Thursday, April 23, 2009

Stuart Bruce, Nurdin Halid, Sepakbola Indonesia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tsunami sepakbola. Mie mentah dan dingin campur saus plus sambal. Itu salah satu menu sarapan saya pagi itu. Ini kesalahan pemula. Kesalahan wong ndeso di kota metropolis Singapura. Karena saya tidak sadar bahwa di dekat nampan mie itu ada kompor gas kecil yang diatasnya terdapat kuali tembikar berisi kuah panas untuk menjerang mie tadi. Maklum saja, saya bukan ahli gastronomi.

Sambil sarapan, saya membuka-buka majalah Newsweek edisi terbaru. Salah satu kolomnya ditulis editornya yang cemerlang, Fareed Zakaria. Hari itu, 17 Januari 2005, hanya berselang tiga minggu setelah tsunami dahsyat menghantam Aceh dan negara-negara di tepian Samudera Hindia.

Fareed Zakaria menulis, dalam setiap kejadian bencana, fihak yang diuntungkan adalah justru kaum papa. Kaum miskin. Mereka terbiasa tidak memiliki apa-apa dan sesudah bencana, mereka kembali juga tidak memiliki apa-apa. Tetapi, lanjutnya, bencana tsunami 2004 itu lain. Kaum miskin kali ini juga sangat merasakan akibat fatalnya.

Beberapa hari sebelumnya, saya memimpikan adanya sesisir penghiburan bagi para korban tsunami, juga bagi psyche bangsa Indonesia saat itu. Melalui sepakbola. Di final Piala Tiger 2004. Di semifinal tim kita bisa menghancurkan Malaysia 1-4 di kandang mereka, sungguh menggelorakan.

Tetapi dalam pertandingan final leg pertama di Senayan, 8/1/2005, kita kalah ditekuk Phill Bennet dan kawan-kawan dari Singapura dengan 1-3. Gol tembakan bebas Mahyadi Panggabean tidak menyelamatkan saya, yang duduk di pinggir lapangan, karena nyaris dihantam bom botol air mineral berisi air kecing kekuningan yang dilemparkan oleh penonton kita yang frustrasi dari tribun stadion.

Heal the nation.” Itulah bunyi spanduk besar, rancangan saya dan Mayor Haristanto, yang pada tanggal 16/1/2005, terpampang di sudut timur laut Stadion Kallang, Singapura. Tergurat di sana harapan, melalui sepakbola sembuhkan luka bangsa Indonesia akibat bencana tsunami, dan bangkitlah Indonesia untuk meraih kemenangan dan kejayaan. Kita kalah lagi, 1-2. Agregat : 2-5 untuk kejayaaan Aedi Iskandar dan kawan-kawan dari Negeri Singa itu. Tsunami sepakbola Indonesia kali ini membawa dampak lebih jauh. Mengalir kepedihan sampai kini.

Sepakbola fantasi. Esoknya, ada sedikit penghiburan. Koran utama Singapura, harian The Straits Times (17/1/2005) memuat ucapan saya. Bahwa saya masih punya optimisme terhadap masa depan sepakbola Indonesia. Saya masih mempercayai bahwa Peter Withe, pelatih timnas saat itu, akan mampu membuat timnas kita kembali berjaya.

Optimisme saya itu mungkin optimisme buta. Saya hanya menganalogikan sukses yang dicapai oleh Peter Withe (sampai saya membuat kaos dengan slogan : I Believe The Withe Magic !) ketika melatih tim Thailand, akan juga berbuah sukses ketika melatih Ponaryo Astaman dan kawan-kawan.

Ketika Peter Withe pergi, ketika Nurdin Halid masuk penjara karena tindak pidana korupsi dan ketika Nurdin Halid keluar dari penjara tetapi ia bersama kroninya tetap bersikukuh ingin memegang kendali PSSI, saya kali ini sudah putus harapan. Melalui stasiun televisi antv, beberapa hari lalu, tiba-tiba saya melihat siaran berisi acara peringatan HUT ke-79 PSSI.Dengan tajuk “PSSI Fantasy.” Maka saya pun segera semakin tahu kini : sepakbola Indonesia adalah sepakbola fantasi.

Fantasi-fantasi itu, khayalan demi khayalan itu, memang yang hidup di kepala para pengelola persepakbolaan Indonesia. Berkhayal dengan mengirimkan tim berlatih ke luar negeri akan mampu mendongkrak prestasi. Rumus lama yang selalu didaur ulang walau hasilnya semata kegagalan selama ini. Lalu berkhayal sebagai penyelenggara Piala Dunia 2018 atau 2022. Termasuk mungkin berkhayal, bahwa saat itu ketua PSSI tetap digenggam oleh Nurdin Halid beserta kroni-kroninya.

Mana aksi suporter kita ?. Tulisan Fareed Zakaria, juga cerita yang sering saya ulang mengenai final Piala Tiger 2004 di atas, muncul di benak lagi ketika ngobrol dengan Stuart Bruce. Ia suporter fanatik klub papan atas Skotlandia, Glasgow Rangers. Tempat ngobrolnya : Wonogiri, Kamis, 23 April 2009.

“Sebagai seorang Scotland, Stu itu Rangers sejati, sampai ke tulang dan darahnya :),” demikian bunyi sms dari Ade Soediro, eksekutif Radio Istara FM, Surabaya. Ade adalah tunangan dari Stuart Bruce (foto). Bagaimana ceritanya seorang suporter Glasgow Rangers bisa main ke Wonogiri ? Keajaiban itu bisa terjadi berkat blog di Internet, karena Google, terutama karena keagungan cinta. Hal ini bisa menjadi cerita tersendiri, termasuk menyangkut naskah buku saya Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati.

Stu kini tinggal di Manchester, Inggris. Sebagai seorang billy boys, sebutan bagi suporter Glasgow Rangers, ia pernah melanglang daratan Eropa. Juga sebagai seorang tartan army, sebutan bagi pendukung timnas Skotlandia. Suporter dari bangsa yang kaum prianya suka mengenakan rok kilt dan berbaris meniup alat musik bagpipe ini, tersohor tergolong sebagai kelompok suporter paling suportif dan sopan di Eropa.

The Tartan Army,” kata saya, “ dan juga Roligans dari Denmark, adalah kelompok suporter sepakbola yang perilakunya ingin menjadi suri tauladan kelompok suporter Indonesia.” Karena mereka bersahabat. Saat itu di pojok ruang tamu rumah saya, komputer sedang memutar CD saat kedatangan Pasoepati disambut meriah, gairah dan persahabatan, di tengah gemuruh Aremania di Stadion Gajayana, Malang, 21 Mei 2000. Saat itu tepat satu tahun reformasi di Indonesia !

Stuart Bruce, yang pernah menjadi dosen Sastra Inggris di Unika Sugiyopranoto Semarang, kini mendukung tim divisi 3 Stockport City di Manchester. “Kalau tur keluar kota, saya yang menjadi supir truk untuk membawa rekan-rekan suporter itu,” katanya bangga dan bahagia. Pengalaman hidupnya mendukung tim Skotlandia dan juga Glasgow Rangers yang diakuinya kurang bersinar di kancah Eropa, memberinya kebijakan dan kearifan. “Sebagai suporter tim lemah itu nothing to lose, kita terbiasa mengalami kekalahan, maka kita berusaha menikmati saja proses dan bukan hasilnya,” katanya sambil tertawa.

bambang dan stuart bruce
Suporter sepakbola itu bersaudara. Keajaiban blog, Google, Internet dan keagungan cinta, membawa seorang suporter Glasgow Rangers, Skotlandia, berkunjung ke Wonogiri. Saya dan Stuart bersama kaos tim Glasgow Rangers.

Terima kasih, Stuart. Dalam kunjungan ini Stuart Bruce “membaptis” saya sebagai salah satu bluenoses, sebutan sesama suporter Rangers, asal Wonogiri. Hadiahnya, kaos biru berplisir merah dari yang pernah dikenakan Giovanni van Bronckhorst, keturunan Maluku Selatan dan timnas Belanda sampai Andrei Kanchelskis, pemain sayap Rusia dan mantan MU itu, kini bisa yasa kenakan. Kepada Stuart Bruce, saya berikan buku kliping sejarah Pasoepati dan dokumentasi tur-tur Pasoepati dalam bentuk CD.

“Congrats ! Selamat menjadi fans baru Rangers !,” lagi-lagi sms dari Ade Soediro dan Stuart Bruce dalam perjalanan kereta api Solo-Surabaya. Mungkin Ade dan Stu lupa, rumah saya pun sudah lama menandakan sebagai fans Rangers. Pagar, daun jendela dan daun pintu, semuanya berwarna : biru Rangers. Kedatangan tak terduga dari Stuart dari Glasgow akhirnya itu ibarat sebuah siklus yang sempurna. Karena pada tahun 2007, Broto Happy W., redaktur sepakbola nasional dari Tabloid BOLA, yang adik saya, pernah mengunjungi Ibrox Stadium, markas besar klub Glasgow Rangers.


Teladan Gandhi. Teman-teman baru saya itu kini memang sudah meninggalkan Wonogiri. Tetapi ucapan Stuart Bruce masih membekas. Bahwa proses itu penting, walau hasil juga penting. Perjalanan itu penting, tujuan juga penting.

Menurut hemat saya, insan-insan pemangku kepentingan sepakbola Indonesia harus mau banyak belajar dari pengalaman hidup Stuart Bruce tadi. Menurut hemat saya, kita selama ini semata terobsesi untuk merengkuh hasil tetapi melupakan proses. Bahkan demi merengkuh hasil itu kita tega berbuat menghalakan segala cara, bahkan sampai melakukan tindakan kriminal.

Contoh aktual : aksi mengutak-atik bunyi peraturan FIFA oleh para petinggi PSSI kita, apakah juga perbuatan yang menghalalkan cara, sekaligus sebagai tindak kriminal ? Mungkin ikhtiar semacam ini bisa lolos. Tetapi hasil akhirnya akan dicatat oleh semesta, dan hanya kegagalan yang menyapa pada ujung-ujungnya.

Di tengah carut-marut tindak rekaculika itu, lalu di mana suara para suporter sepakbola Indonesia ? Kalau upaya meluruskan apa yang terjadi dalam tubuh PSSI saat ini dilakukan dengan cara seperti melakukan demo, justru cara seperti ini yang “ditunggu” oleh mereka. Apalagi kalau ada tindak kekerasan. Kita para suporter akan terjebak dalam alunan gendang aksi mereka.

Rekan-rekan suporter, beraksilah dengan metode di luar kotak. Tirulah cara Mahatma Gandhi (1869-1948) dalam menanggapi tindak kekejaman kolonial Inggris saat itu ketika India menjelang kemerdekaannya. Gandhi menyerukan pendukungnya untuk melakukan aksi anti kekerasan. Salah satu aksinya yang terkenal adalah satyagraha, aksi non-koperasi dengan penguasa sipil. Kalau seluruh suporter Indonesia kompak, melupakan dulu konflik semu antarkota, meminggirkan primodialisme, demi masa depan sepakbola Indonesia di tataran terhormat sepakbola dunia, kita mungkin mampu merubah keadaan.

Ketika memperingati sewindu Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2008, bersama rekan-rekan suporter Solo, saya merancang melakukan aksi demo berdiam diri di Gladag, Solo. Pesannya adalah, untuk memprotes pengelolaan sepakbola Indonesia saat ini, menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan : tidak menonton pertandingan sepakbola Indonesia.


Wonogiri, 24 April 2009

Sunday, March 22, 2009

Media Sosial dan Masa Depan BOLA




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com

Photobucket

Tabloid BOLA punya tagline baru. Membawa Anda ke Arena. Take you to arena. Menandai ulang tahunnya yang ke-25, selain dijanjikan adanya perubahan wajah dan gaya sajian isinya, tagline tersebut tentunya diharapkan sebagai frasa yang mudah diingat guna menonjolkan nada positif dan premis brand Tabloid BOLA di benak para konsumennya. Sekaligus merupakan kristalisasi dari visi dan misi tabloid olahraga satu ini dalam mengarungi masa depan.

Tagline itu dapat mengundang jebakan tidak terduga. Slogan itu sepertinya tetap mengasumsikan hubungan antara media, wartawan dan pembaca dewasa ini tidak mengalami perubahan. Wartawan tetap saja berstatus sebagai mata dan telinga yang mewakili pembaca dalam menikmati atau “mengalami” suatu peristiwa olah raga. Wartawan melaporkannya, pembaca menikmatinya. Hubungan semacam merupakan tipikal hubungan yang terjalin dalam konstelasi media cetak tradisional yang berbasis atom atau kertas. Dalam penerbitan cetak tradisional itu aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, memang terjadi secara terpisah-pisah.

Sayangnya, berkat Internet, konstelasi semacam itu kini semakin tergerus dan menunggu rubuh. Di Internet, penerbitan berbasis digital, semua proses itu mampu terintegrasi dalam satu sistem. Terutama semakin kuatnya tuntutan harus didaulatnya informasi dari para konsumen untuk menjadi bagian integral isi media itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah yang tidak disadari oleh mayoritas pengelola media Internet di Indonesia selama ini. Sampailah kemudian hadirnya media sosial di tengah hidup kita.

Media sosial dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya forum di Internet, blog, wiki, podcast, album foto dan video. Media sosial berbeda dari media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi. Tembok antara penerbit dan publik runtuh. Fenomena media sosial ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa.

Akibat seriusnya, kini profesi wartawan dalam momen sejarah yang langka, ketika untuk pertama kali hegemoninya sebagai penjaga gawang informasi terancam. Tidak hanya oleh teknologi dan pesaing, tetapi utamanya dari diri para pembaca mereka sendiri. Para pembaca itu dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah dan mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus penyebarannya. “Anda tidak dapat pergi kemana saja atau berbuat apa saja dengan mengira tidak pernah ketahuan, karena sekarang ini semua orang adalah wartawan,” tegas Steve Patterson, pengelola situs olah raga Universitas Georgia, Amerika Serikat.

Dalam lanskap yang terbaru, ketika berlangsung peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu, kiprah penonton yang sekaligus wartawan bersenjatakan media sosial jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal. Dalam blog (http://contentnation.com/news) untuk menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), John Blossom mengatakan “jika penonton mengirimkan informasi kepada sesama teman ketika ia duduk di depan televisi, hal itu menegaskan betapa kehadiran media sosial menjadi suara yang berpengaruh dalam event olahraga berskala nasional itu.”

Sekadar contoh konkrit, harian sohor The New York Times sampai-sampai menerbitkan peta menit demi menit kata-kata populer yang muncul dalam pesan pendek (SMS) yang dipancarkan melalui media sosial Twitter dari seluruh penjuru Amerika Serikat. Terpapar fakta bahwa disamping menonton siaran langsung lewat televisi, penonton juga tergerak menciptakan informasi, membaginya dengan orang lain, sehingga menambahkan suara mereka sendiri ke tengah gemuruh kerumunan penonton yang hadir langsung di stadion.

Ketika musikus rock Bruce Springsteen hadir di panggung mengisi saat jeda pertandingan, John Blossom menulis : “Di tengah kerumunan itu stadion riuh dihiasi pendar-pendar nyala layar telepon genggam mereka…Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggamnya, yang menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian selebrasi diri kita sebagai umat manusia.”

Di tengah lanskap media yang berubah itu, hemat saya, tagline BOLA yang baru tersebut haruslah diberi konteks yang baru pula. Arena yang dimaksud bukan lagi berupa lokasi atau venues pertandingan semata, melainkan arena yang lebih besar lagi : arena di mana di mana semua pencinta olahraga dapat saling bersosialisasi.

Online dan offline.

Wartawan BOLA tidak lagi sekadar menjadi penjaga gawang informasi, melainkan sebagai sahabat yang sejajar untuk pembacanya. Pengalaman BOLA mampu bertahan selama 25 tahun dalam melayani pembacanya menjadi modal berharga untuk menjalin hubungan next level, yang semakin kaya makna untuk kemaslahatan bersama. Dirgahayu, BOLA !

Catatan : tulisan ini dengan penyuntingan telah dimuat di Tabloid BOLA No. 1912, 13 Maret 2009.

tmw

Friday, January 23, 2009

Pertha, Trah Martowirono dan Obama




Nama bersejarah. Masyarakat suku Indian memberi nama anaknya yang baru lahir sesuai dengan situasi atau peristiwa aktual yang terjadi saat itu. Gara-gara hal inilah seorang anak Indian berkali-kali mengadu kepada ayahnya karena ia senantiasa diejek teman-temannya terkait nama yang ia sandang. Karena jengkel, sang ayah lalu menghardiknya : “Jangan tanya-tanya hal itu lagi, Kondom Bocor !.”

Rumus pemberian nama a la suku Indian itu juga menular ke warga Trah Martowirono. Tepatnya pada keluarga yang berbahagia, pasangan Anna Sari dan Rudy Agung Satriana. Pada tanggal 17 Januari 2009, mereka telah dikaruniai momongan baru, anak kedua, seorang putri yang diberi nama indah : Pertha Xactiva Anggelica Nugrahati.

Nama depan “Pertha” itu tentu memiliki makna yang bersejarah. Juga kenangan indah. Karena saat kelahiran warga baru Trah Martowirono, Trah Pawirosemito, dan sebagai cucu keluarga Endang Markiningsih-Wiranto itu, ayahnya sejak November 2008 sedang menempuh studi S-3 di Perth, ibukota Australia Barat. Sedang deretan nama berikutnya, mudah-mudahan dapat diterangkan lebih lanjut oleh kedua orangtua Pertha dalam acara Pertemuan Trah Martowirono 2009 mendatang.

Keluarga besar Trah Martowirono mengucapkan selamat berbahagia kepada keluarga Anna Sari – Rudy Agung (foto saat mengikuti Pertemuan Trah Martowirono di Wonogiri, 5/10/2008) juga kepada eyang Pertha, baik Eyang Endang, Eyang Wiranto, keluarga besar Trah Pawirosemito, dan juga keluarga besar Rudy Agung di Bantul Yogyakarta.


Catatan masa depan. Pertha dilahirkan di bawah zodiac Capricorn. Ia lahir dalam kalender Cina pada Tahun Sapi. Batu kelahiran yang cocok adalah garnet yang melambangkan kesetiaan dan keteguhan. Bunga kelahirannya adalah anyelir (carnation) warna hitam, biru gelap atau merah.

Pertha akan duduk di bangku taman kanak-kanak pada tahun 2014, boleh memiliki surat ijin mengemudi pada tahun 2025, lulus SMA tahun 2027 (“siapa tahu kelak ia akan menemukan nama dan momen kelahirannya tercatat di Internet”), dan lulus S-1 pada tahun 2031.


Kedung Gudel, Gedung Putih. Tanggal lahir Pertha bersamaan dengan tanggal lahir pemain sepakbola dari klub Liverpool asal Spanyol, Alvaro Arbeloa (1983), pesepakbola dengan gaya main unik asal Meksiko, Cuauhtémoc Blanco (1973), bintang film anak Connor Cruise (1995) yang anak adopsi dari bintang film Tom Cruise dan Nicole Kidman.

Tanggal yang sama juga menandai kelahiran bintang film bermuka plastik, Jim Carrey (1962), pecatur perempuan bergelar Grand Master asal Rusia Maia Chiburdanidze (1961), Robert F. Kennedy, Jr. (1954) yang anak dari Robert F. Kennedy dan Ethel Kennedy, musisi Inggris Paul Young (1956).

Kelahiran Pertha juga membawa berkah bahwa Trah Martowirono yang berakar dari Kedung Gudel Sukoharjo dan Trah Pawirosemito di Gemantar, Selogiri, kini memiliki hubungan erat dengan Gedung Putih, utamanya dengan keluarga presiden AS yang baru diangkat tanggal 20 Januari 2009 yang lalu : Barack Obama.

Karena hari ulang tahun Pertha sama dengan hari ulang tahun Ibu Negara AS, Michelle Obama yang dilahirkan pada tanggal 17 Januari 1964 (Bambang Haryanto).


tmw

Bonny Menuju Pemulihan, mBak Ery Sehat




Photobucket

Reuni di Tasik. Masa pancaroba atau pergantian musim memudahkan timbulnya masa rawan bagi seseorang untuk disergap penyakit. Apalagi ketika daya tahan tubuh menurun. Keadaan itu telah dialami oleh Bonny Hastuti Yuniasih, warga Trah Martowirono dari Taler-IV, yang berdomisili di Tasikmalaya.

Setelah mengalami rasa tidak enak badan beberapa hari, dengan dorongan dan anjuran Broto Happywondomisnowo (Bogor), pada tanggal 16 Januari 2009, ia menjalani rawat inap di Rumah Sakit Kartini, Jl. Otto Iskandardinata 15, Tasikmalaya. Diagnosa dokter menunjukkan ia sakit demam berdarah dan juga gejala tifus.

Untuk memberikan dorongan agar Bonny segera memperoleh kesembuhan, warga taler ke-4 Trah Martowirono, melakukan kunjungan ke Tasikmalaya. Dengan pilot trengginas Nano HD, dengan ko-pilot istrinya, Nuning, disertai Bambang Haryanto, Betty dan Basnendar, rombongan menuju Tasikmalaya pada hari Sabtu siang, 17/1/2009.
Photobucket

Anak-anak keluarga Sukarni/Kastanto Hendrowiharso ini ibarat melakukan reuni Trah Martowirono secara kecil-kecilan di awal tahun 2009. Dari Bogor, Tasik, Solo dan Wonogiri, berhimpun di sini. Di kamar 315. Tentu saja dengan bumbu ulah dan gelak, walau harus tahu diri, “tak boleh keras-keras di lingkungan rumah sakit itu.”

Syukurlah, sejak tanggal 20 Januari 2009, ibunda dari Venska dan Valent itu sudah diijinkan kembali ke rumah. Kini sedang menjalani masa-masa pemulihan. Seluruh warga Trah Martowirono mendoakan agar Bonny bisa segera sehat dan bugar seperti sediakala.

Berita terlambat, mBak Ery, istri tercinta dari Mas Untung Suripno (foto), November 2008 juga sakit. Mengalami diare, bahkan dehidrasi, sehingga harus dirawat selama 3 hari di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. “Sekarang Mbak Ery sudah sembuh dan sudah melaksanakan aktivitasnya mengelola penginapan di Jalan Janti Yogya. Terima kasih atas semua doa yang dikirim oleh anggota trah,” tulis Mas Untung dalam emailnya.

"Ketika orang merasa sehat maka banyak keinginan yang akan dicapai, tetapi ketika orang sakit maka hanya satu keinginan yang diperjuangkan yaitu ingin sembuh. Inilah pesan spiritual yang kami terima dibalik peristiwa sakitnya isteri saya,” simpul Mas Untung. Kita semua mengamini akan makna yang dalam dari ujaran ini. (US/BH).

Tuesday, January 20, 2009

Trah Pawirosemito Reuni Akbar 2008 di Yogyakarta




Temu Rindu di Yogya.Tanggal 29 Desember 2008 diselenggarakan Pertemuan Trah Pawirosemito ke 45. Pertemuan yang sudah berlangsung 22 tahun lebih ini diselenggarakan di Yogyakarta. Di antara warga trah ini adalah keluarga Haswosumarto - Suripti yang juga warga Trah Martowirono.

Mbah Pawirosemito mempunyai putera empat yaitu Sukirman Haswosumarto (Selogiri), Sugiyo Hadisudarmo (Lampung), Sugino Harsowasito (Yogya) dan Suyamsih Brotoatmojo (Selogiri). Sukirman Haswosumarto mempersunting Suripti, anak pertama dari dinasti Trah Martowirono.

Pertemuan tersebut dihadiri warga trah yang datang dari berbagai kota yaitu Medan, Lampung, Samarinda, Balikpapan, Palembang, Selogiri, Sukoharjo dan tentu saja dari Yogyakarta. Pada pertemuan tersebut selain saling tukar informasi juga ada beberapa pesan moral yang diterima bersama misalnya agar saling mengasihi, saling mendukung dan saling memberi.

Pada pertemuan berikutnya, yang akan berlangsung Juni 2009, diselenggarakan di Bogor. Yang menjadi tuan rumah adalah keluarga Bapak Hening Kristanto (putera pertama Bapak Brotoatmojo). Bagi warga Trah Martowirono yang berminat bergabung (“kabar burung, Nuning/Timbul Jaya segera rasan-rasan untuk bisa menyediakan bis”-BH) dan hadir sebagai "bintang tamu" dipersilahkan dan tentu akan menjadikan tambah semarak acara keluarga kita ini. Informasi menarik lainnya mengenai Trah Pawirosemito dapat Anda klik di sini. (US/BH)

Reuni Trah Martowirono Ke-22 Di Wonogiri





Lembar baru kehidupan. Novelis Paul Scott tentu tidak mengenal Lebaran. Apalagi mengenal ritus tahunan yang dilakukan oleh jutaan warga Indonesia ketika hari Lebaran tiba. Yaitu ritus mudik, pulang kampung, kembali ke rumah asal.

Walau pun demikian ia yang hidup tahun 1920-1978 itu memiliki pendapat bernas dan menarik yang dapat dikaitkan dengan intisari ritus mudik Lebaran itu. For a writer, going back home means back to the pen, pencil, and typewriter—and the blank, implacable sheet of white paper.Dengan merujuk status dirinya sebagai penulis, ia mengatakan bahwa penulis yang pulang kembali ke rumah berarti kembali untuk berjumpa dengan pena, potlot, mesin tulis dan lembar-lembar kertas kosong putih yang membandel.

Dalam Lebaran kita memang membersihkan dosa-dosa kita. Ibarat kita menjadi kertas putih kembali. Kembali menjadi makhluk yang fitri. Pasca Ramadhan dan Lebaran, sejajar pendapat Paul Scott tadi, betapa tidak mudah bagi kita untuk kembali menulisi kertas-kertas putih kehidupan kita masing-masing di masa depan dengan amal yang berguna dan bermakna. Tetapi itulah tantangan kita sebagai manusia.

Photobucket

Pentas kehebohan. Bagi warga taler IV dari Trah Martowirono asal Kajen Wonogiri (foto), ajaran Paul Scott tadi merujuk untuk kembali berurusan dengan gagasan dan mengeksploitasi gagasan. Demi mempersiapkan diri menjadi host reuni keluarga Trah Martowirono yang tidak biasa. Dirancang beda. Unik. Syukur-syukur mampu memancing kehebohan yang sulit dilupakan.

Reuni dengan tajuk Pasar Lebaran Trah Martowirono itu pun terjadi pada tanggal 5 Oktober 2008. Anak cucu dan cicit Martowirono yang berakar dari desa Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo, berhimpun di Wonogiri. Sebagai tuan rumah adalah keturunan anak nomor 4 Martowirono, Sukarni/Kastanto Hendrowiharso, asal Kajen, Wonogiri.

Photobucket

Reuni keluarga yang biasa itu menjadi warna-warni. Semua tamu harus dicatat dan ditimbang berat tubuhnya. Ada pameran 18 Piagam MURI. Enam belas MURI milik Mayor Haristanto dan dua milik Bambang Haryanto. Belasan bio banner, biodata yang disajikan secara visual, dipajang. Terdapat ilustrasi foto 34 negara dan puluhan event dunia yang diliput Broto Happy Wondomisnowo, redaktur Tabloid BOLA.

Juga ada beragam karya logo, termasuk logo Gallery Nasional Jakarta (depan stasiun. Gambir Jakarta) dan juga logo Porprov Jawa Tengah 2009, rancangan cucu Martowirono, bernama Basnendar HPS yang baru saja lulus magister desain dari ITB.

Tetapi juga ada promosi dagang. Datang dari Dr. Edia Rahayuningsih, pengajar Teknik Kimia UGM, yang baru saja pulang dari Jerman. Ia memperkenalkan serbuk pewarna blue indigo yang ramah lingkungan. Keluarga Rudi Satriana yang tinggal di Samarinda mohon doa restu, hendak meneruskan pendidikan S-3 di Australia. Tak kalah adalah pidato politik dari Slagen Abu Gorda (Sukoharjo) dan Budi Haryono (Wonogiri). Yang pertama mencalonkan sebagai caleg PDIP Sukoharjo dan yang kedua PAN di Wonogiri.


Open mike. Walau ada bumbu-bumbu politik dan bisnis, jangan bayangkan suasana reuni keluarga yang kaku. Reuni itu pun lebih mirip sebagai ajang mike terbuka dalam sebuah kafe komedi. Semua bebas untuk tampil di panggung, semua boleh bercerita. Baik mengeluh atau pun mencanangkan sesuatu resolusi, tetapi harus dikemas dan disajikan secara lucu.

Selain mengakses bareng-bareng isi blog Trah Martowirono, juga berebutan hadiah untuk mengikuti kuis mengenal secara lebih mendalam tentang keluarga yang disajikan secara multimedia.

“Bila tanggal pertemuan itu tiba, maka acara apa pun dihindari karena ingin jumpa saudara di acara temu trah ini. Jujur saja, acara pertemuan trah ini ini membikin usia awet muda, linggo-lico, lali tonggo – lali konco. Lupa tetangga, lupa teman. Isinya cuma satu yaitu : seneng,” itu pendapat Untung Suripno, kepala suku Trah Martowirono yang berdomisili di Yogyakarta.

Pertemuan trah ini pertama kali diselenggarakan tanggal 19 Desember 1987 di Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo. Tahun depan, 2009, diwacanakan di Benteng Vrederburg, Yogyakarta. Sebagai tuan rumah adalah taler I, keluarga Suripti/Haswosumarto.

Teolog Amerika, Tryon Edwards (1809-1894) telah bilang, “every parting is a form of death, as every reunion is a type of heaven.” Benar katamu, Mr. Edwards. Setiap reuni memang ibarat seperti kita sedang menghuni sorga. Hallo, warga Wonogiri di mana pun Anda berada, kami tunggu pula laporan acara reuni keluarga Anda ! (Bambang Haryanto).


tmw

Monday, October 20, 2008

Reli Silaturahmi 2008





Titik pertemuan. Berada di tengah. Itulah posisi kota Wonogiri, bila dilihat dari Wuryantoro yang berada di selatan dan Sukoharjo di utara Wonogiri. Di kota ini pula dapat dirunut sejarah awal terbentuknya cabang keluarga Kastanto/Sukarni dan Sukirman/Suripti dari pohon Trah Martowirono.

Keluarga Martowirono yang kebayan Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo, memiliki empat anak : Suripti, Sutono, Sutejo dan Sukarni. Sungguh suatu pemikiran yang mungkin nampak liberal, di tahun 1950-an telah mengijinkan kedua putrinya, Suripti dan Sukarni, untuk ngenger, ikut bersama omnya di Wonogiri. Yaitu Bangin Martosuwiryo, yang adik terkecil dari ibu Martowirono putri.

Bapak Bangin (foto) saat itu memiliki warung wedang di pasar Wonogiri. Kedua bunga desa asal Kedunggudel itu ikut membantu di warung minuman teh dan makanan ini.Di tempat inilah dua sekawan, yang sama-sama prajurit TNI/AD dari Kodim Wonogiri dan pengunjung tetap café itu, memperoleh jodoh. Prajurit Sukirman asal Selogiri akhirnya mempersunting Suripti. Sedang prajurit asal Wuryantoro, Kastanto, menikahi Sukarni.

Setiap Lebaran, dua daerah asal-usul keluarga Kastanto/Sukarni itu senantiasa sebagai tempat wajib dikunjungi. Untuk nyadran dan merekatkan kembali silaturahmi dengan kerabat yang ada. Rute reli silaturahmi pada tanggal 1 Oktober 2008 tersebut adalah : Wonogiri-Wuryantoro-Manyaran-Sukoharjo-Wonogiri. Liputan fotonya sebagai berikut :

Photobucket

Baris pertama : setelah nyekar, kunjungan pertama adalah ke rumah Bu Lik Tego Prayitno (foto) di Mlopoharjo. Rumah pak Tego almarhum ini di halaman depannya terhampar tanaman padi. Sayang, tanaman cabenya pas tidak panen. Kalau panen, kami akan disuguhi sayuran lombok dengan irisan tempe. Pedasnya mampu membakar kepala, tetapi enaknya sungguh memabukkan.

Kemudian tur berlanjut ke Cengkal, masih di Wuryantoro. Menemui Lik Mul (kaos biru) dan Lik Sukiyem, istrinya, bersama keluarga. Sebelum wafat, mBah Mento ikut tinggal di sini. Suguhan favorit di sini adalah gorengan tahu. Karena kebetulan memang dekat dengan pabrik tahu. Suguhan lainnya adalah kentongan bambu. Bukan untuk dimakan, tetapi untuk dibawa pulang sebagai salah satu instrumen musik periuh dalam acara pertemuan Trah Martowirono, 5 Oktober 2008.

Setelah foto bersama keluarga Lik Mul (baris keempat kiri), reli silaturahmi dilanjutkan. Dengan dipiloti Muhammad Taufik untuk mobil bernomor F dan Kentul untuk mobil AD, perjalanan ke arah barat (Manyaran) dan lalu ke utara dilanjutkan. Di tengah jalan (foto baris keempat kanan), rombongan sempat istirahat untuk makan ayam/bebek/ikan (goreng atau bakar) di sebuah warung di Tawangsari.

Ketika Maghrib turun, rombongan sampai di rumah Ibu Tiek Suminten, di Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo (foto baris kelima). Kami tak sempat nyadran ke makam simbah Martowirono atau pun Pakde Sutono. Rombongan Kajen saat itu ditemui oleh Henny, Rum (suaminya), juga Yayuk dan suaminya.

Reli silaturahmi Lebaran 2008, paripurna sudah. Tetapi tugas belum selesai. Empat hari mendatang rumah keprabon keluarga Kastanto/Sukarni di Kajen menjadi episenter eksistensi Trah Martowirono di muka dunia !

tmw

Thursday, October 16, 2008

Mendoakan Arwah Leluhur





Mengingat akar. Hari Lebaran adalah hari mulia untuk mengingat asal muasal seseorang hadir di dunia. Hari untuk merunut kembali akar kehidupan masing-masing. Hari untuk berterima kasih kepada ayah dan ibu, yang menjadi perantara mulia hadirnya kita di dunia. Hari untuk mendoakan kepada para leluhur yang telah dipanggil menghadap Illahi.

Sesudah sholat Ied, rombongan Kajen menuju pemakaman Kajen.

Photobucket

Bapak dan ibu. Bapak Kastanto Hendrowiharso meninggal dunia tanggal 9 Desember 1982, hari Kamis Wage, jam 12.15 di Rumah Sakit Umum Giriwono, Wonogiri. Beliau meninggal dunia dalam usia 54 tahun karena sakit sirosis, kanker hati. Pangkat terakhir kapten purnawirawan TNI.

Ibu Sukarni Kastanto Hendrowiharso meninggal dunia tanggal 20 November 1993, di Rumah Sakit Umum Giriwono, Wonogiri. Pasangan ini meninggalkan sepuluh putra dan putri. Nampak dalam foto, Broto Happy sedang mencatat data dari batu nisan keduanya. “Semoga Allah SWT memberi tempat yang layak bagimu,disisiNya, ayah dan ibu. Amin.”

Photobucket


Asal Wuryantoro. Bapak Kastanto Hendrowiharso, nama kecilnya Salip, mempunyai ayah bernama Kasan Luar, dari desa Jambe, Wuryantoro. mBah Kasan Luar ini berprofesi sebagai healer, tabib desa tradisional. Saya, Bambang Haryanto, pernah mendengar cerita dari almarhumah ibu bagaimana mBah Kasan ini mengobati pasien.

Konon, pasien datang dengan membawa seekor bebek hidup. Bebek itu lalu disembelih, untaian saluran pencernaan sampai ususnya dikeluarkan. Setelah dibersihkan, bentuk menyerupai usus ini salah satu ujungnya akan ditelan oleh si pasien. Ujungnya yang lain dipegangi oleh mBah Kasan. Usus kemudian ditarik keluar, di mana pada dinding usus itu akan ikut tertempel dan ikut keluar benih-benih/penyakit pasien bersangkutan. Usus dibersihkan, lalu akan diulangi prosedur yang sama beberapa kali sehingga terasa perut pasien sudah bersih dari penyakit.

Seperti dalam foto, mBah Kasan Luar meninggal dunia tanggal 21 Desember 1964. Makamnya semula berada di desa Jambe. Karena pada tahun 1980-an desa itu ikut tenggelam seiring proyek Waduk Gajah Mungkur, makam itu dipindahkan ke Wuryantoro, Kota. Satu lingkungan dengan pemakaman Hastana Girimaloyo, tetapi makam mBah Kasan berada di luar dan persis di depan komplek makam Hastana Girimaloyo itu.

Selain mBah Kasan Luar terdapat pula makam mBah Kasan Luar putri. Dari pasangan ini lahir Bapak Johar, yang memiliki nama tua Joyosuwarto. Ada pula nisan Ibu Joyosuwarto. Juga nisan Ibu Mariyem dan nisan Sukarsih.

Nama terakhir ini, Sukarsih, saya (Bambang Haryanto) ingat, adalah adik dari Oom Muhyidin. Putra Bapak Harjosuwarno dari Kedunggudel, Sukoharjo. Beliau merupakan adik dari mBah Martowirono. Ketika ayah dan ibu tinggal di Wuryantoro (ayah sebagai prajurit TNI bertugas di sini), terjadi kecelakaan, yaitu kebakaran di dapur. Lik Karsih yang saat itu jadi pembantu rumah kami, meninggal dunia akibat kecelakaan itu.

Photobucket


Pemakaman baru. Di sebelah selatan komplek Hastana Girimaloyo tadi terdapat area pemakaman yang lebih baru. Di sini telah bersemayam almarhum mBah Mento. Dalam foto ia saya jepret sedang bersama Basnendar dan Broto Happy di tahun 70-an. mBah Mento sampai akhir hayatnya adalah pencinta pertandingan sepakbola. Sebelah kanan adalah foto Bapak Tego Prayitno almarhum, adik dari ayah. Beliau dimakamkan di tempat yang sama pada tanggal 7 April 2008 yang lalu.

Photobucket

Logowok, di barat sana. mBah Kasan Luar menikah dua kali. Dengan istri pertama melahirkan anak tunggal, Joyosuwarto. Dengan istri keduanya (foto), memiliki dua putra : Kastanto dan Tego Prayitno. Istri kedua itu kemudian menikah dengan mBah Mento yang tinggalnya di Logowok.

Mengunjungi beliau di masa kecil kami akan senantiasa dikenang sebagai perjalanan hiking yang mengesankan. Dari rumah mBah Kasan kami berjalan menuju ke arah barat. Melewati jalan berbatu-batu, dipayungi langit dan mega yang terbuka, juga barisan pegunungan Kidang Layang di sebelah barat yang nampak gagah dan mempesonakan. Almarhumah mBah Putri (foto) dimakamkan di Logowok ini.

Seingat saya, beliau adalah sosok yang suka mendengar. Atentif. Juga tidak banyak bercerita, tetapi menenteramkan. Kejadian yang saya ingat waktu kecil, kaki beliau pernah tersiram air panas di rumah Kajen, Wonogiri. Kulit kaki kanannya melepuh dan diberi pengobatan darurat, yaitu tinta. Jadi kaki beliau berwarna biru. Seingat saya, beliau saat itu tidak menampakkan suatu perasaan sakit, atau mengeluh secara berlebihan.

Kejadian lain, saat mengunjungi beliau di Logowok saya harus dikeroki agar tidak pingsan. Gara-gara saya yang kesana-kemari, berkunjung ke kerabat, tidak tahan untuk tidak makan. Apalagi makan nasi cantel yang enak, pulen di mulut, tetapi ternyata mengembang di perut. Saya jadi sangat kekenyangan dan nyaris pingsan.

Dalam foto, dari kiri : Bambang Haryanto, Basnendar dan Broto Happy, disamping makam mBah Putri di Logowok ini.

“Ya Allah, limpahkan segala ampunan untuk dosa-dosa leluhur kami. Tempatkan para beliau senantiasa sejahtera dan sentosa disisiMu. Amin.”


tmw

Merayakan Hari Kemenangan





Tawashau bish shabr. Dengan sebijaksana mungkin dan dengan penuh kesabaran. Itulah salah satu mutiara khotbah yang disampaikan khatib Drs. H. Sumardjo di Sholat Ied, 1 Syawal 1429 H, di lingkungan Masjid Agung At-Taqwa, Wonogiri.

Khotbahnya itu ia sampaikan dalam konteks agar kita semua dalam menyadarkan orang yang bersalah senantiasa melalui pendekatan yang manusiawi. Sementara itu pula Al Quran, menurutnya, juga menuntut semua orang mampu berjiwa besar dan berlapang dada untuk mengakui kesalahan.

Kedua niatan mulia itu telah bermuara secara indah dan serasi di hari kemenangan, di hari raya Iedul Fitri. Ketika semua orang merasakan kelemahan, ketika semua orang dengan tulus mengulurkan permintaan maaf. Kami pun, anak cucu Kastanto Hendrowiharso/Sukarni, ikut pula merayakannya.

Photobucket

Keterangan foto. Dari kiri atas dan searah jarum jam : Yasika telah menjadi juru foto untuk menjepret Pakde Bambang dan Pakde Happy yang mengapit Yudis. Sehabis halal-bihalal dengan warga kampung Kajen, kami berpose di depan bio banner wartawan Tabloid BOLA, Broto Happy W (paling kanan). Dari kiri Iwin, Betty, Yudis, Yasika, Ayu, Gladys, dan Broto Happy.

Rombongan keluarga menuju pulang sesudah nyadran ke makam ayah-ibu dan kerabat yang telah menghadap Illahi di Pemakaman Kajen. Sebelumnya sempat melakukan halal-bihalal dengan Keluarga Bapak Marto Tarmin, sesepuh dan mantan bayan desa Kajen. Nampak dalam foto beliau diapit oleh Broto Happy dan Bambang. Bapak Marto Tarmin adalah ayah dari Bapak Suroto, kepala lingkungan (kaling) Kajen saat ini.

Sesudah nyadran, rombongan bergerak untuk melakukan silaturahmi dengan keluarga dekat. Antara lain dengan keluarga Ibu Suharni Sukiyo (berjilbab) di Wonokarto. Beliau yang mantan guru SMA Negeri 1 Wonogiri dan Kepala Sekolah SMAN 2 Wonogiri berbagi cerita nostalgia dengan Broto Happy yang juga murid beliau semasa itu. Masih di Wonokarto, rombongan dari Kajen kemudian mengunjungi keluarga Ibu Yahman. “Semoga hubungan keluarga ini terus dipelihara. Sebab kalau tidak, ia akan putus dan hilang begitu saja,” demikian pesan Ibu Yahman. (tengah).

Matur sembah nuwun, ibu. Hari merayakan kemenangan. Hari yang fitri. Hari yang penuh silaturahmi. Rombongan Kajen itu lalu bergerak meninggalkan Wonogiri. Untuk melanjutkan misi yang sama.

tmw

Sunday, October 12, 2008

Menata Sarang




Lembar baru kehidupan. Novelis Inggris itu, Paul Scott (1920-1978), tentu tidak mengenal Lebaran. Apalagi mengenal ritus tahunan yang dilakukan oleh jutaan warga Indonesia ketika hari Lebaran tiba. Yaitu ritus mudik, pulang kampung, kembali ke rumah asal.

Walau pun demikian, Paul Scott, memiliki pendapat bernas dan menarik yang dapat dikaitkan dengan intisari ritus mudik Lebaran itu. For a writer, going back home means back to the pen, pencil, and typewriter—and the blank, implacable sheet of white paper.

Dengan merujuk status dirinya sebagai penulis, ia mengatakan bahwa penulis yang pulang kembali ke rumah berarti kembali untuk berjumpa dengan pena, potlot, mesin tulis dan lembar-lembar kertas kosong putih yang membandel.

Dalam Lebaran kita membersihkan dosa-dosa kita. Ibarat kita menjadi kertas putih kembali. Kembali menjadi makhluk yang fitri. Pasca Ramadhan dan Lebaran, sejajar pendapat Paul Scott tadi, betapa tidak mudah bagi kita untuk kembali menulisi kertas-kertas putih kehidupan kita masing-masing di masa depan dengan amal yang berguna dan bermakna. Tetapi itulah tantangan kita sebagai manusia.

Photobucket

Mempersiapkan kehebohan. Bagi warga taler IV, ajaran Paul Scott tadi merujuk untuk kembali berurusan dengan gagasan dan mengeksploitasi gagasan. Demi mempersiapkan diri menjadi host reuni keluarga yang tidak biasa. Dirancang beda. Unik. Syukur-syukur mampu memancing kehebohan yang sulit dilupakan.

Mesin kreatif itu berdengung sejak reuni trah ke-21/2007 usai. Setting pentas dan materi acara sudah mulai nyata sejak tanggal 30 September 2008. Nampak dalam foto, dari atas searah jarum jam :

Bari Hendriatmo dari Jember bercanda dengan cucu keponakan, Nabillah. Ia telah datang ke Kajen beberapa hari sebelumnya, menata ruang, termasuk memilih tanaman adenium koleksi Iwin di rumah Kajen yang cocok untuk hiasan. Dengan sponsor cat dari Betty “AIG” Hermisnawaningsih ia melakukan ceting (beda dengan chatting) : bersama Mas Arifin, tetangga, ia melakukan pengecatan untuk dinding, pintu dan jendela.

Maor Haristanto, dari Solo, sedang memasang umbul-umbul dibantu Yuriko. Satu-satunya warga Trah Martowirono yang mampu menyentuh Piala Dunia Sepakbola dan Piala Thomas, Broto Happy W., memajang bio banners, sebuah biografi yang disajikan secara visual.

Tajuk berita pelbagai media massa yang memuat kehebohan aksi Republik Aeng Aeng (RAA) selama ini, ikut pula dipajang. Nampak presiden RAA, Mayor Haristanto, dibantu warga Kajen, Mas Parno, sedang merapikan pajangan biografi visual tersebut.

Yasika, murid SMP Negeri 3 Wonogiri, ikut pula sibuk. Putra kedua dari pasangan Moh. Taufik/Bastion “Iwin” Hersaptowiningsih itu nampak bertugas memasang kain umbul-umbul pada tiang bambu yang disediakan. Dalam acara perhelatan reuni, ia juga sebagai fotografer.

Bambang Haryanto, penanggung jawab Trah Martowirono Center, sedang membersihkan papan nama trah. Ditemani Venska (putri Bonny Hastutiyuniasih, supervisor Toserba Yogya) dari Tasikmalaya dan Yudistira dari Purwokerto, ia sedang mendata dan mengemas pelbagai produk merchandising Tabloid BOLA yang akan dijadikan sebagai hadiah untuk pemenang kuis keluarga. Tersedia lebih dari 50 hadiah yang siap dibagikan.

Acara reuni trah kini diramaikan dengan kehadiran pelbagai jenis memorabilia. Pelopornya adalah Basnendar HPS, kartunis, dosen ISI Surakarta, yang baru lulus Magister Desain dari ITB. Salah satu memorabilia itu adalah stiker yang bertajuk Pasar Lebaran Trah Martowirono (tengah).

Photobucket

Panggung prestasi. Acara reuni keluarga adalah acara biasa. Tetapi bagi warga Taler IV ingin selalu disajikan secara tidak biasa. Dalam gambar paling atas dan kiri tersaji bio banners dari Broto Happy W. yang telah mengunjungi 34 negara di dunia, disertai Mayor yang memajang ratusan kepala berita yang memuat aktivitasnya. Gambar tengah, Basnendar dan data prestasinya. Gambar ketiga, Venska asal Tasik, menikmati foto-foto prestasi pakdenya, Happy.

Foto baris kedua kiri : interior ruang reuni sedang dihias. Nampak Reza (asal Yogya) sedang disupervisi oleh Nano (batik), Yudha dan Nuning. Foto tengah : Mayor menata foto Eyang Martowirono. Foto kanan : Reza bekerja bersama oomnya, Broto Happy.

Foto baris ketiga kiri : gerbang besi sedang dipindahkan oleh Mayor, Reza, Yudha dan Bari. Di gerbang ini semua pengunjung akan didaftar dan ditimbang berat tubuhnya. Foto tengah, membersihkan karpet putih oleh Bapak Suparno, Taufik dan Happy. Foto kanan, Budi Haryono memanfaatkan momen reuni keluarga untuk minta doa restu kepada keluarga besarnya. Sebagai bekal untuk maju sebagai caleg PAN Wonogiri di Pileg 2009 mendatang.



tmw

Burung kembali ke sarang





Oasis kehidupan. Lebaran senantiasa identik dengan mudik. Pulang kampung. Kembali ke akar. Meneguk oasis kekerabatan dan kekeluargaan untuk memperoleh energi baru lagi dalam mengarungi kehidupan selanjutnya. Menempuh perjalanan ulang-alik yang berat, tetapi imbalan rohaninya seperti tak tergantikan.

Lebaran 2008 menjadi lebih istimewa bagi taler IV Trah Martowirono. Keluarga besar Kastanto Hendrowiharso dan Sukarni yang memiliki keprabon di Kajen, Giripurwo, Wonogiri, bersiap memperoleh tugas sebagai tuan rumah reuni keluarga Trah Martowirono yang ke-22. Hari yang telah ditetapkan adalah Minggu, 5 Oktober 2008.

Burung-burung itu mulai berdatangan. Untuk kembali ke sarang. Menata sarang. Konsolidasi secara informal untuk mempersiapkan acara reuni pun mulai digulirkan.

Photobucket

Keterangan foto. Dalam foto dari atas searah jarum jam : Pakde Bambang berfoto bersama Adis dan ayahnya, Broto Happy, di dekat pohon jeruk bali madu (citrus grandis) yang ia tanam dan berasal Pati ; wajah depan harian Kompas edisi Jumat 26 September 2008, merupakan edisi istimewa bagi Gladys Erika Septeria, murid klas IV SD Polisi Bogor dan Broto Happy Wondomisnowo yang redaktur Tabloid BOLA. Tanggal itu merupakan hari ulang tahun bagi keduanya.

Nampak dalam foto berikutnya, di rumah Pakde Nano/Bude Nuning di Kenteng, Ngadirojo (28/9/08), ulang tahun Adis dan Happy dirayakan dengan memanjatkan syukur kepada Allah SWT. Dalam foto bersama nampak Om Basnendar (kiri), Pakde Bari (Jember, kaos putih), Bude Nuning, Bulik Iwin, dan juga Bulik Ayu, ibunya Adis.. Di foto terakhir, Bapak Nano sedang bercanda dengan cucunya, Nabillah.

Mensyukuri rahmat Illahi. Acara keluarga berbuka bersama yang diselenggarakan keluarga Nano/Nuning itu telah menghangatkan seluruh hati keluarga, yaitu sesame anak-cucu Kastanto Hendrowiharso/Sukarni yang pulang kembali ke sarang, guna menemukan kehangatan, kedamaian dan rahmat Illahi di suasana Ramadhan dan Lebaran. (BH)


tmw