari istri kedua, Ibu Suminten, keluarga kami kemudian dikaruniai tiga putri : Bonar Heni Sumponorini, Dwi dan Yayuk.




Karena absennya figur bapak antara hari Senin sampai Sabtu, yang orangnya disiplin dan cermat, mungkin justru yang agak memberi “hawa bebas” bagi anak-anaknya. Bebas guna menyuburkan perilaku sikap-sikap kreatif bagi anak-anaknya pula. Bermain di kali Bengawan Solo (“kalau ketahuan, dihukum a la waterboarding-nya Dick Cheney, yaitu diguyuri air sampai kedinginan dan rada gelagepan”), berbagi humor, berkartun, melukis, dan menulis.

Pendek kata, memperoleh gemblengan tak sengaja untuk menjadi maverick :-). Boleh jadi karena hal itu pula, sehingga tak ada satu pun anaknya ketika dewasa tertarik mengikuti jejaknya sebagai tentara. Karena tentara merupakan sosok yang sepertinya “tidak kreatif” di mata kami. Terlalu banyak peraturan dan kekangan :-).

Cerita-cerita baru. Kegembiraan karena kedatangan ayah itu berkesan terutama bagi saya, sebagai anak pertama. Karena kami akan memperoleh cerita dan cerita baru yang dibawa beliau dari kota. Juga terkadang dongengan mengantar tidur.

Misalnya dongeng tentang Joko Kusnun.

Pemuda desa itu berkerjanya berjualan layang-layang. Suatu hari, naas, dirinya tertimpa hujan deras. Sehingga barang dagangannya rusak. Karena takut dimarahi ayahnya, ia tidak pulang ke rumah. Ia menggelandang di kota, tidurnya di pohon.

Kalau Anda melihat dua pohon beringin di depan gerbang kebon rojo, Taman Sriwedari Solo, saya selalu membayangkan Joko Kusnun memang tidur di sana. Di cabang pohon tersebut. Ia ditemukan sang raja ketika hendak bercengkerma di taman raja itu. Ia lalu mengabdi, sebagai punggawa istana.

Cerita lucu dari ayah saya meledak di mata anak-anaknya bila ia melakukan act out, yaitu menirukan beberapa aksi temannya sesama tentara. Misalnya ada tentara yang disebut nyentrik, yang seperti ayah saya setiap Sabtu akan pulang kampung. Ketika disapa, si teman tersebut akan selalu menjawab : “Biasa dik, minggon !”

Suatu saat lain, sang tentara teman ayah saya yang nyentrik itu berseru : “Tai asu ! Tai asu !” Rupanya ia menemukan kotoran anjing di halaman asrama tentara.

Kami langsung terserap perhatiannya.
Misalnya, apa yang akan terjadi dengan kotoran anjing tersebut ?

Dalam dunia mengkreasi lawakan, pancingan itu lajim disebut sebagai sebuah set up, jebakan. Disusul kemudian titik ledak yang tak terduga-duga, berpotensi mengguncang, memberikan kejutan, juga tawa, yang biasa diberi label sebagai punchline. Pak tentara nyentrik itu ternyata lalu bilang :

Nggo rabuk !”
Untuk pupuk.
Guna mempersubur tanaman.

Begitulah, ucapan “Biasa dik, minggon !” sampai kisah heboh kotoran anjing itu tetap sering muncul dalam cerita-cerita keluarga kami. Sampai kini.

Mendongeng di kelas. Momen lomba melucu antaranak juga terjadi ketika kami bermain remi. Ayah melawan anak-anaknya. Karena merasa memiliki status setara, maka ketika sang ayah mengalami kekalahan dalam permainan, dan harus menjadi pengocok kartu, ejekan pun berhamburan.

Kami sering menyebut-nyebut merek minyak obat gosok, yang berkhasiat menyembuhkan rasa capek bapak ketika harus dihukum sebagai pengocok kartu.

Reuni lomba melucu antaranak itu, bahkan sejak tahun 1987 memperoleh arena yang lebih luas. Melibatkan keluarga besar keturunan kakek-nenek dari garis Sukarni (1933-1993), ibu saya, yang bernama Trah Martowirono. Reuni tahun 2009 berlangsung di Benteng Vrederburg, Yogyakarta.

Mungkin karena gojlokan memperoleh cerita dan cerita itu, membuat salah satu pelajaran favorit saya di sekolah dasar adalah bercerita di depan kelas. Seingat saya, kalau teman-teman lain seperti almarhum Slamet Hartanto dan almarhum Suparno sering mengulang cerita mengenai kucing kurus melawan kucing gemuk, seingat saya saya pernah bercerita tentang Pemberontakan di Kapal Tujuh, Tenggelamnya Kapal RI RI Matjan Tutul, sampai Hikayat Indera Bangsawan.

Cerita dan dongeng rupanya menyemaikan kegemaran saya terhadap bacaan Buku favorit saya saat itu adalah serial novel Nogososro Sabukinten, karya S.H. Mintardjo. Seingat saya, pada jilid pertama, pembukanya berupa kalimat bernuansa menakutkan : “Awan hitam bergulung-gulung di langit Mataram,” yang kemudian sering saya contek dan saya modifikasi ketika ikut lomba mengarang.

Mungkin Pak Mintardjo terilhami oleh kalimat yang sering disebut-sebut sebagai contoh baris pembuka dalam pelajaran mengarang, yang berbunyi : “It was a dark and stormy night” yang terkenal itu.

Setiap awal bulan, ketika novel tentang Maheso Djenar itu terbit, saya menulis dalam sebuah kertas kecil. Misalnya, “Nogososro Sabukinten, jilid 10.” Lalu kertas itu saya masukkan diam-diam di kantung baju seragam ayah saya. Di hari Minggu sore. Sebelum ia kembali bertugas ke Yogya.

Mungkin dari hanya terbiasa menulis judul–judul buku di kertas kecil itu, saya kini menjadi memiliki kegemaran untuk menulis. Hingga mampu menghadirkan buku humor yang ketiga, dengan judul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010) yang diluncurkan awal Desember 2010 ini.

Pasalnya, kertas kecil di saku baju tentara ayah saya itu, memang menghadirkan mukjijat. Karena pada hari Sabtu sore minggu depan saya telah memiliki buku baru dan bacaan baru, yang sangat saya idamkan.

Terima kasih, Pak Kastanto.
Juga Ibu Kastanto.

Ayah yang lahir tanggal 21 Januari 1928 di Wuryantoro, meninggal dunia mencapai usia 54 tahun tanggal 9 Desember 1982, hari Kamis Wage, di RSUD Wonogiri. Tanggal yang sama adalah tanggal kelahiran Tamilla Abassova, atlet balap sepeda Rusia dan Nathalie De Vos, atlet Belgia. Juga hari wafatnya Leon Jaworski (kelahiran 1905), hakim yang menangani kasus skandal Watergate di Amerika Serikat.

Setiba dari Jakarta, pagi itu saya diantar adik ipar saya Nano, ke rumah sakit. Beliau sudah dalam keadaan koma, karena sakit sirosis hati dalam tingkat lanjut. Saya mencatat suasana hati, juga membuat skets di buku harian saya, apa yang saya cerna dan rasakan saat itu.

Oleh ibu saya diminta mengucapkan sesuatu ke telinga beliau. Saya sebutkan nama saya, menyapa beliau. Sejurus kemudian, nampak genangan air mata. Rupanya beliau masih mendengar, moga-moga juga mendengar doa saya.

Semoga beliau kini tentram dan selalu sejahtera di sisiNya.



Wonogiri, 9 Desember 2010

Friday, November 19, 2010

Ibu Sukarni Kastanto : 17 Tahun Dalam Kenangan



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com

We have a beautiful
mother
Her green lap
immense
Her brown embrace
eternal
Her blue body
everything
we know.

- ‘We Have a Beautiful Mother’ (1991)
Alice Walker, penyair Amerika Serikat.


Hari ini, 20 November 2010. Tanggal yang sama 17 tahun lalu saya dan adik-adik kehilangan ibu. Ibu kami, Sukarni Kastanto Hendrowiharso, yang telah tutup usia pada umur 60 tahun, di Rumah Sakit Umum Daerah, Giriwono, Kabupaten Wonogiri.

Semoga beliau, bersama bapak Kastanto Hendrowiharso yang terlebih dahulu meninggal dunia 9 Desember 1982 (54 tahun), kini tentram dan sejahtera disisiNya. Keduanya dimakamkan berdampingan di pemakaman umum Kajen, Giripurwo, Wonogiri.

Kami mengingatnya dengan doa. Juga kenangan. Termasuk, bagi saya pribadi, ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar (1961-1967), beliau datang dari pasar dan membelikan buku komik untuk saya. Ketika saya menjadi mahasiswa, juga tidak jarang beliau menceritakan dan menceritakan lagi di tengah keluarga isi atau potongan lelucon saya masa lalu.

Lelucon itu telah saya tulis saat duduk di kelas 2A SMP Negeri 1 Wonogiri (1969). Lelucon tersebut kemudian dimuat di majalah Kartika Chandrakirana, majalah organisasi istri tentara TNI Angkatan Darat. Mendapat honor Rp. 200,00.

Di saat jam istirahat sekolah, saya meminjam sepeda milik teman saya Riyanto (dari SD 6, tinggal di Kerdukepik, dekat toko Metrojaya, seberang kantor Kehutanan) untuk mencapkan pengesahan di Kelurahan Giripurwo. Lalu ambil wesel di Kantorpos, di Ponten.

Lelucon itu, adalah bapak yang pertama kali menceritakannya. Saya hanya mengingatnya, kemudian menuliskannya. Tentang ucapan spontan seorang pengemis yang sembarangan ngomong sementara dirinya tidak tahu-menahu mengenai rank atau jenjang kepangkatan dalam tubuh militer.

Ceritanya, ketika ia memperoleh donasi dari seorang tentara berpangkat sersan, sang pengemis pun segera berterima kasih dan membalas dengan ucapan : “Saya doakan semoga Bapak segera bisa naik pangkat menjadi kopral.”

We have beautiful mother. Tidak melupakan asal-usul dan menaruh hormat kepada leluhur, merupakan norma yang terpateri dalam sanubari warga Trah Martowirono. Ajaran tersebut juga disampaikan oleh bapak dan ibu yang diselipkan dalam tindakan berziarah ke makam para leluhur. Foto diambil sekitar tahun 1985 saat berziarah ke makam Eyang Kakung Martowirono dan pepunden lainnya di Pemakaman Umum Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo.

Dari kiri : Bambang Haryanto (anak no 1), Mayor Haristanto (4), Betty Hermisnawaningsih (9), Barry Hendriatmo (3), Bastion Hersaptowiningsih (7), Bonny Hastutiyuniasih (8), almarhumah ibu tercinta Sukarni Kastanto Hendrowiharso, Basnendar Heriprilosadoso (10) dan Broto Happy Wondomisnowo (6).

Virus humor keluarga. Dorongan dan tindakan sederhana seperti itu dari seorang ibu, rupanya mampu membekas menjadi ingatan indah dan bermakna dalam pada ingatan anak-anaknya. Mungkin itu sudah merupakan naluri dirinya dalam mewariskan DNA selera humor miliknya. Tidak hanya kepada diri saya semata, tetapi juga mampu meruyak ke balung sumsum, seluruh sepuluh anak-anaknya.

Hal itu bagi kami, adalah berkah. Maka tak ayal acara demi acara, reuni demi reuni dari Trah Martowirono, selalu saja menggejolakkan keinginan yang membara dari gerombolan Taler IV Kajen ini untuk menular-nularkan virus tawa kepada seluruh saudara-saudaranya tercinta.

Dalam catatan sejarah, tanggal 20 November memiliki cerita warna-warni. Tahun 1917, Ukraina mendeklarasikan sebagai republik. Tahun 1947 Putri Elizabeth, kini ratu Inggris, menikahi Letnan Philip Mountbatten di Westminster Abbey London. Hari peringatannya dilakukan dengan pengibaran bendera.

Microsoft Windows 1.0 diluncurkan tahun 1985. Di Jakarta, saya ikut menonton peluncurannya di Hotel Shangrilla. Kelahiran bintang film seksi bertubuh “10” Bo Derek di tahun 1956. Pada tahun 2006, sutradara film terkenal AS kelahiran 1925, Robert Altman, meninggal dunia. Hari Anak-Anak di Kanada, Mesir dan Pakistan. Juga internasional.

Aktivitas keluarga. Momen menjelang hari 20 November itu, Nuning punya kabar : saat njagong ke Slogohimo, tahu-tahu satu bis dengan Jeff “Paimin” Coctaz. Orang Perancis yang boso jowone mlipir dan suka glenyengan ini, tentu saja mengenal ibu dan bapak. Jeff juga menjadi saksi pernikahan Mas Untung dan mBak Erie.

Dari Bogor, Happy cerita. Karya jurnalistiknya saat meliput kejuaraan bulutangkis Milo untuk pelajar, telah memenangkan penghargaan di antara sesama tulisan para wartawan. Ia memperoleh hadiah sebuah netbook. Sementara hadiah benda serupa dari kejuaraan sebelumnya, kini menjadi peranti sekolah putrinya yang kelas enam, Gladys.

Semoga ia menang,menang dan menang terus, sehingga nanti akan ada hadiah netbook dalam kuis-kuis keluarga pada setiap trah kita mengadakan reuni.

Saya sendiri, sedang menantikan kelahiran “bayi” tercinta saya. Bukan bayi orok, tetapi terbitnya buku komedi saya. Buku yang ketiga. Judulnya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010). Insya Allah, meluncur dari percetakaan pada tanggal 22 November 2010. Tiga hari sesudahnya, sudah terpajang di toko-toko buku di Jakarta. Seminggu kemudian, sudah terdistribusikan ke seluruh Indonesia.

Petikan puisi dari Alice Walker dan catatan kenangan ini, juga rasa kerinduan yang mendesir-desir, semoga selalu mampu membuat ibu tercinta bisa tersenyum, sejahtera disisiNya.



Wonogiri, 19-20 November 2010

Tuesday, September 21, 2010

Bupati Baru Wonogiri, Padmanaba dan Trah Kita


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Bulan puasa usai.
Hari Lebaran pun baru saja lewat.

Selasa, 14 September 2010.
Saya kembali bisa jalan kaki pagi.

Dengan rute istimewa : menuju rumah sakit Margo Husodo. Saya sih sehat-sehat adanya. Pagi itu saya mau bezoek dik Ayu, istri Broto Happy Wondomisnowo yang sudah hari ketiga dirawat di rumah sakit di kawasan Wonokarto ini. Ia menderita dehidrasi, karena diare dan gangguan pencernaan. Mungkinkah ini tipikal gangguan kesehatan pasca-Ramadhan ?

Karena musibah itu, membuat dirinya, Basnendar dan istrinya Evi yang jadi relawan untuk menemani, absen dari Reuni Trah Martowirono XXIV/2010, Hari Minggu, 12 September 2010, di Jombor, Sukoharjo. Dalam perjalanan menuju Jombor kontingen Kajen telah membezoeknya (foto), sehingga menjadikan suasana rumah sakit itu seperti ada pemain bola terkenal yang sedang menderita cedera.

ayu broto happy,rs margo husada,trah martowirono,reuni 2010

Selasa pagi itu dik Ayu, syukurlah, sudah nampak sehat. Ia ditemani Gladys, putrinya. Keesokan hari, sudah bisa jalan-jalan di lingkungan rumah sakit tersebut (foto) dan kembali ke Kajen. Selasa pagi itu saya lalu mengobrol dengan Happy di lobi. Sambil membaca-baca Tabloid BOLA, surat kabar Solopos dan Jawapos.

Sebelumnya, dalam perjalanan, pas melintasi toko bahan bangunan Metro Jaya di Kerdukepik di mana ibu pemilik toko ini dan putrinya ("yang murah senyum dan cantik") sering berpapasan ketika jalan kaki pagi, saya mendapat SMS. Dari Solo, dari Mayor Haristanto.

Berisi kabar duka : Pemimpin Redaksi Harian Solopos, YA Sunyoto, meninggal dunia di Solo dalam usia 48 tahun. Hari itu akan dikebumikan di kampung halamannya, di Rembang.

"Saya mengenalnya beberapa tahun lalu, tahun 1970-80an, saat Mas Nyoto menjadi wartawan harian Bisnis Indonesia di Jakarta dan meliput tim Arseto ke Solo," kata Happy. Saya mengenal almarhum yang suka humor dan perokok berat itu, ketika saya masih aktif di Pasoepati. Tahun 2000-2002.

Baru-baru saja ini, ketika mengirim artikel ke Solopos juga terkadang saya tembuskan pengantarnya melalui message ke akun Facebooknya Mas Nyoto itu pula. Mungkin karena sibuk, ia belum pernah membalasnya.

"Selamat jalan, Mas Nyoto.Semoga Anda kini sejahtera disisiNya."

Money politics. Membuka-buka harian Solopos terdapat berita tentang konvoi sepeda motor anggota Satgas Anti Money Politics (SAMP) di Wonogiri. Ini lembaga atau ormas bentukan baru, mungkin kiprahnya hanya seumur jagung, bermarkas di Ngadirojo, hadir untuk menyikapi penyelenggaraan pemilihan umum kepala daerah Kabupaten Wonogiri, yang pencoblosannya jatuh pada hari Kamis, 16 September 2010.

Di koran itu, pimpinan satgas tersebut, Rio Hana, juga mengaku mendapatkan laporan dugaan praktek money politics di daerah Kajen, Giripurwo, Wonogiri. "Laporan hanya SMS dan tidak jelas siapa pengirimnya. Mestinya, laporan disertai bukti dan waktu kejadian," katanya pula.

Happy tertawa membaca berita itu. Saya juga.
Karena Kajen adalah kampung tempat kami tinggal.

Penyakit egosentris. Berita lain tentang Wonogiri adalah acara Andum Ketupat di komplek wisata Waduk Gajah Mungkur (13/9). Ketupat-ketupat itu dibagikan oleh bupati dan jajaran Muspida Wonogiri kepada pengunjung. Secara khusus, dalam berita itu disebut pula nama lengkap bupati Wonogiri yang dalam Pemilukada 2010 ini maju lagi sebagai calon wakil bupati, mendampingi Sumaryoto.

Nama lengkap dia yang terpajang adalah : Kanjeng Pangeran Ario Adipati Candrakusuma Sura Agul-Agul Begug Poernomosidi. Ia juga memiliki banyak nama lainnya, termasuk ketika mendalang, atau saat memimpin kelompok kesenian reog.

Nama "Sura Agul-Agul" itu juga terpasang di baliho besar yang melintang di tengah jalan kota Wonogiri. Dekat perlimaan Wonokarto. Saya senyum-senyum membacanya. Menurut saya tagline itu terlalu egosentris, narsis, mementingkan diri sendiri. Karena apa sih manfaat yang dijanjikan oleh semboyan bersangkutan bagi warga Wonogiri ?

Sikap narsis merupakan jebakan yang seringkali sulit dideteksi, dirasakan atau dirumongso oleh si penderitanya sendiri. Terlebih lagi bagi penguasa. Karena semakin berkuasa seseorang, apalagi tiadanya kontrol dan kritik, cenderung membuat dirinya merasa sebagai "pusat dunia."

Wonogiri yang masih kental berbalut budaya Jawa yang ketat menjaga harmoni, berusaha menghindari konflik diametral dan kuatnya sikap wegah rame, justru seringkali menjadi ladang subur bagi hadirnya penguasa-penguasa yang egosentris, cunning dan manipulatif.

Apakah Begug Poernomosidi yang mampu terpilih selama dua periode itu, lalu ikut lagi (!) dengan "turun derajat" mengincar kursi wakil bupati, juga mengidap narsistis pula ? Rakyat Wonogiri yang akan memberi jawaban di pemilukada nanti.

Sayang, baliho dengan slogan "Sura Agul-Agul" di Wonokarto itu saya tidak sempat memotretnya. Saya kehilangan dokumen visual bersejarah, karena pada hari itu pula papan peraga kampanye mulai dibersihkan. Saya hanya memotret baliho kampanye Sumaryoto-Begug Poernomosidi di Kerdukepik (foto) yang lagi dalam proses diturunkan oleh petugas.

pemilukada wonogiri 2010,sumaryoto,begug poernomisidi,danar rahmanto,bambang haryanto,wonogiri

Loyo di Internet.
Nampak poster besar pasangan Sumaryoto-Begug Poernomosidi di Kerdukepik sedang diturunkan. Kampanye pemilukada di Wonogiri belum intensif menggarap media-media maya di Internet. Sumaryoto memiliki blog di Kompasiana dan Danar Rahmanto memiliki blog dan akun Facebook, tetapi digarap seadanya.Walau demikian, komunikasi antarwarga Wonogiri secara gethok tular seputar kondite dan ulah kontroversi dari pasangan peserta pemilukada ternyata diam-diam masih ampuh berfungsi, sehingga hasil pemilukada Wonogiri ini bisa disebut mengejutkan.

Sibuk jualan citra. Papan peraga kampanye milik pasangan nomor satu ini, yang didukung oleh Koalisi Merah Putih, yaitu PDIP-PKS, memang nampak paling dominan. Strategi pencitraan mereka juga jauh lebih masif.

Misalnya Sumaryoto telah meluncurkan kampanye "Aku Cinta Wonogiri" (Basnendar ikut lomba logonya, tetapi tersingkir oleh logo "jelek" yang menjadi pemenangnya) dan berkali-kali mengadakan acara jalan kaki santai yang bertabur hadiah. Radio Gajahmungkur miliknya, sepertinya nampak dikorbankan value-nya sebagai media. Karena terlalu bertabur dengan pesan-pesan kampanye dirinya yang kadang membuat pendengar mudah menjadi jenuh.

Sumaryoto juga secara tiban menjadi khatib sholat Jumat di Masjid Agung At-Taqwa, yang memicu kontroversi. Tetapi hebatnya politikus kawakan ini, di koran Jawapos kontroversi itu justru diekspos yang dapat ditafsirkan sebagai "memperlebar" dan "memperkuat" kampanye pencitraan oleh anggota DPR-RI kelahiran Nguntoronadi ini. Menjelang hari pencoblosan, koran yang sama nampak juga mem-blow-up gerakan "Aku Cinta Wonogiri" yang ia gagas itu.

Beragam jurus kampanye pasangan Sumaryoto-Begug itu seolah membuat pemilukada Wonogiri sudah berakhir ketika mereka mencalonkan diri. Piece of cake. Atau, suwe mijet wohe ranti. Kemenangan akan mudah mereka raih.

Tetapi teman ngobrol saya, Bambang Susilo, yang mantan chef hotel internasional di Hanoi, Vietnam, punya pendapat lain. "Begug justru kartu mati untuk koalisi yang mencalonkannya," begitu prediksinya.

Saya tidak begitu mempercayainya. Karena culture of fear, budaya ketakutan, yang (mungkin secara tidak sengaja ?) meruyak selama politisi kawakan itu berkuasa, menurut saya, akan hanya membuat warga Wonogiri seperti kerbau dicocok hidung. Untuk aman mereka cenderung untuk patuh, takjim, kemudian mengikuti apa saja yang dikatakan oleh sang penguasa itu.


Saya keliru. Hari Kamis, 16 September 2010. Rombongan Happy, dik Ayu, Gladys, dengan mobil yang disopiri Mas Yudi asal Ngadirojo, malam itu mengabarkan dirinya sudah sampai di Tegal. Keluarga ini menuju rumah mereka, di Bogor.

Happy menyatakan ikut bergembira mendengar berita bahwa pasangan nomor empat, Danar Rahmanto (foto)-Yuli Handoko, sudah jauh unggul dibanding tiga pasangan lainnya.

Kamis sore itu, memakai laptop Compaq milik keponakan saya, Yudhistira Laksmana Satria yang siswa klas 7A SMP Negeri 1 Wonogiri, kami segera mengakses Internet melalui fasilitas hotspot yang terpasang di rumah. Membuka Suara Merdeka CyberNews, tersaji berita yang berjudul Pasangan Nomor Empat Makin Jauh Memimpin. Di kamar lain, dari netbooknya Yasika, pas terdengar lagu "Crawling" dari Linkin' Park yang seolah menyindir pasangan kuat yang keteter perolehan suaranya saat itu.

"Crawling in my skin, these wounds they will not heal,
Fear is how I fall, confusing what is real"

Karena berita itu membeberkan hasil sementara perolehan suara sampai pukul 16.30 WIB, di mana bertengger di posisi pertama adalah pasangan nomor empat H Danar Rahmanto-Yuli Handoko, dengan mendulang suara 92.798 atau 40,49%. Di posisi kedua pasangan nomor urut satu Sumaryoto-Begug Poernomosidi dengan perolehan suara 65.547 atau 28,53%.

Pada posisi selanjutnya pasangan nomor urut dua Sutadi-Paryanti mampu mengumpulkan 39.943 suara atau 17,38%. Menduduki posisi buncit adalah pasangan nomor urut tiga Mulyadi-Eddy Purwanto, meraup suara 31.446 suara. Total suara yang sudah dihitung berjumlah 229.734 suara atau sudah mencapai 38,99%.

Sore itu lalu terjadi komunikasi SMS bolak-balik saya dengan Nano Maryono, tangan kanan dan kerabat Danar Rahmanto di PO Timbul Jaya. Juga dengan istrinya Nano, Nuning. Inti kabarnya sama : "Mas Danar, menang !"

"Wah, guyonan Mas Danar dulu rupanya kesampaian," gumam saya. Pada tanggal 7 Juli 2010, ketika diadakan pengundian nomor urut peserta pemilukada di KPUD Kabupaten Wonogiri, saya ikut menjadi saksi. Sebagai blogger, saya juga memotret sana-sini.

Saat itu alumnus SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta diberondong pertanyaan wartawan terkait nomor empat yang menjadi nomor urutnya. "Nomor itu, nomor bagus," kata Danar Rahmanto. "Angka empat kalau dibalik kan menjadi kursi ? Saya yakin akan menang dan mendudukinya."

Rakyat Wonogiri telah ikut berjasa membalik angka empat itu. "Kemenangan saya adalah kemenangan rakyat Wonogiri pula," katanya dalam menyikapi perolehan suara yang mengungguli tiga pasangan lainnya.

Alumnus Padmanaba. Sore itu saya kemudian mengirim SMS ke sobat saya, Bambang Susilo yang pemilik kafe Ngaso Angkringan di Pokoh. Saya mengaku salah, sementara dirinya yang benar. Prediksi saya bahwa Sumaryoto-Begug yang akan jadi pemenang, ternyata dimentahkan oleh ratusan ribu warga Wonogiri.

Warga Kota Gaplek ini secara sadar dan menurut saya cerdas sekaligus titen, ternyata lebih memilih untuk menolak peluang keduanya sebagai pemimpin dan penguasa di kabupaten tercintanya ini. Kegagalan keduanya, boleh jadi, dapat diibaratkan sebagai kejatuhan sang raja. Jatuh secara sangat keras dan menyakitkan. Semoga keduanya, juga pasangan lain yang kalah, menerima suara rakyat itu dengan kearifan dan bersikap kenegarawanan.

Saya segera mendapatkan buktinya. Saya sempat berkirim SMS ke calon bupati pasangan nomor dua, H. Sutadi. "Dengan hormat. Walau Pak Tadi belum menang & akan kembali bertugas di Banten, saya sebagai Warga Wonogiri masih berharap Bapak akan terus berkomitmen memajukan Wonogiri. Salam." Saya kemudian memperoleh balasan : "Iya saya akan selalu komit tumpah darahku." (Jumat, 17/9/2010 ; 18.04.26).

Di akun Facebook Warga Trah Martowirono saya menulis catatan : "Selamat untuk warga Trah Martowirono yang alumnus SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta. Antara lain (kl ga salah) : Rico, Dandoenk Bharata (sebelumnya saya tulis Yoshua), Bunga, Hanum dan Peter. Dan juga Intan yang kini sedang belajar disana.

Ada kabar gembira khusus untuk Anda. Karena salah satu alumnus SMA kebanggaan Anda tersebut, Bapak Danar Rahmanto, pengusaha bis PO Timbul Jaya dari Ngadirojo, kini terpilih sebagai Bupati Wonogiri periode 2010-2015.

Moga-moga Anda punya waktu untuk dapat mengirim message, berupa ucapan kepada beliau di akun Facebooknya. Search saja 'danar rahmanto,' pasti ketemu. Oh ya, warga Trah Martowirono yang berkerabat paling dekat dengan Pak Bupati baru itu adalah Bapak Nano Maryono, suami dari Ibu Nuning. Yoga dan Yudha, menyebut Pak Danar itu sebagai pakde. Gendis dan Raja, menyebut beliau sebagai eyang Bupati."


Harapan baru. Dengan terpilihnya pasangan Danar Rahmanto-Yuli Handoko sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Wonogiri 2010-2015, apakah otomatis menjanjikan kemajuan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan, bagi warga Wonogiri ? Melalui Facebook saya telah mengirimkan pesan ke akun Facebook Mas Danar sebagai berikut :

"Dengan hormat. Saya dan keluarga di Kajen, mengucapkan selamat bekerja dan berprestasi untuk Mas Danar Rahmanto, juga pasangan wakil bupati terpilih Yuli Handoko.

Semoga panjenengan berdua mampu membawa kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi Warga Wonogiri di masa-masa mendatang !"


Wonogiri, 21 September 2010

tmw

Monday, September 20, 2010

Pertemuan Keluarga Besar Trah Martowirono 2010




Oleh : Retno Winarni


Campione Campione ha …ha…ha…ha…ha…ha…ha…

Betapa besar karunia-Nya yang telah dlimpahkan kepada “Keluarga Besar Eyang Martowirono”.

Cucu-cucu serta buyut Eyang Martowirono berpendidikan, memiliki kreativitas yang tinggi, cerdas, rukun, saling menghargai saling mengasihi, dan hampir semua humoris.

Minggu, 12 September 2010 pertemuan berlangsung sangat meriah di rumah Mbak Mul, Sukoharjo. Keluarga TALER 4 datang terlambat, karena istri Mas Heppy sakit. Sebelum keluarga Taler 4 datang, suasana pertemuan sudah meriah dihibur dalang cilik “Ki Banu Santosa”.

Pakde Untung dan Om Santosa (ayah Ki Banu), keduanya mendampingi Ki Banu sambil melontarkan kata-kata yang lucu menambah kemeriahan.

Kemeriahan dan keakraban semakin bertambah meriah, ketika keluarga besar TALER 4 hadir dibawah pimpinan Mas Bambang.

Pertemuan diisi oleh Mas Barry dan Mas Mayor denan beberapa kuis yang menghebohkan suasana. Pertemuan penuh canda tawa dan bermakna.

Setiap kali datang Mas Heppy menyediakan hadiah berupa kaos, jaket, dan topi bola.

Mas Mayor membawa koper besar berisi mainan anak-anak dan uang dua ribuan yang dibagikan kepada anak-anak kecil. Ada dua lembar uang ratusan ribu rupiah yang dimasukkan ke saku celananya sendiri.

Wah… suasana semakin bertambah-tambah meriah, gila-gilaan yang bukan gila beneran. Saya sampai tak kuasa menuangkan perasaan hard an bahagia di sini.

Mbak Mul menyediakan makanan higinis dan segar dengan lauk lelegoreng, ayam Kentucky, urap, oseng daun papaya, karak, dan es cincau yang bener-bener menyegarkan, serta sup ayam kampung yang lezat

Masih ada makanan tradisional seperti tape ketan putih, pisang kapok kuning rebus, dan kue mata sapi yang dalamnya enten-enten.

Terus terang kami sekeluarga sangat merindukan datangnya pertemuan”Keluarga Besar Eyang Martowirino”.

Acara inti dalam setiap pertemuan diisi kabar keluarga setiap TALER. (1,2,3, dan 4). Hal ini yang sangat mengagumkan. Jarang saya temui pertemuan keluarga seperti “Keluarga Besar Eyang Martowirono”. Bahkan baru saya temukan dalam “Keluarga Besar tersebut.

Saya datang + pukul 10.30 dan tidak pernah merasa buru-buru ingin cepat pulang , karena suasana yang benar-benar luar biasa akrabnya, lucunya, hebohnya, dan gila-gilaan tetapi bukan gila beneran!! Penuh kreativitas dan canda ria dalam setiap pertemuan tahunan ini.

Pertemuan berakhir pada + pukul 14.30. Mudah-mudah kami sekeluarga dapat datang pada pertemuan ke -25 dan seterusnya. Rencananya tempat pertemuan pada keluarga besar TALER 3.

Campione… Campione…ha…ha…ha….ha…ha..ha…ha…

Sunday, September 12, 2010

Campeone, Sepakbola dan Reuni Trah Martowirono 2010




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com

Wednesday, September 08, 2010

Reuni 2010 : Fiesta Trah Kita Di Jombor Meazza




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Soccer riots kill at most tens.
Intellectuals' ideological riots sometimes kill millions.
- John McCarthy


Rumus di atas tidak berlaku bagi Trah Martowirono. Kerusuhan sepakbola yang akan diledakkan oleh keluarga besar Trah Martowirono ini, Minggu, 12 September 2010, adalah pesta untuk melepas kerinduan sesama kerabat dan saudara. Hanya kebahagiaan yang bakal tertumpah dari sana !

Ah, waktu memang begitu cepat berlalu. Masih belum terhapus dalam kenangan kita, suasana Reuni Trah Martowirono XIII yang berlangsung 23 September 2009 yang lalu. Saat itu warga trah yang berakar dari Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo itu, dari pelbagai penjuru, selama 6 jam telah melakukan serangan oemoem ke jantungnya Yogya.

Sasaran akhir : Benteng Vredeburg Yogyakarta. Enam Djam di Djogdja. Kalau saja serangan itu berlangsung selama 7 jam, maka seluruh warga trah kita itu tak bisa pulang. Karena pintu gerbang benteng sudah digembok oleh petugas.

Momen historis ini, ketika diceritakan di blog ini, antara lain telah mendapatkan komentar menarik. Seorang teman, wartawan koran Jakarta, menaksir acara reuni trah kita itu dihadiri oleh ribuan warga. “Kok bisa pakai tempat itu, apa punya koneksi dengan para jenderal ?,” begitu selidiknya.

“Tentu,” jawab saya. Lalu saya jelaskan bahwa di Trah Martowirono antara lain terdapat “Jenderal” Wiranto, berdomisili di Selogiri. Mantan marinir. Ada “Jenderal Polisi” Bambang Haryanto Danuri, tinggal di Wonogiri. Ada pula Mayor Haristanto, markasnya di Kadipiro, Solo ; dan jangan lupa, ada pula “Letnan Kolonel” Untung yang memiliki pasukan di Banguntapan, Bantul !

Pesta keluarga dengan dress code masa lalu itu, utamanya bernuansakan era perjuangan 1945, kini di tahun 2010 berubah temanya. Masih menyisakan riuhnya bunyi terompet vuvuzuela di perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, kini suasana serupa akan dipindah ke Sukoharjo.

trah martowirono forever,reuni 210,jombor,sukoharjo,mulyono,titis,restu

Meneguhkan janji trah kita ! Taler ke-2 Trah Martowirono, anak-cucu Bapak Sutono, yaitu keluarga Bapak Mulyono/Titis (dalam foto di atas bersama putrinya yang cantik, Dinar) dan Priyanto Wisnu Nugroho, dengan tim kreatif yang dikomandani oleh Maretna Restu telah menetapkan tema pesta sepakbola untuk Reuni Trah Martowirono XXIV Tahun 2010 ini. Rumah beliau yang tinggal di Jombor itu, segera akan berubah menjadi : Stadion Jombor Meazza !

Kira-kira macam kehebohan apa yang bakal terjadi ?
Simak dan bayangkan dengan memelototi foto yang tersaji di halaman ini. Intinya adalah berisikan pesan, semoga saja di reuni trah kita yang genap tiga windu ini nantinya mampu memberi manfaat bagi semua warga trah, dan juga bagi sesama. Memayu hayuning buwono.

Dengan demikian, semua krida yang dilakukan oleh keturunan Trah Martowirono ini akan membuat para orang tua kita, juga eyang dan eyang buyut kita, yang telah mendahului kita itu, selalu bisa berbahagia di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Untuk kemaslahatan bersama, inilah janji dan tekad kita bersama :

Trah Martowirono Forever !
Trah Martowirono Never Die !


Wonogiri, 9/9/2010

trahmw

Tuesday, September 07, 2010

Reuni Balung Pisah Yang Betul-Betul Terpisah




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Pemakaman Kedunggudel, 21 September 2009. Makam adalah tempat reuni yang mungkin terasa aneh. Tetapi makam sebenarnya juga mampu memberikan wawasan yang mendalam dan hakiki mengenai makna kehidupan.

Bukankah orang Jawa punya ucapan terkenal tentang sangkan paraning dumadi, wacana tentang asal-usul manusia hingga sesudah akhir perjalanan hidupnya selama di dunia ? Makam merupakan tempat terbaik untuk perenungan itu. Tetapi makam juga sekaligus tempat terbaik untuk melakukan pengingkaran kita tentang akhir kehidupan yang menakutkan rata-rata orang itu.

Boleh jadi, pergulatan di atas itu menunjukkan keunikan kita sebagai manusia.Seperti halnya ucapan bahwa banyak orang merindukan surga, tetapi kalau bisa momen itu tidak usaha datang terlalu segera. Bahkan sutradara, penulis dan aktor Woody Allen punya pendapat sendiri tentang kematian. Rada-rada jenaka.

Katanya : “It's not that I'm afraid to die. I just don't want to be there when it happens”. Bukan karena saya takut mati. Saya hanya ingin tidak berada di tempat itu ketika kematian itu tiba.

Setahun lalu, saat nyekar di makam Kedunggudel ini, ucapan Allen yang jenaka itu belum berkelebat di benak. Tetapi pengalaman yang rada-rada lucu, toh terjadi saat itu pula. Saat itu saya bersama Bari Hendriatmo, seusai mendoakan arwah mBah Dung Kakung Martowirono (wafat 11 Desember 1972) dan mBah Dung Putri, Jiah Martowirono (data di batu makam wafat tanggal16, bulan tak jelas, dan tahun 1996) dan Bapak Sutono (31 Mei 1931-15 September 2002).

Kemudian saya menyapa keluarga yang usai nyekar di bangunan sebelah timur makam mBah Dung Putri itu. Makam mBah Dung Kakung berada di depan bangunan yang terkunci itu. Dulu, ketika mBah Dung masih sugeng, kunci itu dititipkan di rumah beliau.

makam kedunggudel,sukiyanto,trah martowirono,banyu anyar solo,21 september 2009


Teori Big Bang. Keluarga itu terdiri bapak, ibu dan dua putri remajanya. Keluarga Bapak Sukiyanto (foto), asal Banyuanyar, Solo. Merasa kita telah nyekar di makam yang sama, kita pun mudah tergoda untuk berasumsi bahwa di antara kita pasti ada kaitan kekerabatan.

Obrolan yang kemudian terjadi antara kita segera mengingatkan saya akan Teori Dentuman Besar, Big Bang Theory, yang menjelaskan asal-usul terjadinya semesta ini. Yaitu ketika gumpalan gas raksasa meledak, lalu terciptalah milyaran beragam planet serta benda-benda angkasa lainnya. Benda-benda itu masing-masing lalu punya garis edar perjalanannya sendiri-sendiri. Kadang ada yang saling mendekat, bertabrakan, atau kemudian saling menjauh lagi.

Karena keterbatasan rujukan, obrolan kami berempat itu (putrinya hanya ikut senyum-senyum) banyak yang tidak nyambung. Saya tidak tahu, Mas Sukiyanto itu berasal dari keluarga mana di Kedunggudel ini. Tetapi ketika ia menyebut sesuatu nama, garis edar planet kita sepertinya mendekat. Misalnya ia menyebut nama “Pakde Warsono, Panularan, Solo.” Radar saya segera nyambung.

Saya ingat di album foto keluarga, ibu saya Sukarni pernah menunjukkan foto “Pakde Warsono” itu. Bekerjanya di Kantorpos Solo. Salah satu putranya, bernama Mas Joko. Boleh jadi, moga saya tak salah ingat, bapak saya (Kastanto Hendrowiharso) saat itu bertugas di Solo, lalu ibu melahirkan anak pertamanya di Rumah Sakit Tentara DKT Gendengan. Rumah sakit ini dari kampung Panularan, tidak jauh jaraknya. Anak yang lahir itu, adalah saya sendiri.

Ketika kami (saya and Bari) menyebut nama “Sukarni” dan “Wonogiri,” Mas Sukiyanto segera menyahut bahwa rumah kami ada “di timur Pasar Wonogiri.” Saya tidak tahu, apa maksudnya di “timur” itu. Jawaban ini sekaligus benar, juga bisa salah. Selebihnya, seingat saya, hanya menunjukkan bahwa garis edar planet kita segera saling menjauh lagi.

Tetapi yang pasti, saya telah memberikan kartu nama saya. Lalu Mas Sukiyanto, memberikan nomor HP-nya. Walau mungkin kita saling merasa heran, obrolan itu toh menyenangkan. Minimal, kita telah ketemu waris yang sama-sama memiliki akar leluhur di Kedunggudel ini pula.

Semoga kita bisa ketemuan lagi. Dengan cara itu mungkin hubungan antara kita itu, walau selama ini benar-benar sebagai balung yang terpisah, dengan aksi jlentreh sana dan jlentreh sini, termasuk melalui tulisan di Internet ini, siapa tahu akhirnya akan muncul hal yang benar, jelas dan indah yang mampu mengaitkan kita-kita ini.

Salam sejahtera dari Trah Martowirono untuk Mas Sukiyanto dan keluarga !


Wonogiri, 6 September 2010

Sunday, September 05, 2010

Asah Pena, Menu Berbeda, Merenggut Juara




Oleh : Broto Happy W.
Email : brotohappy (at) yahoo.com


Pengantar : “Ada kabar bahagia.
Dalam pekan di bulan Ramadhan ini saya mendapat berkah dan anugerahnya.”

Itulah email pembuka terkirim dari Jakarta. Pengirimnya adalah Broto Happy Wondomisnowo, 3 September 2010 yang lalu. Apa kabar bahagia yang ia maksud ? “Saya dua kali dinobatkan sebagai juara penulisan. Yang pertama juara penulisan untuk Djarum Indonesia Open Super Series 2010. Yang kedua, juga jadi juara pada Djarum Sirkuit Bulutangkis Nasional 2010.”

Syukurlah. Warga Trah Martowirono tentu bergembira menyambut kabar hebat ini. Maka di bawah ini pantas kita menyimak cerita dia lebih detil. Siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, untuk meningkatkan kualitas tulisan-tulisan kita.

Baik untuk mewarnai tulisan kita di Facebook (Kompas 7/9/2010 menulis “terlalu banyak sampah di media-media sosial saat ini”), saat mengisi blog-blog kita, atau pun untuk menyempurnakan keterampilan mengekspresikan gagasan dalam bentuk tulisan, untuk pelbagai kebutuhan dalam kehidupan. Karena, harus diakui, untuk keterampilan satu ini bangsa kita rata-rata termasuk rendah penguasaannya (Bambang Haryanto).


Yang namanya wartawan, tugas utamanya adalah melaporkan sebuah peristiwa dengan detail yang komplet. Cerita yang hendak dilaporkan dibuat berwarna. Suguhan berbagai fakta pun harus menggoda. Selain itu, informasi yang ingin disampaikan harus berbeda.

Harum maklum, sebagai wartawan Tabloid BOLA yang terbitnya seminggu tiga kali, kalau saya menulis laporan biasa-biasa saja, tentu aktualitasnya kalah dengan harian. Bila hanya melaporkan yang lurus-lurus saja, bakal ditinggalkan pembaca.

Maka, salah satu rumus menulis di tabloid yang terbit tidak saban hari, seperti Tabloid BOLA, harus ada sesuatu yang mengejutkan. Fakta yang didapat boleh sama dengan media lain, tetapi cara meramu untuk disajikan kepada pembaca, tentu berbeda. Paling tidak, harus ada nilai tambahnya.

Selain itu, laporan yang disusun harus komplet. Semua fakta yang ada, perlu disajikan kepada pembaca. Dengan demikian, laporan yang dibuat harus selalu komprehensif, aktual, dan mendalam.

Memang, pada awalnya, setiap saya membuat berita semata-mata demi memberikan informasi kepada masyarakat. Ini sesuai dengan fungsi ideal pers, yaitu memberikan pendidikan kepada pembacanya. Jadi bukan karena untuk menang dalam sebuah lomba, apalagi hanya untuk dipuji.

Rupanya rumus-rumus andal dalam membuat reportase ini ternyata termasuk ampuh, ketika karya saya diikutikansertakan dalam sebuah lomba jurnalistik. Tulisan yang berbobot, mendalam, komplet, dan berwarna, telah menarik hati para juri. Terbukti, ketika karya jurnalistik saya berupa reportase yang dimuat di Tabloid BOLA, mendapat anugerah sebagai yang terbaik.

Dua lomba. Syukurlah, dengan hanya berselang seminggu, saya bisa memenangi dua lomba jurnalistik sekaligus. Lomba pertama yang saya menangi adalah, Lomba Karya Jurnalistik Djarum Indonesia Open Super Series 2010. Saya dinobatkan sebagai salah satu dari 10 karya terbaik. Ajang ini sendiri sudah berlangsung di Istora, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 11-17 Juni 2010
.
Saya pun tak hanya melaporkan hasil-hasil pertandingan turnamen yang pada hajatan kali ini justru gagal dimenangi pebulutangkis tuan rumah. Soal kalah-menang memang penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah pernak-pernik yang melingkupi sebuah peristiwa. Saya pun pun menulis suasana Istora yang disulap layaknya Fans Zone di kancah Liga Champions atau Piala Dunia.

Tak hanya itu. Cerita-cerita kesuksesan dan kehebatan turnamen yang untuk kali kedua mulai mempopulerkan karcis layaknya kartu kredit, saya ungkap. Ini merupakan langkah revolusioner. Karcis berupa lembaran kertas, sudah harus ditinggalkan. Uniknya, soal karcis plastik ini malah tidak ada media lain yang mengulas.

Agkat pahlawan lokal. Lalu, kemenangan kedua yang menghampiri saya adalah, Lomba Karya Jurnalistik Djarum Sirkuit Bulutangkis Nasional 2010. Untuk lomba ini, saya dinobatkan sebagai salah satu pemenang dari tiga pemenang terbaik. Kejuaraan ini berlangsung sebanyak 12 seri yang digelar 12 kota besar di Tanah Air, mulai dari Medan, sampai Manado. Dari Tegal hingga Samarinda.

Khusus untuk reportase kejuaraan nasional ini, setiap membuat laporan di Tabloid BOLA, unsur kedekatan dengan daerah di mana kejuaraan ini digelar, selalu saya tampilkan. Para pemain yang kemudian menjadi pahlawan lokal berkat kemenangannya, selalu saya angkat. Pokoknya, daya tarik di daerah tersebut saya angkat. Ini demi memasalkan bulutangkis dan menggairahkan olahraga tepok bulu di daerah.

Lalu, apa hadiah yang didapat dari dua kemenangan ini? Saya mendapat duit Rp 7,5 juta dan sebuah laptop. Syukur Alhamdulillah, memang. Apalagi, sejak awal membuat reportase pun saya semata-mata tidak mengharapkan sebuah pujian. Kalau karya saya dibaca dan kemudian ada dampak bagi kemajuan prestasi bulutangkis Indonesia yang terpuruk belakangan ini pun, saya sudah bangga dan senang.

Oh ya, kalau boleh sedikit menyombongkan diri, sebenarnya urusan menang lomba karya jurnalistik ini, bukan hanya kali ini saja. Dulu-dulu, saya pun termasuk sering jadi langganan lomba reportase.

Namun, kalau akhirnya karya saya dinobatkan sebagai salah satu pemenang, akhirnya ya Alhamadullilah. Paling tidak, saya pun bisa sedikit membanggakan dan mengharumkan nama Trah Martowirono. Ternyata, di mana dan kapan saja, kita bisa berkarya.

Viva Trah Martowirono!


Bogor-Jakarta, 5 September 2010

Friday, August 06, 2010

Pesta Kawin Perak Kristiyo-Edia Rahayu,8 Agustus 2010




Aum
Anjaneyaye Vidmahe
Mahabalaye Dhi-Mahi
Tan No Hanuman Prachodayat
Aum

Itulah bunyi mantra Anoman. Kera putih yang sakti, anak Dewa Bayu, pahlawan dalam epos Ramayana yang terkenal itu, melantunkan mantra tersebut guna meningkatkan rasa bakti, rasa cinta dalam menjalankan tugas tanpa pamrih.

Untuk itu, ia pernah dibakar ketika tertangkap di kerajaan Alengka. Saat itu ia menjadi utusan Prabu Rama dari Ayodya, guna mencari tahu nasib istrinya, Dewi Sinta, yang diculik raksasa Rahwana yang penguasa kerajaan Alengkapura.

Dengan buntut terbakar, ia segera melakukan tiwikrama, menggelembungkan tubuhnya sehingga menjadi raksasa, sehingga api pun membesar saat ia mengamuk. Inilah salah satu episode Ramayana yang terkenal, Anoman Obong, saat ia mengamuk yang membuat keraton Alengkapura menjadi lautan api. Ringkas cerita, Anoman berhasil mempertemukan kembali Rama dan Sinta.

kristiyo,edia rahayu,kawin perak,8 agustus 1985,8 agustus 2010,trah martowirono,untung suripno,suripti,haswosumarto

Pisah ranjang antarnegara. Kisah kepahlawanan Anoman itu rupanya menjadi ilham tema pagelaran yang digagas Untung Suripno, untuk memeriahkan pesta sekaligus syukuran keluarga Kristiyo Sumarwono-Edia Rahayu (foto), dalam merayakan pesta kawin perak. Momennya : Sabtu Malam, 7 Agustus 2010, di Gazebo Garden Resto, Yogyakarta.

8 Agustus 1937
Kelahiran aktor Dustin "Rainman" Hoffman

8 Agustus 1953
Kelahiran pebalap F-1 dari Inggris Nigell Mansell

8 Agustus 1981
Kelahiran petenis terkenal Roger Federer

8 Agustus 1985.
Tanggal kelahiran Brayan Ruiz, pemain sepakbola Kostarika

Dua puluh lima tahun sudah pasangan warga Trah Martowirono dari Taler 1 (Suripti-Haswosumarto) ini menjalankan bahtera rumah tangga. "Kami menyaksikan dan merasakan banyak berkat yang datang dari Allah, sehingga kedamaian dan kebahagiaan senantiasa ada di tengah keluarga kami," begitu manifesto keluarga bahagia ini untuk momen bersejarah tersebut..

Seluruh warga Trah Martowirono dengan tulus mengamininya. Kita pernah menjadi saksi ketika keluarga ini ditinggal sang ayah, selama 3 tahun ketika menjadi tenaga ahli Badan Pertanian Dunia (FAO) di Kamboja. Salah satu oleh-oleh Pak Kris adalah slogan Cocet krusa Martowirono yang terkenal itu. Keluarga ini tetap harmonis. Juga gantian ketika sang Ibu Edia Rahayu, sebagai pengajar di UGM, harus melanglang berbulan-bulan di Jerman.

Kedua contoh insiden "pisah ranjang" karena tugas itu bukan hal baru bagi keluarga akademisi ini. Boleh jadi karena "cobaan" semacam itulah yang membuat putra-putrinya, Yos, Hanum dan Peter, menjadi insan-insan yang tergembleng untuk mendiri dalam meraih prestasi.

Selamat berbahagia untuk Mas Kris, mBak Yayuk, untuk Yos, Hanum dan Peter. Semoga waktu dua puluh lima tahun ke depan, saat merayakan pesta kawin emas nanti, "dalam perjalanan ke depan bagi keluarga yang saling dan selalu mengasihi ini, akan mampu membuat "waktu perjalanan menjelma sebagai keabadian."

Keabadian dalam berbakti, untuk keluarga hingga untuk negara dan sesama, mungkin persis sama seperti cita-cita luhur sang Anoman. Ketika ia ditanya oleh Prabu Rama, untuk memilih hadiah yang terbaik untuk dirinya, maka Anoman menjawab bahwa ia ingin dikaruniai umur panjang, sepanjang ia mampu melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Prabu Rama untuk dirinya.

Perjalanan hidup dan pesta syukur dari pasangan Kristiyo-Edia Rahayu, sungguh menjadi inspirasi bagi seluruh warga trah kita, Trah Martowirono. Kita tunggu liputan cerita lebih lanjutnya ! (Bambang Haryanto).


Wonogiri, 6/8/2010

Monday, August 02, 2010

Prof. Dr. Retno Winarni, M.Pd dan Reuni Mini Trah Kita




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Kapal perusak Jepang Amagiri menghancurkan kapal PT-109 milik Amerika Serikat. Perang Dunia II lagi berkecamuk.

Komandan kapal AS yang tenggelam itu adalah John F. Kennedy (1917–1963,foto), yang di masa depan adalah presiden Amerika Serikat yang ke-35. Ia berhasil menyelamatkan nyawa anak-anak buahnya.

Ada lelucon tentang hal ini, ketika Kennedy dielu-elukan sebagai pahlawan. Ia malah menyangkal penghormatan itu.

Katanya, “Siapa bilang saya pahlawan ? Saya sampai sekarang masih mencari-cari orang yang menendang pantat saya hingga saya kecebur ke laut, lalu saya gapai anak-anak buah saya agar saya bisa sama-sama berenang ke pantai.”

Peristiwa heroik itu terjadi pada tanggal 2 Agustus 1943.

Peristiwa heroik yang jenis lainnya, dalam skala keluarga, terjadi pula pada tanggal yang sama. Tetapi terjadi 67 tahun kemudian. Sama-sama dalam posisi tercebur. Juga ramai-ramai.

Tetapi kali ini menyangkut warga Trah Martowirono. Kalau nenek-moyang kita tercebur ke halaman atau sawah, mungkin terguling dari tembo, yang tergenang banjir di Kedunggudel, maka para cucunya hari itu kecebur di tengah samudra suasana bahagia, bangga, terharu, dan terilhami.

trah martowirono,banner,pengukuhan guru besar uns,2 agustus 2010
Banner ucapan dari Trah Martowirono

Itu yang terjadi pada hari Senin, 2 Agustus 2010 di Solo. Hari itu salah seorang warga Paguyuban Trah Martowirono dikukuhkan menjadi guru besar dalam bidang Ilmu Konsep Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Beliau adalah Prof. Dr. Retno Winarni, M.Pd. yang pidato pengukuhannya berjudul Pembentukan Karakter Anak Bangsa Melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret

Bike to Work. Lagu “Syukur” yang dibawakan Paduan Suara Voca Erudita, ikut mewarnai upacara di Auditorium UNS Sebelas Maret tersebut. Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu anggota koor yang bersuara sopran itu adalah mahasiswi Arsitektur UNS, yang bersama kelompoknya baru saja pulang dari China dan memenangkan grand champion dari lomba yang diikuti peserta dari 81 negara. Dialah, Lintang Rembulan.

Sementara bapaknya, Mayor Haristanto, di tengah upacara itu justru berada di luar gedung. Karena ia punya job menunggu untuk memandu kelompok Jaran Dor yang didatangkan khusus untuk memeriahkan momen bersejarah hari itu. Termasuk mengawasi, agar mereka tak keburu memakan beling atau piring-piring katering dari perhelatan akademis di UNS itu.

Lintang dan Mayor tidak sendirian. Warga Trah Martowirono dari Kaliurang diwakili Ibu Dwi Hastuti dan bodyguard setianya, Bapak Sudoyo. Kontingen dari Banguntapan, Bantul, yang baru saja sukses menjadi event organizer HUT Kota Pacitan, menghadirkan aktor utamanya : Bapak Untung Suripno dan Ibu Erry.

“Kamerad Duc” dari Kamboja, jelas tak bisa hadir, tetapi mewakilkan salah seorang kenalan jauhnya (kurang lebih 1000 km), yaitu kandidat doktor dari Universitas Negeri Yogyakarta, Bapak Kristyo Sumarwono. Beliau hadir khusus karena sengaja menyebar desas-desus konkrit, bukan isu palsu, bahwa pada tanggal 7 Agustus 2010, beliau akan merayakan Pesta Kawin Perak dengan Ibu Dr. Ir. Edia Rahayu di Gazebo Garden Resto, Yogyakarta. Sekaligus mengharapkan warga trah sudi hadir.

Warga Trah Martowirono dari Komunitas Bike to Work yang bermarkas besar di Polokarto, juga hadir. Beliau adalah Bapak Parmono. Ketika bertemu pertama di aula, yang pertama ia tanyakan : “mana undangannya, saya harus membawanya.” Oleh Ibu Endang, undangan itu langsung beliau berikan. Tetapi hari itu beliau tidak membawa koleksi atau pun komunitas sepeda onthel-nya. Beliau nampaknya menyetir sendiri BMW-nya.

Reuni mini Trah Martowirono memang terjadi saat itu. Belum banyak kesan dan pesan yang bisa dikorek, tetapi semoga tulisan dalam banner ucapan dari trah kita itu bisa agak mewakili isi hati kita semua yang berbahagia. Antara lain tertulis :

“Prestasi Ibu Retno Winarni,
juga seluruh keluarga yang mendukung,
sungguh menjadi teladan, menjadi inspirasi yang mencerahkan
sekaligus menghangatkan hati bagi seluruh warga
Keluarga Besar Trah Martowirono.

Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami semua
memperoleh anugerah untuk menjadi saksi
dalam momen bersejarah ini.”

nandariyah,retno winarni,trah martowirono,uns,2 agustus 2010
Dua profesor baru di UNS.Ibu Prof. Dr. Ir.Nandariyah, M.S. dari Fakultas Pertanian (kiri) dan Prof. Dr. Retno Winarni, M.Pd.

trah martowirono,banner,pengukuhan guru besar uns,2 agustus 2010
Ucapan selamat mengalir dari audiens kepada Ibu Prof. Dr. Retno Winarni, M.Pd.

Selamat kepada Ibu Prof. Dr. Retno Winarni, M.Pd. Hari itu beliau tercatat sebagai guru besar yang ke 132 di lingkungan UNS Sebelas Maret. Selamat juga untuk Bapak Y. Agus Budi Santoso, SE. Juga untuk kedua putra beliau, Agifta Guntur Saputra, SE, MM dan Bomby Adi Nugraha.

Tidak lupa ucapan selamat berbahagia kepada keluarga besar Bapak Sumardi Pudji dan Ibu Supamiyati dan keluarga besar Bapak Benyahmin Hadi Saputro dan Ibu Christina Sawalinten.

Ketika menutup pidato pengukuhannya, beliau sempat terisak, menahan keharuan, saat mengucap : “Saya berdoa semoga Allah Yang Maha Pengasih berkenan memberikan imbalan yang berlipat kepada pihak-pihak yang telah saya sebutkan di atas, atas segala hal yang telah diberikan kepada saya. Akhirnya, semoga Allah berkenan memberkati kita. Amin.”

Tanggal 2 Agustus 2010 adalah tanggal bersejarah bagi Trah Martowirono. Tanggal yang sama di tahun 1990 adalah saat Irak menginvasi Kuwait. Tahun 1612 adalah hari kelahiran Saskia van Uylenburgh, istri dari Rembrandt van Rijn. Tahun 1956. Isabel Pantoja, penyanyi Spanyol lahir. Tahun 1924 adalah hari kelahiran novelis dan esais James Baldwin (1924–1987).

Ketika menyimaki butir-butir yang menarik dari isi pidato Prof. Dr Retno Winarni, M.Pd., saya tertarik pada paparan tentang pendekatan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan istilah PAKEM (“moga mbak Dwi dan Mas Doyo bisa senyum-senyum”).

Paparan ini yang memicu saya untuk mengingat kata-kata James Baldwin itu. PAKEM adalah singkatan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Dalam pembelajaran ini yang aktif adalah siswa.

Tetapi, kira-kira apa bisa ? Baldwin mengatakan, “anak-anak tidak pernah menjadi pendengar yang baik terhadap nasehat dari orang tuanya, tetapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru mereka. Mereka harus melakukan hal itu, karena memang tidak ada panutan lainnya.”

Kalau orang tua dan gurunya tidak suka sastra, walau dirinya mengajar sastra, lalu apa kira-kira yang akan terjadi pada anak-anak (mereka) itu ?

Pertanyaan itu, semoga, dapat kita cari jawabnya secara bersama-sama.


Wonogiri, 2 Agustus 2010

Thursday, July 29, 2010

In Memoriam: Bulik Gunarni : Tokoh Pertama Yang Mengenalkan Dunia Olahraga



Oleh : Broto Happy W.
Email : brotohappy (at) yahoo.com


Berita duka cita meninggalnya Bulik Gun di Purwokerto, tentu begitu mengagetkan. Saya menerima kabar ini pertama kali dari Lik Bhawarto lewat pesan singkat pada Senin (12/7) siang jam 10.55. Hanya karena saya habis begadangan mengerjakan tabloid BOLA edisi Senin yang memuat liputan hasil final Piala Dunia Afsel 2010, pesan pendek itu baru saya baca tengah hari setelah bangun tidur.

Inilah kelemahan para “Bangsawan”. Informasi yang bergulir sejak pagi hingga siang hari, selalu telat direspons. Itulah yang terjadi pada saya. Maklum, saya termasuk “Bangsawan” tadi alias Bongso Tangi Awan. Kelompok yang bangun tidur selalu di siang hari!

Kemenangan timnas Spanyol, salah satu favorit saya selain yang utama Jerman, tetap terasa hambar. Kebahagian kemenangan tim jagoan saya atas Belanda lewat gol tunggal Andres Iniesta tetap terasa ‘ampang’. Pikiran saya terganggu dan tersita oleh berita duka ini.

Untuk segera berangkat ke Purwokerto tentu bukan urusan mudah. Apalagi, urusan pekerjaan di kantor juga tetap banyak. Toh kalau dipaksakan berangkat ke Kota Keripik, jenasah bulik pun pasti sudah dimakamkan. Akhirnya, hanya doa tulus yang bisa saya lantunkan untuk Bulik Gun tercinta. Semoga damai dan tenteram pulang ke rumah Bapa di Surga. Saya yakin Bulik kembali ke sorga dengan bahagia. Begitu pula dengan keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan dan ketabahan iman! Amin!

Meninggalnya Bulik Gun meninggalkan sejumlah kesan mendalam bagi saya. Lewat bulik pula, setidaknya saya telah dikenalkan dengan dunia olahraga sejak merangkak ke masa remaja. Berkat bulik pula ternyata dunia olahraga itu kini menjadi profesi dan karier saya sebagai wartawan Tabloid BOLA.

Ceritanya, ketika saya duduk di seputaran bangku sekolah dasar kelas empat atau lima. Suatu ketika saya diajak ibu mengunjungi Bulik Gun di tempat tinggalnya, di kompek perumahan Lembaga Pemasyarakatan di Donoharjo, Wonogiri. Tempat ini ketika kecil lebih terkenal dengan nama Jembrok. Bulik tinggal bersama Om Prijardjo Drijonomarkus di sebuah rumah di sebelah kiri depan komplek LP. Di depan rumah itu ada lapangan tenis. Di sini saya baru tahu inilah yang disebut olahraga tenis. Maklum, ketika ibu bersilaturahmi dengan bulik, saya memilih bermain keluar rumah dengan menonton permainan tenis yang dimainkan para karyawan LP.

Saya tahu ternyata Om Pri dan Bulik Gun adalah olahragawan sejati. Keduanya tak hanya bisa main tenis, tetapi juga berprestasi. Itu saya ketahui saat melihat-lihat album foto hitam putih. Di dalam album itu, saya menjumpai foto-foto om dan bulik yang sering bepergian ke luar kota untuk bertanding. Seingat saya, ada salah satu foto itu memperlihatkan pose Bulik Gun difoto dengan kostum kebesarannya: semuanya serba putih. Kaus putih, rok putih, juga kaus kaki dan sepatu. Kostum serba putih ini mungkin diilhami oleh trend yang berkembang saat itu atau mengikuti penampilan para juara tenis dunia saat berlaga di Wimbledon!

Kesan bahwa keluarga ini adalah pecinta olahraga tenis sejati terasa makin kental setelah duduk di ruang tamu. Di dinding tergantung raket tenis yang terbuat dari kayu. Saat digantung di dinding, agar tidak gampang melengkung atau berubah bentuk, di bagian kepala raket tersebut di-press atau diberi rumah.

Ketika itu, sambil nonton di luar lapangan yang dibentengi kerangkeng ram kawat, rasanya kepengin sekali bisa memegang dan memiliki bola tenis yang berwarna kuning itu. Tak heran, ketika ada bola yang dipukul melenceng keluar lapangan, saya dan juga anak-anak kecil lain, langsung berebut untuk mendapatkannya. Padahal, setelah didapat, bola kuning itu pasti diminta kembali oleh para pemain tenis. Maklum, ketika itu bola tenis termasuk benda mewah.

Ketika saya diberi oleh-oleh bola tenis oleh Om Pri atau Bulik Gun, senangnya bukan main. Kendati bola itu sudah gundul itu, rasanya sungguh menyenangkan. Maklum, bola itu bisa dimainkan di rumah karena karakternya yang mudah dipantul-pantulkan itu.

Entah karena mukjizat bola tenis gundul ini atau karena hal lain, saya memang jadi begitu keranjingan olahraga. Main sepakbola oke, main badminton juga oye. Apalagi saat duduk di bangku SMP, bapak membuat meja pingpong di rumah. Hari-harinya pun sarat dengan kegiatan olahraga.

Berkunjung ke Purwokerto

Kembali ke kesan mendalam dengan mendiang Bulik Gun. Waktu berjalan begitu cepat. Mungkin berkat pengenalan Bulik Gun dengan dunia olahraga di kala kecil, saya pun kemudian meretas karier sebagai wartawan olahraga. Sambil kuliah di Jurusan Publisistik, Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Solo, mulai tahun 1986 saya menjadi koresponden Tabloid BOLA di wilayah Jateng dan sekitarnya.

Karena jangkauan daerah liputan yang demikian luas dan harus dikerjakan sendirian, bukan persoalan sulit bagi saya untuk mengunjungi kota-kota di Jateng dan Yogyakarta, termasuk ke Purwokerto. Sebenarnya Kota Keripik ini tidak termasuk kota yang memiliki kegiatan olahraga yang menonjol di Jateng. Namun Purwokerto telah melahirkan perenang tangguh, Meitri Widya Pangestika, yang kerap membela Indonesia di forum internasional.

Karena dinilai berhasil, sering kali Tabloid BOLA menugaskan saya untuk ke Purwokerto untuk membuat liputan seputar pembinaan renang di sana. Kesempatan seperti inilah yang sering saya gunakan untuk sekalian bersilaturahmi ke rumah Om Pri di kawasan Bantar Soka. Bahkan, kalau tidak tengah dikejar deadline, tidak jarang saya memilih menginap.

Kalau ingatan saya tidak keliru, kamar di bagian depan sebelah kanan rumah Om Pri memang sengaja dikosongkan untuk tamu. Ini menjadi kamar favorit saya setiap berkunjung ke Purwokerto. Tak hanya kamar tidur, yang membekas di benak saya adalah keberadaan sumur yang berada di sebelah kiri rumah, dekat dapur.

Karena belum berlangganan air bersih, setiap mau mandi, kita wajib menimba dulu. Hanya, rasanya senang saja menimba air di rumah Om Pri ini. Pasalnya, beberapa tarikan tali tambang, ember yang bersisi air sudah berada di atas dan tinggal dituang ke dalam bak mandi. Ini berbeda dengan sumur di rumah Kajen, Wonogiri, yang begitu dalam dan melelahkan setiap menimba.

Yang tidak kalah berkesan, yaitu saat makan. Entah itu sarapan atau makan siang. Bulik Gun selalu menyediakan masakan khas Purwokerto. Lewat bulik juga saya bisa mengenal yang namanya tempe mendoan. Sesuatu yang tidak pernah saya temui di Kajen!
Hanya itu kesan manis dengan mendiang Bulik Gun? Oh tidak. Cerita dan kenangan dengannya terasa banyak. Sulit untuk ditulis satu per satu. Bulik juga begitu ramah dan hangat dalam menyambut keponakannya yang datang. Pendeknya, bulik begitu perhatian.

Pernah suatu kali saya bertugas liputan lagi ke Purwokerto. Saya pun, seperti yang sudah-sudah, selalu menyempatkan mampir. Hanya, kunjungan kali ini malah merepotkan Bulik Gun. Karena sejak dari Solo sudah nyut-nyutan, sakit gigi saya kumat. Wah, terasa begitu sakit! Hingga kini, saya belum pernah merasakan sakit gigi yang demikian hebatnya seperti yang saya rasakan di Purwokerto.

Bulik pun jadi repot. Namun di sinilah hebatnya bulik. Dia tak ubahnya ibu. Bulik dengan sabar menyiapkan ramuan tradisional. Kalau tidak keliru daun sirih ditumbuk dan airnya untuk kumur-kumur. Sambil menyuruh berkumur-kumur air daun sirih, Bulik yang duduk di depan saya, terus berdoa sambil memejamkan mata.

Hasilnya: luar biasa! Sakit gigi saya berkurang. Nyut-nyutan yang membuat kepala pening berangsung-angsur hilang. Saya pun esok harinya bisa kembali ke Solo dengan nyaman dan tidak diganggu sakit gigi lagi.

Kini, Bulik Gun sudah tenang dan tenteram di Surga. Yang kita ingat hanya budi baik, jasa, dan suri teladannya. Saya yakin, kasih sayang dan pengorbanan tulus yang diberikan Bulik Gun itu tidak hanya saya rasakan sendirian, tetapi juga oleh keluarga, keponakan, dan saudara-sadara yang lain. Saya juga percaya segala budi baik dan kasih sayang Bulik Gun itu telah dibagi dan dirasakan kepada semua orang.

Selamat jalan Bulik Gun! Kasih sayang, kehangatan, dan segala pengabdiannya, akan selalu saya kenang. Terima kasih atas semua jasa dan keteladanannya untuk saya sendiri dan juga untuk umat manusia!

Semoga damai di rumah Bapa di surga!


Bogor, 29/7/2010

Wednesday, July 28, 2010

Hadir Kini, Profesor Di Tengah Trah Martowirono Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) yahoo.com

Keluarga Besar Trah Martowirono berbangga karena salah satu warganya, Prof. Dr. Retno Winarni, M.Pd., akan dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Konsep Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Waktunya : Senin, 2 Agustus 2010. Bertempat di Auditorium UNS Jl. Ir. Sutami 36 A Kentingan, Surakarta. Acara dimulai jam 10.00.

Judul pidato beliau di depan Sidang Senat Terbuka UNS adalah "Pembentukan Karakter Anak Bangsa Melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia."

Rindu bertemu. Dalam email 26/7/2010 yang dikirimkan kepada Bambang Haryanto, tertulis : “Met malam Mas Bambang. Kemarin saya ke rumah dik Endah, Yogya, titip undangan 2 Agustus. Saya harapkan bisa rawuh dengan keluarga yang lain.

Dalam undangan tertulis untuk satu orang dan undangan harap dibawa; itu hanya formalitas alias undangan satu bisa untuk 2 orang. Mohon doa restu agar acara pengukuhan guru besar saya berjalan lancar dan sukses. Amin.

Salam hormat dan rindu bertemu buat seluruh keluarga besar Martowirono.”

retno winarni,agus,trah martowirono,guru besar uns,pendidikan bahasa indonesia

Selamat untuk Ibu Winarni, Bapak Agus, dan seluruh keluarga yang berbahagia. Prestasi beliau ini pasti menjadi teladan, inspirasi yang mencerahkan dan menghangatkan hati bagi seluruh warga keluarga besar Trah Martowirono. Seperti halnya saat kehadiran kedua beliau dan keluarga, antara lain nampak dalam foto saat hadir dalam acara Reuni Trah Martowirono XXII, Di Kajen Wonogiri, 5 Oktober 2008.

Trivia dari Kajen. Mungkin ini berita tak begitu penting. Insya Allah, kontingen kubu Kajen, keturunan taler IV, Sukarni/Kastanto Hendrowiharso, akan hadir. Bahkan melalui hubungan kabel panas, alias hotline antara Wonogiri-Solo-Bogor, segera kami mempersiapkan “sesuatu” dalam menyambut dan memeriahkan momen bersejarah itu. Kata kunci untuk happening tersebut adalah : atraksi makan beling :-).

Sebagai catatan sejarah, bersamaan dengan pengukuhan Ibu Retno Winarni juga dilaksanakan acara pidato serupa oleh Prof. Dr. Ir. Nandariyah, M.S. Beliau ini akan dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Pemulihan Tanaman pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Judul pidatonya adalah "Pemulihan Tanaman Buah-Buahan, Peluang dan Tantangan Dalam Mendukung Kemajuan Pertanian di Indonesia."

Kehadiran guru besar berikutnya dari keluarga besar Trah Martowirono, saya yakin, akan segera menjadi kenyataan. Kita tunggu dengan kegembiraan !


Wonogiri, 28/7/2010

Warga Trah Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Pohon palem muda itu nampak tidak terurus.
Lokasinya di Alun-Alun Utara Solo.
Antara tahun 1973 atau 1975.

Siapa sangka, pohon itu merupakan embrio paling awal gagasan berdirinya komunitas Epistoholik Indonesia (EI). Saat itu saya menulis surat pembaca ke surat kabar Suara Merdeka, memasalahkan pohon palem yang terlantar tersebut.

Surat pembaca saya dimuat. Pohon palem itu tidak jadi mati, disirami, dan terpelihara hingga tumbuh besar. Saya pun segera kecanduan untuk terus menulis surat-surat pembaca. Benih komunitas Epistoholik Indonesia mulai disemaikan.

Kalau saya sekarang ini berjalan-jalan di Alun-Alun Utara Solo, seolah saya mendengar pohon-pohon palem itu berseru : "Halo Pak Bambang, apa kabar ? Terima kasih atas bantuan bapak, yang membuat kami kini tumbuh subur dan berkembang.Terima kasih, pak !"

bambang haryanto,jagongan media rakyat 2010,epistoholik indonesia,surat pembaca

Cerita rekaan itu saya ulang di Pendopo Jogja National Museum, Jumat, 23 Juli 2010, malam. Audiens pun tertawa-tawa. Saya bisa hadir di komplek bekas kampus ASRI/ISI itu saya diundang oleh panitia Jagongan Media Rakyat 2010.

Untuk mendongeng mengenai kiprah saya selama ini, selama 35-37 tahun, sebagai penulis surat pembaca dan sebagai penggerak komunitas Epistoholik Indonesia (EI) yang berkiprah dalam aktivitas penulisan surat pembaca. Di panggung tertempel banner dengan teks berbunyi :

Talkshow : "Memindahkan" Himalaya Melalui Surat Pembaca.
Jumat, 23 Juli 2010.
Narasumber : Bambang Haryanto
(Pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia).


Laporan akan berlanjut.
Untuk laporan pertama, silakan Anda klik di sini dahulu. Terima kasih.


Wonogiri, 27/7/2010

Berstirahat Dalam Damai, Ibu Gunarni (1937-2010)





Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


"Berita duka. Telah menghadap Bapa di Sorga pada hari ini : 1. Ibu Gunarni di Purwokerto dan 2. Bp. S. Parjan di Wiladeg GK."

Pesan singkat itu berasal dari Bapak Untung Suripno, Yogyakarta, yang saya terima di Kajen, Wonogiri, Senin, 12 Juli 2010, Jam 0.46.48. Sejurus kemudian pesan singkat yang sama, saya terima dari Bapak Bhawarto.

Berita duka itu lalu berantai, menyebarkan rasa duka mendalam kemana-mana. Intinya, keluarga besar Trah Martowirono kembali kehilangan salah satu waris terdekatnya.

"Sugeng tindak, Bu Lik Gun. Keluarga Kajen dan juga seluruh warga Trah Martowirono, di mana pun berada, senantiasa mendoakan agar beliau kini tentram, beristirahat dengan damai, di sisi Yang Maha Kuasa.

Semoga pula keluarga yang ditinggalkan, baik putra-putri beliau, Santoso Priyo Utomo, Didut, Ida, Ririn dan Diyan dan semua wayah, memperoleh rahmat kesabaran dan ketegaran dalam menerima kesedihan ditinggal oleh ibu dan eyang yang tercinta."

Kenangan pribadi. Bu Lik Gun dan Om Pri (Markus Priyarjodriyono), pernah mengajak saya untuk main-main ke tempat kerjanya. Di Lembaga Pemasyarakatan Solo. Lalu juga ke mess pegawai LP, persis di belakang LP. Sebelah barat kantor pos Solo.

Sepertinya, baik rumah atau pun gerbangnya belum banyak berubah sampai saat ini. Saat itu saya masih duduk di klas 3 atau 4 SD, karena, kalau tidak salah ingat, itu terjadi ketika Solo belum dilanda banjir besar tahun 1966.

Data tentang almarhumah menjadi lebih valid ketika saya bersama Bari berbincang-bincang dengan Sriawan (almarhum), Senin, 15 Oktober 2007. Setelah sehari sebelumnya mengikuti Reuni Trah Martowirono di Polokarto dan mendapat kabar mengenai sakitnya Lik Awan, saya bersama Bari mengunjungi beliau di rumahnya, di Kedungringin, Wonogiri.

Mengulang kembali, kita tahu, ayah Lik Awan yang bernama Eyang Ratmowijoyo (kelahiran Januari 1910), adalah adik dari mBah Dung putri alias mBah Martowirono putri.

Mereka bertiga dengan anak yang terkecil bernama Bangin Martosuwiryo, yang ayah dari Lik Bhawarto, ketiganya merupakan putra/putri keluarga Makun Martowijoyo.

Eyang Ratmowijoyo yang memiliki nama kecil Walijan, memiliki istri pertama, bernama Dalmi, asal Serenan, Klaten. Dikaruniai dua putri, Gunarti (meninggal 1963, makamnya di Kajen, Wonogiri) yang bekerja di Agraria Wonogiri. Putri keduanya, Gunarni, kelahiran tahun 1937, bekerja di Lembaga Pemasyarakatan. Almarhumah pernah tinggal lama di Wonogiri bersama suaminya Priyarjodriyono Markus (almarhum), dan sekarang tinggal di Purwokerto.

Istri kedua Eyang Ratmowijoyo bernama Misni, asal Banmati, Kenep, Sukoharjo. "Saya masih ingat beliau, karena memiliki ciri khas, bergigi emas," kata saya. Lik Awan pun mengiakan. Dari perkawinan ini telah lahir dua putra, yaitu almarhum Sriawan (28 April 1959-5 Februari 2008) dan Dwiaji Nugroho yang sekarang tinggal di Tangerang.

Lik Awan dan Bu Lik Gun.
Keduanya sama-sama telah dipanggil Tuhan.
Kita harus merelakannya.

Adakah warga Trah Martowirono memiliki kenangan atau foto-foto tentang kedua beliau ? Saya tunggu, untuk bisa kita pajang di blog trah kita ini. Mas Santoso, saya sabar menunggu tulisan Anda.


Wonogiri, 27/7/2010

Friday, June 25, 2010

Blog, Air Menetes Di Batu dan Esquire




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


"Tak ada apa pun di dunia ini yang mampu menggantikan persistensi." Demikian kata Calvin Coolidge (1872-1933), President Amerika Serikat ke 30. Bakat, kejeniusan, dan juga pendidikan, begitu menurutnya, tidak akan mampu menggantikannya pula.

Persistensi ibarat tetesan air di permukaan batu. Tetes pertama sampai tetes yang ke seratus, mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap batu tersebut. Tetapi kita tahu apa yang akan terjadi bila tetes-tetes air itu akan terus berlanjut.

Menulis di blog di Internet adalah ibarat mengalirkan tetes-tetes air itu pula. Apabila dilakukan dengan cinta, antusias, persisten, dan fokus, hasilnya akan berbicara sendiri.

Analis politik Sukardi Rinakit sering menulis di harian Kompas dengan diakhiri kalimat "Gusti ora sare," Tuhan tidak tidur. Kira-kira maksudnya adalah, betapa keangkaramurkaan para pejabat atau birokrat yang korup, yang membuat rakyat sengsara, pasti tidak akan dibiarkan merajalela oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Di dunia Internet juga ada slogan serupa. Bunyinya : Google ora sare. Google tidak pernah tidur. Barangkali karena Google tidak punya amben :-). Maksudnya adalah, apa pun yang Anda sumbangkan di dunia maya, pasti akan tercatat di mesin pencari hasil otak-atik jenius Larry Page dan Sergei Brin itu. Secara ekstrim dapat pula dikatakan bahwa malaikat yang mencatat kebaikan dan juga keburukan tingkah laku kita di dunia maya, ya mesin pencari Google itu pula.

Tetapi Google memiliki keterbatasan. Ia tidak mampu mencatat tulisan-tulisan status atau catatan kita di akun Facebook kita. Facebook di dunia maya ibarat the walled garden, taman yang dipagari, dan hanya dapat diakses oleh teman-teman kita saja. Sementara blog, ibarat kafe informasi yang dapat didatangi oleh siapa saja di dunia ini, oleh mereka yang dapat terhubung dengan Internet.

Blog Trah Martowirono ini sudah menjadi bukti ketika warga trah kita ini bisa saling mengontak dengan warga Trah Martowirono di manca negara, walau tak ada kaitan dan semata hanya kesamaan nama, yang berada di Amerika Serikat, Belanda dan Irlandia.

Hal serupa terjadi di akhir bulan April 2010. Saya memperoleh telepon dari Syarief Hidayatullah, Junior Editor, majalah Esquire Indonesia yang berkantor di Jakarta. Rupanya ia hendak menulis sesuatu topik yang mencocoki atmosfir penyelenggaraan Piala Dunia 2010, yaitu tentang suporter sepak bola Indonesia.

Rupanya ia sudah melakukan pekerjaan rumah, dibantu Google, untuk menemukan blog saya Suporter Indonesia. Obrolan itu kemudian tertuang dalam artikel berjudul "Menghapus Noda Merah : Dua Kali Kartu Kuning Untuk Baku Hantam Antarsuporter Sepakbola" di majalahnya edisi Juni 2010 yang memajang gambar sampul komediene Amerika Serikat yang terkenal, kelahiran 18 Mei 1970, Tina Fey (foto).

Petikan kutipan yang memuat nama dan pendapat saya :

"Stigma telah tergores bahwa suporter adalah himpunan orang-orang dungu, fanatisme sempit, emosi yang mudah terbakar, agresif dan destruktif," ujar Bambang Haryanto, suporter sepakbola pencetus Hari Suporter Nasional (12 Juli) yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Analisa Chairul tentang rentang usia pemicu perkelahian itu dibenarkan Bambang Haryanto. Mereka masih berada pada masa ingin menunjukkan mereka superior. "Berdasarkan pengalaman saya, penonton dari kelas menengah di rentang usia lebih matang cenderung lebih santun," timpal pria yang sempat menjabat sebagai Sekjen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI) ini.

Selain itu, masalah lain adalah budaya primodialisme atau kesukuan yang kental di Indonesia dan soal kerumunan massa. "Ada teori klasik yang menyatakan bahwa dalam sebuah kerumunan, otak menghilang, sisanya hanya tangan. Teori ini tidak hanya berlaku dalam sepakbola, tapi juga dalam dinamika kehidupan beragama sampai rapat atau sidang DPR," ujarnya disambung tawa ringan.

Bicara soal solusi, menurut Bambang Haryanto, diperlukan proses panjang untuk melakukan pendewasaan perilaku suporter secara komprehensif. "Ada kebijakan yang mendukung tujuan ini, edukasi untuk mendewasakan suporternya, ada gerakan nyata dari organisasi suporter mau pun sepakbolanya. Suporter harus diposisikan sama pentingnya dengan pemain dan wasit dalam pertandingan."


Reward is in the doing. Seusai pemuatan artikel itu, kontak saya dengan Syarief Hidayatullah, tidak terus berhenti. Malah ia kemudian ia akan memberi saya "pekerjaan" sebagai tukang memberi komentar kritis untuk terbitan majalah Esquire Indonesia pada edisi-edisi mendatang. Untuk itu saya akan memperoleh kiriman gratis majalah yang berbobot dan dicetak mewah ini. "Terima kasih Mas Syarief, untuk kehormatan dan kepercayaan yang Anda berikan ini."

Blog adalah air yang konsisten menetes ke permukaan batu. Kalau Anda mencintai subjek atau topik yang Anda tulis, Anda akan memperoleh kegembiraan ketika melakukannya. Reward is in the doing. Pahala atau berkah akan Anda peroleh ketika Anda sedang mengerjakannya. Sedang datangnya telepon tak terduga atau tiba-tiba Anda ditodong untuk menjadi nara sumber untuk sesuatu masalah, itu semua hanya bonus semata.

Dan sepanjang pengalaman saya nge-blog sejak tahun 2003 dan punya akun Facebook sejak tahun 2008, kayaknya baru blog-blog saya saja yang membuat diri saya "peye" di maat media massa. Bagaimana komentar dan pengalaman Anda ?

Wonogiri, 25/6/2010

Wednesday, May 26, 2010

Gesang dan Warga Trah Martowirono 2007-2010




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Saya menghadiri perayaan ulang tahunnya yang ke-90. Tanggal 1 Oktober 2007. Bukan perayaan di hotel atau gedung megah, tetapi di rumahnya, di Kemlayan, Solo.

Pada hari Selasa, 1 Oktober 2007 itu, saya menyaksikan hari ulang tahun Gesang yang dirayakan oleh puluhan anak-anak Solo. Dari anak-anak TK Primagama Solo, SD Al-Firdaus dan SD Pangudi Luhur sampai SMA St. Joseph, Solo.

Mereka bergantian mengadakan konser di depan Sang Maestro Keroncong, siang itu. Penyelenggara acara unik itu adalah Republik Aeng-Aeng Solo, dengan komandan Mayor Haristanto. Acara itu menghadirkan keharuan.

Solo yang juga ketularan fenomena pemanasan global membuat jalanan di depan rumah Jl. Bedoyo 5 Kemlayan, domisili Gesang, terasa menyengat bagi kulit anak-anak. Untung sekelompok ibu-ibu berprakarsa mengembangkan payungnya, menghadirkan keteduhan dan melindungi anak-anak itu dari sengatan sinar matahari.

Totalitasnya, hadirnya keteduhan, rasa cinta, hormat dan keharuan mendalam untuk memperingati hari bersejarah dan mensyukuri karunia umur panjang Sang Gesang. Konser dibuka oleh alunan harmoni pianika yang nampak inosen, flute dan organ, suguhan anak-anak SD Pangudi Luhur Solo.

Mereka menyajikan "Bengawan Solo" dan "Tirtonadi," keduanya ciptaan Gesang. Kemudian diikuti oleh semua yang hadir, Cindy Nirmala, murid kelas V yang cantik itu, menyanyikan lagu "Terbaik Bagimu," lagu manis yang dipopulerkan Ada Band dan Gita Gutawa. Gesang yang berbaju batik merah cerah, nampak matanya berkaca-kaca.

lintang rembulan,ulang tahun gesang ke-90,1 oktober 2007

Seusai acara, saya sempat meminta tanda tangan Gesang. Juga bersama Mayor, Lintang Rembulan (foto) yang sebelumnya memainkan biola dari kelompok keroncong SMA St. Joseph, kami berfoto bersama beliau.

Mengantar Gesang. Hampir tiga tahun kemudian, saya bisa kembali ke rumah Gesang itu. Senin, 24 Mei 2010. Lima hari yang lalu, maestro keroncong itu sudah dipanggil kembali Sang Khalik. Saya bersama Mayor, dik Nani Mayor dan Lintang Rembulan, ikut menjadi saksi saat upacara pelepasan jenasahnya di Pendapi Gedhe, Balai Kota Surakarta, 21 Mei 2010 siang.

gesang,bambang haryanto,ngarsopuro,24 mei 2010,mengenang jasa gesang,sd muhammadiyah 1 solo,tk primagama solo

Sebelum ke rumah itu, kembali Republik Aeng-Aeng mengadakan acara mengenang Gesang. Bertempat di Ngarsopuro, Jl. Gatot Subroto Solo, lokasi pedestrian dan night market yang buka tiap Sabtu Malam, puluhan anak-anak Solo berkumpul lagi di Senin pagi tersebut.

Mereka menyanyikan lagu "Bengawan Solo," pembacaan puisi oleh Anni, musikalisasi puisi diiringi gesekan biola Hieronia Intan dari SMA St. Yosef dan petikan gitar Agus S. Dhukun, dan juga cerita guru tentang keteladanan Gesang selama hidupnya.

Aktivitas itu berlangsung di Ngarsopuro, di depan lukisan Gesang yang terpampang di tembok pinggir jalan. Lukisan karya pelukis Sugeng Riyanto itu berjudul "Sang Maestro" (2009), berukuran 1,6 x 2,5 meter , dibuat dengan bahan cat besi di atas plat alumunium.

bambang haryanto,mayor haristanto,gesang,gesang wafat,24 mei 2010,sd muhammadiyah 1 solo

Usai acara, mereka berbaris, untuk ramai-ramai mengunjungi rumah almarhum Eyang Gesang. Saat itu saya sempat berfoto dengan seorang ibu sepuh, adik Pak Gesang, dan keponakannya yang berbagi cerita bahwa Gesang lahir, dibesarkan, menjalani masa sepuh, ya di rumah itu pula. Rumah warisan orang tuanya.

Entah kapan lagi, saya bisa mampir lagi ke rumah ini.
Selamat jalan, Eyang Gesang.
Lagu-lagu dan karyamu akan abadi.


Bambang Haryanto
Blogger Wonogiri.
Bukunya, Komedikus Erektus : Telanjang Tegak Berdiri Menghumori Republik Kita Ini (Etera Imania, 2010) akan segera terbit.


Wonogiri, 26 Mei 2010

Wednesday, May 12, 2010

Trah Martowirono, Menggurat Kenangan Di Malaysia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Polokarto 2002. “Senang dan bahagia rasanya memiliki keluarga besar yang suka humor,” demikian tulis Broto Happy Wondomisnowo dalam buklet Rekaman Cerita Pertemuan Trah XVI di Polokarto, Sabtu, 7 Desember 2002.

“Mungkin, karakter menyenangkan itu sudah diwariskan oleh mBah Dung. Apalagi, beliau juga senang bercerita. Kalau sudah cerita, sedikit bombastis memang, namun membuat kita senang mendengarnya. Lebih lagi, mBah Dung juga kocak.

Saya masih ingat, suatu ketika sowan ke Kedung Gudel. Seperti biasa, mBah Dung menasehati. Ringkas cerita isinya : ’Yen nyambut gawe ojo seneng keluyuran,’ tutur mBah Dung. Lalu saya matur : ’mBah, kulo niki dados wartawan. Nyambut damelipun dolan lan ngluyur mawon.’

Apa komentar mBah Dung berikutnya ?

’Ora opo-opo,’ sergahnya. Malah komentar berikutnya menyuruh sang cucu untuk melanglang buana lebih jauh lagi. ’Dolano sing luwih adoh. Ben duwite akeh,’ tambahnya sambil terkekeh.”

Kuala Lumpur 2010. Berkat doa restu mBah Dung dan seluruh warga Trah Martowirono, si empunya cerita di atas itu baru saja mengirim kabar dan foto kepada saya.

“Mas, ini saya kirimkan foto saja saat mejeng di depan Stadion Putra, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, tempat perhelatan Putaran Final Piala Thomas-Uber 2010 berlangsung.

Untuk foto mejeng lainnya, misalnya di Menara Kembar Petronas, belum ada waktu untuk jalan-jalan. Nanti saya usahakan kalau ada waktu longgar. Siang ini (12/5/2010-BH) Tim Thomas Indonesia jumpa India, ulangan pertandingan di penyisihan grup. Kala itu kita menang 4-1. Sedang tim Uber, Indonesia jumpa tuan rumah Malaysia.”

Terima kasih, Happy.
Dua foto tersebut dapat kita saksikan di bawah ini :

broto happy w,wartawan bola,piala thomas,piala uber,kuala lumpur,mei 2010,trah martowirono

broto happy w,wartawan bola,piala thomas,piala uber,kuala lumpur,mei 2010,trah martowirono

Umpama waktu dapat diputar balik, tentu saja mBah Dung Kakung dan Putri pasti akan merasa bangga bila melihat foto di atas. Bangga dan terharu, terutama karena doa untuk anak-anak dan cucu-cicitnya agar mampu membaktikan krida dan karyanya untuk masyarakat luas, telah benar-benar terkabul.

Dari Kuala Lumpur, juga dari kota-kota lainnya tempat warga Trah Martowirono berada untuk berkarya, tidak ada salahnya bila kita mampu menyisihkan momen khusuk tertentu untuk berdoa bagi kedua beliau, yang kini tenteram di sisi Yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Ide menarik juga ditawarkan. Bahwa tradisi membawa-bawa banner Trah Martowirono saat berkeliling dunia, atau keliling kota seperti dalam foto di atas, diusahakan akan berlanjut untuk tur-tur jurnalistik Broto Happy yang akan datang. Apakah warga trah lainnya tidak tertarik untuk melakukan hal yang sama ?

Saya tunggu kabar dan cerita plus foto-foto Anda.
Sukses selalu.

Hidup, Trah Martowirono !
Cocet krusa Martowirono !
Trah Martowirono, boleh !


Wonogiri, 12 Mei 2010