Monday, August 20, 2012

Reuni Trah Martowirono 2012 Bergaya Country dan Koboi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Fenomena mudik Lebaran yang menggerakkan jutaan manusia untuk ramai-ramai pulang kampung antara lain dipicu oleh hasrat manusiawi setiap insan untuk kembali ke akar.

Apalagi bagi mereka yang tinggal di perkotaan dengan pergaulan yang cenderung berorientasi ekonomi, di mana hubungan antar manusia berlangsung dingin, manipulatif, penuh kalkulasi dan sarat nuansa persaingan.

Suasana Lebaran yang agamis dan humanis kemudian menginpirasi banyak warga untuk menghidupkan atmosfir pergaulan antarsesama secara hangat, terbuka, apa adanya, fitri, dan itu terjadi dalam perisitiwa yang disebut sebagai reuni.

Rumusan Naisbitt. Anak-cucu dan keturunan Trah Martowirono tidak pula luput dari dinamika universal tersebut. Meminjam rumusan “high tech, high touch,” dari futuris John Naisbitt dalam bukunya Megatrend (1982), telah ia jelaskan betapa  semakin terlibatnya teknologi dalam kehidupan seseorang maka semakin penting pula nilai-nilai spiritual bagi individu bersangkutan.

Semakin seseorang terlibat dalam kehidupan berskala global, dirinya semakin berusaha mencari nilai-nilai lokal sebagai pegangannya.

Nilai-nilai lokal itu disemai dan dipersubur dalam ritus reuni, di mana untuk Trah Martowirono penyelenggaraan acara pertemuan tahunan yang ke-26 kali tahun 2012 ini dilakukan di Dukuhan Nayu, Kadipiro, Solo.

Ia ibarat sebuah ritus “kembali ke oasis, menengok akar, untuk memperoleh asupan rohani sebagai bekal mengarungi kehidupan di masa datang.”

Reuni Trah Martowirono 2012 : Country dan Era
Cowboy

 Memacu kreativitas. Acara reuni 2012 dikemas dengan gaya country, menghidupkan kembali era koboi, masyarakat agraris yang dekat dan mencintai lingkungan, dengan hubungan yang guyub, gotong royong, dan  egaliter. 

Kemasan ini juga ditujukan untuk mendinamisasikan atmosfir pertemuan dan sebagai sarana memacu kreativitas warganya untuk berekspresi. Keunikan itulah yang membuat acara ini ngangeni, dirindukan dan dinantikan.

Pada reuni 2009 mengambil tema perjuangan revolusi 1945 dengan tajuk “6 Djam di Djokdja”, reuni tahun 2010 dengan tema semarak sepakbola (Jombor, Sukoharjo), tahun 2011 di Polokarto, Sukoharjo dengan tema reggae, dan kini di Solo 2012 dengan tema  “Take Me Home, Country Roads” yang diilhami lagu topnya John Denver.

Benih Trah Martowirono disemaikan di desa Kedung Gudel, Kelurahan Kenep Sukoharjo. Martowirono adalah seorang bayan desa (dalam poster ditampilkan sebagai sheriff)  memiliki 4 anak, Suripti, Sutono, Sutejo dan Sukarni.  

Dari keempat anak itu telah hadir keturunan yang berkiprah di pelbagai belahan negeri ini. Kalimantan, Lampung, Bogor, Yogyakarta, Solo, Sukoharjo, Wonogiri, sampai Jember.

Untuk mengomunikasikan kabar keluarga, telah pula diluncurkan blog Trah Martowirono, di : http://trah.blogspot.com.

Friday, August 03, 2012

Dia Begitu Sayang Keluarga : In Memoriam Mbak Eri Herpadmiatun (3 Juni 1956-30 Juli 2012)

Oleh : Broto Happy Wondomisnowo



Mengejutkan. Sebuah pesan singkat datang dari Mas Mayor, Senin, 30 Juli 2012, jam16.35. Kabar duka ternyata. Berita yang tertulis di layar HP:

“Berita lelayu dr Mbak Yayuk Jogja, bahwa Mbak Eri istrinya Mas Untung baru saja meninggal dunia. Info berikutnya nyusul. Mayor.”

Innalilahi wa Inna Ilaihi rojiun. 
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut saya.

Tanpa berlama-lama, saya pun segera mengirim pesan singkat kepada kepada Mas Untung. Isinya, tidak lain saya dan keluarga mengucapkan berbela sungkawa yang mendalam atas berpulangnya Mbak Eri menghadap Sang Khalik. 

Berita berpulangnya Mbak Eri memang mengejutkan. Termasuk saya pun kaget. Seluruh warga Trah Marto Wirono pun pasti tidak mengira Mbak Eri akan begitu cepat berpulang meninggalkan kita. 

Akhirnya hanya doa tulus yang saya panjatkan. Saya cuma bisa memohon kepada Sang pencipa Alam Semesta, semoga Mbak Eri damai di surga. Sementara keluarga yang ditinggalkan, diberi ketabahan dan kekuatan iman. Amin!

Montir motor Kaliurang. Saya memang tidak begitu banyak bertemu dan bergaul dengan Mbak Eri. Ini berbeda dengan mbak-mbak saya yang lain.

Dulu ketika awal tahun 1990-an masih sebagai kontributor Tabloid BOLA untuk Jateng dan  Yogyakarta, saya malah lebih sering main ke rumah Mbak Yayuk di sebelah timur Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Di tempat ini pula saya bisa bertemu Mbak Endah. Begitu juga ketika Mbak Yayuk pindah ke Besi, Kaliurang, Yogyakarta utara.

Bahkan, ke tempat Mbak Dwi di Kaliurang juga pernah saya sambangi. Malah kala itu tidak sengaja saya mau minta tolong kepada seseorang yang tengah memperbaiki motor untuk menanyakan di mana tempat TC para pelari jarak jauh Indonesia yang disiapkan ke SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Jebulnya, lelaki yang tengah ngotak-atik sepeda motor itu adalah Mas Doyo, suaminya Mbak Dwi!

Penuh perhatian. Kembali ke laptop. Uniknya, mengapa ya setiap ada liputan ke Yogya, saya kok malah jarang mampir ke rumah Mas Untung. Jadi, bisa dibilang hubungan dengan Mbak Eri tidaklah seintens dengan mbak-mbak yang lain.

Meski begitu, bisa saya sampaikan bahwa Mbak Eri itu ternyata sangat perhatian kepada adik-adiknya, melebihi mbak-mbak yang lain malah. Dia tak hanya sebagai ibu. Dia juga seorang kakak yang hangat, dan mungkin juga bisa disebut sebagai teman yang begitu hangat, penuh perhatian dan menyenangkan!

Setiap bersua dengan saya dalam berbagai acara pertemuan Trah Martowirono, selalu yang ditanyakan pertama adalah bagaimana kondisi keluarga saya. Berkali-kali dan selalu, malah. Setiap bertemu saya, kalimat pertama yang meluncur adalah, “Bagaimana kabar anak-istri, dik Happy?”

Memang hanya kalimat pendek. Namun, pertanyaan dan mungkin lebih tepat sebagai pernyataan itu sungguh menunjukkan betapa Mbak Eri begitu cinta dengan keluarga. Tidak hanya keluarganya sendiri, Mas Untung, Rico dan Bunga, tetapi juga keluarga adik-adiknya yang terserak dan tersebar di mana-mana!

Sungguh, sapaan Mbak Eri itu akan saya kenang terus. Hanya, sapaan hangat dan penuh kasih itu kini hanya tinggal kenangan. Sosok ibu, kakak, dan teman itu kini sudah damai di rumah Bapa di Surga. Yang saya kenang hanya tentang sosok Mbak Eri yang hangat, ramah, dan penuh perhatian terhadap keluarga!

Kini, Mbak Eri sudah damai di surga. Semoga segala bimbingan, pahala, dan budi baiknya mendapat balasan setimpal dari Sang Maha Penyayang. 

Rest in peace, Mbak Eri…..


Bogor, 3 Agustus 2012

Wednesday, August 01, 2012

Kekasih Hatiku Telah Pergi

*Sedikit kisah hari-hari terakhir orang yang kami kasihi :
Herpadmiatun (3 Juni 1956-30 Juli 2012)

Oleh : Untung Suripno  

Hari Yang Ku Kenang. Hari Kamis, 26 Juli 2012 yang lalu adalah hari sangat terkenang bagi keluargaku.

Saat itu, pukul 01.00 wib dini hari. Isteriku belum tidur, saya belum tidur. Isteriku di kamar melamun merenda angan, saya di meja makan melihat acara televisi.

Tiba – tiba ada suara nyaring dari dalam kamar. Isteri saya merasa dadanya sesak tidak lancar bernafas. Saya bergegas menghampiri. Isteriku terus merasa sakit dadanya. Saya memutuskan untuk membawa isteri pergi ke Rumah Sakir Bethesda.

Saya mengangkat isteri masuk ke mobil. Tidur di tempat duduk bagian tengah. Saya mengemudi. Mobil terpacu kencang menuju rumah sakit dan masuk di IGD Rumah Sakit Bethesda.

Isteriku ditangani dokter jaga. Dadanya sudah berkurang sakitnya. Siang hari dia sudah diijinkan pulang sambil diberi obat untuk pemulihan. Obat itu untuk penyembuhan selama lima hari dan Senin harus kontrol lagi. Setelah itu, hari–hari penyembuhan dimulai. Isteriku istirahat dirumah. Saya tidak bekerja keluar rumah. Kamis, Jum’at, Sabtu saya menemani isteri di rumah.

Di saat – saat pemulihan kesehatan, isteri saya sering duduk merenung. Tidur tidak nyenyak, makan apapun dirasa kurang enak. Sabtu malam isteri saya memanggil saya untuk menemani duduk. Dia memgang tangan saya dan dia berkata lirih … “ saya minta maaf pa. “ Saat itu saya tidak tahu apa makna kata–kata itu. Karena saya merasa bahwa isteri saya tidak punya salah dengan saya.  

Minggu Yang Tak Terlupa. Minggu itu (29 Juli 2012), pagi hari, isteri saya sudah bangun lebih awal. Dia membuat minum susu untuk saya dan Rico, anak saya. Saya bangun, seperti biasa saya menuju meja makan untuk minum pagi. Ketika saya minum di meja makan, Rico masih tidur, isteri saya di kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi, isteri saya berteriak “tolong, tolong… “ dan dia jatuh di depan kamar mandi.

Saya berlari, Rico berlari menghampiri dia yang jatuh. Isteri saya lemas. Dia ingin dibawa ke rumah sakit. Saat itu kurang lebih jam 07.00 pagi. Dengan kencang mobil dipacu Rico menuju rumah sakit. Saya memijit tangan isteri saya yang merasa lemas. Isteri saya masuk IGD RS Bethesda yang kedua.

Ada tindakan penyembuhan yang dilakukan oleh dokter dan perawat. Akan disuntik obat pengurang rasa sakit tetapi tensi rendah sehingga harus dipacu agar tensi naik. Hasil telaah medis, isteri saya dinyatakan sakit jantung dan disarankan untuk dibawa ke rumah sakit Dr. Sarjito. Saat itu jam 09.00 pagi. Bunga yang masih kerja di Jakarta saya telepon segera pulang.

Setelah berkomunikasi dengan RS Sarjito dan minta bantuan dr. Rendi yang ada di RS Sarjito, maka isteri saya bisa diterima di RS Sarjito. Saya tidak melihat ambulan yang membawa isteri saya ke Sarjito.

Dia ditemani Rico dan saya harus pulang ke rumah untuk mengambil sesuatu. Saya bergegas dari rumah ke RS Sarjito. Jarak itu terasa sangat jauh…..karena saya merasa harus segera tiba di Sarjito. Disana sudah ditunggu dokter Rendi, Rico dan isteri saya yang sakit.

Di IGD RS Sarjito saya ditemui dokter Rendi. Saya diberi informasi bahwa isteri saya sakit penyumbatan saluran darah di jantung. Dia harus dioperasi untuk di pasang ring. Saya setuju. Isteri saya ditanya oleh Rico dan dia setuju. “ Aku pingin cepat sembuh dan pulang, “ katanya sambil terisak. Saat itu pukul 10.00 pagi.

Ruang operasi disiapkan, isteri saya menunggu, saya dan Rico menunggu di dekat isteri saya yang terbaring lemas, sesak nafas dan sakit di dada. Saya diberi obat untuk diminumkan ke isteri saya, segera akan saya minumkan. Saya sedang mencari air putih untuk meminumkan obat. Saat itu isteri saya mengeluh kepalanya pusing….. hanya dalam hitungan detik dan isteri saya tidak sadarkan diri.

Seluruh dokter yang ada disitu bergerak untuk menangani isteri saya. Nafasnya berhenti. Oksigen dan nafas buatan tidak mampu memacu kerja jantungnya. Isteriku harus dibantu dengan ditekan dadanya untuk membangun pernafasan ekstra. Dokter yang ada mengatakan bahwa isteri saya kritis. Saya diminta berdoa. Saya berdoa di dekat telinga isteri saya.

Saya menangis, Rico di dekat saya menangis. Inilah air mata yang jarang saya keluarkan membasahi pipi saya. Rico juga tidak pernah menangis. Kali ini saya baru melihat Rico menangis yang pertama kali. Masa koma ini berjalan hampir dua jam. Saya hanya berharap menyaksikan keajaiban untuk hidup isteri saya. Saya bisikkan ke telinga isteri saya bahwa Bunga, anak yang dicintai sedang dalam perjalanan dari Jakarta.

“Sebentar lagi Bunga datang,”kata saya. Isteri saya menghela nafas pelan dan terus berangsur–angsur nafas itu ada. Kata dokter, nadi itu berdenyut lagi. Inilah kemukjizatan pertama yang saya lihat atas hidup isteri saya. Saya menghela nafas. “Terima kasih Tuhan,“ kata saya lirih. Dalam hati saya menyatakan bahwa isteri saya telah “hidup” kembali.

Saat itu saya mulai memberi informasi ke banyak saudara bahwa isteri saya masuk rumah sakit dan akan operasi jantung.

Keluarga Untung Suripno, Reuni Trah Martowirono 2011, Polokarto, Keluarga Untung Suripno memberikan laporan tentang keluarganya, diwakili Frederico Ario Damar, ke kanan : Citra Bunga Persada, Ny. Eri Untung, Untung Suripno. Diperhatikan oleh Basnendar.

Kita semua merindukannya. Keluarga Untung Suripno sedang melakukan presentasi di tengah acara reuni Trah Martowirono di Polokarto, 2 September 2011. Diwakili oleh Frederico Ario Damar, disaksikan oleh adiknya Citra Bunga Persada, mamanya Ny. Eri Herpadmiatun Untung Suripno dan Untung Suripno. Di tempat yang sama hampir sepuluh tahun yang lalu, pada pertemuan Trah Martowirono XVI,  Sabtu, 7 Desember 2002,  sarjana geologi UGM itu secara tulus, jenaka dan terbuka mengatakan tentang  mamanya  dengan ungkapan : “Mama adalah mama yang luar biasa !”

Momen itu, hadirnya ekspresi kerukunan dan kehangatan hubungan keluarga,merupakan momen yang akan selalu dirindukan oleh seluruh warga Trah Martowirono. Reuni tahun 2011 ini ternyata menjadi perjumpaan terakhir dengan mamanya Rico dan Bunga, dan juga kekasih Bapak Untung Suripno. "Sugeng tindak, mBak Eri. Kita semua merindukan Anda." [BH].


Pukul 13.07 WIB tempat tidur isteri saya mulai didorong masuk ke ruang operasi. Pintu ruang operasi itu ditutup pelan. Saya dan Rico ada di depan pintu. Kami berdua diam sambil menahan rasa sedih. Kami malu untuk menangis lagi.

Saya mengajak berdoa Rico, Nino dan Paul. Kami berdiri berempat. Kami berdoa dan tidak mampu menahan air mata. Saat penantian itu terasa terlalu lama. Pendeta Apy Heny datang. Beliau mengajak berdoa lagi. Saat itu saya ingin terus berdoa. Karena doa ini menjadi kekuatan dan pengharapan yang bisa saya lakukan.

Pukul 14.12 wib saya dipanggil dokter untuk masuk ke ruang operasi. Untuk mendapat penjelasan tentang proses operasi yang sudah dilakukan untuk isteri saya. Saya melihat isteri saya terkulai diam. Isteri saya tidak bisa melihat saya yang sedang berharap atas kesembuhannya.

Tempat tidur dorong itu keluar dari ruang operasi. Isteri saya tetap tidak sadar. Saya ingin membawa isteri saya segera pulang. Saya berbisik di telinganya tetapi dia diam. Hanya helaan nafas yang pelan. Itu saja sudah cukup memberi harapan bagi saya dan anak – anak saya untuk menunggu dia pulang.

Tempat tidur isteri saya memasuki ruang ICCU. Saya menemui beberapa saudara yang sudah datang dengan air mata. Semua duduk diam dengan angan yang sama yaitu kesembuhan isteri saya.Bunga datang di RS Sarjito. Dia langsung menemui ibunya yang sering mengirim pesan padanya.

Air mata Bunga membasahi kaki ibunya. Air mata yang tidak pernah keluar sejak kecilnya. Bunga datang tapi ibunya tidak tahu kalau Bunga sedang membasahi kakinya dengan air mata.

Hari Terakhirnya. Hari kedua di ruang ICCU ternyata menjadi hari terakhir bagi isteri saya. Pagi hari, saya dan anak–anak saling bergantian menghampiri tempat tidur isteri saya.

Dia tidur. Matanya terpejam. Kami sering menyeka air mata yang keluar dari matanya yang terpejam. Saya dan anak–anak membicarakan tentang perkembangan kesehatan isteri saya. Kami menyimpulkan bahwa perkembangan isteri saya semakin baik.

Nafasnya mulai berangsur teratur walau masih lemah. Kami berharap ibunya anak–anak saya segera pulang. Bunga ingin mengajak ibunya untuk tetirah di Jakarta menunggui dia bekerja.

Jam berkunjung hari kedua ternyata hari terakhir isteri saya beristirahat di rumah sakit. Pukul 16.00 yang merupakan jam kunjungan di ICCU yang senantiasa kami tunggu ternyata membawa duka.

Saya dipanggil dokter untuk ketemu secara khusus. Dokter menjelaskan tentang kondisi isteri saya yang memburuk. Rico dan Bunga saya panggil untuk mendekati ibunya yang sedang melawan penyakitnya. Dokter meminta kami semua berdoa dekat dengan isteri saya.

Kami tidak siap melepas orang yang kami cintai. Inilah saat–saat yang kami benci. Kami harus melepas orang yang kami cintai dengan sakit yang menghantar perginya. Waktu menjadi beku, tidak ada kata yang dapat terucap kecuali isak dan air mata.

Kekasih hatiku pergi dengan tenang tanpa pesan yang terucap di akhir hidupnya. Isteriku telah pergi, ibuku telah pergi. Tuhan berfirman bahwa kekasihku telah pergi ke sorga.

Dia telah pergi meninggalkan orang yang dicintai. Dia belum dapat menikmati hasil jerih payahnya selama ini. Dia ingin menimang cucu-cucu yang lucu. Dia ingin menyaksikan keluarga baru bagi anak–anaknya.

Selamat jalan kekasihku.
Kita semua akan bertemu di alam kelanggengan.

Isteriku pulang kerumah disambut oleh banyak orang. Para tamu menyanyikan lagu Doa Ibu. Isteriku diam. Tetapi kami semua percaya bahwa kekasihku telah tenang di sorga. Dia akan bahagia ketika menyaksikan belahan jiwanya hidup dalam kasih Tuhan.

Saya baru sadar, ketika dia minta maaf kepada saya karena ternyata dia meninggalkan saya lebih dahulu dan dia titip anak - anaknya agar saya dampingi dalam membangun keluarga.

Banguntapan, 30 Juli 2012

Tuesday, July 31, 2012

Mbak Eri Tercinta (1956-2012) Dalam Kenangan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Ny. Eri Untung Suripno, 2009, Pmeran batik bertema "Batik Jogja Untuk Indonesia" di Yogayakarta dihadiri Ibu Eri Untung Suripno.Nampak berbincang dengan Sinta Pratiwi mengenai warna alami batik indigofera. 

Testimoni Rico. Sebagian besar warga Trah Martowirono pasti mudah mengingat ketika Frederico Ario Damar, putra sulung keluarga Urip Suripno, tampil sebagai juru bicara keluarganya dalam acara reuni Trah kita dan bercerita tentang mamanya. Itu terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu, pada pertemuan Trah Martowirono XVI di Polokarto, Sukoharjo, Sabtu, 7 Desember 2002.

Sarjana geologi UGM itu secara tulus, jenaka dan terbuka mengatakan bila mamanya, Ny. Eri Untung Suripno (foto, kiri) sebagai : “Mama adalah mama yang luar biasa !” Kini, 31 Juli 2012, kita semua menjadi tercenung ketika membaca tulisan singkat Rico di akun Facebooknya : "Rest in peace mom..."

Kita semua tercekat.
Dalam kepedihan. Dalam doa. Mama yang luar biasa itu mendadak pergi.
Kini beliau semoga tenteram dan sejahtera disisiNya.
"Selamat jalan, mBak Eri." 

Terlahir dengan nama Herpadmiatun, lahir di Klaten 3 Juni 1956. Wafat di RS Sardjito Yogyakarta, Senin, 30 Juli 2012. Foto di atas saya jepret tahun 2009 dalam pameran "Batik Jogja Untuk Indonesia" yang diselenggarakan oleh Mas Untung (foto latar belakang,batik putih). mBak Eri sedang berbincang tentang pewarna batik alami dengan Shinta Pertiwi di anjungan Gama Blue Indigo ND. Semoga rangkaian tulisan ini mampu menyajikan sekilas-lintas keberadaan beliau dalam keluarga besar Trah Martowirono.  
  

Mayor Haristanto >> Warga Trah Martowirono
Senin,30 Juli 2012, jam 16:59.

• telah berpulang mbak eri, isteri mas untung, sore ini. mari kjita doakan bersama semoga arwah mbak eri diberikan jalan terang, jalan yang yang lebar dan diampuni semua salah dan kilafnya... pemakaman menunggu info lebih lanjut..selamat jalan mbak eri..untuk keluarga yang ditinggalkannya semoga diberi kekuatan dan kesabaran lebih.  

Warga Trah Martowirono
Senin,30 Juli 2012 jam 17:09

Seluruh keluarga besar Warga Trah Martowirono menyampaikan belasungkawa yang mendalam untuk keluarga Bapak Untung Suripno (Prabu Gusti), Frederico Ario Damar, Clara Bunga Persada dan seluruh keluarga Trah Pawirosemito.

Jasa, keteladanan dan katresnan panjenenganipun mBak Eri tumrap keluarga besar Trah Martowirono, tansah ngremboko ing kenangan sedoyo wargo. Sugeng tindak, mBak Eri. Sugeng kondur abadi kanti tentrem ing ayunanipun Sang Hyang Murbeng Dumadi.  

Warga Trah Martowirono
Senin,30 Juli 2012 jam 17:20

Kenangan mendalam atas diri mBak Eri yang menaruh perhatian kepada batik, sesuatu yang juga berakar dalam tradisi Warga Trah Martowirono, telah didokumentasikan dalam catatan Bambang Haryanto di blog ini : klik disini.

Mbax Wie
22 jam yang lalu

Nderek belo sungkowo...

Anna Sari Nugrahaning Widhi 
21 jam yang lalu

Om...trima kasih...sdh mengupload kabar duka ini..
Sehingga kami yg jauh bisa mendengar kabar ini
SELAMAT JALAN bulik....banyak hal yg bisa kami kenang bersama Bulik....Duka Kami yg Mendalam...
OM Untung dik Bunga dan Dik Rico yg di tinggalkan semoga tetap di beri kekuatan dan penghiburan dr Tuhan....
# slm dan doa Kami Rudy Annasari Manda n Pertha..

Warga Trah Martowirono
11 jam yang lalu

Semalam, Om Bawarto dan Bulik, Tito dan Bowi (putranya), Om Pujo dan Lik Bawarti,dan Lik Tun bersama Bambang Haryanto, sudah melawat ke Banguntapan. Bertemu dengan keluarga besar Haswosumarto. Budi Haryono juga sudah hadir. Kami berdoa melepas kepergian mbakyu kami, Herpadmiatun (3 Juni 1956-30 Juli 2012), untuk kembali ke haribaan Allah.

Muncul momen mengharukan dan sekaligus keteladanan, yaitu sikap tegar dari Mas Untung "Prabu Gusti" Suripno di tengah suasana duka ini. Yaitu beliau segera menulis semacam obituari, curahan hati untuk mengenang istri tercinta. "Esok, tulisan ini akan dibagikan kepada seluruh pelayat," katanya. Itu ide yang brilyan dan mulia. Dan alangkah baiknya, di hari-hari mendatang, semua curahan hati, baik rasa kehilangan, kesedihan sampai pengharapan, dituangkan dalam bentuk tulisan.

Sebab kalau semua galau itu hanya tersimpan di benak,bergulung-gulung disitu, dampaknya tidak baik bagi kejiwaan sampai kesehatan fisik. Sementara bila semua uneg-uneg itu sudah tertuang dalam tulisan, maka beban jiwa akan terasa lebih ringan. [Klik : writing therapy].

Beban itu sudah berjarak dari diri kita sehingga lebih mudah diurai, dianalisis, sehingga memungkinkan munculnya pelbagai solusi dari pikiran jernih dan kondisi kejiwaan yang lebih stabil.

Ayo terus ditulis semua beban Anda, ya Mas Untung.

Nanti tak akan terasa, sudah seperti naskah yang dapat diterbitkan sebagai buku -- yang isinya sebagai obor bagi kita semua. [Baca juga : Journal Writing Is Good Therapy]. Baik Frederico Ario Damar atau Clara Bunga Persada masih membutuhkan nyala obor cinta Anda,Mas Untung. Demikian juga seluruh Warga Trah Martowirono. Doa kami senantiasa untuk Anda di masa-masa yang sulit seperti saat ini. Kami semua mencintai Anda. (Bambang Haryanto).

Mayor Haristanto
Selasa, 31 Juli 2012 jam 20.40

saya ber 5, nani, lintang, ayu dan om bas..utuk-utuk pasca subuhan meluncur ke jogja..sayang agak keblasuk-blasuk...info mas budi ngacau..alamatnya keliru katanya wirokerten..ternyata mondokan.[Yang benar : Modalan - BH]..nderek belo sungkowo....

Rudy Nugroho
Senin, 30 Juli 2012

Banyak kenangan sdh tergores dlm lembar2 kehidupan,dan kami ingin terus menorehkan kenangan indah,namun rancangan Tuhan jauh lbh baik,Selamat jalan eyang Ery,duka mendalam kami. — bersama Prabu Gusti dan 7 lainnya di lord street 24 bentley.


Anna Sari Nugrahaning Widhi
Senin, 30 Juli 2012

Selamat Jalan Bulik...Tuhan sudah memberikan tempat terbaik buat Bulik..
Om Untung.dik Frederico Ario Damar n dik Clara Bunga Persada..Tuhan memberikan pnghiburan & kekuatan. Duka yg mendlm dr Kami... — bersama Clara Bunga Persada dan 2 lainnya.

Frederico Ario Damar
Selasa, 31 Juli 2012

Rest in peace mom...

Anna SariNugrahaning WidhiKami yg turut berduka...doa kami buat dik Rico juga dik bunga dan Om...semoga sll di beri penghiburan dan kekuatan...dgn di Panggilnya mama (bulik) terkasih kami..Tuhan sdh memberikan tempat yg terbaik buat bulik...

Selamat Jalan bulik..kenangan bersmaa bulik akan sll kami ingat...

Update : 1 Agustus 2012

Frederico Ario Damar
Rabu,1 Agustus 2012

Ibu saya hebat, krn dia mau berpura2 menjadi yg lemah agar sya merasa yg terkuat.
Ibu saya mengagumkan, krn dia mau berpura2 menjadi bodoh agar sya merasa menjadi lebih pintar dr dia.
Ibu saya menyejukkan, krn dia mau menjadi yg bersalah agar saya bisa trus merasa yg paling benar.
Ibu saya cerdas,krn memintarkan saya menghadapi dunia tanpa saya harus merasa bodoh.

Update : 2 Agustus 2012
 
Yprasetya An

Selamat jalan Bude ERI... Jasa Bude yang dulu mengajari tentang cakrawala geologi indonesia selalu Yoga ingat..
Maaf Yoga hanya bisa menangis di tanah perantauan. Tabah buat pakde Untung, bro frederico, sis bunga. .
Salam sayang Yprasetya 

Update : 4 Agustus 2012 

Clara Bunga Persada

Mother, how are you today?




Wonogiri, 31 Juli 2012

Friday, July 13, 2012

Warga Trah Martowirono Membuat Acara Kick Andy Bergelora !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


"Mungkin apa yang dilakukan kakak beradik dari Solo, Jawa Tengah berikut ini memang sangat unik dan menarik.

Mayor Haristanto sengaja membuat kelompok suporter yang dikoordinir dengan rapi dan tertib. Bersama kelompok suporternya Pasoepati Solo berbondong-bondong ke lapangan sepakbola dengan membawa pesan damai. 

Karena dinilai berhasil membentuk suporter klub sepakbola di Solo, Mayor mendapat undangan dari sejumlah kota seperti Makassar, Manado dan Pakanbaru untuk menjadi konsultan. Atas jerih payahnya ini, Mayor sempat mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia atas prestasinya yaitu pencetus kelompok suporter sepakbola terbanyak. 

Sementara kakaknya, Bambang Haryanto bertindak sebagai konseptor. Ia banyak memberikan ide dan gagasan bagaimana menyaksikan sepakbola dengan nyaman, tertib dan damai.

”Tidak jarang kami ketika melawat ke kota lain untuk mendukung tim, kami membawa beras dan makanan untuk dibagikan kepada penduduk di sekitar stadion,” ujar Bambang Haryanto. Upaya itu, menurut Bambang diharapkan setidaknya bisa membawa pesan damai."


Tautan :


W
onogiri, 14 Juli 2012


Wednesday, March 21, 2012

Juara All England 2012, Broto Happy dan Trah Kita




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Sembilan tahun. Paceklik gelar bergengsi atlet bulutangkis Indonesia di arena All England, terpuasi sudah. Memang harus menunggu selama sembilan tahun dan untuk gelar ganda campuran harus menunggu lebih lama, 33 tahun,gelar juara itu kini bisa direngkuh kembali.

Melalui perjuangan dari atlet bulutangkis ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir (foto) setelah menumbangkan pasangan Denmark Thomas Laybourn dan Kamilla Rytter Juhl 21-17, 21-19 dan mengangkat trofi di National Indoor Arena, Birmingham.

Prestasi mereka itu mengulangi kejayaan pasangan Christian Hadinata dan Imelda Wigoena yang menekuk pasangan Inggris Mike Tredgett dan Nora "Si Goyang Pinggul" Perry di final tahun 1979.

Juara lagi di Swiss. Kedigdayaan Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad berlanjut. Hari Minggu malam (18/3/2012) mereka mengalahkan pasangan dari Thailand Sudket Prapakamol dan Saralee Thoungthongkam 21-16, 21-14, hanya selama 23 menit di St. Jakobshalle, Basel, untuk menjadi juara.

Hari Selasa (20/3/2012) malam, keduanya tiba kembali ke tanah air. Situs harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post (21/3/2012) memajang foto tersebut. Nampak dalam foto sosok warga trah kita, Broto Happy Wondomisnowo.

Penyambutan Juara Ganda Campuran All England 2012, Broto Happy Wondomisnowo (kiri) ikut menjadi "bodyguard" sekaligus pressofficer saat menyambut kedatangan Liliyana Natsir (merah) dan Tontowi Ahmad di Bandara Soekarno-Hatta,Selasa malam (20/3/2012).

Ada urusan apa sehingga dirinya ikut terjepret kamera ?

Ayah dari Gladys Erika Septeria, wartawan tabloid BOLA dan komentator bulutangkis di televisi ini, dalam sms-nya membuka kartu :

"Ya semalam menjadi bodyguard-nya Tontowi Ahmad dan Butet (panggilan akrab Liliyana Natsir) dan sebagai media officer dalam acara tersebut."

Baiklah.
Semoga prestasi keduanya, dan atlet bulutangkis Indonesia lainnya, akan berjaya di arena akbar Olimpiade London 2012 bulan Juni mendatang.

Wonogiri, 21/3/2012

Tuesday, March 20, 2012

Hari-Hari Bahagia Ganis dan Slagen Abu Gorda



Oleh : Trah Martowirono


"Cinta itu suatu keajaiban.
Karena cinta adalah rahasia yang indah dari kehidupan.

Cinta harus didasari oleh rasa saling mengasihi…..Karena, di dalam kasih ada sukacita, di dalam kasih ada kesabaran, di dalam kasih ada kemurahan, di dalam kasih ada kesetiaan, dan di dalam kasih ada kelemah lembutan."

Itulah pesan indah yang hadir dan menyelimuti suasana bahagia yang dialami oleh keluarga Bapak Teguh Priono, Ibu Suharti, putranya Slagen Abu Gorda dan calon menantunya Ganis, di hari Minggu malam, 18 Maret 2012.

Keluarga Teguh Priono dan Suharti mengapit putranya Slagen Abu Gorda yang bertunangan dengan Ganis, di Sukoharjo., Keluarga Teguh Priono dan Suharti mengapit putranya Slagen Abu Gorda yang bertunangan dengan Ganis, di Sukoharjo.
Keluarga bahagia. Bapak dan Ibu Teguh Priono beserta putranya Slagen Abu Gorda dan Ganis, tunangannya.

Bertempat di Gayam, Sukoharjo, malam itu keluarga Bapak Teguh Priyono bersyukur karena anak semata wayangnya telah bertemu dengan calon belahan jiwanya. Rasa syukur itu semakin terasa melimpah karena kehadiran Bapak-Ibu Yamiarso,SE beserta seluruh kerabat dan para hadirin bagai taburan bunga kekerabatan yang abadi.

Diikat dengan narasi renungan oleh Pdt. Darsono Eko Nugroho dan doa penutup oleh Pdt. Thomas Sukamsi, pesta syukur itu didukung pula oleh seluruh keluarga besar dari Bapak Teguh Priyono.

Saudara kandung Pak Teguh Priyono yang senantiasa siap menjadi pendamping bagi Gorda dan Ganis dalam mempersiapkan keluarganya meliputi Keluarga Bapak Wiranto - Selogiri, Bapak Sudoyo - Yogyakarta, Bapak Untung Suripno - Yogyakarta, Bapak Kristiyo Sumarwono- Yogyakarta, Bapak Agus Widianto - Solo dan Bapak Santosa Priyo Utomo – Solo.

slagen abu gorda dan ganis, pasangan slagen abu gorda dan ganis, bertunangan di tahun 2012, dirayakan di sukoharjo, 18 maret 2012
Calon warga baru trah kita.Pasangan serasi, yang satu pintar menyanyi dan satunya, penari latar ?

Seluruh warga keluarga besar Trah Pawirosemito dan Trah Martowirono mengucapkan selamat berbahagia kepada Bapak/Ibu Teguh Priono dan juga kepada Gorda.

Khusus untuk Gorda : "Cerita macam apa yang sudah dan akan kau berikan kepada Ganis, tentang trah kita, Trah Martowirono ?"


Bahan liputan : Untung Suripno
Penulis : Bambang Haryanto

Wonogiri, 21/3/2012

Friday, February 17, 2012

Surat dari Broto Happy dari Makau : Berkeringat di Kota Judi




Sudah sepekan tak terasa saya ikut menikmati bersih dan dinginnya udara di Makau. Jalanan mulus, termasuk juga jalur pedestrian yang lebar, ditambah kendaraan tak banyak berlalu lalang. Fasilitas ini membuat para pecinta jalan-jalan dimanja betul.

Wajar akhirnya Makau menjadi kota tujuan wisata. Destinasi, entah itu berupa benteng tua, gedung-gedung tua bekas peninggalan kaum imperialis Portugal, museum, hingga candi-candi milik nenek moyang penduduk asli, masih dirawat dengan baik.

Makau sejak 1990 merupakan daerah istimewa (Special Administrative Region) Cina ini memliki objek wisata, budaya, dan sejarah menarik. Bekas koloni Portugal ini memiliki ragam keunggulan.


Trah Martowirono di Macau. Disela bertugas, Broto Happywondomisnowo juga menyempatkan mengunjungi beragam tempat wisata. Termasuk benteng Macau seperti terekam dalam foto ini.

Makau punya 25 situs budaya yang diakui UNESCO sebagai Macau World Heritage Sites. Konsep arsitektur Makau pun mirip seperti kota kecil di Eropa karena banyak peninggalan budaya Portugal. Lebih dari empat abad negeri Cristiano Ronaldo ini menguasai Makau dan membuat banyak peninggalan budaya.

Akhir pekan lalu, saya menyempatkan diri melancong ke Ruins of St. Paul’s, yang menjadi ikon utama pariwisata Makau.

Tetapi yang paling berkesan adalah mengunjungi Masjid Macau. Bersama tim Thomas, Jumat lalu, saya ikut salat Jumat. Sejak dulu, tradisi itu berusaha dipertahankan ketika meliput di manca negara dengan mengunjungi masjid di Hong Kong, Atlanta, Sevilla, Guangzhou, Madrid, Qingdao, dll.

Saya berdoa agar Indonesia menang. Sejauh ini Sang Khalik meluluskan doa tulus saya. Tahun 2002, bersama Ketua Umum PBSI Chairul Tanjung dan tim manajer Lutfi Hamid, juga bareng salat Jumat dan berdoa di Masjid Guangzhou.

Doanya begitu mujarab. Indonesia juara Piala Thomas. Jumat lalu pun saya kembali memohon agar tim Garuda bisa lolos ke putaran final Piala Thomas-Uber di Wuhan, Mei nanti.

Namun, karena udara Makau lagi dingin, segala aktivitas di luar ini tidak juga membuat badan berkeringat. Jalan kaki dari Hotel Casa Real menuju masjid atau bolak-balik ke tempat pertandingan di Macau Forum tak juga berkeringat.

Akhirnya penantian itu tiba. Rabu (15/2) pagi setelah tim Merah-Putih berlatih, lapangan banyak kosong. Karena memang berniat untuk berolahraga, sebagai ”pemain pinjaman”, saya pun bisa main dua gim bersama ofisial tim Indonesia. Kenapa disebut pemain pinjaman?

Karena seluruh peralatan hasil pinjaman pemain. Raket Dionysius Hayom Rumbaka yang saya pakai, cukup ampuh. Terbukti, dalam dua gim itu, saya bersama partner bisa menang! Kalau boleh nyombong, tak hanya pemain, pasangan peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996, Ricky Soebagdja dan Rexy Mainaky yang kini melatih Malaysia, pun ikut menjadi saksi!

Hanya, manfaat utama adalah, keringat ngocor deras. Selama di kota judi, baru kali ini badan saya bisa berkeringat.

Hanya, pelajaran terpenting yang saya dapatkan justru dari Nguyen Tien Minh. Pemain kurus kecil asal Vietnam itu telah mengajari agar dalam pertandingan dan juga di kehidupan itu jangan gampang menyerah. Itu ditunjukkan saat mengejutkan dengan menggulingkan pemain andalah Cina, Chen Long.

Saya berharap semangat juang pemain kita juga terus berkobar, entah siapa lawannya. Jangan gampang menyerah! Itu saja.

Wassalam,

Broto Happy W.

Friday, December 02, 2011

Buku Trah Martowirono di Ohio University Amerika Serikat




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


The SBY Effect.
The Manmohan Singh Effect.
Dan The Komedikus Erektus Effect.

Nama pertama, SBY, adalah singkatan nama untuk presiden kita. Manmohan Singh adalah nama perdana menteri India. Komedikus Erektus, adalah judul buku humor politik saya.

Ketiganya bisa dimirip-miripkan memiliki kesamaan. Yaitu, ketiganya begitu tidak memperoleh apresiasi secara optimal di dalam negeri walau dihargai di manca negara.

Mungkin itu berlebihan.
Tetapi untuk nasib buku Komedikus Erektus, semoga efek di atas itu menjadi kabar yang bagus bagi trah kita. Semoga Anda masih ingat, saat berlangsungnya acara Reuni Trah Martowirono XXVI di Polokarto yang lalu, buku itu telah saya perkenalkan. Bahkan saat itu masing-masing perwakilan dari tiap taler memperoleh cendera mata buku tersebut.

Dari Taler 1 diwakili Mutiara, Taler 2 oleh Dhinar, Taler 3 oleh Heppy dan Taler 4 oleh Yasika (foto).

Buku humor politik yang sama, yang lengkapnya berjudul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania,2010), rupanya kini telah terbang jauh, menyeberangi samudera, untuk sampai ke kota Ohio, di Amerika Serikat.

Di bawah label subjek "Indonesian wit and humor," "Indonesia -- Social conditions -- Humor" dan "Indonesia -- Politics and government -- Humor", syukurlah telah ikut bisa mengisi rak Perpustakaan Universitas Ohio, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat.Informasi tentang buku tersebut detilnya bisa Anda klik disini.

Sungguh menjadi satu kehormatan tersendiri ketika perpustakaan yang sama tentu mengakuisisi banyak buku terbitan Indonesia,sementara buku Komedikus Erektus telah terpilih untuk ditampilkan dalam blog perpustakaan,yang membuat informasinya bisa saya temukan di Internet.

Sementara informasi mengenai lokasi penempatannya di Perpustakaan Vernon R. Alden Library, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat, bisa Anda klik disini.

Sebelumnya, juga diketahui bahwa buku yang sama telah pula menjadi koleksi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress di Amerika Serikat dan Perpustakaan Nasional Australia.

Itulah secuplik cerita tentang upaya menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan dari warga trah kita untuk dunia. Siapa menyusul ?



Wonogiri, 3/12/2011

Wednesday, November 30, 2011

Solo Cyber Day 2011, Trah Martowirono dan Indonesia Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



IndoWLI.
Anda sudah akrab dengan singkatan ini ?
Sedang Onno W. Purbo ?
Ini nama tokoh.
Agak kebangetan bila Anda belum mengenal beliau.

Untuk warga Solo yang belum tahu dan belum kenal, silakan berkenalan dengan beliau di Plaza Sriwedari. Minggu Pagi, 4 Desember 2011. Jam 8-an. Beliau akan memberikan orasi dalam acara Solo Cyber Day 2011.

Acara ini bikin saya agak bernostalgia.
Karena tiga tahun lalu,2008, Walikota Solo Jokowi sudah mencanangkan bahwa tanggal 30 Juli sebagai Solo Cyberholicday. Hari mabuk dunia cyber. Hari kasmaran Internet. Saking ikut-ikutan mabuk saya sempat membuat blog khusus untuk momen itu.

Di blog tersebut Anda dapat melihat secuplik sajian kelompok keroncong siswa-siswi SMA St Yosef yang memanggungkan lagu "Solo Cyberholicday" dengan lirik yang cerdas. Juga dilantunkan secara penuh semangat dalam balutan lagu "It's a Holy Holyday"-nya Boney M, kelompok musik asal Jerman.

Apakah deklarasi oleh Pak Wali hari Minggu esok itu secara resmi menghapus deklarasi dia 3 tahun yang lalu ? Ataukah akan ada dua hari mabuk cyber secara resmi di Solo, yaitu setiap 30 Juli dan 4 Desember ?

Cerita keluarga. Yang pasti,dalam acara tanggal 4 Desember 2011 itu komunitas saya berdasarkan keturunan Trah Martowirono akan ikut ambil bagian. Stan kami bernomor 18, berkat pilihan eksklusif oleh Presiden Republik Aeng-Aeng Mayor Haristanto (foto), tempatnya jadi dekat panggung. Berseberangan dengan stan organisasinya Mas Donny Budi Utoyo, Internet Sehat yang terkenal itu.

Ada sekitar 50 stan yang memunculkan beragam komunitas di Solo dan Indonesia yang memanfaatkan Internet untuk mempertegas eksistensi dan krida-krida mereka yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Stan Trah Martowirono mengusung misi ingin berbagi cerita, bahwa tiap-tiap keluarga itu punya kisah menarik dan hero, walau kelas kampung sekali pun, yang pantas untuk dituliskan. Karena seperti kata Stephen R. Covey, kini saatnya di era Internet ini masing-masing pribadi memberikan "suara"-nya bagi dunia. Ia merujuk setiap insan adalah istimewa. Pakar Internet Dave Wiener lalu menimpali, bila 6 milyar umat manusia bisa saling terhubung, dunia akan menjadi lebih baik adanya.

Modal "unjuk dada" kami di acara SCD 2011 itu hanya blog. Itu pun blog gratisan, yang kami sebut sebagai keuntungan sebagai sarana berbagi pesan betapa keluarga lain, keluarga Anda pun pasti bisa melakukan hal yang sama. Yaitu memiliki blog, untuk menyambungkan silaturahmi (selain Facebook, Twitter dan media sosial lainnya) antarkeluarga Anda. Juga sebagai media untuk mencatat sejarah keluarga Anda.

Kembali ke Mas Onno. Walau hanya lewat email, saya mengenal beliau. Saat acara Jagongan Media Rakyat 2010 di Yogya, Juli 2010, saya sempat berfoto-ria di halaman Jogja Museum.

Juga minta tanda tangan dalam artikel majalah Esquire Indonesia edisi Juni 2010. Profil Onno W. Purbo dimuat di majalah gaya hidup pria tersebut, dan nama saya ikut muncul di halaman lain yang membahas tentang wabah tindak kekerasan di kancah suporter ("saya pencetus Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2000") sepakbola Indonesia.

Membincangkan masa depan Indonesia Kita. Sebagai warga Wonogiri, pagi ini sesudah jalan kaki pagi, melalui milis IndoWLI (IndoWireLessIndonesia) yang digerakkan oleh Dr. Onno W. Purbo,saya ingin mengirimkan email ucapan selamat datang di Solo untuk beliau. Tetapi saya juga terpincut untuk membuka kabar-kabar lain yang masuk. Ada kabar yang ditulis oleh Bapak Ade Kuswandi.Menurut saya menarik.
Di bawah ini saya bagikan untuk Anda :

Cerita mahasiswa Indonesia di Ausie.

Nyata.

Suatu pagi,kami menjemput seseorg klien di bandara.Org itu sdh tua,kisaran 60 thn.Si Bpk adl pengusaha asal Singapura,dgn logat bicara gaya melayu & english,beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.

Beliau berkata,"Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu."Indonesia doesn't need the world,but the world needs Indonesia,"lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia,U don't need the world."

"Mudah saja,Indonesia paru2 dunia.Tebang saja hutan di kalimantan,dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia!

Singapura is nothing,we can't be rich without Indonesia. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.Bisa terbayang uang yg masuk ke kami,apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia,ga peduli harga selangit, laku keras.

Lihatlah RS kami,org Indonesia semua yg berobat.Trus,kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya,bener2 panik.Sangat terasa,we are nothing.Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras.Termasuk di Singapura dan Malaysia?

Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.Liatlah negara kalian, air bersih di mana2,liatlah negara kami,air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis,krn pasirnya mengandung permata.Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china,di pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/kg.Saya liat ini sbg peluang.

Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut mengembargo Indonesia! Ya,karena negara kalian memiliki segalanya.Mereka takut kalau kalian mnjadi mandiri,makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG- EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dr petani2 kita sendiri,belilah tekstil garmen dr pabrik2 sendiri.Tak perlu impor klo bs produk sendiri.

Jika kalian bs mandiri,bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!

Plis share ya biar sampe ke seluruh bangsa Indonesia...

Wassalam,
Ade Kuswandi

Terima kasih, Pak Ade Kuswandi.
Pembaca, semoga cerita campur-bawur ini ada manfaatnya bagi Anda.Bagi kita semua. Apakah momen Solo Cyber Day 2011 itu juga dapat kita manfaatkan untuk memperteguh rasa nasionalisme kita, lalu membuat kita tergerak sesuai nasehat tokoh bisnis Singapura itu pula ?


Salam saya dari Wonogiri.


Wonogiri, 1 Desember 2011
Bonus dari acara jalan kaki pagi.

Thursday, November 10, 2011

Broto Happy W., Trah Kita dan Bulutangkis Indonesia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Sembilan Juara Dunia. Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011 kiranya memiliki makna mendalam bagi seluruh warga trah kita, Trah Martowirono.

Karena salah satu warga kita dari Taler Ke-4 berusaha ikut merayakan hari itu dengan mempersembahkan karyanya bagi bangsa dan negara Indonesia.

Selamat untuk Broto Happy Wondomisnowo !

Wartawan Tabloid BOLA, suami dari Ayu Broto Happy dan ayah dari Ega dan Adis, malam ini (10/11/2011) akan ikut aktif menjadi pelaku sejarah perkembangan dunia olahraga Indonesia. Khususnya dunia perbulutangkisan Indonesia.

Buku karyanya akan diluncurkan berbarengan dengan perayaan HUT Ke-60 PB Tangkas Alfamart di Ballroom Hotel Mulia, Kamis, 10 November 2011, malam. Perkumpulan Bulutangkis (PB) Tangkas Alfamart yang didirikan oleh Keluarga Besar Soehandinata yang pencinta berat olahraga bulutangkis, telah tercatat menelurkan atlet-atlet bulutangkis Indonesia dengan prestasi dunia.

Antara lain, tercatat 9 Juara Dunia, meliputi Ade Chandra (1980), Verawaty Fajrin (1980), Icuk Sugiarto (1983), Joko Suprianto (1993), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (1995), Hendrawan (2001), Nova Widianto/Lilyana Natsir (2005 dan 2007).

Untuk peraihan medali Olimpiade : Hermawan Susanto (Barcelona, 1992, perunggu), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (Atlanta, 1996, emas), Hendrawan (Sydney,2000, perak) dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (Beijing, 2008, perak).

Pena anak Wonogiri. Semua prestasi dan perjuangan mereka itu dan tokoh terkait lainnya demi mengharumkan nama Indonesia akan diabadikan oleh tulisan Broto Happy Wondomisnowo, yang anak Kajen Wonogiri dan anak ke-enam keluarga Kastanto Hendrowiharso-Sukarni, dalam buku berjudul Baktiku Bagi Indonesia : 60 Tahun Tiada Henti Mencetak Juara, 9 Juara Dunia dan 4 Peraih Medali Olimpiade . Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2011. 498 halaman.

“Pengerjaan buku ini mungkin bisa masuk Rekor MURI,” kata Broto Happy W. Karena dengan hampir 500 halaman, dikerjakan dalam tempo pendek, sekitar 3 bulan mulai April sampai deadline naskah tanggal 10 Juli. Apalagi penulisan buku ini dikerjakan disela-sela tugas jurnalistik di Tabloid BOLA.

Buku ini merupakan buku bulutangkis ketiga yang ia tulis. Sebelumnya menulis biografi pebulutangkis kontroversial Taufik Hidayat, Magnet di Bulutangkis (2003) dan biografi Hariyanto Arbi, Smash 100 Watt. (2006).

”Buku ini merupakan dedikasi saya untuk dunia bulutangkis Indonesia. Karena sering bergaul dengan para pemain bulutangkis, saya pun termotivasi untuk berbuat sesuatu untuk dunia bulutangkis Indonesia.

Kalau para atlet berjuang demi Merah Putih dengan ayunan raket di tengah lapangan, sedangkan saya lewat kemampuan yang saya miliki, yaitu menulis buku,” tegas Broto Happy W.

Lewat buku pula ia bertekad mengajak dan memotivasi semua warga keluarga besar Trah Martowirono untuk berlomba-lomba dalam mengukir prestasi sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing. ”Mari terus berkarya, kreatif, dan tiada henti berinovasi untuk ikut mengharumkan keluarga Trah Martowirono,” pungkasnya.

Acara peluncuran dan hari ulang tahun PB Tangkas Alfamart tersebut direkam dan disiarkan ulang di MetroTV, hari Sabtu, 26 November 2011, Jam 16.00-17.05. Ayo kita menontonnya, sekaligus menjadikannya sebagai inspirasi bagi semua warga Trah Martowirono tercinta kita.

Begitu, bukan ?
Salam sukses untuk Anda semua.


Kramat Jaya Baru, Jakarta, 10 November 2011

Sunday, September 04, 2011

Polodise, Marleytowirono dan Reuni Reggae




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Welcome to my paradise,
where the sky so blue,
where the sunshine so bright

Welcome to my paradise,
where you can be free,
where the parties never ending.


Polokarto, Sukoharjo.
Hari Sabtu 3 September 2011 itu dipayungi dengan langit biru. Matahari pun bersinar gemilang.

Ini bukan gambaran tentang paradise, surga. Tetapi tentang polodise, surga mini di Polokarto, tempat berlangsungnya reuni Trah Martowirono XXV/2011. Reuni dengan balutan kental reggae !

Lihatlah. Lirik lagu reggae terkenal dari kelompok UB 40 diatas, siang itu dilantunkan oleh Slagen Abu Gorda, anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo. Wakil rakyat pun, fasih be-reggae-ria. Sajian lagunya itu semakin meronai pesta reggae yang berlangsung sepanjang hari di tempat kediaman keluargaH. Pramono, SE – Siti Fatimah di Glondongan, Mranggen, Polokarto, Sukoharjo.

Putranya, Subekti Agus Ernawan, SE, MM, selaku penggagas acara reuni keluarga bernuansa musik eksotis asal Jamaika itu mengatakan, “komunitas reggae adalah komunitas yang berlandaskan toleransi, kekeluargaan, kerukunan, dan itu sejajar dengan nilai-nilai yang berlaku dalam trah kita pula.”

“Apakah tidak merasa ada keanehan, ketika seorang haji menyelenggarakan pesta reggae ? Apa tidak kuatir akan ada laskar front tertentu yang akan menyatroni acara kita ini ?”

Dijawab oleh Agus, “Itu tidak akan terjadi. Kita menyelenggarakan acara ini demi kebaikan bersama.” Dia benar. Acara berlangsung heboh, kejutan-kejutan terus mengalir, yang diikat sajian musik dari kelompok musik reggae Baks Series dari Kartasura.

Dialog imajiner dan nasehat camat. Acara reuni dibuka jam 10.40 oleh warga trah senior Bapak Untung Suripno dari Taler I yang berasal dari Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Pada intinya, filosofi hidup dari warga trah yang harus kita uri-uri adalah filosofi sebuah sumur.

“Sumur itu airnya harus ditimba, dibagikan, dimanfaatkan. Tetapi bila sumur tersebut tidak pernah digunakan, tidak pernah dimanfaatkan, airnya akan membusuk. Dan bahkan akan beracun,” tegas anak ketiga keluarga Suripti-Sukirman Haswosumarto yang bekerja di Departemen Perindustrian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Begitulah, ritus reuni ini ibarat kegiatan bareng-bareng menimba air dari sumur kehidupan masing-masing warga trah. Dengan saling berbagi kabar, duka atau cita, juga bertukar inspirasi. Reuni adalah sebuah oasis, tempat atau rumah di mana kita secara periodik kembali menuju rumah asal, guna menghayati kembali dari mana tempat kita berasal dan dari mana keluarga kita berakar.

Sebagaimana tradisi Lebaran, pada saat yang sama juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi, bermaaf-maafan. Sebagai wakil generasi muda trah adalah Ayu Permata Pekerti dari Taler IV dan generasi sepuh diwakili Bawarti, putri pertama dari Eyang Bangin Martosuwiryo.

Trah Martowirono berakar dari desa Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo. Martowirono adalah kebayan Kedunggudel, yang wafat tanggal 11 Desember 1972. Istrinya, Jiah, yang dilahirkan tahun 1904 itu wafat dalam usia 92 tahun pada tanggal 16 November 1996. Pasangan ini dikaruniai anak : Suripti, Sutono, Sutejo dan Sukarni.

Bambang Haryanto, anak pertama dari Taler IV Sukarni-Kastanto, mengisi acara lanjutannya. Yaitu berupa dialog imajiner antara cucu dengan kakek-neneknya seputar acara reuni trah bernuansa reggae. Ia pula yang merancang modifikasi nama, dari “Martowirono” kemudian diotak-atik agar bernuansa reggae, sehingga menjadi “Marleytowirono.”

Oleh adiknya, Basnendar Heriprilosadoso yang dosen ISI Solo, foto kedua eyang itu disulap menjadi bergaya rambut dreadlock a la rambutnya Bob Marley. Oleh kakaknya, Mayor Haristanto, rancangan itu disulap menjadi produk antara baliho, syal sampai kaos, sebagai penanda khas reuni keluarga yang menurut Yudha dari kelompok musik reggae Baks Series sebagai, “proposal acara yang unik.”

Ikut memberikan wejangan atau ular-ular adalah Drs. Bhawarto, MM, Camat Pracimantoro, Wonogiri. Ayahnya, Bangin Martosuwiryo, adalah adik terkecil dari Jiah Martowirono. Benar-benar siang itu beliau bercerita, membabar petuah tentang nilai-nilai keluhuran melalui pantun.

Dengan subyek metafora : ular !

Guru besar dari UNS, Prof. Retno Winarni, ikut memberikan sambutan. Beliau kembali menegaskan kegembiraan dan ungkapan salutnya karena telah bisa ikut masuk menjadi warga trah ini. Bahkan untuk reuni tahun 2013 mendatang, beliau dan suaminya, Bapak Agus, telah menyatakan diri siap untuk menjadi tuan rumah acara reuni tersebut.

Acara makin menghangat, ketika topik yang dinantikan telah tiba. Yaitu info keluarga. Yang menjadi ujung tombak adalah taler IV, anak cucu pasangan Sukarni-Kastanto Hendrowiharso. Dimulai dari anak terkecil, Basnendar. Dia antara lain menunjukkan buku yang ia tulis bersama koleganya Ranang As dan Asmoro NP. Berjudul Animasi Kartun Dari Analog Sampai Digital. Disusul Betty Hermisnawaningsih, karyawati CIMB Niaga Solo, yang tampil dengan topeng tokoh buronan KPK, Nunung Nurbaeti. Ia didampingi putranya, Yudhistira yang kelas 8B SMP Negeri 1 Wonogiri.

Keluarga Bastion Hersaptowiningsih-Muhammad Taufik diwakili dua putranya, Yuriko Novean Mahendra dan Yasika Valeri Ocktavian Mahendra. Yuko masih kuliah di ethnomusik di ISI yang ia plesetkan sebagai “institut semrawut indonesia.” Ucapan humoris dan rada “kurang ajar” itu langsung diacungi antem oleh omnya, Basnendar, yang dosen ISI. Sementara Yasika, duduk di kelas XI SMA Negeri 3 Wonogiri, berencana meluncurkan band beraliran metal.

Keluarga Bhakti “Nuning” Hendroyulianingsih-Nano Maryono menceritakan putra pertamanya, Yoga, kini berkarier sebagai pengajar di sebuah perguruan tinggi di Pontianak. Anak nomor 4, Mayor Haristanto-Nani, diwakili putrinya Ayu Permata Pekerti dan Lintang Rembulan, membawa kabar baik: sejak Lebaran telah menempati rumah baru di Nayu Solo. Sekaligus meluncurkan gagasan, reuni trah tahun depan diminta bisa dilangsungkan di tempatnya. Dengan tema, menurut usulan Nuning, adalah : koboi.

Anak ke-3, Bari Hendriatmo, menceritakan putranya Reza Ahimsa Hendriano, telah bekerja di Klaten, “nglanjo Yogya-Klaten pulang-pergi.” Ia lalu menjadi quiz master yang hadiahnya disponsori anak nomer ke-6 Broto Happywondomisnowo yang wartawan Tabloid BOLA dan Dr. Edia Rahayu, dosen UGM, dari Taler I, berupa pakaian batik dengan pewarna alami indigofera. Anak ke-2, Budi Haryono, tampil menirukan aksen turis asing dalam berbahasa Indonesia.

Bambang Haryanto (BH), anak pertama, mengajak para keponakan untuk tampil. Mutiara (SMP Negeri I Yogyakarta, putri kedua dari ibu cantik Endah Lestari yang guru SMA DeBritto Yogyakarta, dari taler I), Dinar (mahasiswi cantik, dari taler II), Heppi (Taler III, mahasiswa FE UMS Surakarta) dan Yasika (Taler IV).

Berempat bergantian membacakan isi teks ucapan terima kasih dalam buku karya BH, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010). Yaitu ucapan untuk kedua orang tua, adik-adiknya, dan juga kepada seluruh keluarga besar Trah Martowirono. Sebelumnya, BH juga menunjukkan surat kabar Solopos yang pada hari yang sama telah memuat artikelnya, berjudul “Ritus reuni di era digital.”

(Cerita akan berlanjut).


Wonogiri, 5/9/2011

Thursday, July 28, 2011

Bapak dan Ibu Kastanto Hendrowiharso : Kenangan 2011




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Bulan suci itu menjelang datang lagi.
Selamat datang, Ya Ramadhan.

Sebagai tradisi yang baik, sebulan sebelum masa kewajiban untuk berpuasa sebulan penuh bagi umat muslim itu hadir, bangsa Indonesia, khususnya suku Jawa, mengenal ritus nyadranan..

Yaitu aktivitas mengunjungi makam leluhur, guna mendoakan para pendahulu yang telah wafat itu agar memperoleh hidayah ketentraman dan kesejahteraan abadi di sisiNya.

Keluarga besar Taler-4 Trah Martowirono, yaitu anak cucu keluarga Kastanto Hendrowiharso, selain melakukan kegiatan nyadran juga mengadakan acara tahlilan, yaitu helat pembacaan doa untuk arwah ayah dan ibu kami yang telah menghadap Sang Khalik.

Bapak Kastanto Hendrowiharso, yang dilahirkan di Desa Jambe, Mlopoharjo, Wuryantoro tanggal 21 Januari 1928, telah meninggal dunia di Wonogiri, 9 Desember 1982.

Ibu Sukarni Kastanto Hendrowiharso, lahir di Kedunggudel, Kenep, Sukoharjo pada tanggal 30 Maret 1933, wafat pada tanggal 20 November 1993 di Wonogiri.

Berdoa bersama anak panti. Walau sebagian tidak sempat hadir, dukungan putra-putri yang berdomisili di luar Wonogiri, berperan signifikan. Keluarga Mayor Haristanto (Solo, ia hadir bersama Ibu Nani), Broto Happywondomisnowo di Bogor, Bonny Hastutiyuniasih di Tasikmalaya, Bari Hendriatmojo di Jember sampai Basnendar HPS (Solo), sebagai contohnya.

Sebagai event organizer dilakoni oleh Bapak Nano Maryono, Ibu Nuning Bhakti Hendroyulianingsih (Ngadirojo) yang dibantu Ibu Bastion ‘Iwin’ Hersaptowiningsih dan Betty Hermisnawaningsih.

Ada kekhususan acara tahun ini. Kami mengundang 25 anak panti asuhan “Esti Tomo” dari Mojoroto, Wonogiri. Mereka hadir bersama pengasuhnya, Bapak Soemarno. Ditambah kehadiran 25-an warga tonggo teparo dari Kajen, Giripurwo, Wonogiri, membuat acara Yassinan dan tahlilan malam itu terasa semakin khidmat.

Acara yang khusuk itu hingga paripurna dipandu oleh Bapak Abdurrachman, anggota takmir Masjid Agung At-Takwa Kabupaten Wonogiri.

Subhaanallaahi wa bihamdhi,
subhaanallaahil ‘azhiimi

Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya.
Maha Suci Allah yang Maha Agung.

Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah mereka (kedua orang tua kami), selamatkan, dan maafkanlah kesalahan mereka.

Segala puji bagi Allah,
Tuhan Semesta Alam.


Wonogiri, 28/7/2011

Tuesday, July 26, 2011

Mengantar Bapak Soengadi Broto Atmodjo Ke Peristirahatan Abadi



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Makam Kristen Astono Sono Praloyo, Bantar angin, Wonogiri.
Di tempat ini ada dua kerabat Trah Martowirono dimakamkan.

Pertama, Bapak Sriawan(1959-2008) telah meninggalkan kita semua pada hari Selasa Pon, 5 Februari 2009, Jam 04.00 di RSUD Wonogiri.

Beliau meninggalkan istri, Ibu Sri Utami dan Elisa Kristiyana (putri) dan Imanuel Dwiatmojo (putra). Tiga tahun lalu itu, antara lain nampak Bapak Wiranto, Ibu Endang dan keluarga, Bapak Santosa dan istri,ikut melayat.


Kedua, pada hari Selasa (26/7/2011), Bapak Soengadi Broto Atmodjo (foto) diistirahatkan pada komplek makam yang sama.

Hadir mengantar beliau ke peristirahatan abadi, selain Keluarga Besar Haswosumarto yang terdiri dari Bapak Wiranto, Ibu Endang, Baroto, juga hadir kontingen dari Yogya antara lain Bapak Sudoyo dan Ibu Dwi Hastuti.

Keraton Banguntapan hadir dengan anggota regu Bapak Untung Suripno, Ibu Erri dan Frederico.

Kontingen Kayen yang rawuh sejak kemarin malam adalah Bapak Kristyo, Ibu Yayuk yang dikawal Hanum dan Peter. Ibu Endah Sulastri, juga hadir. Dari Sukoharjo, Ibu Harti bersama Slagen Abu Gorda. Ibu Dyah dari Solo, tidak ketinggalan.

Kehadiran semua kerabat ini semoga dapat meneguhkan hati bagi Ibu Suyamsih dan keluarga yang ditinggalkan suami, ayah dan eyang kakung tercinta ini. Kontingen Kajen, Senin (25/7) malam sudah hadir di Selogiri. Bapak Nano, Ibu Nuning, Ibu Iwin, Ibu Betty dan saya sendiri. Mayor Haristanto dari Solo, hadir (26/7) pada upacara pelepasan jenazah di Selogiri.

"Bapak Soengadi Broto Atmodjo telah melakukan ziarahnya secara paripurna," demikian kata pengiburan dari Pendeta Nani Winarni di rumah duka, 25/7/2011, malam. Ziarah yang beliau maksud adalah perjalanan hidup manusia yang senantiasa mengingat dan merasa memperoleh bimbingan dari Tuhan dalam sepanjang umurnya.

Bapak Soengadi Broto Atmodjoyang beliau sebut sebagai pribadi yang sabar, kini telah kembali.Menemui Tuhannya.

Selamat jalan, Bapak Soengadi Broto Atmojo.
Untuk keluarga yang beliau tinggalkan, semoga Tuhan senantiasa melimpahkan tawakal, sabar dan ketegaran.Seluruh warga Trah Martowirono senantiasa mendoakan beliau dan keluarganya.



Wonogiri, 26-27/7/2011

Monday, July 25, 2011

Beristirahat Dalam Damai : Bapak Sungadi Broto Atmojo




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Rombongan dari Kajen harus berhenti di Selogiri. Di rumah keluarga Bapak Sungadi Broto Atmodjo. Waktunya : Rabu, 23 September 2009. Kami saat itu sedang menuju Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, untuk mengikuti Reuni Trah Martowirono XXIII.

Selain silaturahmi dengan Om Broto dan Bulik Yam, kami juga berniat “membajak” putra pertamanya, Hening Kristanto, sekaligus mobil Panthernya, untuk mengangkut kontingen Taler IV itu ke Yogya. Misi itu berhasil.

Bagi saya pribadi, itu pertemuan terakhir dengan Om Broto. Beliau sempat bercerita tentang kariernya (kalau tak salah) di DPU Wonogiri. Kalau saya, yang bisa saya ceritakan adalah cerita tentang posisi rumah beliau yang dulu, yang berada di sisi barat jalan raya Selogiri. Sekaligus berada di utara sedikit dari rumah keluarga Pakde Haswo dan Bude Suripti Haswosumarto.

Karena kalau saya naik bis dari arah Wonogiri, juga saat ini, pasti harus menoleh dulu ke rumah timur jalan (yang kini ditempati keluarga “Jenderal” Wiranto dan Ibu Endang Markiningsih) dan disusul menoleh ke rumah yang berada di barat jalan, tempat tinggal Om Broto dan keluarganya.

Ritus senam gela-gelo di atas bis itu otomatis berhenti ketika Om Broto tinggal di rumah baru. Rumah itu berada di timur jalan besar Selogiri.

Sugeng tindak, Om Broto. Berbeda dengan saat berkunjung di suasana Lebaran 2009, saya dan warga Trah Martowirono lainnya hari-hari ini akan mengunjungi rumah beliau dalam situasi duka yang mendalam.

Atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa, Bapak Sungadi Broto Atmojo, telah dipanggil olehNya. Hari Selasa, 25 Juli 2011, Jam 09.00 di RSUD Soediran Mangun Sumarso, Giriwono, Wonogiri. Dalam usia 74 tahun.

Sugeng tindak, Om Broto.

Atas nama keluarga besar Trah Martowirono, saya mengucapkan bela sungkawa yang mendalam.

Untuk Bulik Suyamsih Broto Atmodjo, juga para putra dan putri Hening Kristanto-Sri Sumami (Jakarta), Nugroho Widihantoro, SS – Hariyani Anggoro Rini, S.Pd (Selogiri), Cahyo Sulistyaningsih, SS – Triyatno, SH (Palembang), Raharjo Budi Santoso, S,Ip – Diana Wuri Handayani (Jakarta) dan Kusuma Wijayanti, AMD, kami doakan semoga Tuhan Yang Maha Pengasih senantiasa memberikan kesabaran dan ketegaran dalam suasana yang sulit saat ini.

Kami yakin pula bahwa limpahan cinta, kasih sayang dan keteladanan dari Eyang Kakung Broto Atmodjo akan selalu hidup dalam kenangan para cucu, Theofilus Lambang Kristian, Nanda Kasih Kristianingtyas, Gagat Raina Paramunanda, Ginanjar Satya Narotama, Gemilang Yoga Anindita, Nikolas Nandiwardana Pratisara, Naomi Naksatra Dwiacitra, Mihael Garda Prasetya dan Gabriel Gavra Ardiona.

Pemakaman direncanakan akan dilangsungkan pada hari Selasa, 26 Juli 2011, Jam 12.00. Di Pemakaman Kristen Sono Praloyo, Bantarangin, Wonogiri.

Sugeng istirahat kanthi tentrem, Om Broto.


Wonogiri, 25/7/2011

Friday, June 24, 2011

Trah Martowirono dan Budaya Mengelola Sampah




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


“Sampah di Kota Bandung per harinya mencapai 7.500 meter kubik. Jumlah tersebut setara dengan berat 1.000 gajah.” Demikian laporan koran Solopos, 13 Juli 2010.

Problem sampah adalah problem yang mengepung Indonesia, tambah pakar pemasaran dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali.

Untuk ikut memberi solusi atas masalah kronis itu, di kampung tempat ia tinggal dirinya dan istrinya telah mendidik tetangganya untuk mengubah sampah itu menjadi komoditas ekonomi. Sampah disulap menjadi berkah.

Di Yogyakarta, seorang dosen perguruam tinggi kesehatan, Bambang Suwerda, mengajak masyarakat desanya, Badegan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, mencanangkan solusi kreatif dalam mengatasi masalah sampah. Mereka bergotong royong mendirikan bank sampah. Saya (BH) berulangkali kontak dengan beliau, berbagi wawasan tentang pengelolaan sampah.

Orang-orang kreatif seperti dia itu langka. Karena banyak dari kita, walau berpendidikan tinggi, sampai orang kantoran yang wira-wiri berbau wangi, masih ignoran ketika mengelola sampah. Berbelanja memakai tas plastik, membuang sampah dari mobil yang melaju sampai perilaku membakar sampah, masih sering kita temui di mana-mana.

Bahaya membakar sampah. Membakar senyawa berbahan dasar chlorine, seperti plastik PVC, menghasilkan senyawa dioxin yang paling berbahaya. Chlorine terdapat dalam berbagai jenis plastik, sehingga saat plastik ini dibakar, maka chlorine dilepas dan dengan cepat bereaksi dengan senyawa lain dan membentuk dioxin. Senyawa terebut sangat tahan lama, dan tidak mudah terurai di alam.

Saat terlepas ke udara, dioxin dapat menempuh jarak yang cukup jauh. Di air, dioxin dapat menumpuk pada tanah sungai, sehingga menempuh perjalanan lebih jauh ke hilir atau masuk ke tubuh ikan. Kebanyakan paparan dioxin yang kita alami terjadi melalui makanan. Sementara, dioxin yang terlepas ke atmosfer menumpuk pada tanaman yang kemudian akan dimakan oleh hewan.

Pada makhluk yang berada di bagian akhir rantai makanan menerima resiko penumpukan dioxin lebih tinggi. Nah, karnivora, seperti manusia mengakumulasi jumlah dioxin tertinggi. Faktanya, 95% dioxin yang dikonsumsi manusia berasal dari lemak hewani. Dalam penelitian, kadar satu per sejuta gram dapat membunuh kelinci percobaan. Hewan itu mati akibat wasting syndrome dalam dua sampai enam minggu.

Beberapa jenis senyawa dioxin, seperti dilansir BemFKUnud.com, diketahui dapat menyebabkan kematian meski pada konsentrasi yang sangat rendah. Kerusakan sistem imun pada manusia, juga dapat terjadi, terutama pada anak-anak. Efek seketika yang terjadi akibat paparan dalam jumlah banyak, misalnya chlorance, yaitu penyakit kulit yang parah dengan lesi menyerupai akne yang terjadi terutama pada wajah dan tubuh bagian atas, serta ruam kulit lainnya, perubahan warna kulit, rambut tubuh yang berlebihan, dan kerusakan pada organ-organ tubuh lain, seperti hati, ginjal dan saluran pencernaan. Masalah kesehatan terbesar adalah bahwa dioxin dapat menyebabkan kanker pada orang dewasa.

Secara global, pembakaran sampah adalah sumber dioxin terbesar yang menyebabkan kontaminasi lingkungan. Di Amerika Serikat, Eropa dan Australia, hukum yang baru dan tindakan langsung dari masyarakat telah menghasilkan penurunan tajam tingkat dioxin di lingkungan sehingga memberikan peningkatan keamanan dan kesehatan untuk semua orang. Sayangnya, banyak masalah besar dioxin masih terjadi di negara-negara lain, sebagaimana terjadi di Indonesia.

Ternyata, membakar sampah itu sangat beresiko. Bahaya yang lebih besar lagi adalah kita selama ini tidak menyadarinya.

Tradisi baik trah. Sebenarnya trah kita, Trah Martowirono, telah memulai tradisi yang baik dalam ikut mengelola sampah. Yaitu saat reuni tahun 2009 dengan tuan rumah Taler 1/Keluarga Suripti-Haswosumarto, dengan tema Enam Djam Di Djogdja, yang berlangsung meriah di Museum Benteng Vredeburg, 23 September 2009. Saat itu masing-masing warga pulangnya disangoni ulih-ulih tas kain (foto) berisi roti lezat untuk disantap. Model pembawa tas dalam foto itu adalah Bapak “Jenderal” Wiranto, yang kini tinggal di rumah pribadinya di Villa Gemantar di Selogiri :-).

Tas kain itu diberikan, tentu dengan membawa pesan cinta lingkungan. Gunakanlah. Karena, menurut lembaga kajian lingkungan dari Bali, IDEP Foundation satu tas kain itu setara dengan penggunaan 1000 tas plastik yang berpotensi menjadi sampah.

“Daripada setiap belanja dapat (tas) plastik yang selalu menumpuk dan cuma jadi sampah, kenapa tidak setiap belanja kita bawa tas (kain) ulih ulih itu saja ? Semoga semua warga trah yang lain juga setuju !”

Itulah komentar menarik dari Anna Sari Nugrahaning Widhi terhadap tulisan berjudul Tas Ulih-Ulih di Facebook dan blog kita ini. Sebagai sarjana biologi dan ibu dua putri, rupanya Sari langsung “klik” dengan ide pro-gerakan lingkungan hidup.

Nalurinya sebagai sebagai seorang ibu seolah terketuk ajakan Michael Jackson dalam lagu indah Heal The World, “Heal the world we live in/Save it for our children…/If you care enough for the living/Make a better place for you and for me,” mendorongnya untuk berbuat sesuatu agar putrinya, Chardia Nectarina Amandava Nugrahati dan Pertha Xactiva Angellica Nugrahati, kelak bisa menghuni dunia yang lebih baik.

Tas-tas plastik itu, lihatlah di sekitar ruang rumah-rumah kita, ia ada di mana-mana. Banyak orang-orang yang wawasan ekologinya minim, tak peduli, lalu menemukan solusi untuk melenyapkan tas-tas plastik itu dengan membakarnya.

Orang-orang idiot ini tidak tahu bahwa asap pembakaan sampah (apalagi yang terbuat dari bahan-bahan plastik) mengandung racun yang mencemari udara yang mereka hirup sendiri dan juga warga lainnya yang tidak berdosa.

Untunglah, pemerintah rada cepat tanggap. Mereka yang melakukan pembakaran sampah, akan terancam dikenai sanksi berat. Koran Solopos 18 Mei 2011, Hal. III, mewartakan tentang UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Seperti disampaikan Kepala KLH Wonogiri, Sri Wahyu Widayatto, dengan merujuk undang-undang tersebut maka mereka yang membakar sampah bisa dikategorikan mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan. Sanksinya berat : dipidana penjara 3-10 tahun dan denda antara 3 sampai 10 milyar.

Fihaknya akan mensosialisasikan sanksi tersebut. “Jangan-jangan masyarakat tidak tahu dan tiba-tiba kena sanksi karena hanya membakar sampah,” tegasnya.

Terima kasih Pak Sri Wahyu. Wanti-wanti Anda tersebut kini kami tularkan kepada warga trah kami. Untuk kemaslahatan bersama.

Halo, warga Trah Martowirono yang berada di manca negara, utamanya Mas Rudi Agung, Annasari dan Amanda-Pertha yang kini merintis sukses masa depan di Perth, Australia :-), ditunggu ceritanya bagaimana warga negara maju mengelola sampah-sampah mereka.

PS : Yang gemar olahraga bulu tangkis, saksikan warga kita Broto Happy Wondomisnowo (dari Taler IV) yang mejeng menjadi komentator pertandingan di stasiun televisi Trans 7 selama Turnamen Bulutangkis Indonesia Terbuka 2011.


Wonogiri, 25 Juni 2011