Thursday, July 29, 2010

In Memoriam: Bulik Gunarni : Tokoh Pertama Yang Mengenalkan Dunia Olahraga



Oleh : Broto Happy W.
Email : brotohappy (at) yahoo.com


Berita duka cita meninggalnya Bulik Gun di Purwokerto, tentu begitu mengagetkan. Saya menerima kabar ini pertama kali dari Lik Bhawarto lewat pesan singkat pada Senin (12/7) siang jam 10.55. Hanya karena saya habis begadangan mengerjakan tabloid BOLA edisi Senin yang memuat liputan hasil final Piala Dunia Afsel 2010, pesan pendek itu baru saya baca tengah hari setelah bangun tidur.

Inilah kelemahan para “Bangsawan”. Informasi yang bergulir sejak pagi hingga siang hari, selalu telat direspons. Itulah yang terjadi pada saya. Maklum, saya termasuk “Bangsawan” tadi alias Bongso Tangi Awan. Kelompok yang bangun tidur selalu di siang hari!

Kemenangan timnas Spanyol, salah satu favorit saya selain yang utama Jerman, tetap terasa hambar. Kebahagian kemenangan tim jagoan saya atas Belanda lewat gol tunggal Andres Iniesta tetap terasa ‘ampang’. Pikiran saya terganggu dan tersita oleh berita duka ini.

Untuk segera berangkat ke Purwokerto tentu bukan urusan mudah. Apalagi, urusan pekerjaan di kantor juga tetap banyak. Toh kalau dipaksakan berangkat ke Kota Keripik, jenasah bulik pun pasti sudah dimakamkan. Akhirnya, hanya doa tulus yang bisa saya lantunkan untuk Bulik Gun tercinta. Semoga damai dan tenteram pulang ke rumah Bapa di Surga. Saya yakin Bulik kembali ke sorga dengan bahagia. Begitu pula dengan keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan dan ketabahan iman! Amin!

Meninggalnya Bulik Gun meninggalkan sejumlah kesan mendalam bagi saya. Lewat bulik pula, setidaknya saya telah dikenalkan dengan dunia olahraga sejak merangkak ke masa remaja. Berkat bulik pula ternyata dunia olahraga itu kini menjadi profesi dan karier saya sebagai wartawan Tabloid BOLA.

Ceritanya, ketika saya duduk di seputaran bangku sekolah dasar kelas empat atau lima. Suatu ketika saya diajak ibu mengunjungi Bulik Gun di tempat tinggalnya, di kompek perumahan Lembaga Pemasyarakatan di Donoharjo, Wonogiri. Tempat ini ketika kecil lebih terkenal dengan nama Jembrok. Bulik tinggal bersama Om Prijardjo Drijonomarkus di sebuah rumah di sebelah kiri depan komplek LP. Di depan rumah itu ada lapangan tenis. Di sini saya baru tahu inilah yang disebut olahraga tenis. Maklum, ketika ibu bersilaturahmi dengan bulik, saya memilih bermain keluar rumah dengan menonton permainan tenis yang dimainkan para karyawan LP.

Saya tahu ternyata Om Pri dan Bulik Gun adalah olahragawan sejati. Keduanya tak hanya bisa main tenis, tetapi juga berprestasi. Itu saya ketahui saat melihat-lihat album foto hitam putih. Di dalam album itu, saya menjumpai foto-foto om dan bulik yang sering bepergian ke luar kota untuk bertanding. Seingat saya, ada salah satu foto itu memperlihatkan pose Bulik Gun difoto dengan kostum kebesarannya: semuanya serba putih. Kaus putih, rok putih, juga kaus kaki dan sepatu. Kostum serba putih ini mungkin diilhami oleh trend yang berkembang saat itu atau mengikuti penampilan para juara tenis dunia saat berlaga di Wimbledon!

Kesan bahwa keluarga ini adalah pecinta olahraga tenis sejati terasa makin kental setelah duduk di ruang tamu. Di dinding tergantung raket tenis yang terbuat dari kayu. Saat digantung di dinding, agar tidak gampang melengkung atau berubah bentuk, di bagian kepala raket tersebut di-press atau diberi rumah.

Ketika itu, sambil nonton di luar lapangan yang dibentengi kerangkeng ram kawat, rasanya kepengin sekali bisa memegang dan memiliki bola tenis yang berwarna kuning itu. Tak heran, ketika ada bola yang dipukul melenceng keluar lapangan, saya dan juga anak-anak kecil lain, langsung berebut untuk mendapatkannya. Padahal, setelah didapat, bola kuning itu pasti diminta kembali oleh para pemain tenis. Maklum, ketika itu bola tenis termasuk benda mewah.

Ketika saya diberi oleh-oleh bola tenis oleh Om Pri atau Bulik Gun, senangnya bukan main. Kendati bola itu sudah gundul itu, rasanya sungguh menyenangkan. Maklum, bola itu bisa dimainkan di rumah karena karakternya yang mudah dipantul-pantulkan itu.

Entah karena mukjizat bola tenis gundul ini atau karena hal lain, saya memang jadi begitu keranjingan olahraga. Main sepakbola oke, main badminton juga oye. Apalagi saat duduk di bangku SMP, bapak membuat meja pingpong di rumah. Hari-harinya pun sarat dengan kegiatan olahraga.

Berkunjung ke Purwokerto

Kembali ke kesan mendalam dengan mendiang Bulik Gun. Waktu berjalan begitu cepat. Mungkin berkat pengenalan Bulik Gun dengan dunia olahraga di kala kecil, saya pun kemudian meretas karier sebagai wartawan olahraga. Sambil kuliah di Jurusan Publisistik, Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Solo, mulai tahun 1986 saya menjadi koresponden Tabloid BOLA di wilayah Jateng dan sekitarnya.

Karena jangkauan daerah liputan yang demikian luas dan harus dikerjakan sendirian, bukan persoalan sulit bagi saya untuk mengunjungi kota-kota di Jateng dan Yogyakarta, termasuk ke Purwokerto. Sebenarnya Kota Keripik ini tidak termasuk kota yang memiliki kegiatan olahraga yang menonjol di Jateng. Namun Purwokerto telah melahirkan perenang tangguh, Meitri Widya Pangestika, yang kerap membela Indonesia di forum internasional.

Karena dinilai berhasil, sering kali Tabloid BOLA menugaskan saya untuk ke Purwokerto untuk membuat liputan seputar pembinaan renang di sana. Kesempatan seperti inilah yang sering saya gunakan untuk sekalian bersilaturahmi ke rumah Om Pri di kawasan Bantar Soka. Bahkan, kalau tidak tengah dikejar deadline, tidak jarang saya memilih menginap.

Kalau ingatan saya tidak keliru, kamar di bagian depan sebelah kanan rumah Om Pri memang sengaja dikosongkan untuk tamu. Ini menjadi kamar favorit saya setiap berkunjung ke Purwokerto. Tak hanya kamar tidur, yang membekas di benak saya adalah keberadaan sumur yang berada di sebelah kiri rumah, dekat dapur.

Karena belum berlangganan air bersih, setiap mau mandi, kita wajib menimba dulu. Hanya, rasanya senang saja menimba air di rumah Om Pri ini. Pasalnya, beberapa tarikan tali tambang, ember yang bersisi air sudah berada di atas dan tinggal dituang ke dalam bak mandi. Ini berbeda dengan sumur di rumah Kajen, Wonogiri, yang begitu dalam dan melelahkan setiap menimba.

Yang tidak kalah berkesan, yaitu saat makan. Entah itu sarapan atau makan siang. Bulik Gun selalu menyediakan masakan khas Purwokerto. Lewat bulik juga saya bisa mengenal yang namanya tempe mendoan. Sesuatu yang tidak pernah saya temui di Kajen!
Hanya itu kesan manis dengan mendiang Bulik Gun? Oh tidak. Cerita dan kenangan dengannya terasa banyak. Sulit untuk ditulis satu per satu. Bulik juga begitu ramah dan hangat dalam menyambut keponakannya yang datang. Pendeknya, bulik begitu perhatian.

Pernah suatu kali saya bertugas liputan lagi ke Purwokerto. Saya pun, seperti yang sudah-sudah, selalu menyempatkan mampir. Hanya, kunjungan kali ini malah merepotkan Bulik Gun. Karena sejak dari Solo sudah nyut-nyutan, sakit gigi saya kumat. Wah, terasa begitu sakit! Hingga kini, saya belum pernah merasakan sakit gigi yang demikian hebatnya seperti yang saya rasakan di Purwokerto.

Bulik pun jadi repot. Namun di sinilah hebatnya bulik. Dia tak ubahnya ibu. Bulik dengan sabar menyiapkan ramuan tradisional. Kalau tidak keliru daun sirih ditumbuk dan airnya untuk kumur-kumur. Sambil menyuruh berkumur-kumur air daun sirih, Bulik yang duduk di depan saya, terus berdoa sambil memejamkan mata.

Hasilnya: luar biasa! Sakit gigi saya berkurang. Nyut-nyutan yang membuat kepala pening berangsung-angsur hilang. Saya pun esok harinya bisa kembali ke Solo dengan nyaman dan tidak diganggu sakit gigi lagi.

Kini, Bulik Gun sudah tenang dan tenteram di Surga. Yang kita ingat hanya budi baik, jasa, dan suri teladannya. Saya yakin, kasih sayang dan pengorbanan tulus yang diberikan Bulik Gun itu tidak hanya saya rasakan sendirian, tetapi juga oleh keluarga, keponakan, dan saudara-sadara yang lain. Saya juga percaya segala budi baik dan kasih sayang Bulik Gun itu telah dibagi dan dirasakan kepada semua orang.

Selamat jalan Bulik Gun! Kasih sayang, kehangatan, dan segala pengabdiannya, akan selalu saya kenang. Terima kasih atas semua jasa dan keteladanannya untuk saya sendiri dan juga untuk umat manusia!

Semoga damai di rumah Bapa di surga!


Bogor, 29/7/2010

Wednesday, July 28, 2010

Hadir Kini, Profesor Di Tengah Trah Martowirono Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) yahoo.com

Keluarga Besar Trah Martowirono berbangga karena salah satu warganya, Prof. Dr. Retno Winarni, M.Pd., akan dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Konsep Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Waktunya : Senin, 2 Agustus 2010. Bertempat di Auditorium UNS Jl. Ir. Sutami 36 A Kentingan, Surakarta. Acara dimulai jam 10.00.

Judul pidato beliau di depan Sidang Senat Terbuka UNS adalah "Pembentukan Karakter Anak Bangsa Melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia."

Rindu bertemu. Dalam email 26/7/2010 yang dikirimkan kepada Bambang Haryanto, tertulis : “Met malam Mas Bambang. Kemarin saya ke rumah dik Endah, Yogya, titip undangan 2 Agustus. Saya harapkan bisa rawuh dengan keluarga yang lain.

Dalam undangan tertulis untuk satu orang dan undangan harap dibawa; itu hanya formalitas alias undangan satu bisa untuk 2 orang. Mohon doa restu agar acara pengukuhan guru besar saya berjalan lancar dan sukses. Amin.

Salam hormat dan rindu bertemu buat seluruh keluarga besar Martowirono.”

retno winarni,agus,trah martowirono,guru besar uns,pendidikan bahasa indonesia

Selamat untuk Ibu Winarni, Bapak Agus, dan seluruh keluarga yang berbahagia. Prestasi beliau ini pasti menjadi teladan, inspirasi yang mencerahkan dan menghangatkan hati bagi seluruh warga keluarga besar Trah Martowirono. Seperti halnya saat kehadiran kedua beliau dan keluarga, antara lain nampak dalam foto saat hadir dalam acara Reuni Trah Martowirono XXII, Di Kajen Wonogiri, 5 Oktober 2008.

Trivia dari Kajen. Mungkin ini berita tak begitu penting. Insya Allah, kontingen kubu Kajen, keturunan taler IV, Sukarni/Kastanto Hendrowiharso, akan hadir. Bahkan melalui hubungan kabel panas, alias hotline antara Wonogiri-Solo-Bogor, segera kami mempersiapkan “sesuatu” dalam menyambut dan memeriahkan momen bersejarah itu. Kata kunci untuk happening tersebut adalah : atraksi makan beling :-).

Sebagai catatan sejarah, bersamaan dengan pengukuhan Ibu Retno Winarni juga dilaksanakan acara pidato serupa oleh Prof. Dr. Ir. Nandariyah, M.S. Beliau ini akan dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Pemulihan Tanaman pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Judul pidatonya adalah "Pemulihan Tanaman Buah-Buahan, Peluang dan Tantangan Dalam Mendukung Kemajuan Pertanian di Indonesia."

Kehadiran guru besar berikutnya dari keluarga besar Trah Martowirono, saya yakin, akan segera menjadi kenyataan. Kita tunggu dengan kegembiraan !


Wonogiri, 28/7/2010

Warga Trah Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Pohon palem muda itu nampak tidak terurus.
Lokasinya di Alun-Alun Utara Solo.
Antara tahun 1973 atau 1975.

Siapa sangka, pohon itu merupakan embrio paling awal gagasan berdirinya komunitas Epistoholik Indonesia (EI). Saat itu saya menulis surat pembaca ke surat kabar Suara Merdeka, memasalahkan pohon palem yang terlantar tersebut.

Surat pembaca saya dimuat. Pohon palem itu tidak jadi mati, disirami, dan terpelihara hingga tumbuh besar. Saya pun segera kecanduan untuk terus menulis surat-surat pembaca. Benih komunitas Epistoholik Indonesia mulai disemaikan.

Kalau saya sekarang ini berjalan-jalan di Alun-Alun Utara Solo, seolah saya mendengar pohon-pohon palem itu berseru : "Halo Pak Bambang, apa kabar ? Terima kasih atas bantuan bapak, yang membuat kami kini tumbuh subur dan berkembang.Terima kasih, pak !"

bambang haryanto,jagongan media rakyat 2010,epistoholik indonesia,surat pembaca

Cerita rekaan itu saya ulang di Pendopo Jogja National Museum, Jumat, 23 Juli 2010, malam. Audiens pun tertawa-tawa. Saya bisa hadir di komplek bekas kampus ASRI/ISI itu saya diundang oleh panitia Jagongan Media Rakyat 2010.

Untuk mendongeng mengenai kiprah saya selama ini, selama 35-37 tahun, sebagai penulis surat pembaca dan sebagai penggerak komunitas Epistoholik Indonesia (EI) yang berkiprah dalam aktivitas penulisan surat pembaca. Di panggung tertempel banner dengan teks berbunyi :

Talkshow : "Memindahkan" Himalaya Melalui Surat Pembaca.
Jumat, 23 Juli 2010.
Narasumber : Bambang Haryanto
(Pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia).


Laporan akan berlanjut.
Untuk laporan pertama, silakan Anda klik di sini dahulu. Terima kasih.


Wonogiri, 27/7/2010

Berstirahat Dalam Damai, Ibu Gunarni (1937-2010)





Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


"Berita duka. Telah menghadap Bapa di Sorga pada hari ini : 1. Ibu Gunarni di Purwokerto dan 2. Bp. S. Parjan di Wiladeg GK."

Pesan singkat itu berasal dari Bapak Untung Suripno, Yogyakarta, yang saya terima di Kajen, Wonogiri, Senin, 12 Juli 2010, Jam 0.46.48. Sejurus kemudian pesan singkat yang sama, saya terima dari Bapak Bhawarto.

Berita duka itu lalu berantai, menyebarkan rasa duka mendalam kemana-mana. Intinya, keluarga besar Trah Martowirono kembali kehilangan salah satu waris terdekatnya.

"Sugeng tindak, Bu Lik Gun. Keluarga Kajen dan juga seluruh warga Trah Martowirono, di mana pun berada, senantiasa mendoakan agar beliau kini tentram, beristirahat dengan damai, di sisi Yang Maha Kuasa.

Semoga pula keluarga yang ditinggalkan, baik putra-putri beliau, Santoso Priyo Utomo, Didut, Ida, Ririn dan Diyan dan semua wayah, memperoleh rahmat kesabaran dan ketegaran dalam menerima kesedihan ditinggal oleh ibu dan eyang yang tercinta."

Kenangan pribadi. Bu Lik Gun dan Om Pri (Markus Priyarjodriyono), pernah mengajak saya untuk main-main ke tempat kerjanya. Di Lembaga Pemasyarakatan Solo. Lalu juga ke mess pegawai LP, persis di belakang LP. Sebelah barat kantor pos Solo.

Sepertinya, baik rumah atau pun gerbangnya belum banyak berubah sampai saat ini. Saat itu saya masih duduk di klas 3 atau 4 SD, karena, kalau tidak salah ingat, itu terjadi ketika Solo belum dilanda banjir besar tahun 1966.

Data tentang almarhumah menjadi lebih valid ketika saya bersama Bari berbincang-bincang dengan Sriawan (almarhum), Senin, 15 Oktober 2007. Setelah sehari sebelumnya mengikuti Reuni Trah Martowirono di Polokarto dan mendapat kabar mengenai sakitnya Lik Awan, saya bersama Bari mengunjungi beliau di rumahnya, di Kedungringin, Wonogiri.

Mengulang kembali, kita tahu, ayah Lik Awan yang bernama Eyang Ratmowijoyo (kelahiran Januari 1910), adalah adik dari mBah Dung putri alias mBah Martowirono putri.

Mereka bertiga dengan anak yang terkecil bernama Bangin Martosuwiryo, yang ayah dari Lik Bhawarto, ketiganya merupakan putra/putri keluarga Makun Martowijoyo.

Eyang Ratmowijoyo yang memiliki nama kecil Walijan, memiliki istri pertama, bernama Dalmi, asal Serenan, Klaten. Dikaruniai dua putri, Gunarti (meninggal 1963, makamnya di Kajen, Wonogiri) yang bekerja di Agraria Wonogiri. Putri keduanya, Gunarni, kelahiran tahun 1937, bekerja di Lembaga Pemasyarakatan. Almarhumah pernah tinggal lama di Wonogiri bersama suaminya Priyarjodriyono Markus (almarhum), dan sekarang tinggal di Purwokerto.

Istri kedua Eyang Ratmowijoyo bernama Misni, asal Banmati, Kenep, Sukoharjo. "Saya masih ingat beliau, karena memiliki ciri khas, bergigi emas," kata saya. Lik Awan pun mengiakan. Dari perkawinan ini telah lahir dua putra, yaitu almarhum Sriawan (28 April 1959-5 Februari 2008) dan Dwiaji Nugroho yang sekarang tinggal di Tangerang.

Lik Awan dan Bu Lik Gun.
Keduanya sama-sama telah dipanggil Tuhan.
Kita harus merelakannya.

Adakah warga Trah Martowirono memiliki kenangan atau foto-foto tentang kedua beliau ? Saya tunggu, untuk bisa kita pajang di blog trah kita ini. Mas Santoso, saya sabar menunggu tulisan Anda.


Wonogiri, 27/7/2010

Friday, June 25, 2010

Blog, Air Menetes Di Batu dan Esquire




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


"Tak ada apa pun di dunia ini yang mampu menggantikan persistensi." Demikian kata Calvin Coolidge (1872-1933), President Amerika Serikat ke 30. Bakat, kejeniusan, dan juga pendidikan, begitu menurutnya, tidak akan mampu menggantikannya pula.

Persistensi ibarat tetesan air di permukaan batu. Tetes pertama sampai tetes yang ke seratus, mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap batu tersebut. Tetapi kita tahu apa yang akan terjadi bila tetes-tetes air itu akan terus berlanjut.

Menulis di blog di Internet adalah ibarat mengalirkan tetes-tetes air itu pula. Apabila dilakukan dengan cinta, antusias, persisten, dan fokus, hasilnya akan berbicara sendiri.

Analis politik Sukardi Rinakit sering menulis di harian Kompas dengan diakhiri kalimat "Gusti ora sare," Tuhan tidak tidur. Kira-kira maksudnya adalah, betapa keangkaramurkaan para pejabat atau birokrat yang korup, yang membuat rakyat sengsara, pasti tidak akan dibiarkan merajalela oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Di dunia Internet juga ada slogan serupa. Bunyinya : Google ora sare. Google tidak pernah tidur. Barangkali karena Google tidak punya amben :-). Maksudnya adalah, apa pun yang Anda sumbangkan di dunia maya, pasti akan tercatat di mesin pencari hasil otak-atik jenius Larry Page dan Sergei Brin itu. Secara ekstrim dapat pula dikatakan bahwa malaikat yang mencatat kebaikan dan juga keburukan tingkah laku kita di dunia maya, ya mesin pencari Google itu pula.

Tetapi Google memiliki keterbatasan. Ia tidak mampu mencatat tulisan-tulisan status atau catatan kita di akun Facebook kita. Facebook di dunia maya ibarat the walled garden, taman yang dipagari, dan hanya dapat diakses oleh teman-teman kita saja. Sementara blog, ibarat kafe informasi yang dapat didatangi oleh siapa saja di dunia ini, oleh mereka yang dapat terhubung dengan Internet.

Blog Trah Martowirono ini sudah menjadi bukti ketika warga trah kita ini bisa saling mengontak dengan warga Trah Martowirono di manca negara, walau tak ada kaitan dan semata hanya kesamaan nama, yang berada di Amerika Serikat, Belanda dan Irlandia.

Hal serupa terjadi di akhir bulan April 2010. Saya memperoleh telepon dari Syarief Hidayatullah, Junior Editor, majalah Esquire Indonesia yang berkantor di Jakarta. Rupanya ia hendak menulis sesuatu topik yang mencocoki atmosfir penyelenggaraan Piala Dunia 2010, yaitu tentang suporter sepak bola Indonesia.

Rupanya ia sudah melakukan pekerjaan rumah, dibantu Google, untuk menemukan blog saya Suporter Indonesia. Obrolan itu kemudian tertuang dalam artikel berjudul "Menghapus Noda Merah : Dua Kali Kartu Kuning Untuk Baku Hantam Antarsuporter Sepakbola" di majalahnya edisi Juni 2010 yang memajang gambar sampul komediene Amerika Serikat yang terkenal, kelahiran 18 Mei 1970, Tina Fey (foto).

Petikan kutipan yang memuat nama dan pendapat saya :

"Stigma telah tergores bahwa suporter adalah himpunan orang-orang dungu, fanatisme sempit, emosi yang mudah terbakar, agresif dan destruktif," ujar Bambang Haryanto, suporter sepakbola pencetus Hari Suporter Nasional (12 Juli) yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Analisa Chairul tentang rentang usia pemicu perkelahian itu dibenarkan Bambang Haryanto. Mereka masih berada pada masa ingin menunjukkan mereka superior. "Berdasarkan pengalaman saya, penonton dari kelas menengah di rentang usia lebih matang cenderung lebih santun," timpal pria yang sempat menjabat sebagai Sekjen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI) ini.

Selain itu, masalah lain adalah budaya primodialisme atau kesukuan yang kental di Indonesia dan soal kerumunan massa. "Ada teori klasik yang menyatakan bahwa dalam sebuah kerumunan, otak menghilang, sisanya hanya tangan. Teori ini tidak hanya berlaku dalam sepakbola, tapi juga dalam dinamika kehidupan beragama sampai rapat atau sidang DPR," ujarnya disambung tawa ringan.

Bicara soal solusi, menurut Bambang Haryanto, diperlukan proses panjang untuk melakukan pendewasaan perilaku suporter secara komprehensif. "Ada kebijakan yang mendukung tujuan ini, edukasi untuk mendewasakan suporternya, ada gerakan nyata dari organisasi suporter mau pun sepakbolanya. Suporter harus diposisikan sama pentingnya dengan pemain dan wasit dalam pertandingan."


Reward is in the doing. Seusai pemuatan artikel itu, kontak saya dengan Syarief Hidayatullah, tidak terus berhenti. Malah ia kemudian ia akan memberi saya "pekerjaan" sebagai tukang memberi komentar kritis untuk terbitan majalah Esquire Indonesia pada edisi-edisi mendatang. Untuk itu saya akan memperoleh kiriman gratis majalah yang berbobot dan dicetak mewah ini. "Terima kasih Mas Syarief, untuk kehormatan dan kepercayaan yang Anda berikan ini."

Blog adalah air yang konsisten menetes ke permukaan batu. Kalau Anda mencintai subjek atau topik yang Anda tulis, Anda akan memperoleh kegembiraan ketika melakukannya. Reward is in the doing. Pahala atau berkah akan Anda peroleh ketika Anda sedang mengerjakannya. Sedang datangnya telepon tak terduga atau tiba-tiba Anda ditodong untuk menjadi nara sumber untuk sesuatu masalah, itu semua hanya bonus semata.

Dan sepanjang pengalaman saya nge-blog sejak tahun 2003 dan punya akun Facebook sejak tahun 2008, kayaknya baru blog-blog saya saja yang membuat diri saya "peye" di maat media massa. Bagaimana komentar dan pengalaman Anda ?

Wonogiri, 25/6/2010

Wednesday, May 26, 2010

Gesang dan Warga Trah Martowirono 2007-2010




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Saya menghadiri perayaan ulang tahunnya yang ke-90. Tanggal 1 Oktober 2007. Bukan perayaan di hotel atau gedung megah, tetapi di rumahnya, di Kemlayan, Solo.

Pada hari Selasa, 1 Oktober 2007 itu, saya menyaksikan hari ulang tahun Gesang yang dirayakan oleh puluhan anak-anak Solo. Dari anak-anak TK Primagama Solo, SD Al-Firdaus dan SD Pangudi Luhur sampai SMA St. Joseph, Solo.

Mereka bergantian mengadakan konser di depan Sang Maestro Keroncong, siang itu. Penyelenggara acara unik itu adalah Republik Aeng-Aeng Solo, dengan komandan Mayor Haristanto. Acara itu menghadirkan keharuan.

Solo yang juga ketularan fenomena pemanasan global membuat jalanan di depan rumah Jl. Bedoyo 5 Kemlayan, domisili Gesang, terasa menyengat bagi kulit anak-anak. Untung sekelompok ibu-ibu berprakarsa mengembangkan payungnya, menghadirkan keteduhan dan melindungi anak-anak itu dari sengatan sinar matahari.

Totalitasnya, hadirnya keteduhan, rasa cinta, hormat dan keharuan mendalam untuk memperingati hari bersejarah dan mensyukuri karunia umur panjang Sang Gesang. Konser dibuka oleh alunan harmoni pianika yang nampak inosen, flute dan organ, suguhan anak-anak SD Pangudi Luhur Solo.

Mereka menyajikan "Bengawan Solo" dan "Tirtonadi," keduanya ciptaan Gesang. Kemudian diikuti oleh semua yang hadir, Cindy Nirmala, murid kelas V yang cantik itu, menyanyikan lagu "Terbaik Bagimu," lagu manis yang dipopulerkan Ada Band dan Gita Gutawa. Gesang yang berbaju batik merah cerah, nampak matanya berkaca-kaca.

lintang rembulan,ulang tahun gesang ke-90,1 oktober 2007

Seusai acara, saya sempat meminta tanda tangan Gesang. Juga bersama Mayor, Lintang Rembulan (foto) yang sebelumnya memainkan biola dari kelompok keroncong SMA St. Joseph, kami berfoto bersama beliau.

Mengantar Gesang. Hampir tiga tahun kemudian, saya bisa kembali ke rumah Gesang itu. Senin, 24 Mei 2010. Lima hari yang lalu, maestro keroncong itu sudah dipanggil kembali Sang Khalik. Saya bersama Mayor, dik Nani Mayor dan Lintang Rembulan, ikut menjadi saksi saat upacara pelepasan jenasahnya di Pendapi Gedhe, Balai Kota Surakarta, 21 Mei 2010 siang.

gesang,bambang haryanto,ngarsopuro,24 mei 2010,mengenang jasa gesang,sd muhammadiyah 1 solo,tk primagama solo

Sebelum ke rumah itu, kembali Republik Aeng-Aeng mengadakan acara mengenang Gesang. Bertempat di Ngarsopuro, Jl. Gatot Subroto Solo, lokasi pedestrian dan night market yang buka tiap Sabtu Malam, puluhan anak-anak Solo berkumpul lagi di Senin pagi tersebut.

Mereka menyanyikan lagu "Bengawan Solo," pembacaan puisi oleh Anni, musikalisasi puisi diiringi gesekan biola Hieronia Intan dari SMA St. Yosef dan petikan gitar Agus S. Dhukun, dan juga cerita guru tentang keteladanan Gesang selama hidupnya.

Aktivitas itu berlangsung di Ngarsopuro, di depan lukisan Gesang yang terpampang di tembok pinggir jalan. Lukisan karya pelukis Sugeng Riyanto itu berjudul "Sang Maestro" (2009), berukuran 1,6 x 2,5 meter , dibuat dengan bahan cat besi di atas plat alumunium.

bambang haryanto,mayor haristanto,gesang,gesang wafat,24 mei 2010,sd muhammadiyah 1 solo

Usai acara, mereka berbaris, untuk ramai-ramai mengunjungi rumah almarhum Eyang Gesang. Saat itu saya sempat berfoto dengan seorang ibu sepuh, adik Pak Gesang, dan keponakannya yang berbagi cerita bahwa Gesang lahir, dibesarkan, menjalani masa sepuh, ya di rumah itu pula. Rumah warisan orang tuanya.

Entah kapan lagi, saya bisa mampir lagi ke rumah ini.
Selamat jalan, Eyang Gesang.
Lagu-lagu dan karyamu akan abadi.


Bambang Haryanto
Blogger Wonogiri.
Bukunya, Komedikus Erektus : Telanjang Tegak Berdiri Menghumori Republik Kita Ini (Etera Imania, 2010) akan segera terbit.


Wonogiri, 26 Mei 2010

Wednesday, May 12, 2010

Trah Martowirono, Menggurat Kenangan Di Malaysia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Polokarto 2002. “Senang dan bahagia rasanya memiliki keluarga besar yang suka humor,” demikian tulis Broto Happy Wondomisnowo dalam buklet Rekaman Cerita Pertemuan Trah XVI di Polokarto, Sabtu, 7 Desember 2002.

“Mungkin, karakter menyenangkan itu sudah diwariskan oleh mBah Dung. Apalagi, beliau juga senang bercerita. Kalau sudah cerita, sedikit bombastis memang, namun membuat kita senang mendengarnya. Lebih lagi, mBah Dung juga kocak.

Saya masih ingat, suatu ketika sowan ke Kedung Gudel. Seperti biasa, mBah Dung menasehati. Ringkas cerita isinya : ’Yen nyambut gawe ojo seneng keluyuran,’ tutur mBah Dung. Lalu saya matur : ’mBah, kulo niki dados wartawan. Nyambut damelipun dolan lan ngluyur mawon.’

Apa komentar mBah Dung berikutnya ?

’Ora opo-opo,’ sergahnya. Malah komentar berikutnya menyuruh sang cucu untuk melanglang buana lebih jauh lagi. ’Dolano sing luwih adoh. Ben duwite akeh,’ tambahnya sambil terkekeh.”

Kuala Lumpur 2010. Berkat doa restu mBah Dung dan seluruh warga Trah Martowirono, si empunya cerita di atas itu baru saja mengirim kabar dan foto kepada saya.

“Mas, ini saya kirimkan foto saja saat mejeng di depan Stadion Putra, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, tempat perhelatan Putaran Final Piala Thomas-Uber 2010 berlangsung.

Untuk foto mejeng lainnya, misalnya di Menara Kembar Petronas, belum ada waktu untuk jalan-jalan. Nanti saya usahakan kalau ada waktu longgar. Siang ini (12/5/2010-BH) Tim Thomas Indonesia jumpa India, ulangan pertandingan di penyisihan grup. Kala itu kita menang 4-1. Sedang tim Uber, Indonesia jumpa tuan rumah Malaysia.”

Terima kasih, Happy.
Dua foto tersebut dapat kita saksikan di bawah ini :

broto happy w,wartawan bola,piala thomas,piala uber,kuala lumpur,mei 2010,trah martowirono

broto happy w,wartawan bola,piala thomas,piala uber,kuala lumpur,mei 2010,trah martowirono

Umpama waktu dapat diputar balik, tentu saja mBah Dung Kakung dan Putri pasti akan merasa bangga bila melihat foto di atas. Bangga dan terharu, terutama karena doa untuk anak-anak dan cucu-cicitnya agar mampu membaktikan krida dan karyanya untuk masyarakat luas, telah benar-benar terkabul.

Dari Kuala Lumpur, juga dari kota-kota lainnya tempat warga Trah Martowirono berada untuk berkarya, tidak ada salahnya bila kita mampu menyisihkan momen khusuk tertentu untuk berdoa bagi kedua beliau, yang kini tenteram di sisi Yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Ide menarik juga ditawarkan. Bahwa tradisi membawa-bawa banner Trah Martowirono saat berkeliling dunia, atau keliling kota seperti dalam foto di atas, diusahakan akan berlanjut untuk tur-tur jurnalistik Broto Happy yang akan datang. Apakah warga trah lainnya tidak tertarik untuk melakukan hal yang sama ?

Saya tunggu kabar dan cerita plus foto-foto Anda.
Sukses selalu.

Hidup, Trah Martowirono !
Cocet krusa Martowirono !
Trah Martowirono, boleh !


Wonogiri, 12 Mei 2010

Monday, May 10, 2010

Nostalgia Piala Thomas-Uber 10 Tahun Silam




Oleh : Broto Happy Wondomisnowo
Laporan langsung dari Kuala Lumpur

Waktu sepertinya bergulir sangat cepat. Detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hari ke minggu, minggu ke bulan, dan bulan ke tahun berjalan begitu kencang, tanpa kita sadari.

Tidak terasa saya hadir kembali untuk meliput perebutan Piala Thomas-Uber di Stadion Putra Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 9-16 Mei 2010.

Liputan bulutangkis Piala Thomas-Uber memang sangat beruntung bisa saya lakoni. Sejak 1994 kala itu perebutan berlangsung di Jakarta, saya sudah meliput. Begitu pula dua tahun berikutnya di Hong Kong, saya pun hadir. Ketika Putaran Final Piala Thomas-Uber berpindah negara pun, saya masih ikut hadir.

Tahun 2000, ajang Piala Thomas-Uber berlangsung di Stadion Putra, tempat yang jadi arena kali ini. Dua tahun kemudian, gantian Tianhe Sports Complex di Guangzhou, Cina, yang saya kunjungi.

Sejak 1994 hingga 2002, tim Thomas begitu perkasa. Indonesia bisa menyabet lambing supremasi bulutangkis beregu putra dunia ini secara berturut-turut. Artinya, sudah lima kali secara terus-menerus Piala Thomas dikuasai Indonesia. Tambahan lima kali juara itu, menggenapkan koleksi juara Piala Thomas Tim Merah-Putih menjadi 13 kali.

Sementara untuk Piala Uber, Indonesia baru tiga kali meraihnya. Yaitu tahun 1975 lewat sumbangsih Minarni Sudaryanto (alm). Pada tahun 1994 dan 1996, dengan dimotori Susy Susanti, Indonesia juga menyabet Piala Uber. Hebatnya lagi, pada tahun ini Indonesia juga merebut Piala Thomas, Jadi tahun 1994 dan 1996, Indonesia bisa mengawinkan Piala Thomas-Uber di Bumi Nusantara.

Namun, setelah sukses terakhir Indonesia di Guangzhou 2002, Piala Thomas itu mengembara ke negeri Cina. Lin Dan, Bao Chunlai, Cai Yun/Fu Haifeng, dkk., begitu dominan. Mereka menguasai Piala Thomas hingga kini.

Layak Dikenang. Kini sebuah nostalgia sepertinya menghampiri saya. Sepuluh tahun silam, Indonesia menjadi juara di Stadion Putra. Betapa manis dan indahnya kemenangan ini untuk dikenang kembali. Sebuah sukses besar yang rasanya ingin bisa dilang kembali.

Materi pemain kala itu, memang komplet. Tunggal dan ganda kita kekuatannya merata. Di tunggal ada Hendrawan, Hariyanto Arbi, Taufik Hidayat, dan Marlev Mainaky. Apalagi di sektor ganda, mau ditukar-tukar pasangan pun, ganda kita tetap kuat. Di sana ada Rexy Mainaky, Ricky Soebagdja, Candra Wijaya, Sigit Budiarto, Tony Gunawan, dan Athonius Budi Ariantho.

Di final pun, pasukan Merah-Putih seperti melenggang dengan mudah. Hnedrawan mengatasi Xia Xuanze, lalu ganda gado-gado, Rexy/Tony mengalahkan Zhang Jun/Zhang Wei. Kemenangan kita dipastikan oleh pemain muda, Taufik Hidayat yang menggusur Ji Xinpeng. Indonesia menang 3-0. Kita sukses besar!

Relung-relung di seluruh Stadion Putra pun bergemuruh. Ribuan TKI yang menjadi suporter, memerahkan seluruh isi stadion. Saya pun sekarang masih bisa merasakan bagaimana euforia kemenangan 10 tahun silam itu.

Semoga nostalgia kali ini bisa kembali terulang. Tahun 2000, Skuad Merah-Putih merebut Piala Thomas di Stadion Putra. Tahun ini, perhelatan akbar ini kembalidigelar di stadion yang sama. Bintang tahun 2000, Taufik Hidayat juga masih membela Indonesia. Napak tilas inilah yang semoga bisa diwujudkan kembali.

broto happy w,wartawan bola,piala thomas,piala uber,kuala lumpur,mei 2010,trah martowirono

broto happy w,wartawan bola,piala thomas,piala uber,kuala lumpur,mei 2010,trah martowirono


Momen membanggakan. Sabtu (8/5), saya bisa mengangkat dan mendekap kedua piala bergengsi itu. Piala Thomas yang membanggakan itu sudah saya angkat tinggi-tinggi. Demikain juga dengan Piala Uber. Saya sangat beruntung bisa berfoto dan merangkul kembali Piala Thomas-Uber, seperti yang saya lakukan dan menjadi obsesi pada pentas sebelum-sebelumnya.

Piala itu membanggakan sekali. Saya pun merasakan bahwa hanya sang juara yang berhak mengangkatnya. Saya pun terkenang ketika kecil dulu, melihat Rudy Hartono, Christian Hadinata, Hastomo Arbi, atau Liem Swie King demikain bangga mengangkat Piala Thomas ketika kembali ke Tanah Air.

Semoga tanggal 16 Mei nanti, kita bisa kembali ke final dan menantang Cina. Semangat juang, kebanggaan, dan cerita sukSes 2000 paling tidak akan menambah spirit pemain untuk habis-habisan di tengah lapangan. Indonesia memang layak mengulang nostalgia. Indonesia layak juara!

Selamat berjuang. Mari Bung Rebut Kembali!

Monday, May 03, 2010

Broto Happy, Bulutangkis dan Muri : Album Foto




Oleh : Bambang Haryanto
Email :humorliner (at) yahoo.com


Peristiwa : Sabtu, 24 April 2010
Lokasi :Gerai Putra BatikLaweyan, Solo
Acara : Membatik massal oleh atlet-atlet bulutangkis nasional yang tercatat di Museum Rekor Indonesia
Pemrakarsa gagasan : Broto Happy Wondomisnowo



broto happy,mayor,muri,bulutangkis

Broto Happy, sebagai panitia pelaksana uji coba tim bulutangkis Indonesia, juga ikut membatik.

broto happy,muri,muri,batik

Pebulutangkis nasional Sony Dwi Kuncoro mengaku ini pengalaman pertamanya membatik.

broto happy,muri,muri,batik

Suasana tim bulutangkis membatik bersama di gerai batik Putra Laweyan, Laweyan, Solo.


broto happy,mayor,muri,bulutangkis

Broto Happy dan Mayor Haristanto, bangga dengan penghargaan Rekor MURI yang diterimanya.

trhmar

Thursday, April 29, 2010

Out of The Box Berbuah Penghargaan MURI



Oleh : Broto Happy W.
Email : brotohappy (at) yahoo.com


Konsep ide-ide liar selama ini dianggap nyleneh. Atau tidak berguna, dan kemudian kerap masuk kotak sampah.

Padahal, konsep ide liar ini adalah bagian dari kreativitas yang juga layak diapresiasi. Bahkan, banyak pihak menyebut bahwa konsep ide-ide di luar kebiasaan sehari-hari ini harus ditumbuh-kembangkan. Sudah saatnya kita memang dituntut melahirkan sesuatu konsep di luar kebiasaan. Istilah kerennya sekarang harus memiliki konsep berpikir out of the box!

Out of the box! Ya, itu yang dilakukan anggota warga Trah Marto Wirono, Broto Happy Wondomisnowo saat diberi mandat organisasi bulutangkis Indonesia, PB PBSI untuk menyelenggarakan pertandingan simulasi Piala Thomas-Uber. Pertandingan pemanasan, sekaligus uji coba ini ditujukan untuk menghadapi Putaran Final Piala Thomas-Uber di Stadion Putra, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 9-16 Mei 2010.

Broto Happy, yang jadi wartawan, seperti kejuaraan-kejuaraan bulutangkis internasional sebelumnya, bakal dikirim Tabloid BOLA untuk meliput langsung ke Malaysia. Putaran Final Piala Thomas-Uber nanti adalah liputan dia yang ke delapan tanpa terputus sejak 1994 di Jakarta, 1996 (Hong Kong), 1998 (Hong Kong), 2000 (Malaysia), 2002 (Cina), 2004 (Jakarta), 2006 (Jepang), dan 2008 (Jakarta).

Konsep berpikir menggelar sesuatu hanya sebagai rutinitas, saya buang jauh-jauh. Akhirnya, pertandingan simulasi ini pun bisa dipindahkan ke Solo. Maklum, rutinitas selama ini simulasi hanya berlangsung di Bandung atau di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur.

Ternyata hasilnya mengejutkan semua pihak. Simulasi Piala Thomas-Uber di Solo, Minggu (25/4) sore berlangsung sukses. Kendati harus membayar tiket Rp 40.000 untuk tribun dan Rp 100.000 untuk VIP, ternyata tidak mengurangi animo pecinta bulutangkis masyarakat Kota Bengawan untuk berbondong-bondong datang ke GOR Sritex Arena.

Saat ditanya pengurus PB PBSI, mengapa memilih Solo sebagai tempat simulasi, tentu bukan karena alasan saya bisa pulang ke rumah. Tetapi, karena rutinitas simulasi harus dihentikan. Broto Happy pengin sesuatu yang baru dan menyegarkan. Tak hanya bagi pemain, tetapi juga penonton. Selain itu, atmosfer Solo terhadap olahraga tepok bulu demikian dahsyat.

Maklum, Kota Bengawan dalam sejarahnya termasuk rajin melahirkan pemain bulutangkis kelas dunia. Dari kota ini bak mata air sungai Bengawan Solo, tidak pernah putus menghasilkan pemain bintang. Sebut saja, Indra Gunawan, Indratno, Djaliteng, Lanny Tedjo, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Gunawan, Bambang Suprianto, Dwi Arianto, Luluk Hadiyanto, dll.

Dengan memindahkan pertandingan simulasi Piala Thomas-Uber ke Solo, apakah itu sudah cukup? Jawabnya tidak! Itu hanya sebagian kecil dari konsep berpikir keluar dari kebiasaan yang saya jalani.

Kejutan Membatik. Saya pun berusaha memberikan kejutan berikutnya kepada pemain bulutangkis terbaik Indonesia saat ini. Pemain harus dikenalkan dengan tradisi dan budaya adi luhung Kota Solo. Apa itu? Batik! Apalagi, Solo sendiri sudah memproklamirkan dirinya sebagai Kota Batik. Klop sudah!

Batik di sini bukan hanya sekadar melihat, namun seluruh rombongan pemain harus dikenalkan bagaimana susahnya membatik secara langsung. Menciptakan secarik kain batik ternyata membutuhkan sebuah usaha keras, sungguh-sungguh, hati-hati, teliti, dan juga kreativitas tinggi! Nilai-nilai inilah yang ingin saya bagi kepada pemain betapa susahnya membatik.

Akhirnya seluruh rombongan bulutangkis pun bisa membatik di Gerai Batik Putra Laweyan, Laweyan, Solo, Sabtu (24/4) sore. Inilah pengalaman pertama mereka bersinggungan dengan batik. Inilah untuk kali pertama pemain memegang canting dan membatik di atas selembar kain putih yang sudah diberi pola gambar tertentu.

Ternyata, tidak mudah. Perlu kesabaran, feeling, dan ketelitian untuk bisa menggoreskan cairan lilin berwarna coklat (malam) ke atas kain putih. Belum lagi, pemain takut kena cairan lilin yang panas itu.

“Ternyata membatik itu tidak semudah mengayunkan raket. Perlu teknik-teknik dan mengandalkan perasaan,” komentar Greysia Polii, pemain ganda.

“Acara membatiknya seru. Ini pengalaman pertama saya. Saya jadi punya pengalaman bahwa membatik itu begitu susah dan membutuhkan kesabaran. Makanya, budaya batik harus kita dilestarikan,” ujar Adriyanti Firdasari, pemain tunggal.

“Membatik ini merupakan pengalaman terbaru saya. Seumur-umur, baru kali ini saya membatik,” timpal Markis Kido (foto atas, kiri), pemain ganda yang bersama Hendra Setiawan merebut medali emas Olimpiade Beijing 2008.

Acara inilah yang saya harapkan akan selalu diingat semua pemain. Selama di Solo, mereka tidak hanya melulu bertanding bulutangkis yang sudah menjadi rutinitas sejak kecil hingga sekarang. Pemain harus mendapatkan sesuatu yang baru yang belum pernah mereka alami. Oleh-oleh berupa sensasi pengalaman terbaru inilah yang ingin saya bagi kepada pemain sebelum kembali ke Jakarta.

Oleh-oleh berupa sensasi membatik ini saya kira tidak akan habis, kendati terus dibagi dan diberikan kepada sana-keluarga pemain. Mereka pun pasti akan menceritakan pengalaman seru ini kepada teman, pacar, famili, dan sanak-keluarga. Kesan mereka terhadap Solo dan membatik tidak akan lekang ditelan zaman!

Setelah seluruh pebulutangkis Indonesia saya kejutkan dengan berbagai acara seru selama di Solo, saya pun ternyata tidak luput kena kejutan. Atas prakarasa menggelar acara out of the box dengan membatik ini, oleh Museum Rekor MURI, saya juga kecipratan mendapat penghargaan. Namun, saya memilih penghargaan itu diberikan kepada lembaga tempat bekerja, yaitu Tabloid Olahraga BOLA.


Penghargaan layak diterima BOLA, kendati ini juga adalah prakarsa saya untuk menyelenggarakan acara “Pebulutangkis Top Indonesia Membatik Bersama”.

Aksi ini pun diberi penghargaan oleh Rekor MURI Nomor 4245, bersama PB PBSI, Pengkot PBSI Solo, serta Republik Aeng-aeng Solo. Penghargaan itu diterima oleh Wakil Ketua PB PBSI Sabar Yudo Suroso (paling kanan), Ketua Pengkot PBSI Solo, Susanto (nomor tiga dari kiri), saya, dan Mayor Haristanto, dari Republik Aeng-Aeng (nomor dua dari kiri).

“Saya bangga dengan penghargaan Rekor MURI ini. Sebetulnya, itu ide liar tetapi ternyata mendapat tanggapan positif. Hanya, penghargaan ini bukan untuks aya saja, melainkan bagi Tabloid BOLA, tempat saya bekerja, dan juga pembacanya,” komentar Broto Happy.

Cuma, agar semua acara di Solo sukses, bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Saya harus bekerja all-round. Kendati jabatannya wakil ketua penitia pelaksana, saya tidak ragu untuk ikut membersihkan dan merapikan sendiri kursi pemain. Di bawah tatapan ribuan penonton, saya tidak canggung untuk mengumpulkan botol-botol minuman bekas untuk dibuang ke tempat sampah.

Selebihnya, saya juga harus menjadi media officer untuk menggelar konferensi pers antara pemain dan pelatih dengan wartawan lokal Solo. Stage manager pun harus dilakoni. Ini agar wartawan foto tidak berebut untuk mengabadikan momen di podium juara.

Selebihnya, menjadi humas PB PBSI dadakan, dan penghubung pemain dengan panitia lokal juga jadi menu wajib. Bahkan, saya pun menjadi wasit untuk menggelar pertandingan eksibisi yang mempertemukan pemain kelas dunia melawan pebulutangkis dari Yayasan Pembina Olahraga Cacat (YPOC) Solo.

Nah, komplet sudah!

Wednesday, March 03, 2010

Naisbitt, Tenis dan Trah Martowirono



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


“Bagaimana Anda membaca surat kabar ?”

Futuris tersohor John Naisbitt dalam bukunya Mind Set ! (2007) mengajukan pertanyaan itu. Ia pun lalu menjawabnya sendiri.“Saya membaca surat kabar mulai dari belakang ke depan, didahului dengan halaman olahraga.”

Alasannya, karena ia memang suka olahraga. Tetapi ada tambahan yang tidak kalah penting, dirinya memiliki prasangka bahwa laporan olahraga merupakan berita yang paling dapat diandalkan. Semakin ke halaman depan, tingkat kendalan berita semakin menurun. Sebagai contoh, berita bahwa tim Boston Red Sox mengalahkan New York Yankees 7-3, kita hampir 100 persen yakin bahwa memang demikianlah kenyataannya.

Kalau berita-berita hiruk-pikuk politik, di halaman depan, bagaimana ? Ia menyimpulkan, “memang sudah menjadi naluri manusia untuk memelintir berita ke arah kesimpulan yang diinginkan.”


Olahraga dan trah kita. Analisis John Naisbitt di atas mungkin relevan dengan kiprah dan kecintaan terhadap nilai-nilai olahraga bagi warga Trah Martowirono. Karena tidak sedikit yang menyukai olahraga.

Bunga Citra Persada dari Yogya, suka main basket. Baroto nDandung, dulu suka mengejar-ngejar bulu angsa. Dari Yogya, siapa yang suka sepakbola : Intan atau Mutiara ? Yoga dari Ngadirojo dan Yashika dari Kajen kini menekuni olahraga taekwondo. Basnendar pendiri klub Bola Basket Kajen Club.

Mayor Haristanto yang baru saja ikut Cingay Parade di Singapura, ikut mendirikan kelompok suporter di Solo, Makasar dan Pekanbaru. Broto Happy Wondomisnowo, suka sepakbola, bulu tangkis, dan menjadi redaktur sepakbola nasional di Tabloid BOLA. Bambang Haryanto yang buku komedinya akan segera terbit oleh Penerbit Etera Imania Jakarta itu tercatat di MURI :-) sebagai pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000).


Deretan fakta di atas kini diperkaya dengan data terbaru : Nuning atau Bhakti Hendroyulianingsih, nenek dari Nabila, dan putranya Yudha Arditya Banar Nugraha, kini masuk dalam jajaran pengurus cabang olahraga yang mereka terjuni untuk Kabupaten Wonogiri.Olahraga tenis lapangan.

Sekedar kilas balik : Yudha pernah menekuni olahraga bulutangkis. Lalu pindah ke tennis. Dalam Kejuaraan Tingkat Nasional Tahun 2000 di Nusa Dua, Bali, ia meraih prestasi juara tunggal putra dan juaga ganda putra untuk kelompok umur 16 tahun.

Olahraga tenis, juga mampu mengikat lebih erat tali silaturahmi trah kita. Walau secara tak sengaja. Nuning pernah bercerita dalam acara Reuni Trah 2009 di Yogyakarta, bahwa timnya pernah bertanding melawan timnya Ibu Suharti Priyono dari Gayam, Sukoharjo. Konon yang menang dapat bonus mandi lulur dan layanan spa di Salon ASTI, Sukoharjo.

Pada lain kesempatan, di hall tenis Wonogiri ia bertemu Ibu Retno Winarni dan Pak Agus dari Solo. Kali ini tidak bertanding, karena yang menang konon akan dapat hadiah kotak ATM bank ternama tempat Pak Agus bekerja. Karena dengan syarat : ambil dan membongkar sendiri.

pelti wonogiri 2010-2015

Mendongkrak prestasi Wonogiri. Berdasarkan Surat Keputusan Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PELTI) Jawa Tengah No. 010/PD.Pelti/III/10 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Pengprov Pelti Jawa Tengah, Kukrit Suryo Wicaksono, Nuning menjabat sebagai Bendahara 2. Sementara Yudha, berkiprah di Seksi Perwasitan dan Pertandingan. Mungkin secara tak resmi ia merangkap sebagai bodyguard untuk mengawal dan mengamankan brankas atau dompet sang bendahara 2 Pengurus PELTI Kabupaten Wonogiri itu.


Pengukuhan pengurus PELTI Kabupaten Wonogiri itu dilangsungkan di GOR Tenis Wahana Purna Bhakti di Wonogiri, 3 Maret 2010, oleh Ketua I PELTI Jawa Tengah, H. Soenoto SK (bertopi).Beliau yang didampingi Bapak Amin Sutantyo (Kudus), menyebut acara itu sebagai “momen sakral, untuk memulai dharma bhakti dalam bingkai memprestasikan olahraga, khususnya olahraga tenis di Kabupaten Wonogiri.”

Gayung bersambut. Ketua PELTI Wonogiri yang baru, Drs. Tarmanto, MM (foto: berkaos putih), memiliki obsesi tinggi. Kalau selama ini kuat anggapan olahraga tenis sebagai rekreasi, kini akan diubah paradigmanya sebagai olahraga prestasi. Khususnya bagi atlet-atlet muda potensial yang banyak bersemi di Kota Gaplek ini.

KONI pun mendukung tekad itu. Ketuanya, Eddy Purwanto (dalam foto, berbaju batik), bahkan menabur keyakinan bahwa pengurus baru untuk masa 2010-2015 itu mampu berbuat banyak bagi kemajuan prestasi tenis di Wonogiri. “Walau maklum,” katanya, “ anggaran KONi tahun ini jauh lebih menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.”

Acara pagi itu yang dihadiri pejabat teras terkait dengan pembinaan olahraga, Bambang Haryadi (teman SD-nya Mayor Haristanto), semakin tambah gayeng karena yang hadir merupakan sebagian dari para calon kompetitor yang berpeluang maju dalam Pilbup 2010.

Ada Ma’ruf Irianto, mantan ketua PELTI yang lalu (berpeci hitam), yang ingin menjago sebagai calon bupati. Ada Sekda Kabupaten Wonogiri, Suprapto, bakal calon wakil bupati. Juga Ketua KONI, Eddy Purwanto, kandidat bakal calon wakil bupati pula. Ada gagasan, ketiganya diadu dalam ekshibisi pertandingan tenis seusai acara itu. Tetapi nampaknya, acara clash of titans tak jadi terlaksana saat itu.

pelti wonogiri 2010-2015



Susunan Pengurus PELTI Wonogiri yang baru : Penasihat : Ir. H. Suprapto, MM, Sri Wiyoso, SH, MM, Drs. Budi Sena, MM. Ketua : Drs. Tarmanto, MM.. Sekretaris : Drs Mulyanto, I Gusti Bagus Garantika, SH. Bendahara : Drs. Yatno Pratomo, Bhakti Hendro Yulianingsih.

Seksi Pembinaan Prestasi : Yoyong Anang P, SPd, Yuli Purnomo, SPd, Hendro Setyawan, AMd. Seksi Organisasi : Maryanto, SSos, MM, Dwi Hendro, SE. Seksi Pendanaan : Dwi Bowo Hartono, ST, MT, Agung Budi Utomo, ST, Katni Priyadi Hartoyo. Seksi Sarpras : drs. Heru Dadi, Supriyadi. Seksi Humas : Drs. Joko Heru S, MPd, Sutarmin, SH. Seksi Perwasitan & Pertandingan : Drs Gunawan Dwi C, MM, Dedi Adi Nugroho, SPd, Yudha Arditya B, SE.

Segenap warga Trah Martowirono mengucapkan selamat bekerja untuk Nuning dan Yudha. Sehingga kelak bila kita mendengar atau melihat prestasi atlet-atlet tenis dari Kabupaten Wonogiri mencorong dalam kancah kejuaraan unggulan, kita akan ikut bangga. Juga merasa bahagia, karena doa-doa kita agar warga trah kita berbuat bagi bagi kemaslahatan bersama telah dikabulkan olehNya.


Wonogiri, 3/3/2010

Friday, February 19, 2010

Mayor Haristanto : Dasamurka #2 dan Road to Chingay Parade Singapore





mayor haristanto,solo batik carnival,chingay parade singapura

Tanggal 17 Pebruari 2010 nanti saya ber-60 awak bertolak ke Singapura mengikuti parade karnaval internasional bertajuk Chingay Parade Singapore Rincian 40 awak berkostum Solo Batik Carnival [SBC], sisanya awak musik. Di Singapura akan bergabung mahasiswa Indonesia di Singapura dan pelajar SMA Budi Mulia Jakarta. Total sekitar 150 orang.

Tahun lalu Indonesia diwakili Pak Begug dkk dari Wonogiri yang menampilkan atraksi reog Ponorogo. Parade akan berlangsung 19-20 Pebruari 2010 di Pit Building to Singapore Flyer, arena balap Formula 1.

SBC terpilih mewakili Indonesia di kancah internasional ini diikuti ratusan negara. Solo terpilih karena keunikan dan kemegahan kostum, selain karena seluruh perancangan, beaya dan peraga kostum dibuat sendiri, beaya sendiri dan diperagakan sendiri.

Saya beruntung punya jam terbang lebih karena saya telah mengikuti SBC 1 [2008] dan SBC 2 [2009] yang diarak sepanjang 4 Km di jalan Slamet Riyadi Solo yang menyedot ratusan ribu pasang mata.

Dua bulan lalu saya mengikuti audisi dengan mengenakan kostum SBC 2 bertitel Dasarmurka #1. Semangatnya satu: menaklukkan dunia. Bersyukur saya terpilih. Namun rasanya sayang kalau saya harus membongkar-pasang kostum SBC 2 ini untuk menyesuakan ‘pasar’ Singapura, meski diperbolehkan oleh panitia dengan pertimbangan waktu sudah dekat, dan tentu agar hemat beaya.

Saya bertekad merancang kostum baru untuk menambah koleksi kostum pribadi, selain pertimbangan agar lebih mudah, ‘bebas’ dan cari aura baru untuk mewujudkan impian baru dan segar dalam proses merancang kostum. Jadilah kostum bernama Dasarmurka #2. Judul sama karena sampai kini masih sulit mencari nama baru sesuai karakter kostum.

Saya bergabung dengan SBC merupakan peserta paling tua [50 th], ada juga seorang dosen, cewek, juga berumur sama hanya bertaut 3 atau 4 bulan lebih muda. Secara umum peserta beraneka ragam, mulai pelajar SMP kelas 2, SMA, mahasiswa, peraga profesional, penari sungguhan, dosen dll.

Kenapa harus ikut SBC?

Hidup saya ditakdirkan tidak pernah lurus-lempeng. Hidup saya selalu meloncat-loncat mengikuti hati paling dalam: hati nurani. Saya tidak tahu apakah ini baik atau buruk. Yang pasti menurut saya adalah pilihan baik. Karena saya merasa mampu menikmati hidup gaya lompat-lompat.

Jagat saya selama ini yang bisa dicatat adalah pendiri, penggerak awal kebangkitan suporter sepakbola Solo, dan menjabat Presiden Pasoepati [2000-2001]. Bahkan dicatat Rekor Muri sebagai satu-satunya orang Indonesia yang ikut melahirkan 3 kelompok suporter sepakbola di Indonesia [Pasoepati Solo, the Macs Man Makassar, Asykar Theking Pekanbaru]. Pasca pensiun presiden, saya mendeklarasikan negara baru, negara antah-berantah bernama Republik Aeng-Aeng [2002 sampai sekarang].


Bergabung dengan SBC karena di SBC saya mendapatkan media untuk membebaskan diri untuk merancang dan membuat kostum sesuka saya. Saya ingin jadi orang merdeka se merdeka-merdekanya.

Sisi lain tentu saya ingin menghibur orang lain, sebanyak mungkin, sekaligus membela Solo dan membela diri pribadi, juga keluarga kecil, keluarga besar saya bahwa saya haru hebat dan ruaaarrr biasa! Insya Allah. Mohon doa restu!

Berita kecil, berita gembira. Kalau tak ada aral bersamaan saya bertolak ke Singapura, 17 Pebruari 2010, jam 09.00 di Balaikota Solo saya mendapat anugerah bintang sebagai salah satu 7 warga Solo terbaik dalam rangka ultah Solo ke 265. Penerima isteri saya Nanie bersama anak-anak: Ayu dan Lintang. Berkah luar biasa!

Nanie akan menyusul ke Singapura 19 Pebruari 2010.


Salam,
Solo, 15 Pebruari 2010
Mayor Haristanto
Hp 08122594020

trah

Agar Tidak Hilang Dalam Sejarah




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Pesan Pram. “Apabila kau berhenti menulis, kau akan hilang dalam pusaran sejarah.”

Itulah kata dari pengarang ternama Indonesia, Pramudya Ananta Toer. Beruntunglah kita kini, di era Internet ini. Kita dapat menulis, mengekspresikan diri dalam pelbagai media sosial. Blog, Twitter sampai Facebook.

Saya masih menggunakan cara kuno.
Menulis surat pembaca di koran-koran.

Dimulai dari tahun 1973. Hingga kini. Bahkan juga mendirikan komunitas penulis surat pembaca se-Indonesia sehingga tercatat di Museum Rekor Indonesia, 27 Januari 2005. Sekaligus memproklamasikan hari itu sebagai Hari Epistoholik Nasional.

Otot otak kita. Pada peringatan 5 tahun deklarasi hari itu saya memperoleh kado indah. Profil dan kiprah salah satu warga Trah Martowirono yang jomblo abadi ini telah muncul di Koran Tempo, Kamis, 29/1/2009. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi sesama warga trah : ayo menulis,menulis dan menulis.

Jangan hanya puas atau berhenti menulis uneg-uneg, curhat atau komentar-komentar dangkal, yang tidak begitu banyak memeras konsentrasi untuk melatih otot-otot otak kita. Sayang sekali, bila karunia Allah yang demokratis itu hanya kita gunakan untuk berfoya-foya bagi hal remeh temeh.

Hal trivia semacam itu mudah sekali dilupakan oleh sejarah !

Catatan : sebuah artikel senada yang ditulis oleh penulis buku produktif dan laris, Andrias Harefa, Agar Tak Hilang, menarik untuk kita jadikan inspirasi bagi semua warga trah kita.



Wonogiri, 31/1/-20/2/2010

Thursday, January 21, 2010

mBah Sus, Trah Karmo Kertiko, Dan Masa Depan Bersama




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Dongeng Kancil. Rumpun bambu itu mudah mengingatkan dongeng tentang Nabi Suleman.

Dalam fabel atau dongeng terkait binatang, nabi satu itu yang konon mampu berbicara dengan hewan telah berkali-kali menjadi “kambing hitam” bagi binatang kancil untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman harimau.

Kita tahu, kancil melambangkan binatang yang kecil, lemah, tetapi cerdik. Termasuk ketika ia julig menggunakan akalnya, yang berbau tipu muslihat, mememanfaatkan rumpun bambu sebagai senjata untuk berkelit dari ancaman sebagai mangsa sang macan.

Konon, si kancil lagi apes. Ia kepergok macan ketika sedang berjalan di antara rumpun pohon bambu. Ia mendengar, ketika dihembus angin, bambu-bambu itu saling bergesekan, memperdengarkan suara geritan yang berirama. Kancil saat itu tak bisa melarikan diri dari kejaran macan. Kancil berkata, ia menyerah.

Tetapi sebelum mati, ia meminta agar si macan itu mau meniup seruling Nabi Suleman sebagai penghiburan yang terakhir baginya. Kancil menunjuk suara-suara derit bambu yang berirama itu.

Macan setuju. Ia lalu menurut saja ketika dibimbing kancil untuk mendekati pohon-pohon bambu yang bersilangan. Kata kancil, untuk bisa meniup seruling, si macan harus menempatkan lidahnya di antara bambu-bambu itu. Kebetulan saat itu angin lagi reda.

Kancil pun lalu sedikit menjauh. Ketika terdengar angin kuat akan berhembus, ia pun berteriak kepada macan agar bersiap-siap menempatkan lidahnya. Begitulah, saat angin berhembus, justru tak terdengar derit musik pohon bambu. Yang terdengar justru raung kesakitan dari si macan. Lidahnya pun putus dan ia menemui ajalnya.

Rumpun bambu ori yang memicu fantasi masa kecil saya itu terletak di bagian belakang rumah mBah Dung di Kedunggudel. Selain terdapat sumur, kamar mandi, jamban, pohon kedondong besar, juga deretan rumpun pohon bambu. Di utara rumpun bambu itu terdapat rumah tembok milik orang lain. Seingat saya, rumah itu tidak berpenghuni.

Pada sisi timur pekarangan rumah tembok ini yang berbatasan dengan jalan, terdapat pagar yang terbuat dari bata. Pagar ini mudah memicu fantasi sebagai “tembok Cina” yang terkenal itu. Karena ketika hendak pergi ke pasar, karena jalan bagian utara rumah mBah Dung itu selalu kronis berlumpur, maka satu-satunya jalan agar terhindar dari lumpur adalah dengan meniti di atas pagar tembok ini.

Bisnis binatu. Turun dari tembok sudah ditemukan jalan yang relatif kering. Belasan meter kemudian, kita sudah dapat menemukan rumahnya mBah Sus. Kalau belok kanan ke arah pasar, akan melewati rumahnya mBah Harjo. Siapakah mereka ?

Menurut cerita Bu Minten yang ibunya Titis dan Nugroho, yang saya temui di Kedunggudel saat kami bersilaturahmi Lebaran 2009, pada tanggal 21 September 2009, terdiri dari saya, Bari, Nuning dan Taufik, telah diwedar silsilah dari mBah Martowirono Kakung.

Ternyata mBah Martowirono Kakung adalah putra pertama. Beliau wafat tanggal 11 Desember 1972. Adik beliau adalah Darmowantoro, terkenal sebagai produsen karak. Kemudian mBah Suhardjo/Tasripin, ayah dari Om Muhyidin, Lik Sukarsih yang meninggal dunia di Wuryantoro saat menjadi pembantu bapak dan ibu dalam kecelakaan kebakaran, lalu Om Mulyono almarhum. Urutan keempatnya adalah Eyang Putri Asmuri, dan terakhir, mBah Susilo.

Seingat saya, mBah Sus itu memiliki bisnis binatu. Begitu memasuki rumah, di sisi kanan rumah terdapat pohon mangga, di bawahnya terdapat gentong padasan untuk berwudlu. Di sisi kanan rumah banyak tumbuh pohon belimbing.

sukarni kastanto hendrowiharso dan anak-anak

Dalam foto nampak mBah Sus memakai peci putih. Berdiri dari kiri : Broto Happy, Bari Hendriatmo, Budi Haryono, ibu saya Sukarni Kastanto Hendrowiharso, Bastion Hersaptowiningsih, Bonny Hastutiyuniasih, dan paling kanan saya, Bambang Haryanto. Posisi duduk dari kiri : Betty Hermisnawaningsih, mBah Sus kakung, Basnendar Heriprilosadoso dan mBah Sus Putri. Foto diambil, datanya tidak tercatat.

Seingat saya, saat itu saya memakai kaos dengan logo Case Western Reserve University dari Michigan, Ohio, AS. Kaus itu oleh-oleh dari dosen saya, Prof. Sulistyo Basuki dari Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, yang pada tahun 1984 menyelesaikan gelar doktornya. Mungkin foto itu diambil pada tahun 1985.

Keluarga Uncle Sam ! Kenangan tentang mBah Sus itu semoga menjadi relevan bila warga Trah Martowirono dapat mengingat kembali suasana dan para kerabat yang hadir dalam acara reuni Trah Martowirono XXII/2008, 5 Oktober 2008, di Kajen,Wonogiri.

Saat itu, sebagai tamu kehormatan telah hadir keluarga Trah Bangin Martosuwiryo, yaitu Bapak Bawarto dan saudara (Wonogiri), keluarga Agus Budi Santoso dan Ibu Retno Winarni dari Solo, dan tak bisa dilupakan adalah rombongan Ibu Sukamti Samsu Harsosuwiryo beserta putra-putri dari Solo dan sekitarnya. Mereka kita kenal sebagai “rombongan Baturono” dari Solo.

Ibu Sukamti adalah putri dari mBah Susilo. Komisaris Toko Kawan Kita Pojok Baturono Surakarta yang memiliki hobi karawitan hingga pengajian ini, menikah dengan Bapak Samsu Harsosuwiryo dan telah dikaruniai 10 putra dan putri.

Kerabat kita tersebut adalah : 1. Sri Samtini (almarhumah), 2. Ir. Sri Samtuti, 3. Ir. Joko Samtono, 4. Drs. Sam Hudiyanto, 5. dr. Sam Eddyanto, Sp.KJ., Mkes, 6. Sam Agus Indriyanto, SH, 7. Sri Samtari, SPd, 8. Sam Indah Wartini, SPd, 9. Sam Agus Heru Subagio, dan, 10. Sam Koniatun, SH.

Mereka semua produk domestik. Jadi tidak ada kaitannya dengan sutradara film Sam Peckinpah atau sebutan Uncle Sam bagi negerinya Barack Obama. Juga tak ada kaitannya dengan Sam Po Kong, yang terkenal di Semarang itu. Mungkin ada yang cakap bernyanyi lagu-lagu relijius, tetapi jelas tidak ada pula hubungannya dengan Sam Bimbo.

broto happy,sam hudiyanto

Pin trah. Kontingen Baturono ini sudah dua kali hadir dalam pertemuan trah Martowirono yang berlangsung di Wonogiri. Kehadirannya membuat mongkog semua warga trah kita. Untuk memperat persaudaraan, nampak juru bicaranya, drs. Sam Hudiyanto (kaus bergaris biru) memperoleh cenderamata berupa pin trah kita, diserahkan oleh Broto Happywondomisnowo.

sam hudiyanto,kristiyo sumarwono

Tali asih silaturahmi. Kontingen Baturono dalam kesempatan silaturahmi tersebut juga menyumbang dana. “Jangan dilihat nilainya, tetapi lihatlah sebagai tanda cinta, tanda peduli, tanda gembira, karena memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan sesama saudara,” tutur Drs. Sam Hudiyanto saat menyerahkan amplop yang diterima Bapak Kristiyo Sumarwono (Yogya).

sam indriyanto sh,trah martowirono

Kibarkan Merah Putih. “Jauh-jauh dari Karanganyar kok diminta untuk berlatih kayak Paskibraka, berfoto dan melambaikan bendera merah putih.” Mungkin itu kata hati Bapak dan Ibu Sam Agus Indriyanto, SH, ini. Tetapi nampak bendera nasional kita tersebut menjadi aksen yang serasi dalam potret, juga menjadi pengikat trah kita sebagai warga negara untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara tercinta kita ini.

nuning,trah baturono

Keakraban keluarga. Selaku tuan rumah, Bhakti “Nuning” Hendroyulianingsih (berbatik, kiri) sedang berbincang akrab saat menjamu rombongan putri dari kontingen Baturono ini.

Keterangan foto, dari kiri (depan): 1. Sri Samtari, SPd., guru SMA Al-Islam I Surakarta (PNS), 2. Sam Indah Wartini, SPd., guru SLB, dan 3. Sam Koniatun, SH.

Jajaran belakang, dari kanan: 4. Kiki, anak pertama Drs. Sam Hudiyanto, kuliah HI-UGM Yogyakarta, 5. Fidyani Samantha, anak pertama dr. Sam Eddyanto, Sp.KJ., Mkes, sekarang duduk di kelas III SMAN I Sukoharjo yang bersiap memasuki bangku kuliah, kemudian 6. Hanna, anak kedua dari Sri Samtari, SPd., kini masih belajar di kelas III SMP Al-Islam Surakarta.

Semoga pertemuan tahunan ini semakin membuka mata dan hati kita bahwa banyak saudara yang dapat disegarkan keterkaitannya dalam silaturahmi tahunan semacam ini.


Dipererat di dunia maya. Silaturahmi antar trah tersebut kini semakin dipermudah dengan hadirnya media-media sosial, seperti blog sampai Facebook. Sungguh suatu kegembiraan, dalam emailnya tertanggal 20 Januari 2010, dr. Sam Eddyanto, Sp.KJ., Mkes telah memberitahukan hal menarik :

“Assalamu'alaikum, gimana kabar Mas Bambang, saya beberapa kali membuka Blog Trah Martowirono. Sangat bagus penampilannya, sangat profesional.

Terus terang saya baru belajar membuat blog juga untuk trah di Solo, yaitu Trah Karmo Kertiko dari silsilah Bapak Samsu Harsosuwiryo. Mohon ijin Mas Bambang saya pasang Blog Trah Martowirono sebagai Blog Tamu, siapa tahu ada yang berminat untuk membuka-buka salah satu contoh Blog Trah yang cukup serius digarap dan eksis sudah lama dan banyak ketawanya ....

Terima kasih, wassalam.”

Terima kasih pula, dik Eddy. Sesama blog memang wajib ain untuk saling membuat link, tautan. Saya sudah pula membuat tautan tersebut, juga memberikan komentar dan dukungan. Pada artikel seputar Gus Dur, Bulik Sukamti, dan juga pada buku tamu.

Untuk warga Trah Martowirono lainnya, silakan kunjungi Blog Trah Karmo Kertiko ini. Silakan pula memberikan salam dan komentar. Untuk meneguhkan bahwa di antara kiat terdapat persaudaraan yang diikat oleh para leluhur kita di masa lalu.


Juga diikat oleh tujuan mulia bersama dalam mengarungi masa kini dan masa depan. Yaitu sama-sama ingin membaktikan diri kita dan karya-karya kita bagi kemaslahatan bersama.


Wonogiri, 22 Januari 2010

trm

Friday, December 18, 2009

Trah Martowirono, 19 Desember : 1987-2009




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Antara Madrid dan Martowirono. Pemain sepakbola asal Perancis itu kini “masuk” sebagai warga Trah Martowirono.

Bahkan upacara “kemasukan” dia tersebut mungkin dipestakan di markas timnya hari ini, 19 Desember 2009. Markas itu adalah stadion Santiago Bernabeu di kota Madrid yang ibukota Spanyol.

Sungguh suatu kebetulan bahwa salah satu pusat magnet sepakbola Eropa dan dunia tersebut pernah dikunjungi oleh salah seorang warga trah kita, Broto Happy Wondomisnowo. Siapa pesepakbola asal Perancis dan mengapa ia bisa “masuk” sebagai warga trah kita ?

Dia adalah pemain yang bernomor punggung 10, asal Perancis. Namanya : Karim Benzema. Ia lahir tanggal 19 Desember 1987. Pada tanggal yang sama, di belahan bumi lain, tepat dilangsungkan reuni pertama warga Trah Martowirono. Di Kedung Gudel, Kenep, Sukoharjo. Jawa Tengah. Indonesia. Asia. Itulah dua simpul yang menarik, yang bisa menalikan kaitan antara Madrid dan Martowirono.


Vertikal ke horisontal. Saya tidak hadir pada acara tersebut. Sepertinya saat dilangsungkan kebetulan tidak berdekatan dengan hari raya Lebaran, seperti tradisi reuni trah kita yang mutakhir.

Saat itu saya tinggal di Jakarta. Tanggal itu saya catat daam buku harian saya : saya lagi gantian :mengunjungi rumah “har” di Teluk Gong, Jakarta Barat. Mahasiswi artistik ini saat itu belajar di Desain Produksi Universitas Trisakti, Jakarta. Sayangnya, dia kemudian tidak berhasil saya ajak untuk bergabung sebagai warga trah kita ini.

Foto-foto. Dan cerita. Reuni pertama trah kita itu terekam di benak saya dari sumber foto-foto yang sempat saya lihat. Juga dari prasasti kain yang ditandatangani warga trah kita yang hadir. Foto-foto liputan momen itu ditempel di papan, dibingkai plastik, bersama prasastinya, telah dipajang di rumah mBah Dung. Tempatnya di gebyog sisi timur laut ruang tamu, di dekat pintu menuju bango dan juga ke dapur.

kedung gudel,trah martowirono,sukarni

Foto reuni ?. Foto ini saya jepret sekitar tahun 1980-an dengan kamera SLR Zenith, buatan Cina. Nampak Eyang Martowirono Putri (kiri) dan Eyang Darmowantoro Putri (kanan). Suami Eyang Darmo ini adalah adik nomor dua dari eyang Martowirono Kakung. Tengah, ibu saya, Sukarni Kastanto Hendrowiharso. Saya tidak tahu apakah foto-foto yang berada di latar belakang beliau-beliau itu merupakan foto-foto pertemuan trah yang pertama, tahun 1987 itu.

Ada momen human interest terkait foto-foto itu. Suatu ketika saat berkunjung ke Kedung Gudel, saya menemukan ada tambahan foto baru, yang di-blesekkan di dalam bingkainya. Agak setengah “memaksa” masuk.

Ternyata itu merupakan foto keluarga Om Priyardjodriyono Markoes dan Bulik Gunarni, yang kini tinggal di Purwokerto. Keluarga ini dikarunia putra-putri : Santoso Priyo Utomo, Didut, Ida, Ririn dan Dian.

Bulik Gun, istri Om Pri yang kariernya panjang di Lembaga Pemasyarakatan, adalah putri dari Eyang Walijan Ratmowijoyo. Eyang Ratmo ini adalah adik nomor dua dari mBah Dung Putri, Jiah Martowirono. Adik terkecil dari mBah Dung Putri adalah Eyang Bangin Martosuwiryo, yang anak-cucunya, seperti Bapak Bhawarto, kini ikut pula bergabung dalam Trah Martowirono.

Jadi blesekan foto itu merupakan niat baik, di mana gugus keluarga kategori vertikal yang ingin bergabung di gugus horisontal.

Trah kita untuk dunia. Saya tidak tahu di mana arsip foto-foto lama itu kini berada. Saat itu belum ada kamera digital, sehingga untuk berbagi foto agak mengalami kendala. Berbeda dengan kini, ketika pengambilan, penyimpanan dan pengiriman foto jauh lebih mudah ketika dilakukan secara digital, sehingga catatan sejarah lebih mudah untuk disimpan.

Alangkah lebih baik, seperti yang coba saya lakukan dengan arsip-arsip foto lama dari trah kita, termasuk dengan meluncurkan dan mengelola blog ini, adalah dengan membagikannya. Informasi yang tersimpan hanyalah informasi yang sia-sia. Tak menebar berkah.

Di era sharing pengetahuan ini kita sebaiknya membagikannya kepada keluarga lainnya. Juga kepada sesama umat manusia, sebagaimana visi blog ini pula. Apalagi blog di Internet, secara teoritis, tak akan terhapus untuk sepanjang masa.

Merujuk hal itu, saya dapat mengutip ringkasan yang pernah dibuat oleh Bapak Untung Suripno :

“Pertemuan pertama : 19 Desember 1987. Pertemuan trah Martowirono dimulai pertama kali tanggal 19 Desember 1987 dan berlangsung di Kedung Gudel. Sayangnya mBah Kakung tidak dapat mengikuti karena sudah wafat.

Ibu Suripti tidak bisa mengikuti karena sudah wafat 30 November 1986. Bapak Haswosumarto tidak dapat mengikuti karena sudah wafat 3 November 1987 dan Bapak Sutejo tidak dapat mengikuti karena sudah wafat tahun 1967.

Para sepuh yang hadir adalah mBah Martowirono Putri, Bapak Sutono dan Ibu Sukarni.”

Cakrawala ke depan. Sungguh suatu prestasi dan berkah, pertemuan trah kita masih bisa lestari kelangsungannya setiap tahun. Hingga pertemuan yang ke-23, yang berlangsung di lingkungan Benteng Vrederburg, Yogyakarta, 23 September 2009 yang lalu.

Prestasi unik trah kita itu patut kita syukuri. Karena selain mampu berlangsung setiap tahun sejak tahun 1987 tersebut, kini memiliki isi, sajian, ragam sampai jangkauan yang melebar untuk mampu memberikan manfaat bagi kita bersama.

Di saat indah ini, marilah kita menundukkan kepala. Berdoa sejenak kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para leluhur kita, pepunden kita, para orang tua dan kakek-nenek yang kini tidak lagi berada di samping kita, senantiasa mendapatkan tempat yang layak disiNya.

Kita teruskan api keteladanan, nama baik dan prestasi mereka, oleh kita-kita saat ini pada jalur kehidupan yang telah kita pilih untuk menebar kemaslahatan bagi sesama. Berbanggalah sebagai warga Trah Martowirono. Berprestasilah, dan ceritakannya kepada dunia yang senantiasa menantikannya.

Cocet krusa Trah Martowirono !
Hidup, Trah Martowirono !


Wonogiri, 19 Desember 2009

trah mw

Thursday, December 10, 2009

Makna 9 dan 11 Desember Bagi Trah Martowirono



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Hari intifada. Tanggal 9 Desember 2009 kita di Indonesia heboh dengan aksi demo memperingati Hari Anti Korupsi Internasional.

Pada tanggal yang sama juga tercatat kejadian bersejarah di tahun 1990 saat Lech Walesa, pemimpin serikat buruh Solidaritas, memenangkan pemilu langsung pertama Polandia untuk meraih kursi presiden. Pada tahun 1987 terkait konflik Israel-Palestina, pada tanggal tersebut dimulai gerakan intifada di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Pada tahun 1909 lahir di dunia Douglas Fairbanks, Jr., bintang film AS. Sedang pada tahun 1916, lahirlah bintang film yang lain, juga terkenal, Kirk Douglas, yang ayah aktor/sutradara Michael Douglas. Sonia Gandhi, politisi India kelahiran Italia, lahir pada tahun 1946.

Pemain sepakbola Perancis dan bek klub Bayern Muenchen, Bixente Lizarazu, lahir tahun 1969. Tanggal 9 Desember 1982 adalah tanggal lahir dari atlet balap sepeda Rusia, Tamilla Abassova dan Nathalie De Vos, atlet terkenal Belgia.

Bagi warga Trah Martowirono, khususnya Taler IV, tanggal tersebut, 9 Desember 1982 itu, cukup menggugah kenangan. Karena tepat 27 tahun meninggalnya Bapak Kastanto Hendrowiharso (foto, saat beliau menjadi pengantin, tahun 1952). Beliau meninggal tanggal 9 Desember 1982 di RSUD Wonogiri dalam usia 54 tahun.


Menuju bulan. Peristiwa bersejarah terjadi pada dua hari kemudian, tetapi 10 tahun sebelumnya. Tepatnya, tanggal 11 Desember 1972.

Dunia mencatat usaha manusia menjelajah ruang angkasa. Yaitu : pendaratan wahana ruang angkasa Apollo 17 yang menjadi misi Apollo yang keenam untuk mendarat di bulan.

Itu terjadi di Amerika Serikat. Sementara di belahan dunia yang lain, pada tanggal yang sama, adalah saat meninggalnya Eyang Kakung Martowirono (foto atas). Beliau wafat hari Rebo Legi, 11 Desember 1972, di rumah Kedunggudel. Hari ini kita memperingati 37 tahun meninggalnya beliau.

Tanggal yang sama pada tahun yang lain tercatat, Che Guevara berpidato di depan Sidang Umum PBB di New York (1964). Protokol Kyoto yang mengatur emisi gas rumah kaca demi mencegah bahaya pemanasan global ditandatangani (1997).

Juga ditangkapnya Bernard Madoff, bankir AS, yang melakukan penipuan finansial memakai rumus Ponzi, alias penggandaan uang secara berantai, menimbulkan kerugian sampai 50 milyar dollar. Ia kini dihukum 150 tahun penjara (2008).

Tanggal yang sama pada tahun 1940 adalah tanggal lahirnya David Gates, musikus dari kelompok Bread. Lagu-lagu indahnya antara lain “Aubrey,” sampai “Make It With You.”

Politisi AS dari Partai Demokrat, John Kerry yang gagal bertarung vs Bush, lahir pada tahun 1943.

Kembali ke Kedunggudel. Saat itu, saat Eyang Martowirono wafat, saya duduk di kelas 2 STM Negeri 2 Yogyakarta. Menjelang Eyang Martowirono wafat, seingat saya, saya dan Ibu Endang menyapa beliau di tempat tidur.

“Mbah Kakung, ini Bambang. Mbah Kakung, ini Endang,” kira-kira begitu. Hanya itu saja yang saya ingat. Saya tidak tahu apakah pada saat itu pula beliau wafat dan dimakamkan.

Tetapi rumah Kedunggudel itu menyimpan banyak kenangan. Di rumah itu, bagi saya, banyak bacaan menarik. Dari buku Babad Pacitan, majalah Sosiawan keluaran Departemen Sosial, sampai tumpukan majalah berbahasa Jawa, Penyebar Semangat.

Di majalah ini yang saya sukai adalah komik Panthom dan kartun Pak Klombrot. Leluconnya seperti orang kejatuhan buah kelapa. Lelucon jadul.

Selamat jalan, Pak Kastanto. Selamat sejahtera, mBah Kakung Martowirono. Semoga kedua pepunden itu kini senantiasa sejahtera di sisi Yang Maha Kuasa. Para keturunanmu kini bangga membawa misi hidup masing-masing, dengan bangga senantiasa mengibarkan nama keduanya..

Untuk kebaikan sesama. Di mana-mana.


Wonogiri, 11 Desember 2009.

Sunday, December 06, 2009

Batik, Bisnis dan Budaya Trah Martowirono



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Reuni trah di batik. Sikap sok tahu mudah memicu bencana. Tetapi juga bisa membawa berkah.

Di tengah suasana Gelar Expo UMKM Kota Yogyakarta dengan tema “Batik Jogja untuk Indonesia,” syukurlah saya memperoleh kedua-duanya.

Di halaman Griya UMKM Jl. Taman Siswa No. 39 Yogyakarta, tempat gelar karya batik itu berlangsung, terdapat panggung untuk demo membatik.

Tersedia beberapa carik kain, seukuran sapu tangan, yang tersedia cuma-cuma bagi pengunjung untuk mempraktekkan aksi membatik. Saya ikut mencobanya.

Beberapa saat kemudian hadir seorang bule, perempuan. Dengan sok tahu, ia saya beri kain itu dan memintanya untuk mencoba membatik. Si bule itu mendengarkan. Tetapi rekannya dari Batik Winotosastro segera memberitahu saya, bahwa si bule itu ahli membatik. Inilah bencana yang saya alami. Saya meminta maaf, dan malah terjadi obrolan.

brigitte willach

Pembatik dari Jerman. “Saya sudah membatik sejak 40 tahun yang lalu,” kata si bule yang bernama Brigitte Willach itu. Pada kartu namanya terdapat label : Batik-Atelier. Nampak dalam foto ia didampingi Shinta Pertiwi, ST (kiri) dan Antik Anggreni dari stan Gama Blue Indigo ND.

Ia berasal dari kota Hannover, Jerman. Brigitte cerita bahwa canting untuk membatik di Jawa itu merepotkannya. Brigitte cerita bahwa dirinya memiliki canting tersendiri. “Better ?,” sergah saya. “No. Just different,” jawabnya. Menurutnya, canting di Jawa itu mudah menghadirkan dot, dot, dot. Bahasa Jawanya, sering ndlodok.

Saya tergelak mendengar kisah Brigitte itu.

Karena kecelakaan berupa tumpahan malam pada kain di tempat dan dengan ukuran yang tidak direncanakan, sebuah bencana desain bila terjadi, juga baru saja saya alami. Yaitu ketika sok bisa membatik, saat membuat kacu biru “Trah Martowirono” pada foto di atas tadi. Kalau karya batik geradakan itu ketahuan Bude Tejo dari Polokarto, Sukoharjo, mungkin kuping saya sudah dijewer atas bencana desain batik seperti ini.

Blogger trah. Pada obrolan lain, Brigitte merasa heran mengapa saya yang lelaki tertarik kepada batik. Sambil bertukar kartu nama, saya menjelaskan bahwa saya seorang penulis. Blogger. Saya bercerita bahwa event organizer acara ini, Persada Promosindo Yogyakarta, adalah milik salah satu keluarga dari trah saya.

Ditambah lagi bahwa salah satu peserta gelaran ini, Gama Blue Indigo ND, dengan misi khusus memromosikan penggunaan pewarna alami untuk proses pewarnaan batik, adalah juga keluarga dari trah saya.

Saya katakan, saya yang tinggal di Wonogiri, Solo, antara lain datang untuk mendokumentasikan, dengan menulis kiprah mereka. Ia nampak memberikan apresiasi. Termasuk menyarankan saya untuk berbincang dengan Ibu Ani dari Batik Winotosastro terkait pemanfaatan pewarna alami, natural dyes, untuk produk-produk batiknya.

Nama Winotosastro ini juga terpateri di otak saya sejak kecil. Ketika duduk di SD, tahun 1960-an, bapak saya bekerja sebagai prajurit TNI-AD di Yogya. Keluarganya masih di Wonogiri. Pernah di hari-hari menjelang Lebaran beliau membawa pulang kain batik, untuk seragam bakdan bagi anak-anaknya. Seingat saya, berupa batik printing merah dengan dasar putih. Batik Winotosastro.

Kilas nostalgia semakin mengental karena Gedung UMKM itu berada di Kemantren Mergangsan. Inilah kecamatan tempat ayah saya, tahun 1960-an, pernah menjabat sebagai Komandan Koramil di kawasan ini. Kembali ke pembatik yang ramah asal Jerman tadi.

“Apakah Brigitte dalam membatik memakai pewarna alami ?”
“Tidak. Saya masih memakai kimia.”


Motif Bokor Mengkurep. Baik memakai pewarna kimia atau alami, tetapi bagi saya bau khas malam batik mampu memicu sensasi tersendiri. Mengembalikan saya ke masa lalu. Parade kenangan tentang batik itu lalu bisa menyeruak warna-warni.

Kata malam itu sendiri sempat saya celotehkan kepada Ibu Irawani, dosen Jurusan Seni Kriya ISI Yogyakarta dan putri pematung sohor Edhie Sunarso di mana bersama Ibu Pandan sebagai kurator acara itu.

Di depan mahasiswinya yang sedang demo membatik saya katakan bahwa pembatik itu dilarang bilang “selamat pagi,” “selamat siang” atau pun “selamat sore.” Mereka hanya boleh bilang : “selamat malam.”

Ah, trik ini ini disebut sebagai double entendre dalam dunia komedi guna memancing tawa.

Begitulah, bau khas malam batik dari wajan kecil berisi malam meleleh di atas kompor di halaman Gedung UMKM Yogya saat itu bisa melemparkan kenangan. Antara lain saat saya masih duduk di SD tahun 60-an. Seingat saya saat itu, warga Trah Martowirono yang saya ketahui beraktivitas membatik adalah Bude Hj.Warsiti Tejosuwarno (foto), ibunda dari Siti Fatimah, Tri Setyaningsih dan Untoro Setyabudi.

Ketika memasuki halaman rumah beliau yang halamannya berpasir dan diteduhi pohon sawo, letaknya di bagian barat laut dari rumah mBah Dung, sudah nampak pemandangan menarik.

Di rumah sisi timur, sudah nampak Bude Tejo dan ibu beliau, Eyang Trisnowiyo asyik di depan gawang atau stand untuk meletakkan kain yang sedang dibatik. Kedua beliau itu sedang membatik. Dari kontak SMS dengan Mas Parmono, motif-motif batik yang beliau gurat saat itu adalah Sriwedari, Bokor Mengkurep dan Semen Rantai. Judul-judul motif yang terdengar eksotis.

Masih di Kedunggudel, sensasi batik juga teruar dari rumah Eyang Sutomulyono. Ketika diajak ibu saya, Sukarni, untuk bersilaturahmi dengan beliau, segera terlihat jajaran lemari berkaca di ruang tamunya. Ketika memasuki pintunya di sisi, timur, kita harus menaiki undakan cukup tinggi. Dapat dimaklumi, rumah harus dibuat tinggi karena saat itu banjir masih menjadi langganan Kedunggudel.

Almari-almari berkaca dari rumah tembok yang berada di sebelah barat pasar Kedunggudel ini penuh dengan jajaran jarik atau kain batik. Koleksi itu menunjukkan status terhormat sekaligus status kekayaan dari sang empunya kala itu.


Kuli usung-usung batik. Bau malam batik juga kuat terpancar dari Pasar Klewer. Pada tahun 1974-1979 saya tinggal di Tamtaman, Baluwarti Solo, di bagian rumah milik Eyang Laksmintorukmi. Beliau adalah mantan istri Bupati Wonogiri, garwo ampil PB XI dan sekaligus guru tarinya Guruh Sukarnoputra. Eyang Laksmintorukmi ini adalah juga seorang pembatik.

Dari rumah ini, ketika ibu saya mampir untuk bersilaturahmi dengan Bu Wiryo (juga pembatik), pemilik kamar tempat saya kos yang masih di lingkungan komplek rumah eyang Laksmintorukmi itu, saya kemudian rutin menemani ibu ke Klewer. Berurusan dengan batik.

haswosumarto,endang markiningsih,wiranto,menikah

Kajen-Tekaran Jaman Dulu. Nampak ibu saya Sukarni (duduk depan paling kanan), bapak saya, Kastanto Hendrowiharso, bersama keluarga Sukirman Haswosumarto saat pernikahan Endang Markiningsih dan Wiranto di Selogiri. Saya yang menjadi juru potret perhelatan saat itu.

Ibu saya bisa terkait kain batik, karena semata beliau menjualnya. Beliau membuka bisnis pakaian dan komoditi sejenisnya di Kodim 0728 Wonogiri dan lalu di Kantorpos Wonogiri. Tempat kulakan-nya, termasuk kain batik, di Pasar Klewer itu. Saya jadi tukang usung-usung, mengikuti kemana beliau mblusuk-mblusuk lorong pasar terkenal itu. Ketika tahun 1980 saya berkuliah di Jakarta, Broto Happy Wondomisnowo yang menggantikan status sebagai tukang usung-usung kemudian.

Persinggungan menarik antara warga Trah Martowirono dengan batik, rupanya berlanjut. Hingga kini. Dengan beragam wujud dan konteks terkait karier dan pilihan hidup masing-masing.

Laskar biru alami. Misalnya, masih ingatkah Anda akan salah satu sesi dalam reuni Trah Martowirono XXII di Wonogiri ? Saat itu Dr.Ir. Edia Rahayuningsih, MS (foto,baju biru) yang mengajar di Teknik Kimia Universitas Gajahmada telah memperkenalkan serbuk pewarna alami blue indigo untuk kain batik yang ramah lingkungan. Merek dagangnya Gama Blue Indigo ND.

Produk yang sama bisa kembali saya temui saat berlangsungnya Gelar Expo UMKM Kota Yogyakarta itu. Bahkan saya ikut mempraktekkan kegunaannya. Warna gemilang dari sapu tangan biru “Trah Martowirono” merupakan bukti dari keandalan pewarna alami dari tanaman indigofera tinctoria tersebut.

shinta pratiwi,dyah suminar,batik jogja untuk  indonesia

Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, sesudah meresmikan acara berkeliling mengunjungi stan yang ada. Ia sempat memperoleh cenderamata sebuah dasi bermotif batik dari Gama Blue Indigo ND. Bahkan secara spontan mencetuskan anjuran agar PNS di lingkungannya mengenakan dasi bermotif batik. “Bukan yang buatan Pierre Cardin,” katanya.

Dasi kreasi Gama Blue Indigo ND berwarna biru, yang langsung dicoba saat itu, menjadi serasi karena Pak Wali dan juga istri memakai baju bernuansa biru. Nampak dalam foto Ibu Walikota, Hj. Dyah Suminar, diapit Shinta Pertiwi, ST (kiri) dan Antik Anggreni di stan Gama Blue Indigo ND.

Batik Dasamurka. Dari Yogya, kita pindah ke Solo. Arak-arakan Solo Batik Carnival (SBC) a la karnaval legendaris Rio de Janeiro yang diusung Pemkot Solo menjadi arena persinggungan kreatif bagi warga Trah Martowirono lainnya.

Yaitu : Mayor Haristanto, termasuk kedua putrinya, Ayu Permata Pekerti dan Lintang Rembulan. Tentu saja, terkait batik.

Selama dua kali penyelenggaraan SBC, 2008 dan 2009, Mayor selalu ikut berparade dengan menyajikan kostum batik yang ia beri label “Dasamurka.” Dengan penampilannya itu ia ingin menunjukkan kemarahan terhadap problema salah urus yang membuat negeri makmur ini justru mengakibatkan banyak rakyatnya sengsara kehidupannya.

Harian The Jakarta Globe (22/7/2009) secara khusus menulis : “Mayor was the man who wore the most outlandish costume at the Solo Batik Carnival in Central Java on June 28th – a tunic fashioned out of red and gold ribbons, patches and braid, with a matching headdress and shield and spikes pointing out like a Catherine wheel firework.”

mayor haristanto,sbc 2009,republik aeng-aeng

Nampak dalam foto ketika dirinya mengenakan kostum itu saat diprofilkan di koran Suara Merdeka (7/8/2009) dengan judul : Berjuang Untuk Kebaikan.

Di bawah panji Republik Aeng Aeng, ketika eforia menggelegak saat diakuinya batik sebagai warisan dunia bukan benda asal Indonesia oleh UNESCO, ia pernah menyelenggarakan aksi massal anak-anak pelajar melukis motif batik di aspal di Solo.

Gebrak di batik dunia maya. Terkait penyelenggaraan Solo Batik Carnival 2009, saya sendiri meluncurkan ide futuristik yang terjangkau. Saya telah menulis artikel berjudul “SBC, Gebraklah Publikasi Dunia Maya !” di harian Solopos (22 Juni 2009).

sbc,solopos,bambang haryanto,media sosial

Saya tulis, “Ketika karnaval SBC berjalan, saya membayangkan kejadian menakjubkan seperti dikisahkan oleh ahli strategi Internet, John Blossom, asal AS. Dalam situs yang menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), ia bercerita tentang suasana peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu.

Kiprah ribuan penonton yang sekaligus “wartawan” itu, dengan bersenjatakan media jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal adanya.

John Blossom menulis : ‘Di tengah kerumunan itu stadion riuh berhias pendar-pendar nyala layar telepon genggam. Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggam mereka. (Fenomena ini) menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian dari selebrasi diri kita sebagai umat manusia.’

Solo Batik Carnival pasti juga merupakan bagian dari selebrasi warga Solo atas batik sebagai karya kebanggaan budaya mereka. Saya memimpikan dan membayangkan betapa dahsyat bila rasa bangga itu, baik sebagai pelaku sampai sebagai saksi dari arak-arakan megah yang mempertontonkan karya kreatif dalam karnaval SBC itu, dapat secara masif mereka ceritakan secara bersama-sama kepada dunia.

Tujuan akhirnya : Solo yang lebih kuncoro bukankah mampu mendatangkan maslahat bagi seluruh warganya ?”


Batik ikan buas. Simpul-simpul kenangan dan kiprah warga trah kita terkait dengan batik, bermuara di Gedung UMKM Yogyakarta ini, 4-6 Desember 2009. “Dik, apa bisa bergabung ?,” demikian tulis SMS Mas Untung Suripno kepada saya, 30/11/2009.

Saya tiba di “keraton” Banguntapan, Rabu, 2 Desember 2009. Langsung diajak kru Cipta Gatra ke lokasi pameran di Jalan Taman Siswa. Frederico Ario Damar nampak memimpin para anak buahnya, membangun belasan booth dan panggung untuk keperluan peserta pameran dan upacara pembukaan.

Bagi saya, ini ajang untuk mempelajari hal-hal baru. Buku-buku milik Balai Besar Batik dan Kerajinan Yogyakarta, sempat saya baca-baca. Termasuk mengetahui bahwa pohon alpukat di belakang rumah di Kajen itu juga merupakan sumber pewarna alami untuk batik. Bahkan lombok, juga bisa. Saya pun mengetahui mengapa muncul istilah batik wonogiren dalam dunia batik Indonesia.

Skripsi dari ISI yang dibawa Ibu Irawani, juga sempat saya buka-buka. Ada topik skripsi menarik, yang membincangkan ikan piranha sebagai sumber inspirasi motif batik. Dengan Sutik dari Cipta Gatra, sempat saya obrolkan : mengapa Arwin Hidayat, penulisnya, tidak memilih gereh atau lele saja, sebagai inspirasi motif batik Indonesia? Nanti batik bermotif ikan piranha itu akan disebut sebagai batik Indonesia atau batik Brasil ?

Yang juga menarik, dalam acara tersebut terdapat lima pengusaha batik di Yogyakarta yang akan mendaftarkan merk produk mereka. Pendaftaran tersebut difasilitasi oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta bersama Klinik Hak Kekayaan Intelektual Provinsi DIY.

untung suripno,dekranas yogyakarta

Dalam pertemuan dengan lima pengusaha batik itu, yang dihadiri Ibu Ny. Hj. Tri Kirana Muslidatun, S.Psi, istri Wawali Yogyakarta dan Wakil Ketua Dekranasda itu (foto atas), Mas Untung Suripno hadir sebagai aktor pendamping bagi UMKM untuk pendaftaran merek mereka. Selama ini salah satu kiprahnya adalah menjadi nara sumber untuk topik tersebut.

erry untung suripno

Sementara mBak Erry dan kawan-kawan pada hari kedua, 5/12/2009, juga menyempatkan berkunjung ke pameran. Nampak mereka sedang berbincang di stan batik Winotosastro.

Ketika mengobrol secara lesehan di warung hik di kawasan Gembiraloka, sambil beranda-andai terdapat ribuan UMKM (di Yogya sendiri terdapat 18.000 UMKM) yang kelak tergerak untuk mendaftarkan merek-merek mereka, medan satu ini merupakan bidang usaha yang menantang di masa depan.

Merupakan persilangan antara bisnis, hukum, sastra sampai desain grafis. Termasuk, sambil guyon, upaya jualan saran terkait seluk-beluk ritual nglakoni poso senin-kemis guna menemukan nama merek yang mampu ngrejekeni bagi pemiliknya.

Saya teringat ujaran teman Facebook saya, pakar bisnis kreatif dari Inggris, David Parrish, yang mengatakan kredo menarik : jangan menjadi pionir yang malang dan melarat. Inti pesannya : lindungi kreasi kreatif Anda, baik dengan paten, hak cipta atau pun pendaftaran merek milik Anda.

Trah kita bagi batik dunia. Hari Sabtu sore, 5/12, saya minta pamit untuk kembali ke Wonogiri. Saya hanya bisa pamit kepada Bunga Persada. Dengan diantar Mas Untung, saya nyengklak bis untuk pulang menuju Solo. Syukurlah, saya masih bisa mengejar bis terakhir, Solo-Batu, menuju Wonogiri.

Ketika saya mencari tahu apa masih ada bis Solo-Praci, karena rutenya meliwati Kajen, muncul jawaban menarik.

Sopir yang melayani taksi gelap, menyatakan tidak ada. Ia pun lalu menawarkan taksinya. Seseorang lain juga menyatakan tidak. Ia menyarankan saya untuk menginap di losmen Solo (“murah,” katanya) dan naik bis jurusan Praci, esok jam 4 pagi. Sementara pedagang asongan bilang, masih ada bis itu, Serba Mulya. Semua orang memberikan saran yang terkait dengan keuntungan yang bakal mereka raih.

Wajarlah. Mau tak mau, saya harus naik saja bis jurusan Solo-Batu itu.

Ketika bis Jaya Guna tersebut jalannya rada merambat karena Solo diguyur hujan, lamat-lamat saya masih mendengar beberapa baris kalimat yang saya tulis di Kajen dan menjadi materi pidato sebagian pejabat dalam acara di Jalan Taman Siswa itu. Itulah salah satu sumbangan kecil saya, atas fasilitasi Mas Untung, betapa kita warga Trah Martowirono punya budaya memberi. Kali ini mampu ikut pula memajukan batik Indonesia.

Saya tiba di rumah Kajen, jam 20.30. Saya lalu mengirim SMS ke Mas Untung bahwa saya sudah tiba kembali di Wonogiri. Dengan selamat.


Wonogiri, 6-8/12/2009


trahmar