Monday, May 10, 2010

Nostalgia Piala Thomas-Uber 10 Tahun Silam




Oleh : Broto Happy Wondomisnowo
Laporan langsung dari Kuala Lumpur

Waktu sepertinya bergulir sangat cepat. Detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hari ke minggu, minggu ke bulan, dan bulan ke tahun berjalan begitu kencang, tanpa kita sadari.

Tidak terasa saya hadir kembali untuk meliput perebutan Piala Thomas-Uber di Stadion Putra Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 9-16 Mei 2010.

Liputan bulutangkis Piala Thomas-Uber memang sangat beruntung bisa saya lakoni. Sejak 1994 kala itu perebutan berlangsung di Jakarta, saya sudah meliput. Begitu pula dua tahun berikutnya di Hong Kong, saya pun hadir. Ketika Putaran Final Piala Thomas-Uber berpindah negara pun, saya masih ikut hadir.

Tahun 2000, ajang Piala Thomas-Uber berlangsung di Stadion Putra, tempat yang jadi arena kali ini. Dua tahun kemudian, gantian Tianhe Sports Complex di Guangzhou, Cina, yang saya kunjungi.

Sejak 1994 hingga 2002, tim Thomas begitu perkasa. Indonesia bisa menyabet lambing supremasi bulutangkis beregu putra dunia ini secara berturut-turut. Artinya, sudah lima kali secara terus-menerus Piala Thomas dikuasai Indonesia. Tambahan lima kali juara itu, menggenapkan koleksi juara Piala Thomas Tim Merah-Putih menjadi 13 kali.

Sementara untuk Piala Uber, Indonesia baru tiga kali meraihnya. Yaitu tahun 1975 lewat sumbangsih Minarni Sudaryanto (alm). Pada tahun 1994 dan 1996, dengan dimotori Susy Susanti, Indonesia juga menyabet Piala Uber. Hebatnya lagi, pada tahun ini Indonesia juga merebut Piala Thomas, Jadi tahun 1994 dan 1996, Indonesia bisa mengawinkan Piala Thomas-Uber di Bumi Nusantara.

Namun, setelah sukses terakhir Indonesia di Guangzhou 2002, Piala Thomas itu mengembara ke negeri Cina. Lin Dan, Bao Chunlai, Cai Yun/Fu Haifeng, dkk., begitu dominan. Mereka menguasai Piala Thomas hingga kini.

Layak Dikenang. Kini sebuah nostalgia sepertinya menghampiri saya. Sepuluh tahun silam, Indonesia menjadi juara di Stadion Putra. Betapa manis dan indahnya kemenangan ini untuk dikenang kembali. Sebuah sukses besar yang rasanya ingin bisa dilang kembali.

Materi pemain kala itu, memang komplet. Tunggal dan ganda kita kekuatannya merata. Di tunggal ada Hendrawan, Hariyanto Arbi, Taufik Hidayat, dan Marlev Mainaky. Apalagi di sektor ganda, mau ditukar-tukar pasangan pun, ganda kita tetap kuat. Di sana ada Rexy Mainaky, Ricky Soebagdja, Candra Wijaya, Sigit Budiarto, Tony Gunawan, dan Athonius Budi Ariantho.

Di final pun, pasukan Merah-Putih seperti melenggang dengan mudah. Hnedrawan mengatasi Xia Xuanze, lalu ganda gado-gado, Rexy/Tony mengalahkan Zhang Jun/Zhang Wei. Kemenangan kita dipastikan oleh pemain muda, Taufik Hidayat yang menggusur Ji Xinpeng. Indonesia menang 3-0. Kita sukses besar!

Relung-relung di seluruh Stadion Putra pun bergemuruh. Ribuan TKI yang menjadi suporter, memerahkan seluruh isi stadion. Saya pun sekarang masih bisa merasakan bagaimana euforia kemenangan 10 tahun silam itu.

Semoga nostalgia kali ini bisa kembali terulang. Tahun 2000, Skuad Merah-Putih merebut Piala Thomas di Stadion Putra. Tahun ini, perhelatan akbar ini kembalidigelar di stadion yang sama. Bintang tahun 2000, Taufik Hidayat juga masih membela Indonesia. Napak tilas inilah yang semoga bisa diwujudkan kembali.

broto happy w,wartawan bola,piala thomas,piala uber,kuala lumpur,mei 2010,trah martowirono

broto happy w,wartawan bola,piala thomas,piala uber,kuala lumpur,mei 2010,trah martowirono


Momen membanggakan. Sabtu (8/5), saya bisa mengangkat dan mendekap kedua piala bergengsi itu. Piala Thomas yang membanggakan itu sudah saya angkat tinggi-tinggi. Demikain juga dengan Piala Uber. Saya sangat beruntung bisa berfoto dan merangkul kembali Piala Thomas-Uber, seperti yang saya lakukan dan menjadi obsesi pada pentas sebelum-sebelumnya.

Piala itu membanggakan sekali. Saya pun merasakan bahwa hanya sang juara yang berhak mengangkatnya. Saya pun terkenang ketika kecil dulu, melihat Rudy Hartono, Christian Hadinata, Hastomo Arbi, atau Liem Swie King demikain bangga mengangkat Piala Thomas ketika kembali ke Tanah Air.

Semoga tanggal 16 Mei nanti, kita bisa kembali ke final dan menantang Cina. Semangat juang, kebanggaan, dan cerita sukSes 2000 paling tidak akan menambah spirit pemain untuk habis-habisan di tengah lapangan. Indonesia memang layak mengulang nostalgia. Indonesia layak juara!

Selamat berjuang. Mari Bung Rebut Kembali!

No comments: