Showing posts with label basnendar. Show all posts
Showing posts with label basnendar. Show all posts

Sunday, October 12, 2008

Burung kembali ke sarang





Oasis kehidupan. Lebaran senantiasa identik dengan mudik. Pulang kampung. Kembali ke akar. Meneguk oasis kekerabatan dan kekeluargaan untuk memperoleh energi baru lagi dalam mengarungi kehidupan selanjutnya. Menempuh perjalanan ulang-alik yang berat, tetapi imbalan rohaninya seperti tak tergantikan.

Lebaran 2008 menjadi lebih istimewa bagi taler IV Trah Martowirono. Keluarga besar Kastanto Hendrowiharso dan Sukarni yang memiliki keprabon di Kajen, Giripurwo, Wonogiri, bersiap memperoleh tugas sebagai tuan rumah reuni keluarga Trah Martowirono yang ke-22. Hari yang telah ditetapkan adalah Minggu, 5 Oktober 2008.

Burung-burung itu mulai berdatangan. Untuk kembali ke sarang. Menata sarang. Konsolidasi secara informal untuk mempersiapkan acara reuni pun mulai digulirkan.

Photobucket

Keterangan foto. Dalam foto dari atas searah jarum jam : Pakde Bambang berfoto bersama Adis dan ayahnya, Broto Happy, di dekat pohon jeruk bali madu (citrus grandis) yang ia tanam dan berasal Pati ; wajah depan harian Kompas edisi Jumat 26 September 2008, merupakan edisi istimewa bagi Gladys Erika Septeria, murid klas IV SD Polisi Bogor dan Broto Happy Wondomisnowo yang redaktur Tabloid BOLA. Tanggal itu merupakan hari ulang tahun bagi keduanya.

Nampak dalam foto berikutnya, di rumah Pakde Nano/Bude Nuning di Kenteng, Ngadirojo (28/9/08), ulang tahun Adis dan Happy dirayakan dengan memanjatkan syukur kepada Allah SWT. Dalam foto bersama nampak Om Basnendar (kiri), Pakde Bari (Jember, kaos putih), Bude Nuning, Bulik Iwin, dan juga Bulik Ayu, ibunya Adis.. Di foto terakhir, Bapak Nano sedang bercanda dengan cucunya, Nabillah.

Mensyukuri rahmat Illahi. Acara keluarga berbuka bersama yang diselenggarakan keluarga Nano/Nuning itu telah menghangatkan seluruh hati keluarga, yaitu sesame anak-cucu Kastanto Hendrowiharso/Sukarni yang pulang kembali ke sarang, guna menemukan kehangatan, kedamaian dan rahmat Illahi di suasana Ramadhan dan Lebaran. (BH)


tmw

Friday, October 10, 2008

Ekonomi Kreatif dan Trah Martowirono





Banteng dan kerbau. Michael Jordan, maha bintang bola basket AS jelas tidak mengenal Kedunggudel. Tidak pula mengenal Trah Martowirono. Sekaligus juga tidak mengenal bahwa klub bola basket yang lama dibelanya, Chicago Bull, memiliki simbol yang masih bersaudara dengan nama desa Trah Martowirono berasal. Banteng dan kerbau.

Kesamaan simbol itulah yang memicu sebagian warga Trah Martowirono untuk meneladani sepak terjang Michahel Jordan. Utamanya oleh Taler IV Trah Martowirono, dari garis keturunan Kastanto Hendrowiharso/Sukarni. Bukan tentang gaya slam dunk atau air walk-nya yang sohor, tetapi tentang manifestasi ekonomi kreatif yang meliputi karier Jordan yang sukses.


Mengolah gagasan. Seperti diungkap dalam buku No Logo (2000) karya Naomi Klein yang dikutip John Howkins dalam bukunya The Creative Economy : How People Make Money From Ideas (2001, foto), penghasilan Michael Jordan yang diperoleh dari pabrik alat-alat olahraga Nike sepanjang tahun 1992 melebihi penghasilan 30.000 buruh produktif Indonesia.

Nilai ekonomi dirinya itu sebagian besar ia peroleh dari hak cipta dan merchandising, yang melebihi GNP negara Jordania. Hak cipta dan merchandising itu, kita semua tahu, bersumber dari gagasan. Lihatlah, dunia kini sedang bergemuruh dan bergerak ke kancah guna mengeksploitasi gagasan untuk meraih sukses ekonomi, meraih kemakmuran. Bagi pribadi atau pun bagi bangsa.

Dalam skala kecil, letupan ekonomi kreatif itu telah terjadi di lingkup Trah Martowirono juga. Dalam pertemuan trah ke-21 di Polokarto, oleh Basnendar H. yang baru saja lulus magister desain dari Seni Rupa ITB, menciptakan belasan desain pin kenangan (foto). Keuntungan bersih dari penjualan memorabilia itu dimasukkan ke dalam kas trah.

Lintang Rembulan, ikut juga berperan menghidup-hidupkan manifestasi ekonomi kreatif itu. Kalau selama ini dalam pertemuan hanya dilakukan ritus jimpitan, memasukkan uang sumbangan a la kadarnya di waskom yang tertutup kain, Lintang dan Bakoh berduet untuk ngamen secara open source : tas biolanya dipakai untuk menampung donasi para hadirin yang terpesona akan duet yang melantunkan Bengawan Solo itu.

Disusul sajian duet dengan sumbangan lagu abadi “Sepanjang Jalan Demangan.” Oleh Doktor Edia Rahayuningsih dan suaminya, Kristyo Sumarwono, yang juga meraup kepyuran donasi dari warga trah lainnya pula.

Photobucket

Atmosfir ekonomi kreatif yang fajarnya muncul di Polokarto 15 Oktober 2007 itu, segera jadi bahan diskusi warga Taler IV Trah Martowirono yang akan menjadi pelaksana pertemuan trah tahun 2008.

Apa yang akan terjadi dan tersaji ?
Simak dalam laporan-laporan berikutnya.

(Bambang Haryanto)


tmw

Saturday, April 19, 2008

Basnendar Ikut Pameran di Museum Kartun Bali



Photobucket

Di depan Museum.


Photobucket


Momen Bersejarah. Indonesia kini memiliki museum kartun dan warga Trah Martowirono ikut sebagai salah satu pengisi khasanah museum unik tersebut.


Photobucket

Bersama karya. Basnendar di depan karyanya yang ikut dipamerkan.


Photobucket

Reuni kartunis. Bapak Pramono Pramudjo, kartunis senior dari Harian Suara Pembaruan sedang memberikan pesan kepada yuniornya, Basnendar. Bapak Pramono mengenal Basnendar sebagai kartunis cilik ketika ia masih duduk di Sekolah Dasar pada awal tahun 1980-an.


tm

Monday, April 07, 2008

Bambang Haryanto di TATV Solo



Kuatnya rantai terlemah. Anda memperoleh pekerjaan bukan dari teman, tetapi dari kenalan. Bahkan lebih sering justru dari kenalan yang tidak dekat dengan diri Anda. Itulah pesan dari sosiolog Marc Gravonetter yang dikutip Malcolm Gladwell dalam buku pertamanya, The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000). Nasehat itu hebat. Saya (Bambang Haryanto) memperoleh buktinya.

Ceritanya : bulan September lalu, tepatnya 11 September 2007, saya mengantarkan Mayor “Pendiri Pasoepati” Haristanto yang didaulat menjadi bintang tamu acara TTC (Tenguk-Tenguk Crito/Duduk-Duduk Sambil Ngobrol) di TATV Solo. Setelah acara selesai, saya bertukar kartu nama dengan produser eksekutif acara itu, Dewi Cahyaningrum.

Agar pertemuan tidak segera terlupakan, beberapa hari kemudian saya kirimi dia email. Ngobrol sana-sini, sambil meledek apakah dress code awak televisi itu selalu pakaian hitam-hitam. Mengingatkan saya akan judul lagunya supergroup favorit di tahun70-an, Uriah Heep, yaitu “Lady in Black.” Lirik lagu ini pernah aku gunakan untuk memuji cewek cantik banget, Erika Michiko, yang juga awak sebuah rumah produksi untuk acara televisi, tahun 2005 yang lalu.

Awal Maret 2008, tak terduga, saya mendapat kontak dari Dewi Cahyaningrum lagi. Saya diundang untuk jadi tamu pada acara TTC tersebut. Tanggal 1 April 2008, aku memenuhi undangan untuk tampil dan mejeng di TATV. Saya bercerita mengenai seluk beluk komunitas yang saya dirikan, yaitu komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia.

Photobucket

Trio Dewa-Beha-Esa. Acara TTC sore itu dipandu oleh Dewa (paling kiri) dan Esa. Keduanya telah mengeroyok saya dengan pertanyaan yang menggelitik. Dewa dan Esa (emailnya : dewasa_dewaesa@yahoo.com) adalah juga penyiar radio SAS Solo yang bersegmen kaum muda. Foto ini diabadikan oleh Basnendar.

Photobucket

Hari Yang Cerah. Band tetap yang mengiringi acara TTC adalah Sunny Day dengan vokalis cewek yang menawan. Dalam kesempatan itu saya berseru kepada anak muda Solo agar selain ber-TTC, sebaiknya juga ber-TTN. Tenguk-Tenguk Nulis. Duduk-duduk bareng dan menulis, menghasilkan karya. Kepada Mino dkk. yang awak band Sunny Day itu juga saya imbau agar mereka mau mulai menciptakan lagu-lagunya sendiri dan mengelola blog untuk berinteraksi dengan fans mereka.


Seruan dan imbauan yang sama juga ingin saya serukan kepada anak-anak muda dari keluarga besar Trah Martowirono. Untuk menulis dan meluncurkan blog, yang bagi saya merupakan upaya efektif dalam memperluas jaringan rantai terlemah, yaitu kenalan-kenalan baru, bahkan dari antero penjuru dunia. (BH).


tmw