Wednesday, March 03, 2010

Naisbitt, Tenis dan Trah Martowirono



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


“Bagaimana Anda membaca surat kabar ?”

Futuris tersohor John Naisbitt dalam bukunya Mind Set ! (2007) mengajukan pertanyaan itu. Ia pun lalu menjawabnya sendiri.“Saya membaca surat kabar mulai dari belakang ke depan, didahului dengan halaman olahraga.”

Alasannya, karena ia memang suka olahraga. Tetapi ada tambahan yang tidak kalah penting, dirinya memiliki prasangka bahwa laporan olahraga merupakan berita yang paling dapat diandalkan. Semakin ke halaman depan, tingkat kendalan berita semakin menurun. Sebagai contoh, berita bahwa tim Boston Red Sox mengalahkan New York Yankees 7-3, kita hampir 100 persen yakin bahwa memang demikianlah kenyataannya.

Kalau berita-berita hiruk-pikuk politik, di halaman depan, bagaimana ? Ia menyimpulkan, “memang sudah menjadi naluri manusia untuk memelintir berita ke arah kesimpulan yang diinginkan.”


Olahraga dan trah kita. Analisis John Naisbitt di atas mungkin relevan dengan kiprah dan kecintaan terhadap nilai-nilai olahraga bagi warga Trah Martowirono. Karena tidak sedikit yang menyukai olahraga.

Bunga Citra Persada dari Yogya, suka main basket. Baroto nDandung, dulu suka mengejar-ngejar bulu angsa. Dari Yogya, siapa yang suka sepakbola : Intan atau Mutiara ? Yoga dari Ngadirojo dan Yashika dari Kajen kini menekuni olahraga taekwondo. Basnendar pendiri klub Bola Basket Kajen Club.

Mayor Haristanto yang baru saja ikut Cingay Parade di Singapura, ikut mendirikan kelompok suporter di Solo, Makasar dan Pekanbaru. Broto Happy Wondomisnowo, suka sepakbola, bulu tangkis, dan menjadi redaktur sepakbola nasional di Tabloid BOLA. Bambang Haryanto yang buku komedinya akan segera terbit oleh Penerbit Etera Imania Jakarta itu tercatat di MURI :-) sebagai pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000).


Deretan fakta di atas kini diperkaya dengan data terbaru : Nuning atau Bhakti Hendroyulianingsih, nenek dari Nabila, dan putranya Yudha Arditya Banar Nugraha, kini masuk dalam jajaran pengurus cabang olahraga yang mereka terjuni untuk Kabupaten Wonogiri.Olahraga tenis lapangan.

Sekedar kilas balik : Yudha pernah menekuni olahraga bulutangkis. Lalu pindah ke tennis. Dalam Kejuaraan Tingkat Nasional Tahun 2000 di Nusa Dua, Bali, ia meraih prestasi juara tunggal putra dan juaga ganda putra untuk kelompok umur 16 tahun.

Olahraga tenis, juga mampu mengikat lebih erat tali silaturahmi trah kita. Walau secara tak sengaja. Nuning pernah bercerita dalam acara Reuni Trah 2009 di Yogyakarta, bahwa timnya pernah bertanding melawan timnya Ibu Suharti Priyono dari Gayam, Sukoharjo. Konon yang menang dapat bonus mandi lulur dan layanan spa di Salon ASTI, Sukoharjo.

Pada lain kesempatan, di hall tenis Wonogiri ia bertemu Ibu Retno Winarni dan Pak Agus dari Solo. Kali ini tidak bertanding, karena yang menang konon akan dapat hadiah kotak ATM bank ternama tempat Pak Agus bekerja. Karena dengan syarat : ambil dan membongkar sendiri.

pelti wonogiri 2010-2015

Mendongkrak prestasi Wonogiri. Berdasarkan Surat Keputusan Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PELTI) Jawa Tengah No. 010/PD.Pelti/III/10 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Pengprov Pelti Jawa Tengah, Kukrit Suryo Wicaksono, Nuning menjabat sebagai Bendahara 2. Sementara Yudha, berkiprah di Seksi Perwasitan dan Pertandingan. Mungkin secara tak resmi ia merangkap sebagai bodyguard untuk mengawal dan mengamankan brankas atau dompet sang bendahara 2 Pengurus PELTI Kabupaten Wonogiri itu.


Pengukuhan pengurus PELTI Kabupaten Wonogiri itu dilangsungkan di GOR Tenis Wahana Purna Bhakti di Wonogiri, 3 Maret 2010, oleh Ketua I PELTI Jawa Tengah, H. Soenoto SK (bertopi).Beliau yang didampingi Bapak Amin Sutantyo (Kudus), menyebut acara itu sebagai “momen sakral, untuk memulai dharma bhakti dalam bingkai memprestasikan olahraga, khususnya olahraga tenis di Kabupaten Wonogiri.”

Gayung bersambut. Ketua PELTI Wonogiri yang baru, Drs. Tarmanto, MM (foto: berkaos putih), memiliki obsesi tinggi. Kalau selama ini kuat anggapan olahraga tenis sebagai rekreasi, kini akan diubah paradigmanya sebagai olahraga prestasi. Khususnya bagi atlet-atlet muda potensial yang banyak bersemi di Kota Gaplek ini.

KONI pun mendukung tekad itu. Ketuanya, Eddy Purwanto (dalam foto, berbaju batik), bahkan menabur keyakinan bahwa pengurus baru untuk masa 2010-2015 itu mampu berbuat banyak bagi kemajuan prestasi tenis di Wonogiri. “Walau maklum,” katanya, “ anggaran KONi tahun ini jauh lebih menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.”

Acara pagi itu yang dihadiri pejabat teras terkait dengan pembinaan olahraga, Bambang Haryadi (teman SD-nya Mayor Haristanto), semakin tambah gayeng karena yang hadir merupakan sebagian dari para calon kompetitor yang berpeluang maju dalam Pilbup 2010.

Ada Ma’ruf Irianto, mantan ketua PELTI yang lalu (berpeci hitam), yang ingin menjago sebagai calon bupati. Ada Sekda Kabupaten Wonogiri, Suprapto, bakal calon wakil bupati. Juga Ketua KONI, Eddy Purwanto, kandidat bakal calon wakil bupati pula. Ada gagasan, ketiganya diadu dalam ekshibisi pertandingan tenis seusai acara itu. Tetapi nampaknya, acara clash of titans tak jadi terlaksana saat itu.

pelti wonogiri 2010-2015



Susunan Pengurus PELTI Wonogiri yang baru : Penasihat : Ir. H. Suprapto, MM, Sri Wiyoso, SH, MM, Drs. Budi Sena, MM. Ketua : Drs. Tarmanto, MM.. Sekretaris : Drs Mulyanto, I Gusti Bagus Garantika, SH. Bendahara : Drs. Yatno Pratomo, Bhakti Hendro Yulianingsih.

Seksi Pembinaan Prestasi : Yoyong Anang P, SPd, Yuli Purnomo, SPd, Hendro Setyawan, AMd. Seksi Organisasi : Maryanto, SSos, MM, Dwi Hendro, SE. Seksi Pendanaan : Dwi Bowo Hartono, ST, MT, Agung Budi Utomo, ST, Katni Priyadi Hartoyo. Seksi Sarpras : drs. Heru Dadi, Supriyadi. Seksi Humas : Drs. Joko Heru S, MPd, Sutarmin, SH. Seksi Perwasitan & Pertandingan : Drs Gunawan Dwi C, MM, Dedi Adi Nugroho, SPd, Yudha Arditya B, SE.

Segenap warga Trah Martowirono mengucapkan selamat bekerja untuk Nuning dan Yudha. Sehingga kelak bila kita mendengar atau melihat prestasi atlet-atlet tenis dari Kabupaten Wonogiri mencorong dalam kancah kejuaraan unggulan, kita akan ikut bangga. Juga merasa bahagia, karena doa-doa kita agar warga trah kita berbuat bagi bagi kemaslahatan bersama telah dikabulkan olehNya.


Wonogiri, 3/3/2010

Friday, February 19, 2010

Mayor Haristanto : Dasamurka #2 dan Road to Chingay Parade Singapore





mayor haristanto,solo batik carnival,chingay parade singapura

Tanggal 17 Pebruari 2010 nanti saya ber-60 awak bertolak ke Singapura mengikuti parade karnaval internasional bertajuk Chingay Parade Singapore Rincian 40 awak berkostum Solo Batik Carnival [SBC], sisanya awak musik. Di Singapura akan bergabung mahasiswa Indonesia di Singapura dan pelajar SMA Budi Mulia Jakarta. Total sekitar 150 orang.

Tahun lalu Indonesia diwakili Pak Begug dkk dari Wonogiri yang menampilkan atraksi reog Ponorogo. Parade akan berlangsung 19-20 Pebruari 2010 di Pit Building to Singapore Flyer, arena balap Formula 1.

SBC terpilih mewakili Indonesia di kancah internasional ini diikuti ratusan negara. Solo terpilih karena keunikan dan kemegahan kostum, selain karena seluruh perancangan, beaya dan peraga kostum dibuat sendiri, beaya sendiri dan diperagakan sendiri.

Saya beruntung punya jam terbang lebih karena saya telah mengikuti SBC 1 [2008] dan SBC 2 [2009] yang diarak sepanjang 4 Km di jalan Slamet Riyadi Solo yang menyedot ratusan ribu pasang mata.

Dua bulan lalu saya mengikuti audisi dengan mengenakan kostum SBC 2 bertitel Dasarmurka #1. Semangatnya satu: menaklukkan dunia. Bersyukur saya terpilih. Namun rasanya sayang kalau saya harus membongkar-pasang kostum SBC 2 ini untuk menyesuakan ‘pasar’ Singapura, meski diperbolehkan oleh panitia dengan pertimbangan waktu sudah dekat, dan tentu agar hemat beaya.

Saya bertekad merancang kostum baru untuk menambah koleksi kostum pribadi, selain pertimbangan agar lebih mudah, ‘bebas’ dan cari aura baru untuk mewujudkan impian baru dan segar dalam proses merancang kostum. Jadilah kostum bernama Dasarmurka #2. Judul sama karena sampai kini masih sulit mencari nama baru sesuai karakter kostum.

Saya bergabung dengan SBC merupakan peserta paling tua [50 th], ada juga seorang dosen, cewek, juga berumur sama hanya bertaut 3 atau 4 bulan lebih muda. Secara umum peserta beraneka ragam, mulai pelajar SMP kelas 2, SMA, mahasiswa, peraga profesional, penari sungguhan, dosen dll.

Kenapa harus ikut SBC?

Hidup saya ditakdirkan tidak pernah lurus-lempeng. Hidup saya selalu meloncat-loncat mengikuti hati paling dalam: hati nurani. Saya tidak tahu apakah ini baik atau buruk. Yang pasti menurut saya adalah pilihan baik. Karena saya merasa mampu menikmati hidup gaya lompat-lompat.

Jagat saya selama ini yang bisa dicatat adalah pendiri, penggerak awal kebangkitan suporter sepakbola Solo, dan menjabat Presiden Pasoepati [2000-2001]. Bahkan dicatat Rekor Muri sebagai satu-satunya orang Indonesia yang ikut melahirkan 3 kelompok suporter sepakbola di Indonesia [Pasoepati Solo, the Macs Man Makassar, Asykar Theking Pekanbaru]. Pasca pensiun presiden, saya mendeklarasikan negara baru, negara antah-berantah bernama Republik Aeng-Aeng [2002 sampai sekarang].


Bergabung dengan SBC karena di SBC saya mendapatkan media untuk membebaskan diri untuk merancang dan membuat kostum sesuka saya. Saya ingin jadi orang merdeka se merdeka-merdekanya.

Sisi lain tentu saya ingin menghibur orang lain, sebanyak mungkin, sekaligus membela Solo dan membela diri pribadi, juga keluarga kecil, keluarga besar saya bahwa saya haru hebat dan ruaaarrr biasa! Insya Allah. Mohon doa restu!

Berita kecil, berita gembira. Kalau tak ada aral bersamaan saya bertolak ke Singapura, 17 Pebruari 2010, jam 09.00 di Balaikota Solo saya mendapat anugerah bintang sebagai salah satu 7 warga Solo terbaik dalam rangka ultah Solo ke 265. Penerima isteri saya Nanie bersama anak-anak: Ayu dan Lintang. Berkah luar biasa!

Nanie akan menyusul ke Singapura 19 Pebruari 2010.


Salam,
Solo, 15 Pebruari 2010
Mayor Haristanto
Hp 08122594020

trah

Agar Tidak Hilang Dalam Sejarah




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com



Pesan Pram. “Apabila kau berhenti menulis, kau akan hilang dalam pusaran sejarah.”

Itulah kata dari pengarang ternama Indonesia, Pramudya Ananta Toer. Beruntunglah kita kini, di era Internet ini. Kita dapat menulis, mengekspresikan diri dalam pelbagai media sosial. Blog, Twitter sampai Facebook.

Saya masih menggunakan cara kuno.
Menulis surat pembaca di koran-koran.

Dimulai dari tahun 1973. Hingga kini. Bahkan juga mendirikan komunitas penulis surat pembaca se-Indonesia sehingga tercatat di Museum Rekor Indonesia, 27 Januari 2005. Sekaligus memproklamasikan hari itu sebagai Hari Epistoholik Nasional.

Otot otak kita. Pada peringatan 5 tahun deklarasi hari itu saya memperoleh kado indah. Profil dan kiprah salah satu warga Trah Martowirono yang jomblo abadi ini telah muncul di Koran Tempo, Kamis, 29/1/2009. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi sesama warga trah : ayo menulis,menulis dan menulis.

Jangan hanya puas atau berhenti menulis uneg-uneg, curhat atau komentar-komentar dangkal, yang tidak begitu banyak memeras konsentrasi untuk melatih otot-otot otak kita. Sayang sekali, bila karunia Allah yang demokratis itu hanya kita gunakan untuk berfoya-foya bagi hal remeh temeh.

Hal trivia semacam itu mudah sekali dilupakan oleh sejarah !

Catatan : sebuah artikel senada yang ditulis oleh penulis buku produktif dan laris, Andrias Harefa, Agar Tak Hilang, menarik untuk kita jadikan inspirasi bagi semua warga trah kita.



Wonogiri, 31/1/-20/2/2010

Thursday, January 21, 2010

mBah Sus, Trah Karmo Kertiko, Dan Masa Depan Bersama




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Dongeng Kancil. Rumpun bambu itu mudah mengingatkan dongeng tentang Nabi Suleman.

Dalam fabel atau dongeng terkait binatang, nabi satu itu yang konon mampu berbicara dengan hewan telah berkali-kali menjadi “kambing hitam” bagi binatang kancil untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman harimau.

Kita tahu, kancil melambangkan binatang yang kecil, lemah, tetapi cerdik. Termasuk ketika ia julig menggunakan akalnya, yang berbau tipu muslihat, mememanfaatkan rumpun bambu sebagai senjata untuk berkelit dari ancaman sebagai mangsa sang macan.

Konon, si kancil lagi apes. Ia kepergok macan ketika sedang berjalan di antara rumpun pohon bambu. Ia mendengar, ketika dihembus angin, bambu-bambu itu saling bergesekan, memperdengarkan suara geritan yang berirama. Kancil saat itu tak bisa melarikan diri dari kejaran macan. Kancil berkata, ia menyerah.

Tetapi sebelum mati, ia meminta agar si macan itu mau meniup seruling Nabi Suleman sebagai penghiburan yang terakhir baginya. Kancil menunjuk suara-suara derit bambu yang berirama itu.

Macan setuju. Ia lalu menurut saja ketika dibimbing kancil untuk mendekati pohon-pohon bambu yang bersilangan. Kata kancil, untuk bisa meniup seruling, si macan harus menempatkan lidahnya di antara bambu-bambu itu. Kebetulan saat itu angin lagi reda.

Kancil pun lalu sedikit menjauh. Ketika terdengar angin kuat akan berhembus, ia pun berteriak kepada macan agar bersiap-siap menempatkan lidahnya. Begitulah, saat angin berhembus, justru tak terdengar derit musik pohon bambu. Yang terdengar justru raung kesakitan dari si macan. Lidahnya pun putus dan ia menemui ajalnya.

Rumpun bambu ori yang memicu fantasi masa kecil saya itu terletak di bagian belakang rumah mBah Dung di Kedunggudel. Selain terdapat sumur, kamar mandi, jamban, pohon kedondong besar, juga deretan rumpun pohon bambu. Di utara rumpun bambu itu terdapat rumah tembok milik orang lain. Seingat saya, rumah itu tidak berpenghuni.

Pada sisi timur pekarangan rumah tembok ini yang berbatasan dengan jalan, terdapat pagar yang terbuat dari bata. Pagar ini mudah memicu fantasi sebagai “tembok Cina” yang terkenal itu. Karena ketika hendak pergi ke pasar, karena jalan bagian utara rumah mBah Dung itu selalu kronis berlumpur, maka satu-satunya jalan agar terhindar dari lumpur adalah dengan meniti di atas pagar tembok ini.

Bisnis binatu. Turun dari tembok sudah ditemukan jalan yang relatif kering. Belasan meter kemudian, kita sudah dapat menemukan rumahnya mBah Sus. Kalau belok kanan ke arah pasar, akan melewati rumahnya mBah Harjo. Siapakah mereka ?

Menurut cerita Bu Minten yang ibunya Titis dan Nugroho, yang saya temui di Kedunggudel saat kami bersilaturahmi Lebaran 2009, pada tanggal 21 September 2009, terdiri dari saya, Bari, Nuning dan Taufik, telah diwedar silsilah dari mBah Martowirono Kakung.

Ternyata mBah Martowirono Kakung adalah putra pertama. Beliau wafat tanggal 11 Desember 1972. Adik beliau adalah Darmowantoro, terkenal sebagai produsen karak. Kemudian mBah Suhardjo/Tasripin, ayah dari Om Muhyidin, Lik Sukarsih yang meninggal dunia di Wuryantoro saat menjadi pembantu bapak dan ibu dalam kecelakaan kebakaran, lalu Om Mulyono almarhum. Urutan keempatnya adalah Eyang Putri Asmuri, dan terakhir, mBah Susilo.

Seingat saya, mBah Sus itu memiliki bisnis binatu. Begitu memasuki rumah, di sisi kanan rumah terdapat pohon mangga, di bawahnya terdapat gentong padasan untuk berwudlu. Di sisi kanan rumah banyak tumbuh pohon belimbing.

sukarni kastanto hendrowiharso dan anak-anak

Dalam foto nampak mBah Sus memakai peci putih. Berdiri dari kiri : Broto Happy, Bari Hendriatmo, Budi Haryono, ibu saya Sukarni Kastanto Hendrowiharso, Bastion Hersaptowiningsih, Bonny Hastutiyuniasih, dan paling kanan saya, Bambang Haryanto. Posisi duduk dari kiri : Betty Hermisnawaningsih, mBah Sus kakung, Basnendar Heriprilosadoso dan mBah Sus Putri. Foto diambil, datanya tidak tercatat.

Seingat saya, saat itu saya memakai kaos dengan logo Case Western Reserve University dari Michigan, Ohio, AS. Kaus itu oleh-oleh dari dosen saya, Prof. Sulistyo Basuki dari Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, yang pada tahun 1984 menyelesaikan gelar doktornya. Mungkin foto itu diambil pada tahun 1985.

Keluarga Uncle Sam ! Kenangan tentang mBah Sus itu semoga menjadi relevan bila warga Trah Martowirono dapat mengingat kembali suasana dan para kerabat yang hadir dalam acara reuni Trah Martowirono XXII/2008, 5 Oktober 2008, di Kajen,Wonogiri.

Saat itu, sebagai tamu kehormatan telah hadir keluarga Trah Bangin Martosuwiryo, yaitu Bapak Bawarto dan saudara (Wonogiri), keluarga Agus Budi Santoso dan Ibu Retno Winarni dari Solo, dan tak bisa dilupakan adalah rombongan Ibu Sukamti Samsu Harsosuwiryo beserta putra-putri dari Solo dan sekitarnya. Mereka kita kenal sebagai “rombongan Baturono” dari Solo.

Ibu Sukamti adalah putri dari mBah Susilo. Komisaris Toko Kawan Kita Pojok Baturono Surakarta yang memiliki hobi karawitan hingga pengajian ini, menikah dengan Bapak Samsu Harsosuwiryo dan telah dikaruniai 10 putra dan putri.

Kerabat kita tersebut adalah : 1. Sri Samtini (almarhumah), 2. Ir. Sri Samtuti, 3. Ir. Joko Samtono, 4. Drs. Sam Hudiyanto, 5. dr. Sam Eddyanto, Sp.KJ., Mkes, 6. Sam Agus Indriyanto, SH, 7. Sri Samtari, SPd, 8. Sam Indah Wartini, SPd, 9. Sam Agus Heru Subagio, dan, 10. Sam Koniatun, SH.

Mereka semua produk domestik. Jadi tidak ada kaitannya dengan sutradara film Sam Peckinpah atau sebutan Uncle Sam bagi negerinya Barack Obama. Juga tak ada kaitannya dengan Sam Po Kong, yang terkenal di Semarang itu. Mungkin ada yang cakap bernyanyi lagu-lagu relijius, tetapi jelas tidak ada pula hubungannya dengan Sam Bimbo.

broto happy,sam hudiyanto

Pin trah. Kontingen Baturono ini sudah dua kali hadir dalam pertemuan trah Martowirono yang berlangsung di Wonogiri. Kehadirannya membuat mongkog semua warga trah kita. Untuk memperat persaudaraan, nampak juru bicaranya, drs. Sam Hudiyanto (kaus bergaris biru) memperoleh cenderamata berupa pin trah kita, diserahkan oleh Broto Happywondomisnowo.

sam hudiyanto,kristiyo sumarwono

Tali asih silaturahmi. Kontingen Baturono dalam kesempatan silaturahmi tersebut juga menyumbang dana. “Jangan dilihat nilainya, tetapi lihatlah sebagai tanda cinta, tanda peduli, tanda gembira, karena memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan sesama saudara,” tutur Drs. Sam Hudiyanto saat menyerahkan amplop yang diterima Bapak Kristiyo Sumarwono (Yogya).

sam indriyanto sh,trah martowirono

Kibarkan Merah Putih. “Jauh-jauh dari Karanganyar kok diminta untuk berlatih kayak Paskibraka, berfoto dan melambaikan bendera merah putih.” Mungkin itu kata hati Bapak dan Ibu Sam Agus Indriyanto, SH, ini. Tetapi nampak bendera nasional kita tersebut menjadi aksen yang serasi dalam potret, juga menjadi pengikat trah kita sebagai warga negara untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara tercinta kita ini.

nuning,trah baturono

Keakraban keluarga. Selaku tuan rumah, Bhakti “Nuning” Hendroyulianingsih (berbatik, kiri) sedang berbincang akrab saat menjamu rombongan putri dari kontingen Baturono ini.

Keterangan foto, dari kiri (depan): 1. Sri Samtari, SPd., guru SMA Al-Islam I Surakarta (PNS), 2. Sam Indah Wartini, SPd., guru SLB, dan 3. Sam Koniatun, SH.

Jajaran belakang, dari kanan: 4. Kiki, anak pertama Drs. Sam Hudiyanto, kuliah HI-UGM Yogyakarta, 5. Fidyani Samantha, anak pertama dr. Sam Eddyanto, Sp.KJ., Mkes, sekarang duduk di kelas III SMAN I Sukoharjo yang bersiap memasuki bangku kuliah, kemudian 6. Hanna, anak kedua dari Sri Samtari, SPd., kini masih belajar di kelas III SMP Al-Islam Surakarta.

Semoga pertemuan tahunan ini semakin membuka mata dan hati kita bahwa banyak saudara yang dapat disegarkan keterkaitannya dalam silaturahmi tahunan semacam ini.


Dipererat di dunia maya. Silaturahmi antar trah tersebut kini semakin dipermudah dengan hadirnya media-media sosial, seperti blog sampai Facebook. Sungguh suatu kegembiraan, dalam emailnya tertanggal 20 Januari 2010, dr. Sam Eddyanto, Sp.KJ., Mkes telah memberitahukan hal menarik :

“Assalamu'alaikum, gimana kabar Mas Bambang, saya beberapa kali membuka Blog Trah Martowirono. Sangat bagus penampilannya, sangat profesional.

Terus terang saya baru belajar membuat blog juga untuk trah di Solo, yaitu Trah Karmo Kertiko dari silsilah Bapak Samsu Harsosuwiryo. Mohon ijin Mas Bambang saya pasang Blog Trah Martowirono sebagai Blog Tamu, siapa tahu ada yang berminat untuk membuka-buka salah satu contoh Blog Trah yang cukup serius digarap dan eksis sudah lama dan banyak ketawanya ....

Terima kasih, wassalam.”

Terima kasih pula, dik Eddy. Sesama blog memang wajib ain untuk saling membuat link, tautan. Saya sudah pula membuat tautan tersebut, juga memberikan komentar dan dukungan. Pada artikel seputar Gus Dur, Bulik Sukamti, dan juga pada buku tamu.

Untuk warga Trah Martowirono lainnya, silakan kunjungi Blog Trah Karmo Kertiko ini. Silakan pula memberikan salam dan komentar. Untuk meneguhkan bahwa di antara kiat terdapat persaudaraan yang diikat oleh para leluhur kita di masa lalu.


Juga diikat oleh tujuan mulia bersama dalam mengarungi masa kini dan masa depan. Yaitu sama-sama ingin membaktikan diri kita dan karya-karya kita bagi kemaslahatan bersama.


Wonogiri, 22 Januari 2010

trm

Friday, December 18, 2009

Trah Martowirono, 19 Desember : 1987-2009




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Antara Madrid dan Martowirono. Pemain sepakbola asal Perancis itu kini “masuk” sebagai warga Trah Martowirono.

Bahkan upacara “kemasukan” dia tersebut mungkin dipestakan di markas timnya hari ini, 19 Desember 2009. Markas itu adalah stadion Santiago Bernabeu di kota Madrid yang ibukota Spanyol.

Sungguh suatu kebetulan bahwa salah satu pusat magnet sepakbola Eropa dan dunia tersebut pernah dikunjungi oleh salah seorang warga trah kita, Broto Happy Wondomisnowo. Siapa pesepakbola asal Perancis dan mengapa ia bisa “masuk” sebagai warga trah kita ?

Dia adalah pemain yang bernomor punggung 10, asal Perancis. Namanya : Karim Benzema. Ia lahir tanggal 19 Desember 1987. Pada tanggal yang sama, di belahan bumi lain, tepat dilangsungkan reuni pertama warga Trah Martowirono. Di Kedung Gudel, Kenep, Sukoharjo. Jawa Tengah. Indonesia. Asia. Itulah dua simpul yang menarik, yang bisa menalikan kaitan antara Madrid dan Martowirono.


Vertikal ke horisontal. Saya tidak hadir pada acara tersebut. Sepertinya saat dilangsungkan kebetulan tidak berdekatan dengan hari raya Lebaran, seperti tradisi reuni trah kita yang mutakhir.

Saat itu saya tinggal di Jakarta. Tanggal itu saya catat daam buku harian saya : saya lagi gantian :mengunjungi rumah “har” di Teluk Gong, Jakarta Barat. Mahasiswi artistik ini saat itu belajar di Desain Produksi Universitas Trisakti, Jakarta. Sayangnya, dia kemudian tidak berhasil saya ajak untuk bergabung sebagai warga trah kita ini.

Foto-foto. Dan cerita. Reuni pertama trah kita itu terekam di benak saya dari sumber foto-foto yang sempat saya lihat. Juga dari prasasti kain yang ditandatangani warga trah kita yang hadir. Foto-foto liputan momen itu ditempel di papan, dibingkai plastik, bersama prasastinya, telah dipajang di rumah mBah Dung. Tempatnya di gebyog sisi timur laut ruang tamu, di dekat pintu menuju bango dan juga ke dapur.

kedung gudel,trah martowirono,sukarni

Foto reuni ?. Foto ini saya jepret sekitar tahun 1980-an dengan kamera SLR Zenith, buatan Cina. Nampak Eyang Martowirono Putri (kiri) dan Eyang Darmowantoro Putri (kanan). Suami Eyang Darmo ini adalah adik nomor dua dari eyang Martowirono Kakung. Tengah, ibu saya, Sukarni Kastanto Hendrowiharso. Saya tidak tahu apakah foto-foto yang berada di latar belakang beliau-beliau itu merupakan foto-foto pertemuan trah yang pertama, tahun 1987 itu.

Ada momen human interest terkait foto-foto itu. Suatu ketika saat berkunjung ke Kedung Gudel, saya menemukan ada tambahan foto baru, yang di-blesekkan di dalam bingkainya. Agak setengah “memaksa” masuk.

Ternyata itu merupakan foto keluarga Om Priyardjodriyono Markoes dan Bulik Gunarni, yang kini tinggal di Purwokerto. Keluarga ini dikarunia putra-putri : Santoso Priyo Utomo, Didut, Ida, Ririn dan Dian.

Bulik Gun, istri Om Pri yang kariernya panjang di Lembaga Pemasyarakatan, adalah putri dari Eyang Walijan Ratmowijoyo. Eyang Ratmo ini adalah adik nomor dua dari mBah Dung Putri, Jiah Martowirono. Adik terkecil dari mBah Dung Putri adalah Eyang Bangin Martosuwiryo, yang anak-cucunya, seperti Bapak Bhawarto, kini ikut pula bergabung dalam Trah Martowirono.

Jadi blesekan foto itu merupakan niat baik, di mana gugus keluarga kategori vertikal yang ingin bergabung di gugus horisontal.

Trah kita untuk dunia. Saya tidak tahu di mana arsip foto-foto lama itu kini berada. Saat itu belum ada kamera digital, sehingga untuk berbagi foto agak mengalami kendala. Berbeda dengan kini, ketika pengambilan, penyimpanan dan pengiriman foto jauh lebih mudah ketika dilakukan secara digital, sehingga catatan sejarah lebih mudah untuk disimpan.

Alangkah lebih baik, seperti yang coba saya lakukan dengan arsip-arsip foto lama dari trah kita, termasuk dengan meluncurkan dan mengelola blog ini, adalah dengan membagikannya. Informasi yang tersimpan hanyalah informasi yang sia-sia. Tak menebar berkah.

Di era sharing pengetahuan ini kita sebaiknya membagikannya kepada keluarga lainnya. Juga kepada sesama umat manusia, sebagaimana visi blog ini pula. Apalagi blog di Internet, secara teoritis, tak akan terhapus untuk sepanjang masa.

Merujuk hal itu, saya dapat mengutip ringkasan yang pernah dibuat oleh Bapak Untung Suripno :

“Pertemuan pertama : 19 Desember 1987. Pertemuan trah Martowirono dimulai pertama kali tanggal 19 Desember 1987 dan berlangsung di Kedung Gudel. Sayangnya mBah Kakung tidak dapat mengikuti karena sudah wafat.

Ibu Suripti tidak bisa mengikuti karena sudah wafat 30 November 1986. Bapak Haswosumarto tidak dapat mengikuti karena sudah wafat 3 November 1987 dan Bapak Sutejo tidak dapat mengikuti karena sudah wafat tahun 1967.

Para sepuh yang hadir adalah mBah Martowirono Putri, Bapak Sutono dan Ibu Sukarni.”

Cakrawala ke depan. Sungguh suatu prestasi dan berkah, pertemuan trah kita masih bisa lestari kelangsungannya setiap tahun. Hingga pertemuan yang ke-23, yang berlangsung di lingkungan Benteng Vrederburg, Yogyakarta, 23 September 2009 yang lalu.

Prestasi unik trah kita itu patut kita syukuri. Karena selain mampu berlangsung setiap tahun sejak tahun 1987 tersebut, kini memiliki isi, sajian, ragam sampai jangkauan yang melebar untuk mampu memberikan manfaat bagi kita bersama.

Di saat indah ini, marilah kita menundukkan kepala. Berdoa sejenak kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para leluhur kita, pepunden kita, para orang tua dan kakek-nenek yang kini tidak lagi berada di samping kita, senantiasa mendapatkan tempat yang layak disiNya.

Kita teruskan api keteladanan, nama baik dan prestasi mereka, oleh kita-kita saat ini pada jalur kehidupan yang telah kita pilih untuk menebar kemaslahatan bagi sesama. Berbanggalah sebagai warga Trah Martowirono. Berprestasilah, dan ceritakannya kepada dunia yang senantiasa menantikannya.

Cocet krusa Trah Martowirono !
Hidup, Trah Martowirono !


Wonogiri, 19 Desember 2009

trah mw

Thursday, December 10, 2009

Makna 9 dan 11 Desember Bagi Trah Martowirono



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Hari intifada. Tanggal 9 Desember 2009 kita di Indonesia heboh dengan aksi demo memperingati Hari Anti Korupsi Internasional.

Pada tanggal yang sama juga tercatat kejadian bersejarah di tahun 1990 saat Lech Walesa, pemimpin serikat buruh Solidaritas, memenangkan pemilu langsung pertama Polandia untuk meraih kursi presiden. Pada tahun 1987 terkait konflik Israel-Palestina, pada tanggal tersebut dimulai gerakan intifada di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Pada tahun 1909 lahir di dunia Douglas Fairbanks, Jr., bintang film AS. Sedang pada tahun 1916, lahirlah bintang film yang lain, juga terkenal, Kirk Douglas, yang ayah aktor/sutradara Michael Douglas. Sonia Gandhi, politisi India kelahiran Italia, lahir pada tahun 1946.

Pemain sepakbola Perancis dan bek klub Bayern Muenchen, Bixente Lizarazu, lahir tahun 1969. Tanggal 9 Desember 1982 adalah tanggal lahir dari atlet balap sepeda Rusia, Tamilla Abassova dan Nathalie De Vos, atlet terkenal Belgia.

Bagi warga Trah Martowirono, khususnya Taler IV, tanggal tersebut, 9 Desember 1982 itu, cukup menggugah kenangan. Karena tepat 27 tahun meninggalnya Bapak Kastanto Hendrowiharso (foto, saat beliau menjadi pengantin, tahun 1952). Beliau meninggal tanggal 9 Desember 1982 di RSUD Wonogiri dalam usia 54 tahun.


Menuju bulan. Peristiwa bersejarah terjadi pada dua hari kemudian, tetapi 10 tahun sebelumnya. Tepatnya, tanggal 11 Desember 1972.

Dunia mencatat usaha manusia menjelajah ruang angkasa. Yaitu : pendaratan wahana ruang angkasa Apollo 17 yang menjadi misi Apollo yang keenam untuk mendarat di bulan.

Itu terjadi di Amerika Serikat. Sementara di belahan dunia yang lain, pada tanggal yang sama, adalah saat meninggalnya Eyang Kakung Martowirono (foto atas). Beliau wafat hari Rebo Legi, 11 Desember 1972, di rumah Kedunggudel. Hari ini kita memperingati 37 tahun meninggalnya beliau.

Tanggal yang sama pada tahun yang lain tercatat, Che Guevara berpidato di depan Sidang Umum PBB di New York (1964). Protokol Kyoto yang mengatur emisi gas rumah kaca demi mencegah bahaya pemanasan global ditandatangani (1997).

Juga ditangkapnya Bernard Madoff, bankir AS, yang melakukan penipuan finansial memakai rumus Ponzi, alias penggandaan uang secara berantai, menimbulkan kerugian sampai 50 milyar dollar. Ia kini dihukum 150 tahun penjara (2008).

Tanggal yang sama pada tahun 1940 adalah tanggal lahirnya David Gates, musikus dari kelompok Bread. Lagu-lagu indahnya antara lain “Aubrey,” sampai “Make It With You.”

Politisi AS dari Partai Demokrat, John Kerry yang gagal bertarung vs Bush, lahir pada tahun 1943.

Kembali ke Kedunggudel. Saat itu, saat Eyang Martowirono wafat, saya duduk di kelas 2 STM Negeri 2 Yogyakarta. Menjelang Eyang Martowirono wafat, seingat saya, saya dan Ibu Endang menyapa beliau di tempat tidur.

“Mbah Kakung, ini Bambang. Mbah Kakung, ini Endang,” kira-kira begitu. Hanya itu saja yang saya ingat. Saya tidak tahu apakah pada saat itu pula beliau wafat dan dimakamkan.

Tetapi rumah Kedunggudel itu menyimpan banyak kenangan. Di rumah itu, bagi saya, banyak bacaan menarik. Dari buku Babad Pacitan, majalah Sosiawan keluaran Departemen Sosial, sampai tumpukan majalah berbahasa Jawa, Penyebar Semangat.

Di majalah ini yang saya sukai adalah komik Panthom dan kartun Pak Klombrot. Leluconnya seperti orang kejatuhan buah kelapa. Lelucon jadul.

Selamat jalan, Pak Kastanto. Selamat sejahtera, mBah Kakung Martowirono. Semoga kedua pepunden itu kini senantiasa sejahtera di sisi Yang Maha Kuasa. Para keturunanmu kini bangga membawa misi hidup masing-masing, dengan bangga senantiasa mengibarkan nama keduanya..

Untuk kebaikan sesama. Di mana-mana.


Wonogiri, 11 Desember 2009.

Sunday, December 06, 2009

Batik, Bisnis dan Budaya Trah Martowirono



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Reuni trah di batik. Sikap sok tahu mudah memicu bencana. Tetapi juga bisa membawa berkah.

Di tengah suasana Gelar Expo UMKM Kota Yogyakarta dengan tema “Batik Jogja untuk Indonesia,” syukurlah saya memperoleh kedua-duanya.

Di halaman Griya UMKM Jl. Taman Siswa No. 39 Yogyakarta, tempat gelar karya batik itu berlangsung, terdapat panggung untuk demo membatik.

Tersedia beberapa carik kain, seukuran sapu tangan, yang tersedia cuma-cuma bagi pengunjung untuk mempraktekkan aksi membatik. Saya ikut mencobanya.

Beberapa saat kemudian hadir seorang bule, perempuan. Dengan sok tahu, ia saya beri kain itu dan memintanya untuk mencoba membatik. Si bule itu mendengarkan. Tetapi rekannya dari Batik Winotosastro segera memberitahu saya, bahwa si bule itu ahli membatik. Inilah bencana yang saya alami. Saya meminta maaf, dan malah terjadi obrolan.

brigitte willach

Pembatik dari Jerman. “Saya sudah membatik sejak 40 tahun yang lalu,” kata si bule yang bernama Brigitte Willach itu. Pada kartu namanya terdapat label : Batik-Atelier. Nampak dalam foto ia didampingi Shinta Pertiwi, ST (kiri) dan Antik Anggreni dari stan Gama Blue Indigo ND.

Ia berasal dari kota Hannover, Jerman. Brigitte cerita bahwa canting untuk membatik di Jawa itu merepotkannya. Brigitte cerita bahwa dirinya memiliki canting tersendiri. “Better ?,” sergah saya. “No. Just different,” jawabnya. Menurutnya, canting di Jawa itu mudah menghadirkan dot, dot, dot. Bahasa Jawanya, sering ndlodok.

Saya tergelak mendengar kisah Brigitte itu.

Karena kecelakaan berupa tumpahan malam pada kain di tempat dan dengan ukuran yang tidak direncanakan, sebuah bencana desain bila terjadi, juga baru saja saya alami. Yaitu ketika sok bisa membatik, saat membuat kacu biru “Trah Martowirono” pada foto di atas tadi. Kalau karya batik geradakan itu ketahuan Bude Tejo dari Polokarto, Sukoharjo, mungkin kuping saya sudah dijewer atas bencana desain batik seperti ini.

Blogger trah. Pada obrolan lain, Brigitte merasa heran mengapa saya yang lelaki tertarik kepada batik. Sambil bertukar kartu nama, saya menjelaskan bahwa saya seorang penulis. Blogger. Saya bercerita bahwa event organizer acara ini, Persada Promosindo Yogyakarta, adalah milik salah satu keluarga dari trah saya.

Ditambah lagi bahwa salah satu peserta gelaran ini, Gama Blue Indigo ND, dengan misi khusus memromosikan penggunaan pewarna alami untuk proses pewarnaan batik, adalah juga keluarga dari trah saya.

Saya katakan, saya yang tinggal di Wonogiri, Solo, antara lain datang untuk mendokumentasikan, dengan menulis kiprah mereka. Ia nampak memberikan apresiasi. Termasuk menyarankan saya untuk berbincang dengan Ibu Ani dari Batik Winotosastro terkait pemanfaatan pewarna alami, natural dyes, untuk produk-produk batiknya.

Nama Winotosastro ini juga terpateri di otak saya sejak kecil. Ketika duduk di SD, tahun 1960-an, bapak saya bekerja sebagai prajurit TNI-AD di Yogya. Keluarganya masih di Wonogiri. Pernah di hari-hari menjelang Lebaran beliau membawa pulang kain batik, untuk seragam bakdan bagi anak-anaknya. Seingat saya, berupa batik printing merah dengan dasar putih. Batik Winotosastro.

Kilas nostalgia semakin mengental karena Gedung UMKM itu berada di Kemantren Mergangsan. Inilah kecamatan tempat ayah saya, tahun 1960-an, pernah menjabat sebagai Komandan Koramil di kawasan ini. Kembali ke pembatik yang ramah asal Jerman tadi.

“Apakah Brigitte dalam membatik memakai pewarna alami ?”
“Tidak. Saya masih memakai kimia.”


Motif Bokor Mengkurep. Baik memakai pewarna kimia atau alami, tetapi bagi saya bau khas malam batik mampu memicu sensasi tersendiri. Mengembalikan saya ke masa lalu. Parade kenangan tentang batik itu lalu bisa menyeruak warna-warni.

Kata malam itu sendiri sempat saya celotehkan kepada Ibu Irawani, dosen Jurusan Seni Kriya ISI Yogyakarta dan putri pematung sohor Edhie Sunarso di mana bersama Ibu Pandan sebagai kurator acara itu.

Di depan mahasiswinya yang sedang demo membatik saya katakan bahwa pembatik itu dilarang bilang “selamat pagi,” “selamat siang” atau pun “selamat sore.” Mereka hanya boleh bilang : “selamat malam.”

Ah, trik ini ini disebut sebagai double entendre dalam dunia komedi guna memancing tawa.

Begitulah, bau khas malam batik dari wajan kecil berisi malam meleleh di atas kompor di halaman Gedung UMKM Yogya saat itu bisa melemparkan kenangan. Antara lain saat saya masih duduk di SD tahun 60-an. Seingat saya saat itu, warga Trah Martowirono yang saya ketahui beraktivitas membatik adalah Bude Hj.Warsiti Tejosuwarno (foto), ibunda dari Siti Fatimah, Tri Setyaningsih dan Untoro Setyabudi.

Ketika memasuki halaman rumah beliau yang halamannya berpasir dan diteduhi pohon sawo, letaknya di bagian barat laut dari rumah mBah Dung, sudah nampak pemandangan menarik.

Di rumah sisi timur, sudah nampak Bude Tejo dan ibu beliau, Eyang Trisnowiyo asyik di depan gawang atau stand untuk meletakkan kain yang sedang dibatik. Kedua beliau itu sedang membatik. Dari kontak SMS dengan Mas Parmono, motif-motif batik yang beliau gurat saat itu adalah Sriwedari, Bokor Mengkurep dan Semen Rantai. Judul-judul motif yang terdengar eksotis.

Masih di Kedunggudel, sensasi batik juga teruar dari rumah Eyang Sutomulyono. Ketika diajak ibu saya, Sukarni, untuk bersilaturahmi dengan beliau, segera terlihat jajaran lemari berkaca di ruang tamunya. Ketika memasuki pintunya di sisi, timur, kita harus menaiki undakan cukup tinggi. Dapat dimaklumi, rumah harus dibuat tinggi karena saat itu banjir masih menjadi langganan Kedunggudel.

Almari-almari berkaca dari rumah tembok yang berada di sebelah barat pasar Kedunggudel ini penuh dengan jajaran jarik atau kain batik. Koleksi itu menunjukkan status terhormat sekaligus status kekayaan dari sang empunya kala itu.


Kuli usung-usung batik. Bau malam batik juga kuat terpancar dari Pasar Klewer. Pada tahun 1974-1979 saya tinggal di Tamtaman, Baluwarti Solo, di bagian rumah milik Eyang Laksmintorukmi. Beliau adalah mantan istri Bupati Wonogiri, garwo ampil PB XI dan sekaligus guru tarinya Guruh Sukarnoputra. Eyang Laksmintorukmi ini adalah juga seorang pembatik.

Dari rumah ini, ketika ibu saya mampir untuk bersilaturahmi dengan Bu Wiryo (juga pembatik), pemilik kamar tempat saya kos yang masih di lingkungan komplek rumah eyang Laksmintorukmi itu, saya kemudian rutin menemani ibu ke Klewer. Berurusan dengan batik.

haswosumarto,endang markiningsih,wiranto,menikah

Kajen-Tekaran Jaman Dulu. Nampak ibu saya Sukarni (duduk depan paling kanan), bapak saya, Kastanto Hendrowiharso, bersama keluarga Sukirman Haswosumarto saat pernikahan Endang Markiningsih dan Wiranto di Selogiri. Saya yang menjadi juru potret perhelatan saat itu.

Ibu saya bisa terkait kain batik, karena semata beliau menjualnya. Beliau membuka bisnis pakaian dan komoditi sejenisnya di Kodim 0728 Wonogiri dan lalu di Kantorpos Wonogiri. Tempat kulakan-nya, termasuk kain batik, di Pasar Klewer itu. Saya jadi tukang usung-usung, mengikuti kemana beliau mblusuk-mblusuk lorong pasar terkenal itu. Ketika tahun 1980 saya berkuliah di Jakarta, Broto Happy Wondomisnowo yang menggantikan status sebagai tukang usung-usung kemudian.

Persinggungan menarik antara warga Trah Martowirono dengan batik, rupanya berlanjut. Hingga kini. Dengan beragam wujud dan konteks terkait karier dan pilihan hidup masing-masing.

Laskar biru alami. Misalnya, masih ingatkah Anda akan salah satu sesi dalam reuni Trah Martowirono XXII di Wonogiri ? Saat itu Dr.Ir. Edia Rahayuningsih, MS (foto,baju biru) yang mengajar di Teknik Kimia Universitas Gajahmada telah memperkenalkan serbuk pewarna alami blue indigo untuk kain batik yang ramah lingkungan. Merek dagangnya Gama Blue Indigo ND.

Produk yang sama bisa kembali saya temui saat berlangsungnya Gelar Expo UMKM Kota Yogyakarta itu. Bahkan saya ikut mempraktekkan kegunaannya. Warna gemilang dari sapu tangan biru “Trah Martowirono” merupakan bukti dari keandalan pewarna alami dari tanaman indigofera tinctoria tersebut.

shinta pratiwi,dyah suminar,batik jogja untuk  indonesia

Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, sesudah meresmikan acara berkeliling mengunjungi stan yang ada. Ia sempat memperoleh cenderamata sebuah dasi bermotif batik dari Gama Blue Indigo ND. Bahkan secara spontan mencetuskan anjuran agar PNS di lingkungannya mengenakan dasi bermotif batik. “Bukan yang buatan Pierre Cardin,” katanya.

Dasi kreasi Gama Blue Indigo ND berwarna biru, yang langsung dicoba saat itu, menjadi serasi karena Pak Wali dan juga istri memakai baju bernuansa biru. Nampak dalam foto Ibu Walikota, Hj. Dyah Suminar, diapit Shinta Pertiwi, ST (kiri) dan Antik Anggreni di stan Gama Blue Indigo ND.

Batik Dasamurka. Dari Yogya, kita pindah ke Solo. Arak-arakan Solo Batik Carnival (SBC) a la karnaval legendaris Rio de Janeiro yang diusung Pemkot Solo menjadi arena persinggungan kreatif bagi warga Trah Martowirono lainnya.

Yaitu : Mayor Haristanto, termasuk kedua putrinya, Ayu Permata Pekerti dan Lintang Rembulan. Tentu saja, terkait batik.

Selama dua kali penyelenggaraan SBC, 2008 dan 2009, Mayor selalu ikut berparade dengan menyajikan kostum batik yang ia beri label “Dasamurka.” Dengan penampilannya itu ia ingin menunjukkan kemarahan terhadap problema salah urus yang membuat negeri makmur ini justru mengakibatkan banyak rakyatnya sengsara kehidupannya.

Harian The Jakarta Globe (22/7/2009) secara khusus menulis : “Mayor was the man who wore the most outlandish costume at the Solo Batik Carnival in Central Java on June 28th – a tunic fashioned out of red and gold ribbons, patches and braid, with a matching headdress and shield and spikes pointing out like a Catherine wheel firework.”

mayor haristanto,sbc 2009,republik aeng-aeng

Nampak dalam foto ketika dirinya mengenakan kostum itu saat diprofilkan di koran Suara Merdeka (7/8/2009) dengan judul : Berjuang Untuk Kebaikan.

Di bawah panji Republik Aeng Aeng, ketika eforia menggelegak saat diakuinya batik sebagai warisan dunia bukan benda asal Indonesia oleh UNESCO, ia pernah menyelenggarakan aksi massal anak-anak pelajar melukis motif batik di aspal di Solo.

Gebrak di batik dunia maya. Terkait penyelenggaraan Solo Batik Carnival 2009, saya sendiri meluncurkan ide futuristik yang terjangkau. Saya telah menulis artikel berjudul “SBC, Gebraklah Publikasi Dunia Maya !” di harian Solopos (22 Juni 2009).

sbc,solopos,bambang haryanto,media sosial

Saya tulis, “Ketika karnaval SBC berjalan, saya membayangkan kejadian menakjubkan seperti dikisahkan oleh ahli strategi Internet, John Blossom, asal AS. Dalam situs yang menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), ia bercerita tentang suasana peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu.

Kiprah ribuan penonton yang sekaligus “wartawan” itu, dengan bersenjatakan media jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal adanya.

John Blossom menulis : ‘Di tengah kerumunan itu stadion riuh berhias pendar-pendar nyala layar telepon genggam. Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggam mereka. (Fenomena ini) menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian dari selebrasi diri kita sebagai umat manusia.’

Solo Batik Carnival pasti juga merupakan bagian dari selebrasi warga Solo atas batik sebagai karya kebanggaan budaya mereka. Saya memimpikan dan membayangkan betapa dahsyat bila rasa bangga itu, baik sebagai pelaku sampai sebagai saksi dari arak-arakan megah yang mempertontonkan karya kreatif dalam karnaval SBC itu, dapat secara masif mereka ceritakan secara bersama-sama kepada dunia.

Tujuan akhirnya : Solo yang lebih kuncoro bukankah mampu mendatangkan maslahat bagi seluruh warganya ?”


Batik ikan buas. Simpul-simpul kenangan dan kiprah warga trah kita terkait dengan batik, bermuara di Gedung UMKM Yogyakarta ini, 4-6 Desember 2009. “Dik, apa bisa bergabung ?,” demikian tulis SMS Mas Untung Suripno kepada saya, 30/11/2009.

Saya tiba di “keraton” Banguntapan, Rabu, 2 Desember 2009. Langsung diajak kru Cipta Gatra ke lokasi pameran di Jalan Taman Siswa. Frederico Ario Damar nampak memimpin para anak buahnya, membangun belasan booth dan panggung untuk keperluan peserta pameran dan upacara pembukaan.

Bagi saya, ini ajang untuk mempelajari hal-hal baru. Buku-buku milik Balai Besar Batik dan Kerajinan Yogyakarta, sempat saya baca-baca. Termasuk mengetahui bahwa pohon alpukat di belakang rumah di Kajen itu juga merupakan sumber pewarna alami untuk batik. Bahkan lombok, juga bisa. Saya pun mengetahui mengapa muncul istilah batik wonogiren dalam dunia batik Indonesia.

Skripsi dari ISI yang dibawa Ibu Irawani, juga sempat saya buka-buka. Ada topik skripsi menarik, yang membincangkan ikan piranha sebagai sumber inspirasi motif batik. Dengan Sutik dari Cipta Gatra, sempat saya obrolkan : mengapa Arwin Hidayat, penulisnya, tidak memilih gereh atau lele saja, sebagai inspirasi motif batik Indonesia? Nanti batik bermotif ikan piranha itu akan disebut sebagai batik Indonesia atau batik Brasil ?

Yang juga menarik, dalam acara tersebut terdapat lima pengusaha batik di Yogyakarta yang akan mendaftarkan merk produk mereka. Pendaftaran tersebut difasilitasi oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta bersama Klinik Hak Kekayaan Intelektual Provinsi DIY.

untung suripno,dekranas yogyakarta

Dalam pertemuan dengan lima pengusaha batik itu, yang dihadiri Ibu Ny. Hj. Tri Kirana Muslidatun, S.Psi, istri Wawali Yogyakarta dan Wakil Ketua Dekranasda itu (foto atas), Mas Untung Suripno hadir sebagai aktor pendamping bagi UMKM untuk pendaftaran merek mereka. Selama ini salah satu kiprahnya adalah menjadi nara sumber untuk topik tersebut.

erry untung suripno

Sementara mBak Erry dan kawan-kawan pada hari kedua, 5/12/2009, juga menyempatkan berkunjung ke pameran. Nampak mereka sedang berbincang di stan batik Winotosastro.

Ketika mengobrol secara lesehan di warung hik di kawasan Gembiraloka, sambil beranda-andai terdapat ribuan UMKM (di Yogya sendiri terdapat 18.000 UMKM) yang kelak tergerak untuk mendaftarkan merek-merek mereka, medan satu ini merupakan bidang usaha yang menantang di masa depan.

Merupakan persilangan antara bisnis, hukum, sastra sampai desain grafis. Termasuk, sambil guyon, upaya jualan saran terkait seluk-beluk ritual nglakoni poso senin-kemis guna menemukan nama merek yang mampu ngrejekeni bagi pemiliknya.

Saya teringat ujaran teman Facebook saya, pakar bisnis kreatif dari Inggris, David Parrish, yang mengatakan kredo menarik : jangan menjadi pionir yang malang dan melarat. Inti pesannya : lindungi kreasi kreatif Anda, baik dengan paten, hak cipta atau pun pendaftaran merek milik Anda.

Trah kita bagi batik dunia. Hari Sabtu sore, 5/12, saya minta pamit untuk kembali ke Wonogiri. Saya hanya bisa pamit kepada Bunga Persada. Dengan diantar Mas Untung, saya nyengklak bis untuk pulang menuju Solo. Syukurlah, saya masih bisa mengejar bis terakhir, Solo-Batu, menuju Wonogiri.

Ketika saya mencari tahu apa masih ada bis Solo-Praci, karena rutenya meliwati Kajen, muncul jawaban menarik.

Sopir yang melayani taksi gelap, menyatakan tidak ada. Ia pun lalu menawarkan taksinya. Seseorang lain juga menyatakan tidak. Ia menyarankan saya untuk menginap di losmen Solo (“murah,” katanya) dan naik bis jurusan Praci, esok jam 4 pagi. Sementara pedagang asongan bilang, masih ada bis itu, Serba Mulya. Semua orang memberikan saran yang terkait dengan keuntungan yang bakal mereka raih.

Wajarlah. Mau tak mau, saya harus naik saja bis jurusan Solo-Batu itu.

Ketika bis Jaya Guna tersebut jalannya rada merambat karena Solo diguyur hujan, lamat-lamat saya masih mendengar beberapa baris kalimat yang saya tulis di Kajen dan menjadi materi pidato sebagian pejabat dalam acara di Jalan Taman Siswa itu. Itulah salah satu sumbangan kecil saya, atas fasilitasi Mas Untung, betapa kita warga Trah Martowirono punya budaya memberi. Kali ini mampu ikut pula memajukan batik Indonesia.

Saya tiba di rumah Kajen, jam 20.30. Saya lalu mengirim SMS ke Mas Untung bahwa saya sudah tiba kembali di Wonogiri. Dengan selamat.


Wonogiri, 6-8/12/2009


trahmar

Sunday, November 29, 2009

Pohon Mojo, Kenangan dan Prestasi di Balekambang




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Gajah gabres. Apakah kelapa merupakan buah yang mewah dan mahal pada jaman Patih Gajah Mada hidup ?

Kalau tidak, mengapa ia harus bersumpah tidak akan memakan kambil itu sebelum dirinya berhasil menyatukan Nusantara ?

Mungkinkah pada era saat ia memerintah di kerajaan Mojopahit, makanan utama dirinya dan rakyatnya adalah buah mojo yang terasa pahit itu ?

Apakah di Jawa Timur buah mojo itu terasa pahit ?

Melakukan kilas balik ke masa lalu, buah mojo bukanlah buah yang pahit. Itulah obrolan yang sempat muncul antara saya dan Mayor Haristanto, di Balekambang Solo, Sabtu pagi, 21 November 2009. Kami berdua masih ingat bahwa di tebing batas tanah sisi selatan rumah Kajen, Wonogiri, tahun 1960-an, terdapat pohon mojo itu.

balekambang,mojo beruk,pelajar sd solo,cinta lingkungan hidup,mayor haristanto,tps food tbk

mojo beruk,taman balekambang,mayor haristanto,tps food tbk,pelajar sd solo

Mojo di Balekambang. Ratusan anak-anak sedang bersiap secara bersama untuk mendirikan pohon mojo (foto atas) dan kemudian mereka menyaksikan pohon langka itu kini berdiri. Peristiwa menarik itu akan membekaskan kenangan positif bagi mereka untuk tertanamnya rasa kecintaa terhadap pelestarian lingkungan dalam tahap kehidupan mereka di masa mendatang. [Foto-foto : Is Arianto/OI Bento Solo.]

Juga berbuah. Buahnya bundar, sebesar kepalan tangan, berbatok keras. Kalau matang batok itu berwarna kuning, mengeluarkan bau harum. Cara memakannya harus dibakar dulu. Saat matang ia akan mengeluarkan bunyi ledakan kecil ketika batoknya pecah dan merekah.

Mojo sebenarnya bukankah buah yang nyaman untuk dikonsumsi. Karena pada buahnya itu terdapat ceruk-ceruk biji yang terbungkus dengan lendir sebening kristal yang lengket. Untuk memakan daging buahnya, kita harus bersibuk menyingkirkan lendir kristal tersebut. Tetapi dasar anak-anak di masa itu, yang nggragas, bahkan di masa itu buah salam pun diembat, buah mojo itu pun jadi sasaran.

Selain di Kajen, saat itu di halaman depan rumah dinas bupati Wonogiri, juga terdapat pohon mojo. Saat saya duduk di SDN Wonogiri 3, ada teman sekelas bernama Joko Waluyono yang kerabat dari Eyang Laksmintorukmi yang istri bupati saat itu, Brotopranoto.

Pertemanan tersebut yang membuat halaman belakang dan depan rumah dinas bupati ini menjadi salah satu tempat saya bermain-main. Kalau ke masjid, kami dari Kajen bisa lewat pintu butulan, berada tepat di depan rumah Bapak Sularso/Venus Cellular.

Ini rute jalan singkat, meliwati dapur, lalu melipir pada bagian sisi barat rumah bupati sehingga lebih singkat sampai di masjid. Kini rute itu tak bisa dilalui umum lagi.

Pohon prestasi. Pohon mojo di Kajen atau pun di halaman rumah dinas bupati Wonogiri itu kini tak berbekas lagi. Tetapi di Balekambang, Solo, atas prakarsa Mayor Haristanto dari Republik Aeng-Aeng, bisa berdiri pohon mojo lagi. Tepatnya jenis Mojo Beruk (Crescentia cuyute).

Saat itu Republik Aeng-Aeng dipercaya oleh PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food, Tbk., untuk mengemas acara cetak serentak dalam 1 hari 3 Rekor MURI dalam rangka menandai usia 50 Tahun PT TPS Food, Tbk tersebut.

mayor haristanto,muri,etta sulistiawati

Kolaborasi serasi. Prestasi akan lebih mudah dicapai dan mampu memberi kebanggaan kepada banyak kalangan bila dilakukan dengan melibatkan pelbagai fihak untuk bekerjasama. Nampak para penerima piagam rekor MURI, termasuk Etta Sulistiawati (tengah, dari Standard Pen) dan eksekutif PT TPS Food, Tbk bergembira dengan prestasi yang mereka raih.

mayor haristanto,tatv,balekambang,solo,muri

Menularkan virus. Keberhasilan harus ditularkan sehingga mampu menjadi inspirasi bagi orang lain untuk bertindak positif pula. Nampak Mayor Haristanto sedang mengobrol dengan reporter TATV, Aris Gopinda. Hasil wawancara itu disiarkan pada tanggal 26 November 2009.

Salah satu adegan spaktakuler pencetakan rekor MURI itu adalah kerjasama ratusan anak-anak pelajar SD secara bersama mendirikan pohon mojo yang langka itu setinggi 9 meter. Pohon ini semula merupakan koleksi dari Bapak Djumadi Anom Gunadi, penguasaha furnitur Era yang terkenal di Solo dan sebagai kolektor tanaman langka.

khana,sd kristen manahan,teks pancasila,balekambang,21 november 2009


Menulis teks Pancasila. Pengetahuan yang hanya diucapkan akan lebih mudah terlupakan dibanding ketika harus dituliskan. Nampak Khana dan kawan-kawan dari SD Kristen Manahan (atas) sedang menuliskan teks dasar negara kita dengan ceria.

Pemecahan rekor yang lain adalah tujuh ribu anak-anak menulis teks Pancasila dan mengonsumsi biskuit secara bersama-sama. Peserta aksi cetak rekor MURI itu diikuti oleh murid 36 Sekolah Dasar dan TK yang berada di seputar Balekambang. Termasuk SD Kristen Manahan, sekolahnya Azalia “Zaza” Sastrika (ia ikut serta dalam aksi ini) dan Banurasmi.

Anak-anak tersebut, para guru dan orang tua, menikmati hari itu sebagai saat berekreasi, belajar di luar ruang dan menghayati lingkungan di Taman Balekambang yang kini menjadi nampak asri dan indah.

mayor haristanto,bambang haryanto,muri

Dengan kegiatan tersebut kini Mayor Haristanto telah mengemas rekor MURI untuk nomor ke-23 dan 24. Maju terus demi mencetak prestasi yang lebih gemilang, dan semoga dapat menjadi inspirasi bagi warga Trah Martowirono lainnya.

trahmw

Sunday, October 25, 2009

Seboeah Perdjoeangan, Kreativitas dan RI Kita




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at)hotmail.com


Bom di Vredeburg. “Demi menjaga kehormatan Bapak Proklamator, sejuta laskar Blitar siap serbu Kaliurang !” [Blitar Herald Tribune, 24/9/2009].

“Bung Doyo [dalam foto berkacamata hitam] dan keluarga harus dibuang ke Digul !” [Nationalism Inquirer, 24/9/2009].

“Demi menjunjung kebebasan berekspresi, keluarga Bung Doyo berpeluang dinominasikan sebagai peraih Nobel Perdamaian 2010.” [Stockholm Express Daily, 25/9/2009].

Situs YahoaxNews.com (1/10/2009) muncul berita lebih mendetil : “Pemerintah RI didesak kalangan nasionalis ultra kanan yang menganut garis keras agar Paguyuban Trah Martowirono dibekukan.

Tetapi tuntutan ini ternyata membuahkan backlash, serangan balik dari manca negara. Dari kalangan yang mendukung kebebasan berekspresi dan pentingnya memacu kreativitas sebagai senjata survival bagi generasi masa depan.

Untuk itu, kalangan young scientists dari perusahaan raksasa elektronik Samsung dan LG dari Korea, Sharp dan Sanyo dari Jepang, Maytags dan General Electric dari AS justru terpacu membantu warga trah itu. Mereka kini berkompetisi mendisain lemari es raksasa yang khusus agar nyaman dihuni tiap-tiap anggota Trah Martowirono yang terancam “dibekukan” itu. Ada yang desainnya seperti rumah tahan gempa yang berdiri di Sleman, yang dikenal sebagai rumah Teletubies.

“Rumah hiper-modern itu juga ada sentuhan fantasi anak kecil. Karena dilengkapi baling-baling bambunya Dora Emon,” tutur Isokuiki Mugimurakabi, chief scientists dari Sanyo Corporation, Tokyo, Jepang. “Rumah itu juga didesain dengan teknologi dalam film Transformers. Ia bisa diubah sekehendak pemiliknya. Juga dapat terbang, berlayar atau berjalan, bahkan bisa menggendong penghuninya, ke mana-mana,” tuturnya sambil tersenyum.

Perusahaan lain, ikut mendukung. Raksasa produsen telepon genggam pintar Research In Motion (RIM) di Kanada telah mengeluarkan telepon Blackberry terbaru. Dengan sebutan seri Giant Trah Marto 2010 Smart Device. ™ Perangkat seberat 250 kilogram ini dilengkapi tombol khusus berhuruf TM. Gadget super itu juga dilengkapi dengan gerobak listrik beroda 20 untuk mudah membawanya ke mana-mana.

Sekali pencet, dengan mengentakkan kaki yang berlumur bletok atau embel, lumpur asli dari tanah Kedunggudel saat era banjir jaman dulu, di layar akan muncul gambar berisi aktivitas terbaru dari masing-masing warga Trah Martowirono, di mana pun mereka di dunia. Peranti lunak Google Latitude sudah menyatu di dalamnya.

Bukan bletok biasa. Dibeberkan dalam Wikipedia pada lema Trah Martowirono [seri 1.0., yang beredar dengan akses terbatas], wacana tentang bletok atau embel asli Kedunggudel itu sarat dengan nilai-nilai filosofi. Adalah mBah Dung, Martowirono putri, pernah menasehati cucu-cucunya saat berjalan di tanah licin dan berlumpur setelah banjir surut.

“Cengkeramkan kuat jari-jari kakimu ke tanah. Sehingga jalanmu tidak mudah terpeleset atau terjatuh,” tutur beliau.

Anjuran ini dapat diwedar dengan beragam tafsiran. Beliau mungkin ingin mengajarkan nilai-nilai luhur kehidupan, bahwa para anak, cucu dan keturunannya harus memiliki fondasi yang kuat dalam hidup. Sehingga jalannya tidak terpeleset, atau terjatuh. Fondasi itu bisa beragam. Bisa jadi fondasi itu berupa nilai-nilai reliji, keluhuran, kebaikan, memberi manfaat bagi orang lain, cita-cita, impian, sampai ilmu pengetahuan.

Stephen Harper dari RIM dalam blog perusahaannya menulis : “Tanpa kaki Anda bersalut bletok atau embel asli asal Kedunggudel, sistem tak mau bekerja. Karena ramuan kimiawi dari bletok Kedunggudel tersebut, dipadu dengan unikum dari gene masing-masing keturunannya, itu yang membuat Trah Martowirono ini kompak selama ini. Itu seperti DNA dan hal itu sangat sulit dipalsukan !”

“Uniknya lagi, walau berasal dari satu akar, keturunan Trah Martowirono kini beragam. Baik dalam agama, kepercayaan, profesi, cita-cita, sampai bakat. Meminjam kata-kata “life is plurality” dari Octavio Paz (1914-1998), diplomat, penulis dan penyair asal Meksiko, dan “death is uniformity,” maka keturunan trah ini ikut andil “membuat dunia ini berputar : karena terjadinya saling memengaruhi antara pelbagai perbedaan, yaitu daya tarik dan juga daya tolaknya.”

Kita kembali ke gadget tadi. Bahkan tulis Harper dengan berderet emoticon :-), bahwa pada saat-saat hari tertentu, seperti Jumat Kliwon, dari peranti keras canggih itu dapat diprogram untuk mengeluarkan hidangan. Ada daftar menu yang bisa dipencet.

Bisa berupa jenang “joko lelur” produksi Priyanto Wisnu Nugroho, opak gambir, emping melinjo produksi Lik Yatno, sampai karak ketan dengan resep asli mBah Darmowantoro (adik Martowirono kakung).

“Dengan menginstal peranti lunak baru, Wijil Hill 3.0., layar telepon ini dapat menyajikan beragam konfigurasi desain gunungan yang unsurnya terdiri dari pelbagai makanan khas Kedunggudel itu. Mungkin Bapak Untung Suripno, Frederico Ario Damar dan Cipta Gatra dari Banguntapan dapat mengaplikasikan desain ini untuk memperoleh MURI-nya yang kedua,” sambung Stephen Harper dengan tersenyum.

Seperti di Cannes. Berita bagus juga muncul dari markas Besar PBB di New York. Dalam siaran pers (25/9/2009) menyatakan bahwa Sekjen PBB, Ban Ki Moon, siap terbang ke Kaliurang untuk menengahi persoalan di atas yang dipicu sebuah film pendek berjudul Seboeah Perdjoeangan, yang kontroversial.


PS : Trio sineas ABC [Aning, Bakoh, Chandra] yang mengkreasi film tadi ternyata tidak selalu mudah dihubungi untuk tulisan ini. Terakhir, pada baris akhir pesannya selalu tertulis data “1601 S. California Ave., Palo Alto, CA 94304.” (Ini alamat kantor Facebook). Merujuk hal itu, sori, tulisan ini terhenti dulu. Akan dilanjutkan kok. [BH].

Kabar Indah Trah Dari Kedah dan Tabalong



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Semalam di Malaysia. “Dua hari ini saya [Broto Happy W.] jalan-jalan ke Alor Setar, negara bagian Kedah, Malaysia. Saya diajak pemilik PB Tangkas-Alfamart, Justian Suhandinata untuk menjadi saksi penyerahan Suhandinata Cup untuk diperebutkan kali pertama kepada panitia Kejuaraan Bulutangkis Junior Beregu Campuran.

Perjalanannya lumayan melelahkan. Dari Jakarta ke Singapura, lalu sambung lagi dengan pesawat sejam ke Penang. Diteruskan naik kendaraan 90 menit menuju Alor Setar. Karena semalam datang malam, jadi nggak sempat jalan-jalan. Sekarang pagi-pagi sudah harus balik ke Penang lagi dan sambung ke Singapura, baru Jakarta.

Itu saja kabar saya. Wah nyesel juga nggak hadir di pertemuan Trah Martowirono di Yogya lalu. Salam sukses selalu dan salam buat semua.“

Itu email pertama Broto Happy W. kepada Bambang Haryanto, 23/10/2009. Email keduanya, diterima 25 Oktober 2009 menyajikan cerita yang “makin seram.”


Dikira juara ! ”Nambahi info yang sudah dimuat, ini saya kirimkan foto-foto saat berada di Alor Setar, negara bagian Kedah, Malaysia.

Saat membawa trofi Suhandinata Cup keluar dari bandara Sultan Abdul Halim Airport, Alor Setar, wah, saya dikira atlet yang baru saja menjadi juara. Banyak petugas di bandara dan juga para pelancong yang memberikan salam atas keberhasilan membawa piala.

Mereka bertanya, juara apa Anda? "Saya juara bulutangkis!" Pengakuan bohong-bohongan ini semata-mata agar orang sana juga makin menghormati orang Indonesia! Ternyata orang Indonesia juga hebat dan bisa berprestasi di Malaysia. Tidak hanya melulu TKI yang dibayar murah dan kerap dirampas hak-haknya di negeri jiran itu.

Wisata kuliner batal. Sempat juga malam-malam sebelum tidur, saya sempatkan untuk menikmati Alor Setar. Saya pun sempat berpose di pusat kota.

Ternyata kotanya kecil dan sudah tidak ada tanda-tanda keramaian. Toko banyak yang sudah tutup, tinggal beberapa kedai makanan Cina yang masih buka. Namun karena takut tidak halal, saya urungkan menikmati wisata kuliner.

Meski hanya kurang sejam, sempat mendapat pengalaman menarik. Berempat bersama Pak Tommy Vanalu, Hendro, dan Yose Sulawu, keluar hotel dari kejauhan tampak ada keramaian di sebuah gedung terbuka yang lumayan besar. Yang pasti tempat tersebut

begitu terang benderang dengan lampu warna merah dan kuning. Juga tampak banyak orang berkumpul dan hilir mudik.

"Wah, pasti di sana ada keramaian menarik!" gumam saya. Dasar wartawan yang haus akan sesuatu yang baru dan mencari tantangan unik, saya pun mendekat. Ternyata, begitu mendekat, pusat keramaian itu bukanlah sebuah hiburan atau tontotan khas Alor Setar.

Tontonan itu adalah acara khas orang etnis Cina setempat yang tengah melakukan penghiburan dan persembahyangan bagi anggota keluarga yang meninggal dunia dan akan dikubur keesok harinya. Pantasan di tengah bangunan itu ada peti mati dan asap dupa hio berterbangan ke mana-mana!

Itulah pengalaman menarik selama beberapa jam di Alor Setar. Salam sukses selalu untuk seluruh warga Trah Martowirono.

Kabar Plong Dari Tabalong. “Dengan sarana komunikasi yang sudah sedemikian hebat, jarak dan waktu terasa tidak begitu menjadi penghalang bagi kita warga Trah untuk saling menyapa dan berkomunikasi.

Contohnya saya [Santoso Priyo Utomo di Tabalong, Kalimantan Selatan] dengan waktu hanya bisa bertemu "fisik" selama 12-14 hari dengan keluarga [di Solo], setelah itu dipisahkan secara "fisik" juga 1,5-2 bulan.

Sarana komunikasi canggih ini bisa menjadi media mengurangi kerinduan dan kekangenan. Pak Bambang, si pengelola blog Trah, terasa menjadi oasis di padang kerinduan akan informasi dan kabar anggota trah.

Kiranya Blog Martowirono ini tetap dan senantiasa ada, sebagai salah satu wahana yang paling SIP (mungkin) saat ini. untuk ajang komunikasi dan informasi antar anggota trah.” (Posting status melalui Facebook ke temboknya Bambang Haryanto, 23/10/2009. Foto : Bapak Santoso saat menghibur di Reuni Trah Martowirono, 23 September 2009, di Yogya).


Wonogiri, 26/10/2009

trahmw

Kajen, Kompor Minyak Tanah dan Komputer




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com

Nostalgia 10 tahun. “Saya harus juara dan merenggut hadiah I, sebuah komputer !” Itulah impian saya (Bambang Haryanto) sebagai finalis Lomba Karya Tulis Teknologi Telekomunikasi & Informasi (LKT3I) III/1999 yang diselenggarakan PT Indosat. Untuk tampil ke Jakarta saya diberi tiket pesawat pulang-pergi.

Impian kandas. Saya tetap Juara 1, tetapi harapan. Dapat cek senilai 1,6 juta rupiah. Saat itu tak bisa untuk membeli komputer. Saya pindah haluan. Tak dapat komputer, dapatnya kompor (foto). Seharga 100 ribu. Merek Butterfly. Untuk masak sehari-hari.

Tetapi di tahun 2009 ini, sepuluh tahun kemudian, my favourite kerosene stove is dying. Kompor saya itu nafasnya tinggal menghitung hari. Sekarat. Karena harga minyak melambung. Stoknya pun semakin dibatasi. Kalau beli, harus mau antri di mana-mana.

Keajaiban terjadi, ketika sekitar bulan Mei 2009, Bhakti “Nuning” Hendroyulianingsih, menjadikan rumah Kajen sebagai pangkalan minyak tanah. Putranya, Yudha (foto) dan dirinya, kadang ikut melayani. Sehingga kesulitan memperoleh mitan, bagi saya teratasi. Tetapi jatah dari atas, yang semula 4 drum, di bulan Oktober 2009 ini tinggal satu atau dua drum saja.

Akibatnya, halaman rumah Kajen setiap hari dihiasi berderet-deret jeriken minyak dan riuhnya para pembeli yang antri. Sebagian besar, para tetangga. Kalau pertemuan trah mampu membuat kita seolah linggo-lico, lali tonggo-lali konco, tetapi bisnis salah satu warga trah kita ini tidak melupakan mereka. Berusaha dibagi secara adil untuk kebaikan bersama.

Bagaimana kalau jatah itu benar-benar berhenti ? Kompor saya akan menjadi benda kenangan. Mungkin saya akan mempelajari bagaimana biji avocado, yang tumbuh lebat setiap Oktober di Kajen ini, bisa diolah menjadi bahan bakar nabati. Tetapi itu cerita lain kali.

Thursday, October 15, 2009

Saat “Keraton” Banguntapan Meraih MURI




Oleh : Bambang Haryanto


Prestasi Cipta Gatra. Kedua gunungan itu hanya tinggal bekasnya. Siang hari, Rabu, 15 Oktober 2009. Gunungan kakung dari Keraton Nyogyakarta Hadiningrat, tak ada sisanya sama sekali.

Kerangkanya pun, yang terbuat dari besi, sudah kembali ke keraton. Ikut lenyap pula rangkaian telur bebek rebus asin, disebut dengul, yang dirangkai Pak Fani bertiga dari Keraton yang saya ajak ngobrol Minggu malam, 11/10/2009, menjelang esok saat pembukaan.

bambang haryanto,jana,petr,gunungan buah,cipta gatra

Ikut pula ludas rangkaian kacang panjang, yang mirip rambut penyanyi reggae asal Jamaika Bob Marley atau mBah Surip itu. Rangkaian hijau-hijau dengan ujung cabai besar merah ini sempat ditanyakan oleh Jana, turis bule asal Ceko. Dalam foto Jana paling kiri, Bapak Klono Sewandono yang “juru kunci” kedua gunungan itu, Bambang Haryanto dan Petr di depan kedua gunungan bersejarah itu.

Jana dan Petr tak hentinya menabur senyum saat menjadi “bintang dadakan” karena laris diajak berpotret bersama oleh para pengunjung pada hari puncak peringatan Hari Pangan Sedunia XXIX-2009, 12 Oktober 2009.

paduan suara mahasiswa ugm,clara bunga persada,gunungan buah,cipta gatra,bambang haryanto,prambanan 12/10/2009

Gunungan sebagai ikon HPS nampak juga dimanfaatkan oleh anggota paduan suara Universitas Gajahmada sebagai latar belakang untuk mengabadikan keikutsertaan mereka dalam acara puncak tersebut. Dalam pesannya di Facebook, Clara Bunga Persada yang mahasiswi Teknik Industri UGM, menyatakan “mengenal sosok mereka yang terekam dalam foto tersebut dan Bunga berjanji akan mentags mereka.”

Gambar gunungan utuh di atas, kini tak ada lagi. Kerangka gunungan buah dan sayur hasil kreasi “keraton” Banguntapan, masih utuh.Karena untuk mencuri atau membawanya orang harus membawa mobil truk. Pada dindingnya masih tersisa beberapa buah terong ungu. Bersama sayuran dari gunungan kakung, maka beragam jenis buah dan sayuran lainnya dari gunungan jumbo itu telah menjadi berkah bagi warga sekitar yang memperebutkannya.

Secara fisik, memang kedua gunungan itu memang sudah tidak ada lagi. Tetapi kedua maskot Hari Pangan Sedunia XXIX-2009 itu tetap abadi sebagai kenangan banyak orang. Termasuk kenangan saat digoreskannya prestasi bagi Bapak Untung Suripno, Frederico Ario Damar dan Cipta Gatra Exhibition Partner. Karya gunungan buahnya itu kini tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) yang bergengsi tersebut.

Sukses berbuntut sukses. “Piagam ini mahal sekali, Om,” demikian cetus Frederico Aria Damar. Ia berkata saat piagam itu saya pegang dan Rico hendak memotretnya. Beberapa saat sebelumnya, di ruang resepsi dari hall International Food Expo 2009, dalam acara penutupan, Piagam MURI itu diterima oleh Bapak Untung Suripno.

cipta gatra,hari pangan sedunia,gunungan buah dan sayur,untung suripno,trah martowirono,prambanan 15/10/2009

Nampak dalam foto, Ibu Wida dari MURI sedang membacakan keputusan dan Bapak Untung berada di tengah penerima lainnya.

Saya setuju ucapan Rico itu. Ia yang berhari-hari telah bekerja keras bersama krunya di lapangan. Piagam MURI dengan nomor 3928/R.MURI/X?2009 itu memang mahal. Langkah pertama kiranya memang selalu menuntut pengorbanan ekstra. Apakah hal ini akan mengerutkan nyali atau menyurutkan langkah Cipta Gatra dalam upaya meraih MURI berikutnya ?

Lihatlah, dalam obrolan sesusai acara, nampak Untung Suripno dan Mayor Haristanto, riuh berbagi gagasan. Keduanya melakukan brainstorming untuk menemukan ide-de baru guna meraih prestasi MURI berikutnya. “Bulan November 2009, Cipta Gatra akan membuat sesuatu kehebohan lagi,” tulis Bapak Untung di sms kepada saya.

Hari-hari ini “keraton” Banguntapan semoga lagi diisi dengan kegembiraan. Termasuk menular kepada Ibu Erry dan juga Clara Bunga Persada. Saya yang telah menerima 2 rekor MURI, Mayor Haristanto sebanyak 21 rekor, tetap saja di sore itu kami berdua tetap merasakan kegembiraan yang menggetarkan ketika salah satu warga Trah Martowirono kini sukses pula meraih penghargaan serupa.

Kami bertiga berpisah di Prambanan. Mas Untung sempat bertanya kepada saya, “mau pulang ke rumah barat atau ke rumah timur ?” Rumah barat adalah rumah beliau di Modalan, Banguntapan. Rumah timur, di Kajen Wonogiri.

Saya bersama Mayor lalu naik bis menuju Solo. Saya sore itu ingin pulang dulu ke rumah timur. Tetapi dalam obrolan dengan Mas Untung, tak tertutup kemungkinan, saya akan rada sering tinggal di rumah barat itu pada hari-hari mendatang.

Cerita dan foto-foto lainnya dari momen bersejarah di Prambanan itu semoga akan bisa menyusul. Saya lagi menunggu kiriman dari Rico.

Sampai jumpa di obrolan mendatang.


Wonogiri, Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2009


trahmar

Saturday, October 10, 2009

Gunungan Keraton Banguntapan di Hari Pangan Sedunia 2009




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tugas mulia. Mobil merah bak terbuka itu penuh sayuran dan buah. Bagi yang tidak mengetahui, mobil yang pada sisi kiri dan kanan bertuliskan Rico Promo itu mudah diduga sebagai mobil milik tukang sayur yang berkeliling menemui pelanggan.

Apakah makan buah-buahan dan sayuran kini sedang gencar dipromosikan ?

Bisa juga begitu. Tetapi ketika mobil itu memasuki lot candi Siwa di komplek candi Prambanan, menjelang senja jatuh 10/10/2009, dugaan bisa makin rumit. Apakah buah dan sayuran itu akan digunakan sebagai sesaji bagi Betara Siwa agar dirinya tidak mengamuk, merusak dan menghancurkan isi dunia, seperti karakter yang tertakdir bagi dirinya ?

Dugaan satu ini keliru. Buah dan sayuran yang dibeli oleh Pak Klono bersama anak buahnya dari Kulon Progo itu digunakan untuk tujuan mulia. Salah satunya adalah untuk mencatatkan prestasi bagi Cipta Gatra, korporasi yang berkiprah sebagai mitra penyelenggaraan pameran, kegiatan promosi dan pemasaran. Kiprah ini dirintis sejak 1998 di Yogyakarta oleh Bapak Untung Suripno dan operasinya di lapangan kini di bawah komando Frederico Ario Damar, sang putra.

Ikon HPS 2009. Buah dan sayuran itu akan digunakan sebagai bahan membuat maskot upacara tingkat nasional dari Hari Pangan Sedunia 2009 yang dipusatkan di Yogyakarta. Maskot itu berupa gunungan buah, replika dengan ukuran lebih besar dibandingkan dengan gunungan kakung yang secara rutin tiap tahun diarak oleh Kraton Yogyakarta pada upacara Garebeg Syawal.

Gunungan buah itu nantinya akan tercatat di Museum Rekor Indonesia/MURI. Sehingga secara guyon dapat dikatakan bahwa di Yogya kini telah muncul “keraton baru” :-), yang ikut membawa-bawa nama Trah Martowirono, karena juga mampu mengeluarkan gunungan. Keraton satu ini, katakanlah sebagai keraton kreativitas, lokasinya di Banguntapan, Bantul.

gunungan buah,hari pangan sedunia 2009,cipta gatra,rico promo,badan ketahanan pangan diy,frederico ario damar,untung suripno,bambang haryanto,trah martowirono

Ketika saya pertama kali mengunjungi lokasi “keraton baru” itu, 8/10/2009, nampak kerangka gunungan itu (foto) sedang dibangun. Di halaman bengkel kerja Cipta Gatra di Bantul. Mengamati sekitar, memang tidak nampak puluhan sentono yang bersurjan atau sedang membakar dupa, tetapi mereka semua mengerjakan gunungan itu dengan sepenuh hati.

Gambar rancang bangun gunungan itu hasil olahan Sutik, lulusan Geologi UGM dan kawan akrab Rico, yang main klak-klik di atas tombol komputer di ruang kerja, akhirnya mampu mewadahi pesan-pesan yang visioner, yang menjangkau akhir perjalanan hidup setiap umat manusia. Ujudnya pun cukup indah dan spektakuler.

Makna gunungan itu bila dikaitkan dengan ajaran Islam dan falsafah Jawa, dapat diwedar bahwa puncak gunung adalah melambangkan keesaan Tuhan Yang Maha Esa. Gunung juga melambangkan ajaran manunggaling kawula gusti, bersatunya antara manusia dengan Tuhannya, juga sebagai gambaran perjalanan manusia menghadap Sang Khalik guna menuju kesempurnaan hidup di alam keabadian, alam kelanggengan.

Cipta Gatra yang dalam membangun maskot itu sebagai mitra kerja Badan Ketahanan Pangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyajikan data bangunan sebagai berikut : tinggi gunungan 4,5 meter, diameter landasan bawah 2,5 meter dan tinggi vustek 60 cm. Materi gunungan meliputi jagung, kobis, pisang, nanas, jambu, buah naga, wortel dan bahan lainnya.

Sinergi dan harmoni. Gunungan buah tersebut akan bersanding dengan gunungan kakung dari Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat yang bahan dan ukurannya sesuai dengan pakem yang ada dan dibuat oleh abdi dalem kraton.

Duo gunungan itu boleh jadi nantinya menggambarkan suatu sinergi yang harmoni antara keluhuran nilai-nilai masa lalu yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan umat manusia masa kini dan masa depan. Termasuk tantangan berat dunia ini, yaitu ketersediaan pangan bagi milyaran manusia penghuninya.

Tidak meleset bila pesan penting dari peringatan Hari Pangan Sedunia XXIX-2009 ini bertujuan menumbuhkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat terhadap potensi sumber daya alam serta tantangannya untuk mewujudkan ketahanan pangan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan dunia usaha dalam menyikapi masalah ketahanan pangan baik tingkat nasional, global maupun regional serta memperkokoh solidaritas antarbangsa dalam usaha memberantas kekurangan pangan dan gizi yang masih dialami oleh sebagian penduduk dunia terutama di negara berkembang.

Gambar dan pesan-pesan besar itu hari-hari ini ikut juga dikampanyekan oleh Cipta Gatra. Di tengah kemeriahan peringatan hari penting itu, juga ditengah hiruk-pikuk pameran International Food Expo 2009 yang berlangsung, sebuah karya dari salah satu warga Trah Martowirono nampak menjulang cantik di tengahnya.

Memang, mungkin nanti tak banyak orang akan mencatatnya. Tetapi ribuan bunyi tombol komputer di bengkel Cipta Gatra atau di ruang kerja Bapak Untung dan Rico di rumah Modalan, juga hentakan palu mengunjam paku di Prambanan, sampai percikan indah air mancur mini yang asri di base kedua gunungan itu berdiri, menandakan sebuah monumen tekad untuk memberi manfaat bagi orang lain telah kokoh berdiri di persada bakti.

Setiap hati warga trah mencatatnya. Dunia pasti juga segera ngikut, senantiasa mengabadikannya. Di masa depan, percayalah, berkahnya pun mampu menebar : ke mana-mana, di mana-mana !


Banguntapan, 8-10/10/2009

trahmar