Showing posts with label tabloid bola. Show all posts
Showing posts with label tabloid bola. Show all posts

Thursday, April 29, 2010

Out of The Box Berbuah Penghargaan MURI



Oleh : Broto Happy W.
Email : brotohappy (at) yahoo.com


Konsep ide-ide liar selama ini dianggap nyleneh. Atau tidak berguna, dan kemudian kerap masuk kotak sampah.

Padahal, konsep ide liar ini adalah bagian dari kreativitas yang juga layak diapresiasi. Bahkan, banyak pihak menyebut bahwa konsep ide-ide di luar kebiasaan sehari-hari ini harus ditumbuh-kembangkan. Sudah saatnya kita memang dituntut melahirkan sesuatu konsep di luar kebiasaan. Istilah kerennya sekarang harus memiliki konsep berpikir out of the box!

Out of the box! Ya, itu yang dilakukan anggota warga Trah Marto Wirono, Broto Happy Wondomisnowo saat diberi mandat organisasi bulutangkis Indonesia, PB PBSI untuk menyelenggarakan pertandingan simulasi Piala Thomas-Uber. Pertandingan pemanasan, sekaligus uji coba ini ditujukan untuk menghadapi Putaran Final Piala Thomas-Uber di Stadion Putra, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 9-16 Mei 2010.

Broto Happy, yang jadi wartawan, seperti kejuaraan-kejuaraan bulutangkis internasional sebelumnya, bakal dikirim Tabloid BOLA untuk meliput langsung ke Malaysia. Putaran Final Piala Thomas-Uber nanti adalah liputan dia yang ke delapan tanpa terputus sejak 1994 di Jakarta, 1996 (Hong Kong), 1998 (Hong Kong), 2000 (Malaysia), 2002 (Cina), 2004 (Jakarta), 2006 (Jepang), dan 2008 (Jakarta).

Konsep berpikir menggelar sesuatu hanya sebagai rutinitas, saya buang jauh-jauh. Akhirnya, pertandingan simulasi ini pun bisa dipindahkan ke Solo. Maklum, rutinitas selama ini simulasi hanya berlangsung di Bandung atau di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur.

Ternyata hasilnya mengejutkan semua pihak. Simulasi Piala Thomas-Uber di Solo, Minggu (25/4) sore berlangsung sukses. Kendati harus membayar tiket Rp 40.000 untuk tribun dan Rp 100.000 untuk VIP, ternyata tidak mengurangi animo pecinta bulutangkis masyarakat Kota Bengawan untuk berbondong-bondong datang ke GOR Sritex Arena.

Saat ditanya pengurus PB PBSI, mengapa memilih Solo sebagai tempat simulasi, tentu bukan karena alasan saya bisa pulang ke rumah. Tetapi, karena rutinitas simulasi harus dihentikan. Broto Happy pengin sesuatu yang baru dan menyegarkan. Tak hanya bagi pemain, tetapi juga penonton. Selain itu, atmosfer Solo terhadap olahraga tepok bulu demikian dahsyat.

Maklum, Kota Bengawan dalam sejarahnya termasuk rajin melahirkan pemain bulutangkis kelas dunia. Dari kota ini bak mata air sungai Bengawan Solo, tidak pernah putus menghasilkan pemain bintang. Sebut saja, Indra Gunawan, Indratno, Djaliteng, Lanny Tedjo, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Gunawan, Bambang Suprianto, Dwi Arianto, Luluk Hadiyanto, dll.

Dengan memindahkan pertandingan simulasi Piala Thomas-Uber ke Solo, apakah itu sudah cukup? Jawabnya tidak! Itu hanya sebagian kecil dari konsep berpikir keluar dari kebiasaan yang saya jalani.

Kejutan Membatik. Saya pun berusaha memberikan kejutan berikutnya kepada pemain bulutangkis terbaik Indonesia saat ini. Pemain harus dikenalkan dengan tradisi dan budaya adi luhung Kota Solo. Apa itu? Batik! Apalagi, Solo sendiri sudah memproklamirkan dirinya sebagai Kota Batik. Klop sudah!

Batik di sini bukan hanya sekadar melihat, namun seluruh rombongan pemain harus dikenalkan bagaimana susahnya membatik secara langsung. Menciptakan secarik kain batik ternyata membutuhkan sebuah usaha keras, sungguh-sungguh, hati-hati, teliti, dan juga kreativitas tinggi! Nilai-nilai inilah yang ingin saya bagi kepada pemain betapa susahnya membatik.

Akhirnya seluruh rombongan bulutangkis pun bisa membatik di Gerai Batik Putra Laweyan, Laweyan, Solo, Sabtu (24/4) sore. Inilah pengalaman pertama mereka bersinggungan dengan batik. Inilah untuk kali pertama pemain memegang canting dan membatik di atas selembar kain putih yang sudah diberi pola gambar tertentu.

Ternyata, tidak mudah. Perlu kesabaran, feeling, dan ketelitian untuk bisa menggoreskan cairan lilin berwarna coklat (malam) ke atas kain putih. Belum lagi, pemain takut kena cairan lilin yang panas itu.

“Ternyata membatik itu tidak semudah mengayunkan raket. Perlu teknik-teknik dan mengandalkan perasaan,” komentar Greysia Polii, pemain ganda.

“Acara membatiknya seru. Ini pengalaman pertama saya. Saya jadi punya pengalaman bahwa membatik itu begitu susah dan membutuhkan kesabaran. Makanya, budaya batik harus kita dilestarikan,” ujar Adriyanti Firdasari, pemain tunggal.

“Membatik ini merupakan pengalaman terbaru saya. Seumur-umur, baru kali ini saya membatik,” timpal Markis Kido (foto atas, kiri), pemain ganda yang bersama Hendra Setiawan merebut medali emas Olimpiade Beijing 2008.

Acara inilah yang saya harapkan akan selalu diingat semua pemain. Selama di Solo, mereka tidak hanya melulu bertanding bulutangkis yang sudah menjadi rutinitas sejak kecil hingga sekarang. Pemain harus mendapatkan sesuatu yang baru yang belum pernah mereka alami. Oleh-oleh berupa sensasi pengalaman terbaru inilah yang ingin saya bagi kepada pemain sebelum kembali ke Jakarta.

Oleh-oleh berupa sensasi membatik ini saya kira tidak akan habis, kendati terus dibagi dan diberikan kepada sana-keluarga pemain. Mereka pun pasti akan menceritakan pengalaman seru ini kepada teman, pacar, famili, dan sanak-keluarga. Kesan mereka terhadap Solo dan membatik tidak akan lekang ditelan zaman!

Setelah seluruh pebulutangkis Indonesia saya kejutkan dengan berbagai acara seru selama di Solo, saya pun ternyata tidak luput kena kejutan. Atas prakarasa menggelar acara out of the box dengan membatik ini, oleh Museum Rekor MURI, saya juga kecipratan mendapat penghargaan. Namun, saya memilih penghargaan itu diberikan kepada lembaga tempat bekerja, yaitu Tabloid Olahraga BOLA.


Penghargaan layak diterima BOLA, kendati ini juga adalah prakarsa saya untuk menyelenggarakan acara “Pebulutangkis Top Indonesia Membatik Bersama”.

Aksi ini pun diberi penghargaan oleh Rekor MURI Nomor 4245, bersama PB PBSI, Pengkot PBSI Solo, serta Republik Aeng-aeng Solo. Penghargaan itu diterima oleh Wakil Ketua PB PBSI Sabar Yudo Suroso (paling kanan), Ketua Pengkot PBSI Solo, Susanto (nomor tiga dari kiri), saya, dan Mayor Haristanto, dari Republik Aeng-Aeng (nomor dua dari kiri).

“Saya bangga dengan penghargaan Rekor MURI ini. Sebetulnya, itu ide liar tetapi ternyata mendapat tanggapan positif. Hanya, penghargaan ini bukan untuks aya saja, melainkan bagi Tabloid BOLA, tempat saya bekerja, dan juga pembacanya,” komentar Broto Happy.

Cuma, agar semua acara di Solo sukses, bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Saya harus bekerja all-round. Kendati jabatannya wakil ketua penitia pelaksana, saya tidak ragu untuk ikut membersihkan dan merapikan sendiri kursi pemain. Di bawah tatapan ribuan penonton, saya tidak canggung untuk mengumpulkan botol-botol minuman bekas untuk dibuang ke tempat sampah.

Selebihnya, saya juga harus menjadi media officer untuk menggelar konferensi pers antara pemain dan pelatih dengan wartawan lokal Solo. Stage manager pun harus dilakoni. Ini agar wartawan foto tidak berebut untuk mengabadikan momen di podium juara.

Selebihnya, menjadi humas PB PBSI dadakan, dan penghubung pemain dengan panitia lokal juga jadi menu wajib. Bahkan, saya pun menjadi wasit untuk menggelar pertandingan eksibisi yang mempertemukan pemain kelas dunia melawan pebulutangkis dari Yayasan Pembina Olahraga Cacat (YPOC) Solo.

Nah, komplet sudah!

Sunday, October 25, 2009

Kabar Indah Trah Dari Kedah dan Tabalong



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Semalam di Malaysia. “Dua hari ini saya [Broto Happy W.] jalan-jalan ke Alor Setar, negara bagian Kedah, Malaysia. Saya diajak pemilik PB Tangkas-Alfamart, Justian Suhandinata untuk menjadi saksi penyerahan Suhandinata Cup untuk diperebutkan kali pertama kepada panitia Kejuaraan Bulutangkis Junior Beregu Campuran.

Perjalanannya lumayan melelahkan. Dari Jakarta ke Singapura, lalu sambung lagi dengan pesawat sejam ke Penang. Diteruskan naik kendaraan 90 menit menuju Alor Setar. Karena semalam datang malam, jadi nggak sempat jalan-jalan. Sekarang pagi-pagi sudah harus balik ke Penang lagi dan sambung ke Singapura, baru Jakarta.

Itu saja kabar saya. Wah nyesel juga nggak hadir di pertemuan Trah Martowirono di Yogya lalu. Salam sukses selalu dan salam buat semua.“

Itu email pertama Broto Happy W. kepada Bambang Haryanto, 23/10/2009. Email keduanya, diterima 25 Oktober 2009 menyajikan cerita yang “makin seram.”


Dikira juara ! ”Nambahi info yang sudah dimuat, ini saya kirimkan foto-foto saat berada di Alor Setar, negara bagian Kedah, Malaysia.

Saat membawa trofi Suhandinata Cup keluar dari bandara Sultan Abdul Halim Airport, Alor Setar, wah, saya dikira atlet yang baru saja menjadi juara. Banyak petugas di bandara dan juga para pelancong yang memberikan salam atas keberhasilan membawa piala.

Mereka bertanya, juara apa Anda? "Saya juara bulutangkis!" Pengakuan bohong-bohongan ini semata-mata agar orang sana juga makin menghormati orang Indonesia! Ternyata orang Indonesia juga hebat dan bisa berprestasi di Malaysia. Tidak hanya melulu TKI yang dibayar murah dan kerap dirampas hak-haknya di negeri jiran itu.

Wisata kuliner batal. Sempat juga malam-malam sebelum tidur, saya sempatkan untuk menikmati Alor Setar. Saya pun sempat berpose di pusat kota.

Ternyata kotanya kecil dan sudah tidak ada tanda-tanda keramaian. Toko banyak yang sudah tutup, tinggal beberapa kedai makanan Cina yang masih buka. Namun karena takut tidak halal, saya urungkan menikmati wisata kuliner.

Meski hanya kurang sejam, sempat mendapat pengalaman menarik. Berempat bersama Pak Tommy Vanalu, Hendro, dan Yose Sulawu, keluar hotel dari kejauhan tampak ada keramaian di sebuah gedung terbuka yang lumayan besar. Yang pasti tempat tersebut

begitu terang benderang dengan lampu warna merah dan kuning. Juga tampak banyak orang berkumpul dan hilir mudik.

"Wah, pasti di sana ada keramaian menarik!" gumam saya. Dasar wartawan yang haus akan sesuatu yang baru dan mencari tantangan unik, saya pun mendekat. Ternyata, begitu mendekat, pusat keramaian itu bukanlah sebuah hiburan atau tontotan khas Alor Setar.

Tontonan itu adalah acara khas orang etnis Cina setempat yang tengah melakukan penghiburan dan persembahyangan bagi anggota keluarga yang meninggal dunia dan akan dikubur keesok harinya. Pantasan di tengah bangunan itu ada peti mati dan asap dupa hio berterbangan ke mana-mana!

Itulah pengalaman menarik selama beberapa jam di Alor Setar. Salam sukses selalu untuk seluruh warga Trah Martowirono.

Kabar Plong Dari Tabalong. “Dengan sarana komunikasi yang sudah sedemikian hebat, jarak dan waktu terasa tidak begitu menjadi penghalang bagi kita warga Trah untuk saling menyapa dan berkomunikasi.

Contohnya saya [Santoso Priyo Utomo di Tabalong, Kalimantan Selatan] dengan waktu hanya bisa bertemu "fisik" selama 12-14 hari dengan keluarga [di Solo], setelah itu dipisahkan secara "fisik" juga 1,5-2 bulan.

Sarana komunikasi canggih ini bisa menjadi media mengurangi kerinduan dan kekangenan. Pak Bambang, si pengelola blog Trah, terasa menjadi oasis di padang kerinduan akan informasi dan kabar anggota trah.

Kiranya Blog Martowirono ini tetap dan senantiasa ada, sebagai salah satu wahana yang paling SIP (mungkin) saat ini. untuk ajang komunikasi dan informasi antar anggota trah.” (Posting status melalui Facebook ke temboknya Bambang Haryanto, 23/10/2009. Foto : Bapak Santoso saat menghibur di Reuni Trah Martowirono, 23 September 2009, di Yogya).


Wonogiri, 26/10/2009

trahmw

Thursday, April 23, 2009

Stuart Bruce, Nurdin Halid, Sepakbola Indonesia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tsunami sepakbola. Mie mentah dan dingin campur saus plus sambal. Itu salah satu menu sarapan saya pagi itu. Ini kesalahan pemula. Kesalahan wong ndeso di kota metropolis Singapura. Karena saya tidak sadar bahwa di dekat nampan mie itu ada kompor gas kecil yang diatasnya terdapat kuali tembikar berisi kuah panas untuk menjerang mie tadi. Maklum saja, saya bukan ahli gastronomi.

Sambil sarapan, saya membuka-buka majalah Newsweek edisi terbaru. Salah satu kolomnya ditulis editornya yang cemerlang, Fareed Zakaria. Hari itu, 17 Januari 2005, hanya berselang tiga minggu setelah tsunami dahsyat menghantam Aceh dan negara-negara di tepian Samudera Hindia.

Fareed Zakaria menulis, dalam setiap kejadian bencana, fihak yang diuntungkan adalah justru kaum papa. Kaum miskin. Mereka terbiasa tidak memiliki apa-apa dan sesudah bencana, mereka kembali juga tidak memiliki apa-apa. Tetapi, lanjutnya, bencana tsunami 2004 itu lain. Kaum miskin kali ini juga sangat merasakan akibat fatalnya.

Beberapa hari sebelumnya, saya memimpikan adanya sesisir penghiburan bagi para korban tsunami, juga bagi psyche bangsa Indonesia saat itu. Melalui sepakbola. Di final Piala Tiger 2004. Di semifinal tim kita bisa menghancurkan Malaysia 1-4 di kandang mereka, sungguh menggelorakan.

Tetapi dalam pertandingan final leg pertama di Senayan, 8/1/2005, kita kalah ditekuk Phill Bennet dan kawan-kawan dari Singapura dengan 1-3. Gol tembakan bebas Mahyadi Panggabean tidak menyelamatkan saya, yang duduk di pinggir lapangan, karena nyaris dihantam bom botol air mineral berisi air kecing kekuningan yang dilemparkan oleh penonton kita yang frustrasi dari tribun stadion.

Heal the nation.” Itulah bunyi spanduk besar, rancangan saya dan Mayor Haristanto, yang pada tanggal 16/1/2005, terpampang di sudut timur laut Stadion Kallang, Singapura. Tergurat di sana harapan, melalui sepakbola sembuhkan luka bangsa Indonesia akibat bencana tsunami, dan bangkitlah Indonesia untuk meraih kemenangan dan kejayaan. Kita kalah lagi, 1-2. Agregat : 2-5 untuk kejayaaan Aedi Iskandar dan kawan-kawan dari Negeri Singa itu. Tsunami sepakbola Indonesia kali ini membawa dampak lebih jauh. Mengalir kepedihan sampai kini.

Sepakbola fantasi. Esoknya, ada sedikit penghiburan. Koran utama Singapura, harian The Straits Times (17/1/2005) memuat ucapan saya. Bahwa saya masih punya optimisme terhadap masa depan sepakbola Indonesia. Saya masih mempercayai bahwa Peter Withe, pelatih timnas saat itu, akan mampu membuat timnas kita kembali berjaya.

Optimisme saya itu mungkin optimisme buta. Saya hanya menganalogikan sukses yang dicapai oleh Peter Withe (sampai saya membuat kaos dengan slogan : I Believe The Withe Magic !) ketika melatih tim Thailand, akan juga berbuah sukses ketika melatih Ponaryo Astaman dan kawan-kawan.

Ketika Peter Withe pergi, ketika Nurdin Halid masuk penjara karena tindak pidana korupsi dan ketika Nurdin Halid keluar dari penjara tetapi ia bersama kroninya tetap bersikukuh ingin memegang kendali PSSI, saya kali ini sudah putus harapan. Melalui stasiun televisi antv, beberapa hari lalu, tiba-tiba saya melihat siaran berisi acara peringatan HUT ke-79 PSSI.Dengan tajuk “PSSI Fantasy.” Maka saya pun segera semakin tahu kini : sepakbola Indonesia adalah sepakbola fantasi.

Fantasi-fantasi itu, khayalan demi khayalan itu, memang yang hidup di kepala para pengelola persepakbolaan Indonesia. Berkhayal dengan mengirimkan tim berlatih ke luar negeri akan mampu mendongkrak prestasi. Rumus lama yang selalu didaur ulang walau hasilnya semata kegagalan selama ini. Lalu berkhayal sebagai penyelenggara Piala Dunia 2018 atau 2022. Termasuk mungkin berkhayal, bahwa saat itu ketua PSSI tetap digenggam oleh Nurdin Halid beserta kroni-kroninya.

Mana aksi suporter kita ?. Tulisan Fareed Zakaria, juga cerita yang sering saya ulang mengenai final Piala Tiger 2004 di atas, muncul di benak lagi ketika ngobrol dengan Stuart Bruce. Ia suporter fanatik klub papan atas Skotlandia, Glasgow Rangers. Tempat ngobrolnya : Wonogiri, Kamis, 23 April 2009.

“Sebagai seorang Scotland, Stu itu Rangers sejati, sampai ke tulang dan darahnya :),” demikian bunyi sms dari Ade Soediro, eksekutif Radio Istara FM, Surabaya. Ade adalah tunangan dari Stuart Bruce (foto). Bagaimana ceritanya seorang suporter Glasgow Rangers bisa main ke Wonogiri ? Keajaiban itu bisa terjadi berkat blog di Internet, karena Google, terutama karena keagungan cinta. Hal ini bisa menjadi cerita tersendiri, termasuk menyangkut naskah buku saya Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati.

Stu kini tinggal di Manchester, Inggris. Sebagai seorang billy boys, sebutan bagi suporter Glasgow Rangers, ia pernah melanglang daratan Eropa. Juga sebagai seorang tartan army, sebutan bagi pendukung timnas Skotlandia. Suporter dari bangsa yang kaum prianya suka mengenakan rok kilt dan berbaris meniup alat musik bagpipe ini, tersohor tergolong sebagai kelompok suporter paling suportif dan sopan di Eropa.

The Tartan Army,” kata saya, “ dan juga Roligans dari Denmark, adalah kelompok suporter sepakbola yang perilakunya ingin menjadi suri tauladan kelompok suporter Indonesia.” Karena mereka bersahabat. Saat itu di pojok ruang tamu rumah saya, komputer sedang memutar CD saat kedatangan Pasoepati disambut meriah, gairah dan persahabatan, di tengah gemuruh Aremania di Stadion Gajayana, Malang, 21 Mei 2000. Saat itu tepat satu tahun reformasi di Indonesia !

Stuart Bruce, yang pernah menjadi dosen Sastra Inggris di Unika Sugiyopranoto Semarang, kini mendukung tim divisi 3 Stockport City di Manchester. “Kalau tur keluar kota, saya yang menjadi supir truk untuk membawa rekan-rekan suporter itu,” katanya bangga dan bahagia. Pengalaman hidupnya mendukung tim Skotlandia dan juga Glasgow Rangers yang diakuinya kurang bersinar di kancah Eropa, memberinya kebijakan dan kearifan. “Sebagai suporter tim lemah itu nothing to lose, kita terbiasa mengalami kekalahan, maka kita berusaha menikmati saja proses dan bukan hasilnya,” katanya sambil tertawa.

bambang dan stuart bruce
Suporter sepakbola itu bersaudara. Keajaiban blog, Google, Internet dan keagungan cinta, membawa seorang suporter Glasgow Rangers, Skotlandia, berkunjung ke Wonogiri. Saya dan Stuart bersama kaos tim Glasgow Rangers.

Terima kasih, Stuart. Dalam kunjungan ini Stuart Bruce “membaptis” saya sebagai salah satu bluenoses, sebutan sesama suporter Rangers, asal Wonogiri. Hadiahnya, kaos biru berplisir merah dari yang pernah dikenakan Giovanni van Bronckhorst, keturunan Maluku Selatan dan timnas Belanda sampai Andrei Kanchelskis, pemain sayap Rusia dan mantan MU itu, kini bisa yasa kenakan. Kepada Stuart Bruce, saya berikan buku kliping sejarah Pasoepati dan dokumentasi tur-tur Pasoepati dalam bentuk CD.

“Congrats ! Selamat menjadi fans baru Rangers !,” lagi-lagi sms dari Ade Soediro dan Stuart Bruce dalam perjalanan kereta api Solo-Surabaya. Mungkin Ade dan Stu lupa, rumah saya pun sudah lama menandakan sebagai fans Rangers. Pagar, daun jendela dan daun pintu, semuanya berwarna : biru Rangers. Kedatangan tak terduga dari Stuart dari Glasgow akhirnya itu ibarat sebuah siklus yang sempurna. Karena pada tahun 2007, Broto Happy W., redaktur sepakbola nasional dari Tabloid BOLA, yang adik saya, pernah mengunjungi Ibrox Stadium, markas besar klub Glasgow Rangers.


Teladan Gandhi. Teman-teman baru saya itu kini memang sudah meninggalkan Wonogiri. Tetapi ucapan Stuart Bruce masih membekas. Bahwa proses itu penting, walau hasil juga penting. Perjalanan itu penting, tujuan juga penting.

Menurut hemat saya, insan-insan pemangku kepentingan sepakbola Indonesia harus mau banyak belajar dari pengalaman hidup Stuart Bruce tadi. Menurut hemat saya, kita selama ini semata terobsesi untuk merengkuh hasil tetapi melupakan proses. Bahkan demi merengkuh hasil itu kita tega berbuat menghalakan segala cara, bahkan sampai melakukan tindakan kriminal.

Contoh aktual : aksi mengutak-atik bunyi peraturan FIFA oleh para petinggi PSSI kita, apakah juga perbuatan yang menghalalkan cara, sekaligus sebagai tindak kriminal ? Mungkin ikhtiar semacam ini bisa lolos. Tetapi hasil akhirnya akan dicatat oleh semesta, dan hanya kegagalan yang menyapa pada ujung-ujungnya.

Di tengah carut-marut tindak rekaculika itu, lalu di mana suara para suporter sepakbola Indonesia ? Kalau upaya meluruskan apa yang terjadi dalam tubuh PSSI saat ini dilakukan dengan cara seperti melakukan demo, justru cara seperti ini yang “ditunggu” oleh mereka. Apalagi kalau ada tindak kekerasan. Kita para suporter akan terjebak dalam alunan gendang aksi mereka.

Rekan-rekan suporter, beraksilah dengan metode di luar kotak. Tirulah cara Mahatma Gandhi (1869-1948) dalam menanggapi tindak kekejaman kolonial Inggris saat itu ketika India menjelang kemerdekaannya. Gandhi menyerukan pendukungnya untuk melakukan aksi anti kekerasan. Salah satu aksinya yang terkenal adalah satyagraha, aksi non-koperasi dengan penguasa sipil. Kalau seluruh suporter Indonesia kompak, melupakan dulu konflik semu antarkota, meminggirkan primodialisme, demi masa depan sepakbola Indonesia di tataran terhormat sepakbola dunia, kita mungkin mampu merubah keadaan.

Ketika memperingati sewindu Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2008, bersama rekan-rekan suporter Solo, saya merancang melakukan aksi demo berdiam diri di Gladag, Solo. Pesannya adalah, untuk memprotes pengelolaan sepakbola Indonesia saat ini, menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan : tidak menonton pertandingan sepakbola Indonesia.


Wonogiri, 24 April 2009

Sunday, March 22, 2009

Media Sosial dan Masa Depan BOLA




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com

Photobucket

Tabloid BOLA punya tagline baru. Membawa Anda ke Arena. Take you to arena. Menandai ulang tahunnya yang ke-25, selain dijanjikan adanya perubahan wajah dan gaya sajian isinya, tagline tersebut tentunya diharapkan sebagai frasa yang mudah diingat guna menonjolkan nada positif dan premis brand Tabloid BOLA di benak para konsumennya. Sekaligus merupakan kristalisasi dari visi dan misi tabloid olahraga satu ini dalam mengarungi masa depan.

Tagline itu dapat mengundang jebakan tidak terduga. Slogan itu sepertinya tetap mengasumsikan hubungan antara media, wartawan dan pembaca dewasa ini tidak mengalami perubahan. Wartawan tetap saja berstatus sebagai mata dan telinga yang mewakili pembaca dalam menikmati atau “mengalami” suatu peristiwa olah raga. Wartawan melaporkannya, pembaca menikmatinya. Hubungan semacam merupakan tipikal hubungan yang terjalin dalam konstelasi media cetak tradisional yang berbasis atom atau kertas. Dalam penerbitan cetak tradisional itu aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, memang terjadi secara terpisah-pisah.

Sayangnya, berkat Internet, konstelasi semacam itu kini semakin tergerus dan menunggu rubuh. Di Internet, penerbitan berbasis digital, semua proses itu mampu terintegrasi dalam satu sistem. Terutama semakin kuatnya tuntutan harus didaulatnya informasi dari para konsumen untuk menjadi bagian integral isi media itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah yang tidak disadari oleh mayoritas pengelola media Internet di Indonesia selama ini. Sampailah kemudian hadirnya media sosial di tengah hidup kita.

Media sosial dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya forum di Internet, blog, wiki, podcast, album foto dan video. Media sosial berbeda dari media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi. Tembok antara penerbit dan publik runtuh. Fenomena media sosial ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa.

Akibat seriusnya, kini profesi wartawan dalam momen sejarah yang langka, ketika untuk pertama kali hegemoninya sebagai penjaga gawang informasi terancam. Tidak hanya oleh teknologi dan pesaing, tetapi utamanya dari diri para pembaca mereka sendiri. Para pembaca itu dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah dan mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus penyebarannya. “Anda tidak dapat pergi kemana saja atau berbuat apa saja dengan mengira tidak pernah ketahuan, karena sekarang ini semua orang adalah wartawan,” tegas Steve Patterson, pengelola situs olah raga Universitas Georgia, Amerika Serikat.

Dalam lanskap yang terbaru, ketika berlangsung peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu, kiprah penonton yang sekaligus wartawan bersenjatakan media sosial jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal. Dalam blog (http://contentnation.com/news) untuk menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), John Blossom mengatakan “jika penonton mengirimkan informasi kepada sesama teman ketika ia duduk di depan televisi, hal itu menegaskan betapa kehadiran media sosial menjadi suara yang berpengaruh dalam event olahraga berskala nasional itu.”

Sekadar contoh konkrit, harian sohor The New York Times sampai-sampai menerbitkan peta menit demi menit kata-kata populer yang muncul dalam pesan pendek (SMS) yang dipancarkan melalui media sosial Twitter dari seluruh penjuru Amerika Serikat. Terpapar fakta bahwa disamping menonton siaran langsung lewat televisi, penonton juga tergerak menciptakan informasi, membaginya dengan orang lain, sehingga menambahkan suara mereka sendiri ke tengah gemuruh kerumunan penonton yang hadir langsung di stadion.

Ketika musikus rock Bruce Springsteen hadir di panggung mengisi saat jeda pertandingan, John Blossom menulis : “Di tengah kerumunan itu stadion riuh dihiasi pendar-pendar nyala layar telepon genggam mereka…Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggamnya, yang menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian selebrasi diri kita sebagai umat manusia.”

Di tengah lanskap media yang berubah itu, hemat saya, tagline BOLA yang baru tersebut haruslah diberi konteks yang baru pula. Arena yang dimaksud bukan lagi berupa lokasi atau venues pertandingan semata, melainkan arena yang lebih besar lagi : arena di mana di mana semua pencinta olahraga dapat saling bersosialisasi.

Online dan offline.

Wartawan BOLA tidak lagi sekadar menjadi penjaga gawang informasi, melainkan sebagai sahabat yang sejajar untuk pembacanya. Pengalaman BOLA mampu bertahan selama 25 tahun dalam melayani pembacanya menjadi modal berharga untuk menjalin hubungan next level, yang semakin kaya makna untuk kemaslahatan bersama. Dirgahayu, BOLA !

Catatan : tulisan ini dengan penyuntingan telah dimuat di Tabloid BOLA No. 1912, 13 Maret 2009.

tmw