Thursday, October 15, 2009

Saat “Keraton” Banguntapan Meraih MURI




Oleh : Bambang Haryanto


Prestasi Cipta Gatra. Kedua gunungan itu hanya tinggal bekasnya. Siang hari, Rabu, 15 Oktober 2009. Gunungan kakung dari Keraton Nyogyakarta Hadiningrat, tak ada sisanya sama sekali.

Kerangkanya pun, yang terbuat dari besi, sudah kembali ke keraton. Ikut lenyap pula rangkaian telur bebek rebus asin, disebut dengul, yang dirangkai Pak Fani bertiga dari Keraton yang saya ajak ngobrol Minggu malam, 11/10/2009, menjelang esok saat pembukaan.

bambang haryanto,jana,petr,gunungan buah,cipta gatra

Ikut pula ludas rangkaian kacang panjang, yang mirip rambut penyanyi reggae asal Jamaika Bob Marley atau mBah Surip itu. Rangkaian hijau-hijau dengan ujung cabai besar merah ini sempat ditanyakan oleh Jana, turis bule asal Ceko. Dalam foto Jana paling kiri, Bapak Klono Sewandono yang “juru kunci” kedua gunungan itu, Bambang Haryanto dan Petr di depan kedua gunungan bersejarah itu.

Jana dan Petr tak hentinya menabur senyum saat menjadi “bintang dadakan” karena laris diajak berpotret bersama oleh para pengunjung pada hari puncak peringatan Hari Pangan Sedunia XXIX-2009, 12 Oktober 2009.

paduan suara mahasiswa ugm,clara bunga persada,gunungan buah,cipta gatra,bambang haryanto,prambanan 12/10/2009

Gunungan sebagai ikon HPS nampak juga dimanfaatkan oleh anggota paduan suara Universitas Gajahmada sebagai latar belakang untuk mengabadikan keikutsertaan mereka dalam acara puncak tersebut. Dalam pesannya di Facebook, Clara Bunga Persada yang mahasiswi Teknik Industri UGM, menyatakan “mengenal sosok mereka yang terekam dalam foto tersebut dan Bunga berjanji akan mentags mereka.”

Gambar gunungan utuh di atas, kini tak ada lagi. Kerangka gunungan buah dan sayur hasil kreasi “keraton” Banguntapan, masih utuh.Karena untuk mencuri atau membawanya orang harus membawa mobil truk. Pada dindingnya masih tersisa beberapa buah terong ungu. Bersama sayuran dari gunungan kakung, maka beragam jenis buah dan sayuran lainnya dari gunungan jumbo itu telah menjadi berkah bagi warga sekitar yang memperebutkannya.

Secara fisik, memang kedua gunungan itu memang sudah tidak ada lagi. Tetapi kedua maskot Hari Pangan Sedunia XXIX-2009 itu tetap abadi sebagai kenangan banyak orang. Termasuk kenangan saat digoreskannya prestasi bagi Bapak Untung Suripno, Frederico Ario Damar dan Cipta Gatra Exhibition Partner. Karya gunungan buahnya itu kini tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) yang bergengsi tersebut.

Sukses berbuntut sukses. “Piagam ini mahal sekali, Om,” demikian cetus Frederico Aria Damar. Ia berkata saat piagam itu saya pegang dan Rico hendak memotretnya. Beberapa saat sebelumnya, di ruang resepsi dari hall International Food Expo 2009, dalam acara penutupan, Piagam MURI itu diterima oleh Bapak Untung Suripno.

cipta gatra,hari pangan sedunia,gunungan buah dan sayur,untung suripno,trah martowirono,prambanan 15/10/2009

Nampak dalam foto, Ibu Wida dari MURI sedang membacakan keputusan dan Bapak Untung berada di tengah penerima lainnya.

Saya setuju ucapan Rico itu. Ia yang berhari-hari telah bekerja keras bersama krunya di lapangan. Piagam MURI dengan nomor 3928/R.MURI/X?2009 itu memang mahal. Langkah pertama kiranya memang selalu menuntut pengorbanan ekstra. Apakah hal ini akan mengerutkan nyali atau menyurutkan langkah Cipta Gatra dalam upaya meraih MURI berikutnya ?

Lihatlah, dalam obrolan sesusai acara, nampak Untung Suripno dan Mayor Haristanto, riuh berbagi gagasan. Keduanya melakukan brainstorming untuk menemukan ide-de baru guna meraih prestasi MURI berikutnya. “Bulan November 2009, Cipta Gatra akan membuat sesuatu kehebohan lagi,” tulis Bapak Untung di sms kepada saya.

Hari-hari ini “keraton” Banguntapan semoga lagi diisi dengan kegembiraan. Termasuk menular kepada Ibu Erry dan juga Clara Bunga Persada. Saya yang telah menerima 2 rekor MURI, Mayor Haristanto sebanyak 21 rekor, tetap saja di sore itu kami berdua tetap merasakan kegembiraan yang menggetarkan ketika salah satu warga Trah Martowirono kini sukses pula meraih penghargaan serupa.

Kami bertiga berpisah di Prambanan. Mas Untung sempat bertanya kepada saya, “mau pulang ke rumah barat atau ke rumah timur ?” Rumah barat adalah rumah beliau di Modalan, Banguntapan. Rumah timur, di Kajen Wonogiri.

Saya bersama Mayor lalu naik bis menuju Solo. Saya sore itu ingin pulang dulu ke rumah timur. Tetapi dalam obrolan dengan Mas Untung, tak tertutup kemungkinan, saya akan rada sering tinggal di rumah barat itu pada hari-hari mendatang.

Cerita dan foto-foto lainnya dari momen bersejarah di Prambanan itu semoga akan bisa menyusul. Saya lagi menunggu kiriman dari Rico.

Sampai jumpa di obrolan mendatang.


Wonogiri, Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2009


trahmar

Saturday, October 10, 2009

Gunungan Keraton Banguntapan di Hari Pangan Sedunia 2009




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tugas mulia. Mobil merah bak terbuka itu penuh sayuran dan buah. Bagi yang tidak mengetahui, mobil yang pada sisi kiri dan kanan bertuliskan Rico Promo itu mudah diduga sebagai mobil milik tukang sayur yang berkeliling menemui pelanggan.

Apakah makan buah-buahan dan sayuran kini sedang gencar dipromosikan ?

Bisa juga begitu. Tetapi ketika mobil itu memasuki lot candi Siwa di komplek candi Prambanan, menjelang senja jatuh 10/10/2009, dugaan bisa makin rumit. Apakah buah dan sayuran itu akan digunakan sebagai sesaji bagi Betara Siwa agar dirinya tidak mengamuk, merusak dan menghancurkan isi dunia, seperti karakter yang tertakdir bagi dirinya ?

Dugaan satu ini keliru. Buah dan sayuran yang dibeli oleh Pak Klono bersama anak buahnya dari Kulon Progo itu digunakan untuk tujuan mulia. Salah satunya adalah untuk mencatatkan prestasi bagi Cipta Gatra, korporasi yang berkiprah sebagai mitra penyelenggaraan pameran, kegiatan promosi dan pemasaran. Kiprah ini dirintis sejak 1998 di Yogyakarta oleh Bapak Untung Suripno dan operasinya di lapangan kini di bawah komando Frederico Ario Damar, sang putra.

Ikon HPS 2009. Buah dan sayuran itu akan digunakan sebagai bahan membuat maskot upacara tingkat nasional dari Hari Pangan Sedunia 2009 yang dipusatkan di Yogyakarta. Maskot itu berupa gunungan buah, replika dengan ukuran lebih besar dibandingkan dengan gunungan kakung yang secara rutin tiap tahun diarak oleh Kraton Yogyakarta pada upacara Garebeg Syawal.

Gunungan buah itu nantinya akan tercatat di Museum Rekor Indonesia/MURI. Sehingga secara guyon dapat dikatakan bahwa di Yogya kini telah muncul “keraton baru” :-), yang ikut membawa-bawa nama Trah Martowirono, karena juga mampu mengeluarkan gunungan. Keraton satu ini, katakanlah sebagai keraton kreativitas, lokasinya di Banguntapan, Bantul.

gunungan buah,hari pangan sedunia 2009,cipta gatra,rico promo,badan ketahanan pangan diy,frederico ario damar,untung suripno,bambang haryanto,trah martowirono

Ketika saya pertama kali mengunjungi lokasi “keraton baru” itu, 8/10/2009, nampak kerangka gunungan itu (foto) sedang dibangun. Di halaman bengkel kerja Cipta Gatra di Bantul. Mengamati sekitar, memang tidak nampak puluhan sentono yang bersurjan atau sedang membakar dupa, tetapi mereka semua mengerjakan gunungan itu dengan sepenuh hati.

Gambar rancang bangun gunungan itu hasil olahan Sutik, lulusan Geologi UGM dan kawan akrab Rico, yang main klak-klik di atas tombol komputer di ruang kerja, akhirnya mampu mewadahi pesan-pesan yang visioner, yang menjangkau akhir perjalanan hidup setiap umat manusia. Ujudnya pun cukup indah dan spektakuler.

Makna gunungan itu bila dikaitkan dengan ajaran Islam dan falsafah Jawa, dapat diwedar bahwa puncak gunung adalah melambangkan keesaan Tuhan Yang Maha Esa. Gunung juga melambangkan ajaran manunggaling kawula gusti, bersatunya antara manusia dengan Tuhannya, juga sebagai gambaran perjalanan manusia menghadap Sang Khalik guna menuju kesempurnaan hidup di alam keabadian, alam kelanggengan.

Cipta Gatra yang dalam membangun maskot itu sebagai mitra kerja Badan Ketahanan Pangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyajikan data bangunan sebagai berikut : tinggi gunungan 4,5 meter, diameter landasan bawah 2,5 meter dan tinggi vustek 60 cm. Materi gunungan meliputi jagung, kobis, pisang, nanas, jambu, buah naga, wortel dan bahan lainnya.

Sinergi dan harmoni. Gunungan buah tersebut akan bersanding dengan gunungan kakung dari Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat yang bahan dan ukurannya sesuai dengan pakem yang ada dan dibuat oleh abdi dalem kraton.

Duo gunungan itu boleh jadi nantinya menggambarkan suatu sinergi yang harmoni antara keluhuran nilai-nilai masa lalu yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan umat manusia masa kini dan masa depan. Termasuk tantangan berat dunia ini, yaitu ketersediaan pangan bagi milyaran manusia penghuninya.

Tidak meleset bila pesan penting dari peringatan Hari Pangan Sedunia XXIX-2009 ini bertujuan menumbuhkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat terhadap potensi sumber daya alam serta tantangannya untuk mewujudkan ketahanan pangan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan dunia usaha dalam menyikapi masalah ketahanan pangan baik tingkat nasional, global maupun regional serta memperkokoh solidaritas antarbangsa dalam usaha memberantas kekurangan pangan dan gizi yang masih dialami oleh sebagian penduduk dunia terutama di negara berkembang.

Gambar dan pesan-pesan besar itu hari-hari ini ikut juga dikampanyekan oleh Cipta Gatra. Di tengah kemeriahan peringatan hari penting itu, juga ditengah hiruk-pikuk pameran International Food Expo 2009 yang berlangsung, sebuah karya dari salah satu warga Trah Martowirono nampak menjulang cantik di tengahnya.

Memang, mungkin nanti tak banyak orang akan mencatatnya. Tetapi ribuan bunyi tombol komputer di bengkel Cipta Gatra atau di ruang kerja Bapak Untung dan Rico di rumah Modalan, juga hentakan palu mengunjam paku di Prambanan, sampai percikan indah air mancur mini yang asri di base kedua gunungan itu berdiri, menandakan sebuah monumen tekad untuk memberi manfaat bagi orang lain telah kokoh berdiri di persada bakti.

Setiap hati warga trah mencatatnya. Dunia pasti juga segera ngikut, senantiasa mengabadikannya. Di masa depan, percayalah, berkahnya pun mampu menebar : ke mana-mana, di mana-mana !


Banguntapan, 8-10/10/2009

trahmar

Monday, October 05, 2009

Sukses Gorda, Sukses Rico, Sukses Trah Martowirono



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorline (at) hotmail.com


Bekerja pada kami ! Upacara wisuda sarjana di Virginia Tech berlangsung meriah di sebuah stadion tertutup.

Sesudah upacara usai, kelompok wisudawan dari jurusan Teknik terdengar menggemuruhkan yel-yel dengan penuh kebanggaan.

“Kita lulus, langsung bekerja !”
“Kita lulus, langsung bekerja !”

Barisan wisudawan dari jurusan Bisnis langsung menimpali yang tidak kalah serunya : “Bekerja pada kami ! Bekerja pada kami !”

Lelucon di atas merupakan sebagian dari isi buku kumpulan lelucon saya yang diterbitkan masa jadul, tahun 1987. Lelucon itu kembali berparade di kepala saya ketika terjun dalam kemeriahan acara Reuni Trah Martowirono XXIII-2009 di Museum Benteng Vredeburg, 23 September 2009.

Utamanya ketika mewakili Taler 1 sebagai tuan rumah untuk menyampaikan ucapan selamat datang, telah tampil ke panggung Slagen Abu Gorda, SE yang diikuti “ajudan tiban,” Chandra Gatot Pribadi yang nampak nuklun dan bersahaja a la pak guru Umar Bakri yang pegawai negeri.

Seperti terwakili dalam foto dan adegan, ulah keduanya jelas sebuah parodi yang mampu menggelitik tawa. Tawa sekaligus menggaruk kepedihan ketika mengenang jaman masa lalu. Ketika negeri kita ini dicengkeram oleh sosok tiran yang ucapannya halus tetapi tindakannya mengerikan.

Aksi Gorda mengingatkan sosok Butet Kertarajasa ketika monologer sohor itu seringkali melakukan mimicking terhadap aksi sosok tiran yang sama. Dan, lihatlah Chandra Gatot Pribadi, ia nampak serasi dalam :-( berakting mengenakan baju Korpri kebanggaan para pegawai negeri sipil, termasuk bokapnya :-( di masa sebelum reformasi bergulir. Dan lihatlah lagi bahasa tubuhnya, menunjukkan kepatuhan yang berselimut ketakutan terhadap sang tiran bersangkutan.

Beragam krida untuk dunia. Syukurlah, masa lalu itu kini telah menjadi bahan parodi, termasuk di panggung reuni trah kita. Tetapi dalam realitas, kedua pelaku adegan itu memiliki jalur hidup dan karier masing-masing. Walau pun sama-sama memiliki akar yang sama, berasal dari pasangan Martowirono, kini cucu, cicit dan keturunannya memiliki panggilan hidup masing-masing. Ibarat nyala kunang-kunang yang menyebarkan cahaya dan keindahan, “ke mana-mana, di mana-mana.”

Salah satu nyala kunang-kunang yang membesar cahayanya, adalah yang disandang oleh Abu Gorda. Lewat perjuangan gigih, ia baru saja terpilih sebagai wakil rakyat untuk berkiprah di DPRD Kabupaten Sukoharjo. Seperti dalam foto koran Solopos (22/4/2009) di bawah ini, foto dirinya nomor 4 dari kiri, disebut sebagai muka-muka baru di kancah pengabdian sebagai legislator di Kota Makmur itu. Sebagai warga trah, kita semua bangga untuk prestasi Abu Gorda yang mampu meraih cita-citanya.

Kita semua mencatatnya. Tentu kita masih ingat, saat ia memproklamasikan tekadnya menjadi anggota legislatif saat Reuni Trah Martowirono XXI di komplek mewah, mepet sawah, rumah Bapak/Ibu Untoro Setyabudi di Polokarto, 15 Oktober 2007. Hal serupa kemudian diteguhkan saat reuni tahun berikutnya, di Kajen Wonogiri, 5 Oktober 2008. Setelah sukses, saat di Yogya, 23 September 2009, Abu Gorda mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar Trah Martowirono yang telah menyengkuyung doa sehingga ia berhasil.

Termasuk khusus memberikan apresiasi yang tinggi kepada keluarga Mulyono/Titis dari Taler 2 asal Gayam Sukoharjo dan keluarga Parmono/Siti Fatimah dari Taler 3 asal Polokarto yang ia sebut sebagai tim sukses andalan bagi keberhasilannya.

“Sukses saya karena banyak dibantu teman-teman,” kata Abu Gorda seperti terungkap dalam wawancara via telepon dengan wartawan Solopos. Gorda pantas masuk berita karena dianggap sebagai kuda hitam, tokoh muda sekaligus wajah baru di kancah perpolitikan, tetapi dirinya meraih perolehan suara paling tinggi di Sukoharjo. Fantastis dan membanggakan.

“Inilah gaya politikus Facebook,” gumam saya ketika membaca-baca koran tentang Gorda di Perpustakaan Umum Wonogiri. Karena situs jaringan sosial di Internet itu denyut hidup, popularitas dan manfaatnya disukai lewat cara menfasilitasi setiap individu untuk memperluas jaringan pergaulannya dengan cara mudah dalam menambah teman. Dengan klik dan klik semata. Mungkin Gorda menang karena melakukan strategi Facebook yang serupa.

Dalam konteks “politikus a la Facebook” itu maka sosok dan kerja keras Bapak Teguh Priyono dan Ibu Suharti, sebagai orang tua, mungkinkah tak lebih dari seorang “friend” bagi legislator muda kita itu ? Saya sempat usil membayangkan adegan ini. Suatu saat keluarga trio ini tiba di depan rumah, yang menurut Gorda isinya kembang dan lemari :-) itu, secara bersamaan. Salam Gorda kepada Bapak Teguh Priyono dan Ibu Suharti, akankah berbunyi : “Hallo, friends. Apa kabar hari ini ?”

Menebar berkah. Sori friend, itu hanya canda semata. Abu Gorda saya sebut sebagai friend karena saya sebagai pengelola akun Warga Trah Martowirono, legislator asal PDIP Kabupaten Sukoharjo itu memang telah menjadi friend saya di Facebook juga.

Semoga akun Facebooknya itu dapat ia manfaatkan dalam berkiprah sebagai wakil rakyat. Yang pasti, kita tak ragu mengucapkan salut dan sukses untuk Gorda. Termasuk harapan sukses untuk cita-citanya yang tinggi, berkiprah di dunia perpolitikan tingkat nasional, di masa depan.

“Semoga anak ini tidak mengecewakan keluarga besar Trah Martowirono dalam berbakti kepada bangsa dan negara,” demikian balas SMS dari Bapak Teguh “Ahli Kebersihan Kapal” Priyono ketika membalas SMS di hari saat putra semata wayangnya itu dilantik sebagai anggota legislatif. Berkiprahlah, Gorda, untuk terus mampu menebar berkah.

Ucapan yang sama dengan nada optimis serupa, semoga warga trah masih ingat, juga dilantangkan oleh Frederico Ario Damar di panggung. Di acara reuni itu ia tak memakai baju Korpri jadul lungsuran dari sang bokap, tetapi tampil sebagai sosok anak muda yang mantap untuk menyusuri “jalan pedang” a la pendekar Musashi, alias jalan untuk memenuhi panggilan hidup sebagai seorang entrepreneur di bidang pameran. Kini Rico memimpin usaha Cipta Gatra Exhibition Partner di Yogyakarta.

Setelah reuni usai, saya sempat mengirim email ke Rico. Saya menyatakan salut dan terkesan atas presentasinya, yang menyatakan bahwa kiprah perusahaannya itu telah mampu menebarkan berkah bagi banyak orang.

Berbeda dengan lelucon tentang wisudawan sarjana teknik dari Virginia Tech yang begitu lulus langsung ingin mencari pekerjaan, Rico justru menempuh jalan orisinal, menempuh rute yang lebih berat. Ia memilih untuk mengkreasi pekerjaan. Untuk dirinya sendiri. Juga untuk orang lain. Berkahnya pun kemudian mampu menebar, “kemana-mana, di mana-mana.”

Sungguh membanggakan.

Perjuangan dan sukses Abu Gorda, juga sukses Rico, merupakan inspirasi bagi semua warga trah kita. Dunia ini adalah dunia yang melimpah ruah, semua insan mampu memperoleh roti dalam hidupnya, tanpa perlu menggerogoti roti jatah jalan hidup milik orang lain.

Atau dalam kalimat yang lebih bernas muncul dari penulis Amerika, Christopher Morley (1890–1957), bahwa “hanya terdapat satu jenis sukses, yaitu mampu menjalani hidup dengan menyusuri jalan yang telah Anda pilih.”

Di Museum Benteng Vredeburg, warga trah kita bersatu. Setelah usai, kita kembali menyusuri jalan hidup masing-masing. Ada pesan luhur yang harus kita cerna dan camkan ketika kita masing-masing pulang dari Benteng Vredeburg itu. Yaitu saat kita pulang dengan diganduli tas kain pro-gerakan cinta lingkungan hidup yang berisi ulih-ulih : sebungkah roti yang manis.

Itulah roti sukses warga Trah Martowirono dalam beragam krida sebagai insan yang berguna bagi sesama. Dalam kiprah yang dipilih, ditekuni dan juga dicintai dengan sepenuh hati.


Wonogiri, 6/10/2009

trahmar

Sunday, October 04, 2009

Trah Martowirono, Cinta, Banu dan Zaza




Oleh : Bambang Haryanto
Email :humorline (at) hotmail.com


Anugerah hebat. Arsenal mengalahkan Blackburn Rovers, 6-2. Sayangnya, tidak semua enam gol yang dilesakkan tim asuhan Arsene Wenger itu bisa saya saksikan langsung melalui saluran Indovision, Minggu Malam, 4/10/2009 yang lalu.

Saat beberapa gol itu terjadi saya sedang mengembara, menunggangi remote control untuk menonton potongan siaran dari televisi lain. Antara lain acara Golden Ways-nya motivator Mario Teguh di MetroTV. Salah satu ucapan dia yang menohok malam itu adalah ketika menjelaskan tentang konsep diri mengenai “saya” dalam kosmologi ke-Illahi-an.

Banyak orang, menurut Mario Teguh, sering terlalu menyederhanakan kehadiran diri “saya” itu di dunia. Orang seringkali hanya melihat “saya” sebagai suatu kehadiran yang bersifat fisik, tanpa melihat bahwa di belakang atau yang bersama sosok “saya” itu berimpit didalamnya beragam anugerah Tuhan yang membuat sosok komprehensif “saya” itu memiliki keistimewaan dalam kehadirannya di dunia ini.

Anugerah itu disebutnya, misalnya kharisma, pengaruh, aura sampai misalnya ucapan dirinya yang dapat menggerakkan atau mampu memengaruhi orang lain untuk berbuat kebaikan.

Malam itu tema acara Mario Teguh adalah “Saya + Tuhan = Cukup.” Sayang, malam itu tabiat saya yang jelek masih muncul. Saya tidak ditemani dengan bloknot untuk menulis hal-hal penting dari siaran itu. Padahal beberapa hari sebelumnya, 30/9/2009, ketika memberikan kuliah umum di depan mahasiswa baru Sekolah Tinggi Manajemen & Ilmu Komputer (STMIK) Sinar Nusantara, Surakarta, saya mengajurkan mereka untuk membawa bloknot dan bolpoin, “kemana-mana dan di mana-mana.”

Untuk apa ? Untuk mencatat segala hal yang penting dan menarik bagi mereka. Karena ingatan mudah lupa, aktivitas mencatat itu juga merupakan kiat untuk mengasah ketajaman otak mereka.Sekaligus membuat hidup sampai karier profesional mereka menjadi lebih sukses dan produktif.

Mungkin malam itu saya masih terbius ucapan pendiri Apple Corp., Steve Jobs. Ia bilang : hidupkan komputer otak Anda menjadi hidup, tetapi hidupkanlah televisi maka otak Anda pun segera mati.

Oleh karena di depan layar tv itu otak saya lagi “mati,” maka sepanjang yang bisa saya ingat adalah satu-dua ucapan kunci Mario Teguh yang menjelaskan hal menarik. Bahwa menurutnya, bila kita selalu merasa bersama Tuhan maka yang terjadi hidup kita menjadi damai, berupaya (koreksi tambahan dari Anna Sari), bermakna (?) dan berani. Suatu saat saya akan mengunjungi situsnya, untuk mengelaborasi ajarannya ini.

Tradisi a la Mafia. Yang pasti, kata “berani” itu mengingatkan saya akan salah satu adegan saat berlangsungnya Reuni Trah Martowirono XXIII-2009 yang lalu. Muncul dari Ibu Retno Winarni bersama suami, Bapak Agus Budi Santoso yang berkarier di BCA Solo, untuk rela keroyo-royo untuk bisa hadir di Yogya. Anda masih ingat akan kedua beliau yang memiliki posisi unik sebagai warga Trah Martowirono ?

reuni trah martowirono XXII-2008,agus budi santoso,bambang haryanto,retnowinarni,kajen,wonogiri

Kedua beliau pertama kali hadir dalam reuni kita yang ke-20/2006 di Kedunggudel. Lalu hadir di reuni yang ke-22/2008 di Kajen, Wonogiri. Saat itu, seperti nampak dalam foto, sedang disemati pin Trah Martowirono. Dalam reuni di Yogya saya sempat mengingatkan beliau, bahwa untuk resmi diakui secara lahir dan batin sebagai warga keluarga besar Trah Martowirono bagi mereka yang di luar hubungan darah, “harus memenuhi syarat tertentu.” Ketentuan itu mengacu pada tradisi Mafia di Italia Selatan.

Syarat yang berat. Pada tahun ketiga, mereka harus mendaftar 3.650 orang yang menjadi musuh-musuh Trah Martowirono. Lalu setiap hari harus menemukan 10 orang dari mereka, dan membunuh mereka satu persatu. Dalam setahun, akan komplit sekitar 3.650 musuh-musuh Trah Martowirono enyah dari dunia ini.

“Tetapi karena Trah Martowirono merasa tidak punya musuh,” seperti saya katakan dalam acara reuni Yogya untuk menyambut kedua beliau, “maka syarat di atas tidak berlaku. Anda dan keluarga adalah warga kami.” Buktinya, keluarga Agus dan Retno Winarni ini juga mendapat kesempatan untuk tampil di panggung.

Sayangnya, beliau belum banyak bercerita tentang keluarga asal Solo ini. Sebaliknya, justru memberikan apresiasi kepada warga Trah Martowirono yang ia sebut sebagai berani untuk tampil, berani untuk berbicara di depan audiens.

banu

Secara khusus ia menyebut Banu dan Zaza, putra/putri Bapak Santoso Priyo Utomo. Nampak dalam foto keduanya yang masih duduk di bangku SD, tanpa menunjukkan rasa takut atau ragu-ragu, langsung naik ke panggung. Mantap dan ceria memegang mik, lalu bercerita mengenai keluarganya kepada seluruh hadirin.

Terima kasih, Ibu Retno Winarni.
Salut untuk Zaza.Salut untuk Banu.

Mengapa mereka berani ? Karena mereka berdua, dan semua warga trah kita, sama-sama tahu bahwa diri mereka akan tidak dihakimi, melainkan akan selalu diterima. Diapresiasi. Dicintai. Apa adanya. Apalagi acara reuni trah itu masih dilekati oleh suasana hari Idul Fitri, hari ketika antarpribadi dengan kerelaan dari sanubari, untuk saling memberi maaf, alias menerima masing-masing fihak sebagai insan yang mulia sebagai makhluk Tuhan.

Pesan ini sering tidak secara jelas terkatakan. Tetapi selalu merambati hati. Dalam acara reuni XXII/2008 di Kajen, Wonogiri, Bapak Untung Suripno mengatakan : “Bila tanggal pertemuan itu tiba maka acara apa pun dihindari, karena ingin jumpa saudara di acara temu trah ini. Jujur saja, acara pertemuan trah ini membikin usia awet muda, linggo-lico, lali tonggo-lali konco, isinya cuma satu yaitu : seneng.”

Terima kasih, Mas Untung.

Api seneng yang sama, yang terus berkobar setelah acara usai, sehingga memicu hadirnya tulisan ini. Untuk mengabadikannya dalam kenangan yang bisa dibagikan. Untuk bisa menceritakan pernak-pernik unik trah kita ini kepada dunia.

Dalam acara reuni trah kita, memang tak ditampilkan lagu legenda “Just The Way You’re” dari Billy Joel. Tetapi saat pulang dan hari-hari berikutnya, sebagian lirik lagu itu senantiasa mendengung di hati saya :

I said I love you (warga Trah Martowirono), and that's forever
And this I promise from the heart,
I could not love you any better
I love you just the way you are


Wonogiri, 5/10/2009


trahmar

Saturday, October 03, 2009

Tas Ulih-Ulih, Trah Kita Menyelamatkan Dunia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Cinta dalam segenggam cabe. “Mobil, mebel, istri sampai anak, semuanya disposable, mudah dibuang. Karena yang utama dewasa ini adalah berbelanja.” Demikian kata Arthur Miller, dramawan terkenal dari Amerika Serikat.

Potongan dialog dalam naskah dramanya yang berjudul The Price (1968) itu membuat saya tersenyum. Sebagai bujangan tua, ya pasti saya belum pernah membuang istri, apalagi membuang anak. Membuang mobil sampai mebel, baik milik sendiri atau milik tetangga, juga belum pernah. Tetapi mental suka “berbelanja,” sebagaimana orang kebanyakan, adalah sebagian aktivitas sehari-hari saya.

Aktivitas berbelanja adalah keharusan. Karena saya masak sendiri. Di Pasar Wonogiri saya memiliki kios favorit tertentu untuk membeli 6 T : tahu, telur, tempe, teri, tomat sampai terasi. Juga ada kios untuk membeli cabe yang murah. Atau membeli cabe di mana pedagangnya yang cantik memberi bonus istimewa.

Berupa mata yang berkilat-kilat, yang setiap kali bertemu memberi isyarat bisu yang getarnya menderu-deru : “Apa kabar, sayang ?” Selama masih doyan cabe, saya baik-baik saja. Kita akan selalu bertemu. :-).

Begitulah. Sebagaimana slogan a la mBah Surip bahwa “Trah Martowirono ada di mana-mana,” isyarat cinta juga ada di mana-mana. Termasuk tersembunyi di balik tumpukan cabe keriting di kios pasar. Tetapi di swalayan, selama ini, belum saya temukan isyarat-isyarat indah seperti di kios lombok itu. Malahan tatapan mata yang mengandung keheranan.

Sumber tak terbarukan. Kasir swalayan, baik di Tiptop dan Terminal Arto di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, atau Baru di Wonogiri, sering memandangi saya dengan heran. Yaitu ketika saya tidak mau barang-barang yang saya beli mereka bungkus dengan tas plastik. Karena saya memang membawa tas sendiri dari rumah. Tas itu pun bisa saya pakai berkali-kali. Sebuah buku memberi saya ilham untuk berbuat itu.


Tahun 1992 saya memfotokopi dari perpustakaan American Cultural Center di Jakarta sebuah buku menarik : 50 Simple Things You Can Do To Save The Earth (1989). 50 Hal Sederhana Yang Dapat Anda Lakukan Untuk Menyelamatkan Bumi Kita. Tentang tas-tas plastik yang sering kita peroleh saat berbelanja di swalayan (foto), buku itu membeberkan fakta mengejutkan.

Misalnya : tas-tas plastik itu tidak bisa diurai, terbuat dari minyak tanah, sumber energi yang tidak terbarukan. Bila plastik itu terbawa ke laut berpotensi membunuh satwa laut, karena disangka sebagai makanan yang membuat buntu pencernaannya. Tinta cetak di tas itu mengandung cadmium, logam berat beracun. Bila sampah itu dihancurkan maka cadmium tersebut akan mengapung ke udara kita.

Merujuk ancaman pencemaran yang serius oleh milyaran tas-tas plastik itu membuat pemerintah Cina melarang toko-toko swalayan membagikan sarana pembungkus itu. Sebagaimana dikutip situs koran The New York Times (http://www.nytimes.com/2008/01/09/world/asia/09iht-plastic.1.9097939.html?_r=1), sejak 1 Juni 2008 larangan itu diberlakukan. Kemudian penduduk Cina dianjurkan pergi ke toko dengan membawa tas kain dan keranjang belanja.

Langkah Cina itu tidak sendirian. Peraturan yang melarang penggunaan tas-tas belanja plastik itu juga diberlakukan di Afrika Selatan, Irlandia, Taiwan, juga Bngladesh dan kota-koat kecil di negara bagian Alaska di Amerika Serikat. Tahun lalu, San Francisco (AS) juga melarang produk serupa. Di Jakarta, Bandung dan kota-kota lainnya di Indonesia, akhir-akhir ini juga muncul gerakan cinta lingkungan yang mengajak masyarakat pergi berbelanja dengan membawa tas kain dari rumah.

Photobucket


Trah kita harus juga ikut serta. Bagaimana langkah trah kita ? Dalam acara reuni Trah Martowirono XXIII/2009 di Yogyakarta, keluarga besar Taler 1 Haswosumarto-Suripti sebagai tuan rumah, telah membekali masing-masing peserta reuni berupa bingkisan ulih-ulih yang berkesan. Dalam foto nampak “Jenderal” Wiranto dari Tekaran sebagai model yang menjinjing bingkisan bersangkutan.

Ketika hiruk-pikuk Benteng Vredeburg surut, isi bingkisan yang manis itu seolah membuat aroma pertemuan bersejarah kembali berparade di kepala. Semakin menjadikan momen berkesan yang sulit dilupakan.

Tetapi yang juga sangat istimewa adalah tas kain yang membungkus ulih-ulih itu. Juga pesan disebaliknya. Bagi saya, tas kain itu di hari-hari mendatang akan selalu saya bawa bila hendak berbelanja, terutama bila ke swalayan. Mungkin kasir toko akan merasa keheranan.

Mungkin secara sekilas mereka akan membaca tulisan “Reuni Trah Martowirono XXIII-2009” dari tas yang berkontur batik itu. Mungkin mereka juga tidak sempat berpikir bahwa dengan membawa tas unik itu saat berbelanja ke tokonya memiliki makna yang tidak kecil bagi warga trah kita tercinta dalam ikut berupaya menyelamatkan dunia.

Dengan tas itu, sekali lagi seperti plesetan lirik lagunya mBah Surip, bisa membawa bendera “Trah Martowirono ada di mana-mana.” Bila itu yang terjadi, saya merasa almarhumah Bude Haswo (wafat 30 November 1986), alias Ibu Suripti dan Pakde Haswosumarto, pasti berbangga dengan gagasan dan kiprah putra-putri, sekaligus cucu-cucunya di reuni trah kita itu.

Yang antara lain secara elegan mampu memberi warna Reuni Trah Martowirono XXIII-2009 dengan pesan yang luhur bagi semua warga trah, bahwa mulai hari itu kita mampu berbuat untuk ikut serta menyelamatkan dunia. Caranya mudah : bawalah dan gunakanlah tas kain bersejarah saat berbelanja.

Di mana-mana.
Ke mana-mana.

Wah, Trah Martowirono, mantep to ?


Wonogiri, 4/10/2009

trahmar

Selebritis Pejuang 45 Tiban di Benteng Vredeburg




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Bung Karno Jaya ! Jenderal Sudirman harus mengaku kalah ketika bersaing melawan Bung Karno.

Sosok Jenderal Sudirman diperani oleh Bari Hendriatmo dari Jember. Dalam foto di atas, ia dikawal oleh putranya Reza Ahimsa Hendriano yang berseragam gerilya dan bersenjata. Bung Karno juga sukses mengalahkan “Rambo” dari Wonogiri.

Masihkah ingat, saat kita ramai-ramai bertemu di Reuni Trah Martowirono XXIII, 23 September 2009, di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, yang lalu ? Ketiganya berkontes bukan lewat adu dalam piawai dalam berpidato. Bukan lewat coblosan. Bukan pula lewat perang gerilya.

reuni trah martowirono XXIII-2009,benteng vredeburg,hompimpah,busana terheboh dalam reuni itu

Lihatlah dalam foto koleksi Anna Sari itu. Ketiganya berusaha merebut kemenangan dengan metode hompimpah tanpa alaiyung gambreng sebagai penutup mantra. Ketiganya nampak benar-benar jago hompimpah, karena hasilnya selalu draw. Dan pada putaran keempat baru hadirin mengetahui siapa juaranya. Siapa juaranya ?

reuni trah martowirono XXIII-2009,benteng vredeburg,sudoyo,bari hendriatmo,bambang haryanto

Sosok Bung Karno yang aslinya Bapak Sudoyo asal Kaliurang dari Taler 1 yang berhasil sebagai juara. Suami Ibu Dwi Hastuti itu meraih piala sebagai warga Trah Martowirono yang berbusana paling heboh dalam acara reuni ke-23 yang lalu.

Jago di luar arena. Saya yang memperoleh sebutan “Rambo” itu, ternyata memperoleh kemenangan di medan lain. Sekedar info, nama “Rambo” itu diciptakan secara spontanitas saat itu oleh Mayor Haristanto, sebagai juri. Mungkin karena saya memakai kostum dengan berselempang rangkaian peluru berkaliber 12,7 alias setengah inci.

Bila saja Pakde Sukirman Haswosumarto (wafat 3 November 1987) atau bapak saya Kastanto Hendrowiharso (wafat 9 Desember 1982) masih hidup, kedua beliau yang sama-sama tentara pejuang 1945 itu pasti bisa bercerita mengenai “kesaktian” bedil yang memakai peluru berkaliber besar itu.

Menjadi Rambo sehari, haruslah mau berkorban. Yang saya rasakan, memang rada berat membawa peluru-peluru itu saat jalan kesana-kemari. Tetapi demi bisa ngeceng di depan sesama warga trah, beban itu tidak terasa apa-apa.

Syukurlah, selempang peluru itu menjadi rada match ketika saya diberi peci pejuang oleh Mayor. Peci saya polos, sementara yang dipakai Yudhis (anaknya Betty) ada tulisannya, “Merdeka !.” Lalu kami bertukar peci itu.

Selebritis tiban. Peci putih khaki tersebut ternyata membawa tuah, justru ketika acara reuni kita usai. Ketika rombongan Wonogiri keluar dari komplek beteng, menuju mobil yang dipiloti Hening Kristanto (putra Bulik Yam Selogiri) yang parkir dekat alun-alun Yogya, saya memperoleh kejadian mengejutkan.

Begitu keluar dari pintu beteng, persis di bawah tulisan “Benteng Vredeburg” (?), ada pengunjung rada meneriaki saya. Ia sedang memotret keluarganya dan ia meminta saya ikut bergabung. “Bapak kan berkostum pejuang, dengan peci “Merdeka,” mari saya abadikan bersama keluarga kami.”

Dengan senang hati saya memenuhi permintaan itu. Kamera pun menyalakan lampu kilat beberapa kali. Sambil berbagi senyum, keluarga itu lalu berpamit. Peran saya sebagai selebritis tiban yang memerani pejuang 1945, selesai. Terlalu cepat. Rada GR dan setengah kecanduan, lalu saya agak berteriak ke pengunjung lainnya : “Siapa ingin berpotret bersama pejuang 45 ? Siapa ingin berpotret bersama pejuang 45 ? “

Saya agak menyesal, karena selama ini saya belum punya kartu nama, business card, untuk mempopulerkan Trah Martowirono. Kalau punya kan, hmm-hmm, minimal mereka akan tahu siapa oknum “pejuang” yang baru saja ia potret itu.

Siapa tahu untuk menambah kenalan dan persaudaraan. Termasuk mengenalkan dan menularkan sejarah, polah sampai seluk beluk trah yang heboh ini. Tentu saja itu trah kita semua : Trah Martowirono tercinta.


Wonogiri, 3/10/2009

trahmar

Saturday, September 26, 2009

Vredeburg, Cinta dan Lorong Sejarah Trah Martowirono




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Belanda memisahkan. Trah Martowirono menyatukan. Pesan itu mencuat kuat pada sajian film parodi pendek impresif, berjudul “Seboeah Perjoeangan”

Film garapan trio sineas aliran New Sheepskin Cloud (aka Awan Wedus Gembel Baru) yang menegaskan betapa “cinta, ibarat jarum dan benang yang mampu menyatukan keluarga.” Inilah kemudian yang terjadi.

Kain-kain keluarga Trah Martowirono yang bisa bersatu itu kemudian tampil warna-warni. Juga jarumnya. Juga benangnya. Juga hati yang menggerakkannya. Di Benteng Vredeburg, Djogdjakarta, Rabu, 23 September 2009, rangkaian kain-kain indah milik warga Trah Martowirono seolah terentang menembus liku lorong-lorong sejarah. Dari masa lalu, masa kini, dan menyongsong masa depan.

Terima kasih, Aningtyas.
Terima kasih, Bakoh Putra.
Terima kasih, Chandra Gatot.

Akhirnya, tidak terelakkan, benteng Vredeburg itu pula kini menjadi bagian sejarah Trah Martowirono. Begitu juga sebaliknya. Keduanya saling jalin-menjalin dari masa kelam, masa penjajahan, dan kini bersinar di masa untuk mengisi kemerdekaan.

Kita mundur dulu ke masa lalu. Sejarah mencatat, benteng Vredeburg merupakan simbol politik pecah belah Belanda. Berdirinya benteng ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah Traktat Giyanti, 13 Februari 1755. Traktat yang dirancang Belanda itu memang mengakhiri perseteruan antara Paku Buwono III dengan Pangeran Mangkubumi (yang kemudian bergelar sebagai Sultan Hamengku Buwono I).

Tetapi pada hakekatnya perjanjian tersebut adalah perwujudan usaha Belanda untuk membelah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Pendirian benteng Vradeburg di Yogya dan Vastenburg di Solo, tak lain sebagai pos penjagaan tentara kolonial Belanda untuk mengawasi kedua keraton tersebut. Politik pecah belah Belanda itu membekaskan perseteruan semu antara Solo versus Yogya. Bahkan lukanya masih mudah kembali menganga, misalnya ketika meledak perseteruan Djogdja-Solo berupa tawuran massa di kancah sepakbola. Sampai saat ini.


Momen cinta. Trah Martowirono yang berakar dari Kedunggudel, Sukoharjo, kini menyerbu Djokdjakarta. Tidak dengan pedang atau sambitan batu. Tetapi dengan cinta. Dengan kerinduan. Karena, antara lain, ibarat sebuah pohon maka kini cabang dan ranting trah ini sudah menjulur sampai Djogdja.

Banyak warga trah ini yang bersekolah, bahkan hingga beranak-pinak di kota gudeg ini pula. Ibu Dwi Hastuti (foto), dari Taler 1 yang kelahiran Tekaran, Selogiri, dan kini tinggal di Kaliurang, meringkas hal itu dalam gurat puisi renungan yang ia bacakan dalam suasana hening reuni itu :

“Ketika memilih jalan yang hendak dilalui, aku memilih jalan yang mengarah ke barat. Jalan itu bermula di hutan masa kanak-kanak, dan berujung di kota keberhasilan.”

Kota keberhasilan itu juga dijejaki adiknya, Untung Suripno.Dirinya menuntut ilmu, sejak SMP sampai perguruan tinggi, di kota pelajar ini pula. Juga bekerja. Sehingga berkeluarga, pada tanggal 16 Agustus 1982, sebagai tanda berdirinya “Kerajaan Bantul”-nya. Bantul itu singkatan slengekan : PramBANan (asal sang istri, Ibu Erry) dan Tekaran bergaUL.

bambang haryanto,bunga clara persada,untung suripno,hanum,mayor haristanto,reuni trah martowirono XXIII-2009

Dua puluh lima tahun kemudian, 16 Agustus 2007, Benteng Vredeburg ini mulai memiliki relevansi sebagai bagian sejarah Trah Martowirono. Karena pesta syukuran perkawinan perak Untung (berpidato ; dari kiri, Bunga,Mayor Haristanto dan Hanum) dan Erry, dirayakan di sini. “ Chains do not hold a marriage together,” tutur Simone Signoret (1921–1985), aktris Perancis. Rantai tidak mampu mempertahankan perkawinan, katanya.

Tetapi, “jalinan, ratusan jalinan benang-benang kecil yang mampu menjahit kebersamaan seseorang untuk mampu melewati tahun-tahun perjalanan. Itulah yang membuat perkawinan menjadi langgeng, lebih dari gelora syahwat dan nafsu.”

Jalinan benang-benang kecil itu termanifestasikan, misalnya, dan tak terlupakan, ketika muncul momen pemberian seuntai bunga kuning oleh Mas Untung ketika mBak Erry tampil di panggung. Juga sebaliknya. Julio Iglesias, penyanyi romantis Spanyol yang tepat berulang tahun ke 66 pada saat reuni trah itu dilangsungkan, seolah hadir sebagai tamu yang mengabadikan momen perayaan cinta itu dalam salah satu lagu indahnya :

Take my hand (take my hand)
Take my whole life too (life too)
For I can't help falling in love with you

Dalam kehangatan di bawah lindung selimut cinta siang itu, lalu menerbangkan harapan : “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Itu merupakan bagian dari lirik indah lagu “Pertemuan” yang dilantunkan Bunga Clara Persada saat membuka acara.

Celotehan mahasiswi cantik jurusan Teknik Industri UGM yang bersinergi dengan Hanum, mahasiswi hiperaktif dan cemerlang (“apalagi kalau malam memakai bedak terbuat dari fosfor”) yang kini belajar di Teknik Kimia UGM, saat menjadi hostess acara, kemudian ibarat benang indah yang menjalin harmoni perpindahan satu acara ke acara berikutnya.

Kata Bunga dalam SMS setelah acara yang ia pandu sukses : “Memang kalau kerja keras benar2 dari hati gak akan terasa berat.Saya senang jika semua orang juga senang.”

Terima kasih, Bunga.
Terima kasih, Hanum.

Dua ratus empat tahun lalu, akibat ulah liciknya, Belanda berhasil memecah Mataram menjadi dua kubu : Yogya vs Solo. Kini, sejarah mencatat hal lain. Saat reuni Trah Martowirono berlangsung, suatu kebetulan ada wisatawan bule yang keblasuk masuk arena. Malah ia kemudian ikut bergabung beberapa waktu dalam acara reuni yang disambut warga Trah dengan senang hati.

Ia seorang insinyur, projectorganisator dari BAM Rail bv. Namanya : Bart van Zwam. Berasal dari Breda, Belanda. Dalam foto ia nampak dikawal “pasukan gerilya republieken”, Mayor Haristanto. Bart mendapatkan sambutan meriah ketika dengan fasih menyebutkan nama trah kami :

Martowirono !

Momen yang ajaib. Di masa lalu, Belanda menggunakan politik untuk memisahkan. Di masa kini, Trah Martowirono dengan pendekatan hati, mempersatukan.


[Cerita heboh hip-hop dari Trah Martowirono di Benteng Vredeburg masih akan berlanjut.]


Wonogiri, 24/9/2009

trahmw

Friday, September 25, 2009

Pesta Suku, Burning Man Festival sampai Harajuku




ulang tahun september


[Maaf, laporan tertulis dan foto lainnya segera menyusul]

Wednesday, September 23, 2009

September Ceria, Dilarang Menonton, Semua Harus Bicara !



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Photobucket



[Maaf, laporan tertulis segera menyusul]

Friday, September 04, 2009

Enam Djam Di Djogdja, 2009 !


Satoe Akar, Ranting Jang Berboeah, Koenang-Koenang Jang Menjinari Doenia
Reuni Trah Martowirono XXIII-2009, Museum Benteng Vredeburg, 23 September 2009


Serangan Oemoem ! Mesin kangen-kangenan untuk bertemu mulai panas lagi. Menggelegak dari Lampung, pedalaman Kalimantan, sampai di sela hiruk pikuk keramaian kota Djogdja yang semakin metropolis. Di antara mega-mega wedus gembel yang tipis ramah memayungi euforbia cantik yang tersenyum di Kaliurang.

Ia membara di antara nyanyian cengkerik di lindung semak padi di Boyolali, Polokarto, di interval desis ban-ban bis di sebelah barat rumah Selogiri, menyelip langit musim gugur di Perth, keriuhan angkot Bogor, suara pasar dan dengung layar televisi berisi liputan ESPN di kantor Palmerah.

Deru kangen itu bercampur warna-warni parade sunyi yang menghamburkan embrio gagasan gila di Kadipiro, dengung santri mengaji di Jember sampai meniti buih ombak Gilimanuk, di antara bau minyak tanah, bensin dan denting besi-besi onderdil bis di Ngadirojo, sampai tarian di antara kedip-kedip kursor layar komputer di warnet Wonogiri.

Semua memiliki nada sambung yang sama. Mari kita serbu Djogdja dengan cinta. Kesanalah, keluarga Trah Martowirono di tahun 2009 ini, di lindung suasana Idul Fitri 1430 H, akan berkumpul kembali. Serangan oemoem untuk merekatkan kembali cinta dan suara hati itu, akan segera terjadi. Kita merindukannya !

Pohon perindang. “Pada tahun 2009 ini Trah Martowirono memilih tema spiritual, “Ranting yang berbuah. Kita sebagai anggota Trah Martowirono ibarat suatu ranting dari pohon besar Keluarga Martowirono. Pohon itu adalah pohon yang tumbuh subur dan menjadi perindang bagi tanaman lain yang membutuhkan,” tutur Untung Suripno, selaku Kepala Suku Trah Martowirono.

Pohon itu memiliki ranting yang kuat dan bercabang banyak, lanjutnya. Pohon itu dengan akarnya yang kuat mencari mata air agar ranting yang ada tetap tidak kering dan mampu berbuah lebat. Kita sebagai ranting dari pohon yang besar tentu akan berusaha berbuah.

Buah itu berupa saling memperhatikan bot-repot saudara kita, memberi penghiburan bagi yang bersedih, saling berbela rasa dan menjadi suri tauladan bagi sesama. Harta yang kita miliki bukan satu-satunya kekayaan tetapi perlu dilengkapi dengan budi pekerti yang luhur sehingga kita dapat menjadi jalan berkat bagi orang lain.

Marilah kita sebagai anggota trah dapat menjadi ranting yang berbuah sehingga orang lain dapat menikmati buah yang kita hasilkan. Orang bijak mengingatkan bahwa ranting yang tidak berbuah akan di potong dan di buang ke dalam api. Selamat memasuki tahun 2009, tahun penuh tantangan. Tuhan memberkati kita semua.

Terima kasih, Mas Untung.

Trah kita menyapa dunia. Ranting-ranting pohon Trah Martowirono kini memang semakin menjulur keluar pagar. Bukan dalam konotasi negatif, tetapi merupakan perwujudan dari keinginan agar mampu berguna bagi masyarakat yang lebih luas.

mBah Dung punya dongeng, yang bagi saya kemudian menjadi metafora yang menarik. Dongeng ini saya kira masih membekas pada diri mBak Endang, juga para cucu lainnya. mBah Dung bilang, “kuburkan serpihan potongan dari kuku-kukumu. Serpihan kuku itu bila malam akan berubah menjadi kunang-kunang.”

Waktu saya (Bambang Haryanto) kecil, saat duduk di SD (1961-1966), tentu tidak mempercayai cerita beliau. Walau memang, bila menginap di Kedunggudel, di antara kerlip nyala merah lampu ting terbuat dari botol Brylcreem nampak seliweran puluhan kunang-kunang menari di gelap malam. Ditimpali suara burung hantu, dari pohon besar di kuburan, sebelah selatan rumah beliau.

Rupanya dongeng beliau itu merupakan metafora. Ibarat. Pesan moral yang baru akan diketahui maknanya berpuluh tahun kemudian. Bagi saya, reuni Trah Martowirono, adalah reuni para kunang-kunang. Kalau Mas Untung menyebutkan kita sebagai ranting yang berbuah, sejalan dengannya saya menyandingkannya dengan metafora kunang-kunang.

Karena masing-masing kita memiliki cahaya. Memiliki keindahan. Yaitu ketika kita, eksistensi kita, mampu memiliki dan memberi manfaat bagi banyak orang di sekitar kita.

Kepala suku Indian Kaki Hitam, Crowfoot (c. 1830–1890), sebelum meninggal dunia pada tanggal 25 April 1890, seperti dikutip oleh John Peter Turner dalam bukunya The North-West Mounted Police: 1873–93 (1950), antara lain sempat mengatakan : What is life? It is a flash of a firefly in the night. Apakah hidup itu ? Ia adalah pendar nyala kunang-kunang di waktu malam.

Bersyukurlah. Berbanggalah.

Anda telah membuktikan pendar-pendar nyala dalam kehidupan Anda. Untuk itu, kini saatnya kita menyerbu Djogdja. Untuk berbagi cerita. Setahun sekali, sembari mereguk oasis sebagai insan yang fitri, mari berbagi cerita-cerita kita itu, untuk sesama kita, dengan beragam warna, dalam upaya memayu hayuning buwono.

Almarhum Michael Jackson menyebutnya sebagai upaya heal the world, yang tak lain identik dari niat luhur ajaran mBah Dung kita : membuat diri kita, para keturunan dan keluarganya, mampu membawa dan memberi kemaslahatan bagi dunia.

Kini saatnya kiat membuat heboh. Seperti tahun lalu, 2008, saat Reuni Trah Martowirono XXII di Wonogiri. Bahkan saudara jauh kita pun, ikut pula merayakannya, seperti terekam pada foto di bawah ini.

trah martowirono 2008kajen,wonogiri

Tagline untuk penanda kehebohan tahun 2009 berbunyi : satoe akar beragam krida kita oentoek doenia. One root colourful efforts serve to the world.

(us/bh)

Wednesday, September 02, 2009

Kuis Trah Martowirono Mengguncang Bogor



broto happy w

Berhadiah besar. Foto teroris Noordin M. Top dipasang dimana-mana. Kalau dulu tertera hadiah untuk siapa saja yang mampu memberikan informasi tentang tokoh teroris paling diburu di Indonesia itu. Sekarang hanya foto saja dan ciri-ciri fisik dirinya. Masihkah rakyat kita antusias untuk ikut memburunya ?

Lupakan dulu Noordin M Top. Di Bogor, di Samiaji, foto salah satu warga Trah Martowirono menjadi bahan kuis berhadiah. Untuk meramaikan Samiaji Fair, pesta heboh setiap 17 Agustus. Dilaporkan bahwa warga Samiaji tidak satu pun yang mampu menebaknya saat itu.

Bahkan ada yang berencana meminta tolong bagian identifikasi dari Densus 88 untuk melacak kira-kira siapa warga Samiaji yang memiliki wajah seperti tertera pada foto kiri. Bahkan lab DNA sudah pula disiapkan untuk melacak pula asal-usul garis keturunan dari pemilik foto tersebut.Kalau jadi, para pelacak itu bisa-bisa sampai ke Kedunggudel, Kajen, dan bisa juga keblasuk sampai Tekaran, Tasikmalaya, Tabalong, Gayam, Bantul, Yogya, Perth sampai Polokarto.

Bayangkan. Betapa mengagetkan bila seluruh warga Trah Martowirono diminta potongan kuku atau rambut, guna tes DNA itu. Padahal anak-cucu-cicit Trah Martowirono sudah kerasukan dongeng dari mBah Dung : guntingan kuku yang dipendam, malamnya akan berubah jadi kunang-kunang.Jadi tak boleh diberikan kepada orang lain.

Kunang-kunang bila malam mengeluarkan cahaya. Ada keindahan melihat panorama ribuan kunang-kunang di Kedunggudel di waktu malam. Ditimpali suara burung hantu dari pohon besar, di kuburan, selatan rumah.

Mungkin cerita ajaib tentang kunang-kunang itu isyarat atau pesan tersembunyi dari mBah Dung agar anak, cucu dan cicit, di mana pun berada, agar mampu menjadi penerang, obor, sampai penghibur, bagi masyarakat sekitar. Termasuk bermusik seperti gambar di bawah ini.

samiaji four boys

Samiaji Four Boys. Main voli jago, manjat pinang tahun lalu juara, tarik suara pun OK sehingga komplotan bapak-bapak dari Samiaji 4 ini mampu menyabet juara Lomba Menyanyi Bapak. Bahkan setelah kemenangan itu, topi badut kelompok Sam Four (Samiaji Empat) Boys itu diperkirakan segera menjadi tren di Indonesia, menggantikan baret rasta reggaenya almarhum mBah Surip. Bagian A & R (Acquisition & Recruitment) Musica Studio konon siap merekam kelompok Sam Four Boys itu dalam lagu pilihan “Menang Panjat Pinang.” Judul alternatif : Diomelin Istri, Dasternya Robek Semua !

Tokoh yang membawa nama Trah Martowirono di Bogor, adalah Broto Happy Wondomisnowo , dik Ayu, istrinya, Ega dan Adis, putrinya, telah sukses melakoni itu. Kreasinya telah mampu mengisi pesta 17 Agustus 2009 yang mengobarkan kegembiraan bagi seluruh warga sekitar tempat tinggalnya. Kita semua, ikut berbangga karenanya.

Cerita akan berlanjut ! (BH)


tmw

Sunday, August 30, 2009

Pesta Olahraga Agustusan 2009 : Tradisi Samiaji Berlanjut




warga samiaji bogor, 17 agustus 2009

Prestasi bertahan. Menjadi juara, entah apa pun tingkatannya, memang lebih mudah. Justru yang lebih sulit adalah mempertahankannya. Pameo itu berlaku hingga kini. Mempertahankan gelar juara itu sangat berat dan lebih rumit dibanding ketika pertama kali merebutnya.

Pengalaman itu dialami keluarga besar warga Jalan Samiaji 4, dalam menyambut perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-64 di lingkungan Komplek Bumi Indraprasta, Bantarjati, Kodya Bogor. Tahun lalu, dinobatkan sebagai juara umum, sekarang pun tetap sebagai juara umum.

Photobucket

Juara Lomba Menyanyi Ibu. Pada hari-hari tanggal tua seringkali kaum ibu rajin menyanyi, yang bisa membuat kaum bapak pusing. Tapi kelompok ibu-ibu dari Samiaji 4 menjadi juara karena kekompakan dan dari kemerduan suaranya, hingga membuat terpana anak yang berkaos kuning itu. Anak itu menunggu lagu “Tak Gendong”-nya mBah Surip dinyanyikan.

Hitung-hitung, paling tidak ada enam kemenangan yang disabet anggota keluarga besar Samiaji 4. Yaitu, juara Voli Bapak-Bapak, juara Futsal Anak-Anak, Kontes Keluarga Harmonis, Lomba Menyanyi Bapak, Lomba Menyanyi Ibu, dan Lomba Keindahan/Kebersihan Lingkungan.

“Wah, ini kemenangan yang menggembirakan. Kuncinya adalah rasa kebersamaan warga Samiaji 4 yang demikian kental,” kata Broto Happy.

Photobucket

Tes Snipper Densus 88. Lomba panjat pinang membutuhkan otot lutut kuat dan kerjasama. Karena lomba heboh itu ditiadakan, otot lutut para gladiator Samiaji 4 tetap diuji dalam lomba memasukkan pensil dalam botol. Bila otot lutut tidak stabil, maka peluru pensil itu dipastikan gagal mengunjam sasaran.Konon lomba ini dijadikan syarat untuk mentes kelulusan anggota Densus 88.
Sayang, lomba panjat pinang yang tahun lalu juga dimenangkan tim Samiaji 4, tahun ini batal digelar. Alasannya, tidak mendapat sponsor yang memadai. Seandainya panjat pinang diselenggarakan, naga-naganya juga akan kembali disabet sang juara bertahan.

Maklum, warga Samiaji 4 sudah melakukan persiapan dengan baik. Kostum kemenangan, berupa daster-daster penuh mukjijat, juga sudah dikeluarkan dari peti keramat penyimpanannya. Konon peti ini dijaga ketat siang malam, oleh kapur barus, agar tak hancur digegrogoti ngengat. Bahkan, jauh-jauh hari bapak-bapak Samiaji 4 sudah rajin latihan menguatkan otot-otot bahu, kaki dan tangan.

Cuma tidak latihan di pusat kebugaran, melainkan dengan sering memanjat tiang telepon atau bergelantungan di pohon untuk mendirikan gapura dan memasang berbagai pernik Agustusan, termasuk bendera dan umbul-umbul.

“Wah, sayang banget panjat pinang ditiadakan. Padahal, kita sudah latihan spartan lho,” ujar salah satu warga.

Yang tidak kalah seru, para istri pun bersiap dengan Program “ISTRI SIAGA”. Artinya, para ibu-ibu pun merelakan dasternya bakal koyak atau rusak dan kemungkinan tidak bisa dipakai lagi di rumah. Mereka pun sudah siap siaga untuk menjahit kembali, seandainya dasternya yang robek!

Kembali Kita Juara Voli

juara bola voli 17 agustus 2009

Tim bola voli Samiaji kembali menjadi kampiun. Tahun silam sudah juara Agustusan, tahun ini juara lagi. Apa tidak bosan juara?

“Justru inilah tantangannya. Jangan pernah merasa puas dan berusaha untuk selalu tampil terbaik,” sebut manajer tim voli Samiaji, Suhandi.

Pada pertandingan Agustusan 2009, tim voli Samiaji kembali menjadi kampiun. Dalam tiga kali penampilan, sang juara bertahan ini tidak pernah kalah. Lawan yang sempat menyulitkan adalah tim Arjuna yang memaksa perlawanan hingga tiga set. Itu pun di set ketiga perolehan angkanya begitu jauh.

Penentuan mahkota juara tim Samiaji dipastikan ketika mengalahkan tim Parikesit pada pertandingan yang digelar Senin (20/7). Lewat kemenangan dua set langsung, 25-13 dan 25-19, sudah cukup mengantar tim Samiaji kembali tampil sebagai kampiun.

Modal utama sukses tahun ini menurut Suhandi, adalah berkat kekompakan. Ini yang membedakan dengan tim-tim lain yang terkadang kesulitan untuk mengumpulkan pemain.

Namun tidak dengan tim Samiaji. Setiap hari pertandingan, stok pemain melimpah.
“Ini karena kesadaran warga Jalan Samiaji untuk menyukseskan kegiatan Agustusan demikian tinggi. Sehingga setiap akhir pekan mereka sudi meluangkan waktunya untuk berkumpul dan berolahraga bersama. Makanya, tim Samiaji begitu solid,” aku penggemar berat olahraga ini.

Dari penelusuran, didapat kabar, bahwa sebelum hari H pertandingan, koordinator voli tim Samiaji selalu menyambangi warga untuk ikut berpartisipasi. Dengan pola pendekatan seperti inilah, warga tergerak untuk ikut berlomba. Soal kemampuan dan ketrampilan masing-masing warga disingkirkan lebih dulu.

Hasilnya, materi pemain yang datang ke lapangan selalu berlebih. Pergantian pemain atau rotasi bisa dilakukan dengan mulus. Siapa yang merasa lelah, segera digantikan rekannya yang lebih segar. Dengan pola semacam ini, pantas saja tim voli Samiaji kembali berjaya mengatasi lawan-lawan.

“Inilah kelebihan kita dibanding tim lain. Kita lebih kompak dan lebih komplet pemainnya,” sebut kapten tim Dudung Syamsudin.

Mau tahu siapa materi pemain tim Samiaji yang kali ini menjadi juara? Mereka adalah, Suhandi, Andri, Rudy, Indra, Dudung, Bagus Nugraha, Rozy, Kiki, Suksma, Ruli Rusliawan, Broto Happy, Arpan, Gada Soempena, dll.

Yang lebih heboh saat penyerahan hadiah, Senin, 17 Agustus 2009. Sebagai kampiun, tim Samiaji mendapat kado besar. Isinya, selain hadiah satu set kaus dan peralatan minum, juga lima buah bola voli.

Selamat untuk sang juara!


Pemain Pinjaman Dan Sepatu Ajaib


sepatu tua

Ini bukan cerita Cinderella. Bukan pula kisah Muntadhar al-Zaidi, wartawan stasiun televisi Irak. Meskipun sama-sama mengupas soal sepatu, namun konteks dan romantismenya begitu berbeda.

Sepatu Cinderella tentu akan diingat dan menjadi kisah pengantar tidur bagi anak-anak kita yang tidak akan lekang ditelan zaman. Karena sepatunya –- dan tentu berkat budi pekerti, kerja keras, dan ketabahannya -- dia bisa hidup bahagia bersama pangeran di istana yang megah.

Sementara sepatu yang dilemparkan Al-Zaidi, nyaris mencederai Presiden AS, George W. Bush. Tindakan Al-Zaidi banyak disebut sebagai transformasi kebencian rakyat Irak yang bosan dengan kehadiran tentara Amerika di negara itu yang berlarut-larut hingga enam tahun lamanya. Mereka juga khawatir Irak akan terus dikuasai Iran selepas Amerika Serikat keluar dari negara itu kelak.

Lupakanlah sepatu Cinderella dan Al-Zaidi. Berkat sepatu pula, tim voli Samiaji berjaya. Sepatu merk Adidas putih ini ternyata ikut memberikan sumbangsih besar bagi kemenangan tim Samiaji di lapangan voli acara Agustusan 2009.

Menurut sumber yang menolak disebut jati dirinya, salah satu pemain Samiaji sebenarnya jago main voli, paling tidak untuk tingkat rukun tetangganya. Cuma, karena baru pindahan rumah, perlengkapan sepatu olahraganya belum ikut terbawa. Akhirnya, demi memegang prinsip di mana bumi berpijak, di situlah langit dijunjung, terpaksalah sang pebola voli tampil sebagai pemain pinjaman.

Jadi dipinjam dengan jumlah nilai transfer tertentu, layaknya pemain bola terkenal di belahan bumi Eropa sana?

“Bukan. Maksudnya apa-apa harus pinjam ke tetangga, termasuk sepatu ini,” akunya, dengan terkekeh.

Apalagi, uniknya, sang pemilik sepatu kets ini justru kurang gila berolahraga. Memang sih, kabarnya dulu sempat menekuni olahraga jalan kaki di akhir pekan, namun itu dilakukan sebelum pindah ke Samijai 4. Kini layaknya tukang pijat, tokoh yang satu ini lebih banyak berolahraga memainkan jari-jari tangannya dengan memencet-mencet tuts keyboard mengiringi para tetangga melantunkan suara emasnya.

Inilah apa yang disebut sebagai simbiose mutualisme. Nilai-nilai yang patut diteladani dan dikembangkan. Ada kesediaan berkorban demi menjaga kekompakan dalam sebuah kerjasama dan ujung-ujungnya diharapkan membawa kemenangan bersama.

“Yang tidak bisa bermain voli, tetap bisa berpartisipasi dan berkontribusi. Salah satunya cukup dengan menyumbangkan sepatunya,” sebut kapten tim Samiaji, Dudung Syamsudin.

Tetapi, dari penelusuran ke kubu lawan, sepatu itu layaknya di ring tinju yang membuat lawan KO. Bukan kemampuan dan kenyamanan yang membuat sang pemain menjadi jago, tetapi karena bau yang ditimbulkannya. Maklum, konon, sepatu itu terakhir kena sabun dan air, tiga tahun silam!

Pantesan: hoeeek, hoeeeekk!

Festival Samiaji Meriah

Setelah sukses menggelar Festival Samiaji (FS) 2008, tahun ini warga Samiaji 4 Komplek Bumi Indraprasta, Bantarjati, Bogor, kembali menyelenggarakan hajatan serupa. FS 2009 berlangsung sehari penuh pada Sabtu, 15 Agustus.

“Terima kasih, acara Festival Samiaji 4 tahun ini berjalan sukses dan meriah,” kata Ketua Panitia Festival Samiaji, Gada Soempena.

FS merupakan hajatan dari, oleh, dan untuk warga Samiaji 4 layak ditradisikan. Karena, dari acara ini ternyata banyak manfaat yang bisa dipetik. Tahun ini tema FS adalah, Kita Adalah Satu.

“Karena acara ini terbukti telah memberikan manfaat yang sangat baik dalam menjalin silaturahmi antar warga Samiaji 4, maka FS digelar dengan acara yang lebih seru dan menarik. Ini sesuai tema, bahwa Kita Adalah Satu,” sebut Gada, yang ditemani Wakil Ketua Panitia, Arpan.

Photobucket

Photobucket

Sayangi Air Kita. Kontes akuatik, mengeluarkan bola pingpong dari dalam galon air, melatih kepedulian untuk berhemat air. Kalau banyak air yang tumpah dalam perjalanan, membuat galon tidak penuh dan bola pingpong tidak akan menyembul di mulut galon. Dengan berhemat, kita mampu meraih keberhasilan. Anak-anak dan kaum ibu Samiaji 4 telah menghayati pesan lingkungan itu dalam aksi.

lomba makan krupuk

Tunjukkan Merahmu ! Tahun 2010 diprediksikan lomba makan krupuk setiap tanggal 17 Agustus, akan tidak ada lagi. Karena kerupuk sudah diaku sebagai milik bangsa Malaysia, sehingga bangsa Indonesia harus membeli paten dari negeri jiran itu. Merujuk kekuatiran itu maka bapak (berkaos merah) langsung ikut lomba tahun ini di komplek Samiaji 4. Melihat ekspresinya beliau pantas menjadi kandidat walau mungkin ulah adik kecil (nomor 4 dari kiri) sangat berpotensi menggagalkan ambisi “pak merah” itu menjadi juara.

Acara-acara yang digelar bisa disebut adalah lomba permainan anak-anak seperti lomba mewarnai, lomba makan kerupuk maraton, hingga kontes aquatik, yaitu mengeluarkan bola pingpong dari dalam galon air.

gladys erika septeria

Photobucket

Mengenang masa kecil. Lomba kelereng di atas sendok juga menggoda ibu-ibu Samiaji 4 untuk mengikutinya. Selain mengukur kekuatan rahang dan gigi, juga kestabilan dalam melangkah dan harmoni dalam mengatur pernafasan. Lomba yang tidak mudah, tetapi suatu nostalgia guna mengenang masa kanak-kanak yang indah.

Tak hanya anak-anak yang terlibat (foto atas). Juga ada lomba orangtua, seperti lomba kelereng, memasukkan benang dalam jarum berpasangan, memasukkan pinsil dalam botol parfum, lomba makan tutud (sejenis kerang), hingga lomba nyanyi maraton, dll.

Namun, yang paling heboh ketika berlangsung kuis Tebak Wajah Siapa Dia. Rasanya sulit untuk menebak siapa aktor yang ditampilkan dengan bagian wajah ditutup. Acaranya pun berlangsung ger-geran, penuh kegembiraan.

Misalnya, saat ditampilkan foto anak balita dengan sepeda pun, ternyata sang ayah, Ruli Rusliawan, tidak sadar dan tahu bahwa yang difoto adalah putra bungsunya. Ironisnya, malah anak tetangga yang hanya kadang bertandang ke rumahnya bisa menjawab dengan tepat. Lucunya: padahal foto tersebut juga menempel di pintu kulkas!

Begitu pula ketika ditampilkan foto lama bergambar balita salah satu warga. Semuanya menembak salah. Baru setelah diberi kesempatan lebih lama dan dipandu kata kunci, baru ketebak. Itu adalah foto Broto Happy ketika kecil!

Yang lebih heboh ketika ditampilkan foto keempat. Berupa anak SMA dengan baju seragam putih abu-abu dengan wajah tertutup. Kata kuncinya: Dia sering tampil di televisi, suka menghibur, orang Jawa, dan lengannya berotot. Memang audience sempat bingung dan riuh. Haa….. kemudian banyak yang langsung menebak itu saya.

Padahal ketika ditunjukkan gambarnya utuhnya: jawabnya adalah Tessy, Srimulat! (foto ini didapat dari internet). Haa….. warga senang dan merasa terhibur!


Pembagian Hadiah

pemenang lomba 17 agustus 2009 samiaji bogor

Photobucket



Menyemaikan benih cinta tanah air. Anak-anak Samiaji 4 bersiap menunggu giliran ikut lomba. Beberapa tahun kemudian mereka akan ikut lomba voli atau bahkan lomba panjat pinang, bila saja lomba itu tidak didaku sebagai karya asli bangsa Malaysia. Acara heboh 17 Agustusan akan menyemaikan benih-benih rasa nasionalisme pada diri mereka seperti ditunjukkan dan dicontohkan oleh ayah dan ibu mereka.

Semua menang, semua senang. Selain lomba, yang unik dan menjadi daya tarik adalah pembagian hadiah. Seluruh peserta, mulai dari anak-anak balita hingga orangtua mendapat hadiah. Bahkan, para tamu undangan pun seperti tahun lalu juga kebagian hadiah.

Dalam festival sehari itu disajikan berbagai macam menu tradisional yang mengundang selera. Ada pempek dan tekwan Palembang, nasi liwet, pudding Bogor, empal gentong dan nasi jamblang Cirebon, rendang Padang, soup jagung ala Garut.

Seluruh acara ini terselenggara berkat dukungan PT Nestle, Arnott, Zamharisi, Hyundai, Toppro, Astec, Flypower, Yonex, BPR Syariah, dll. “Terima kasih kepada para sponsor yang ikut mendukung kegiatan Agustusan di komplek kami,” sebut Broto Happy.


Diliput Dan Dimuat Warta Kota


warta kota meliput samiaji 17 agustus 2009

Berkokok prestasi dengan kok. Berbeda dengan warga lain, penghuni Jl. Samiaji 4 bisa disebut sangat kreatif. Itu tak hanya tercermin dari pergaulan dan rasa kekeluargaan yang begitu akrab, tetapi juga dalam menciptakan kreasi-kreasi dalam memperingati dan menyambut HUT Kemerdekaan RI setiap tahunnya.

Sejak 2004, selalu saja hadir kreativitas baru menghiasi ujung jalan Samiaji 4. Dari bangunan berwujud gapura itu, sudah bisa ditebak bahwa penghuninya memang sangat menyukai olahraga bulutangkis. Dari shuttlecock (kok) bekas, dengan sentuhan kreativitas, ternyata menghasilkan sebuah karya yang unik dan menarik.

Layaknya untaian bunga melati atau sakura, susunan ribuan kok itu ternyata bisa diubah menjadi hiasan yang menarik. Untaian ribuan kok itu menjadi daya tarik dan penghias utama gapura. Sebuah kreasi yang sangat langka dijumpai di tempat lain.Sebagai penambah sentuhan yang memresentasikan bahwa warga Samiaji 4 menggilai olahraga bulutangkis, dibuat juga kok raksasa dari bahan matras.

Dan itulah salah satu point of interest bagi pengguna jalan yang melintas di depan jalan Samiaji 4.Jerih payah warga Samiaji 4 ternyata kali ini mendapat apresiasi bagus dari media massa. Secara tidak sengaja, saat berlangsung Festival Samiaji, Sabtu (15/8), melintas dua wartawan dari media ibukota, yaitu Warta Kota dan Berita Kota.

Mereka ini ternyata tengah melakukan tugas jurnalistik untuk meliput kegiatan Agustusan yang unik dan berbeda dengan tempat lain. Kedua wartawan itu begitu tertarik dengan kegiatan dan kreativitas warga Jalan Samiaji 4.

Hasilnya, kehebohan kembali melanda warga Jl. Samiaji ketika membaca koran Warta Kota edisi Selasa, tanggal 18 Agustus. Di halaman 7 muncul liputan tentang gapura unik yang berhiaskan ribuan shuttlecock itu.

“Saya belum melihat kreativitas seperti ini di tempat lain. Warga di sini rupanya begitu kompak dan kreatif,” komentar Soewidia Henaldi, jurnalis Warta Kota.

Informasi terkait :

17 Agustusan 2008 dan Trah Martowirono di Tiga Kota


trah

BH, Buku Dan Laskar Penulis Pakis




Photobucket

Virus Obama. Impian menjadi semakin mendekati kenyataan bila dituliskan. Itulah yang disampaikan oleh Bambang Haryanto ketika menjadi pengompor semangat dalam acara peluncuran buku Kepada Yth. Ibu Negara di Istana Merdeka : 151 Suara Hati dari Anak Puncak Brengos Pacitan, 14 Agustus 2009.


Bertempat di halaman Perpustakan Karang Taruna Satria Bakti, Pakis Baru, pendiri komunitas penulis surat pembaca Epistoholik Indonesia itu menggelorakan hadirin, pelajar dan guru mereka, untuk bersama menyerukan slogan terkenalnya Barack Obama :

Yes, we can !
Yes, we can !
Yes, we can !

Anak-anak penulis surat itu dari desa (foto) di punggung gunung Brengos itu, dimotivasi untuk berkeyakinan bahwa mereka mampu meraih cita-cita mereka setinggi mungkin. “Semakin tinggi cita-cita adik-adik, semakin mudah cita-cita itu akan bisa kalian raih,” kata BH.

BH diundang Diana AV Sasa dari Lembaga Riset dan Penerbitan Indonesia Buku (iboekoe). Diana sebagai penyunting buku kumpulan surat tersebut berasal dari Pakis Baru, tetapi pernah bersekolah SD dan SMP di Wonogiri, kota yang membentuk dirinya menjadi pencinta buku dan juga penulis buku.

bambang haryanto, pakis baru, pacitan, 14 agustus 2009

Bambang Haryanto dan Epistoholik Indonesia-nya “ditemukan” Diana AV Sasa baru-baru saja ini melalui Internet. Tetapi setelah ketemu, ternyata tempat kos Diana itu hanya dibatasi jalan dari rumah BH. Bahkan, keduanya memiliki alma mater yang sama : SDN Wonogiri 3 dan SMP negeri 1 Wonogiri. Ajaib. Kecintaan kepada buku, bisa mempersatukannya.

Informasi terkait :

  • Bambang Haryanto: Membaca dan Menulis Seperti Donor Darah
  • Being Digital Sampai Surat Cinta Berabjad Rusia
  • Inilah 5 Buku Favorit Presiden Epistoholik Indonesia
  • Kaum Epistoholik Punya 5 Blog Tongkrongan
  • Virus Obama Menyebar di Puncak Brengos
  • Surat dari Presiden Rakyat Epistoholik


  • trah

    Thursday, July 30, 2009

    Basnendar, Pagar Gedeg dan Porprov Jateng 2009




    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : humorliner (at) yahoo.com


    Solo, September 2007. Siang itu, sosok Gatutkaca nampak mencabut sesuatu benda dari sabuknya. Jimat saktinya ? Benda kecil itu lalu dalam genggamannya, dan ia segera memencet-mencet tombol yang ada.

    Ia memegang telepon genggam. Saya mendekat dan bertanya : “Apa mau kirim SMS untuk Pergiwati ?”

    Sang Gatutkaca tergelak. Kami, tentu saja, sedang tidak ada di Pringgondani, istana Mas Gatut. Kami ada di Kotabarat, Solo, berhimpun dengan ratusan pelaku dan peraga acara kirab budaya di yang tempat kelahiran saya tersebut. Nampak dalam foto, saya (kanan) dan Mayor mengapit sosok ksatria yang mampu terbang dan konon sekaligus mirip robot dari film fiksi ilmiah Terminator, karena berotot kawat bertulang besi itu.

    Kebetulan saat itu saya ikut di mobil KONI Solo, sebuah truk besar yang didandani oleh Mayor Haristanto, dan tokoh Gatutkaca jadi bintang defile di mobil itu untuk mensosialisasikan dirinya sebagai maskot Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah (Porprov) 2009. Pada bagian kanan kiri mobil itu terdapat spanduk besar, yang antara lain memajang logo Porprov tersebut.

    Sebelum rombongan berangkat dari yang bengkel kerjanya Mayor Haristanto, untuk menuju pos pemberangkatan di Kotabarat saya sempat dijepret kamera oleh Ayu Permata Pekerti saat berpose dengan desainer logo Porprov Jateng itu, Basnendar Herryprilosadoso (kiri).


    Trah mewarnai sejarah. Kini, ketika Porprov Jateng jadi berlangsung, 28 Juli-1 Agustus 2009, tentu saja logo hasil karya Bas itu terpajang di pelbagai lokasi pertandingan dan tempat-tempat strategis di Solo. Walau tidak bertanding di sesuatu arena olahraga, warga Trah Martowirono yang kali ini dari garis keturunan Sukarni-Kastanto Hendrowiharso, mampu ikut memberi warna serta goresan sejarah bagi pesta empat tahunan provinsi Jawa Tengah.

    solopos berita porprov jateng 2009

    Logo karya Basnendar itu telah terpilih dalam sayembara sejak tahun 2007. Diumumkan, 30 Mei 2007. Bas yang sehari-harinya mengajar di ISI Solo, seperti dikutip oleh harian Solopos (21/7/2009) menerangkan bahwa bentuk utama logo yang berupa gunungan dimaksudkan sebagai ikon budaya Jawa. Khususnya Provinsi Jawa Tengah.

    Bentuk tiga lengkungan bermakna tiga elemen penting yang harus selalu bersinergi untuk pengembangan dan peningkatan prestasi olahraga, yaitu atlet, pemerintah dan masyarakat Jawa Tengah. Sedangkan satu garis yang melintas dari ketiga lengkungan tersebut bermakna semangat persatuan dan sportivitas yang harus dijunjung tinggi dalam event olahraga terbesar di Jawa Tengah itu. Sedang maskot Gatutkaca Sejati adalah karya teman sekantor Bas, Aries BM juga dari ISI Solo.

    Kedua pemenang tersebut telah memperoleh penghargaan berupa uang sebesar lima juta rupiah. Dalam pertemuan Trah Martowirono di Polokarto 2007 dan Wonogiri 2008, semua warga Trah Martowirono telah dibocori cerita asyik seputar informasi kemana “larinya” uang hadiah itu.

    Basnendar yang suami Evy tersebut (dalam foto sedang mejeng di kampus Bas, ITB Bandung) telah menceritakan kepada kepada warga Trah Martowirono : untuk membiayai pembuatan pagar rumahnya di kawasan Mojosongo. Yang semula terbuat dari bambu dan gedeg, kini tampil menawan dengan pagar terbuat dari logam.

    Belum diketahui apakah dalam pagar tersebut nantinya akan ditambahi dengan ornamen berupa logo Porprov Jawa Tengah 2009 tersebut. Apabila Anda ingin berkonsultasi mengenai pembuatan logo, corporate identity, Anda bisa kontak Basnendar di : basnendart@yahoo.com.


    Wonogiri, 31/7/2009


    tmw

    Thursday, April 23, 2009

    Stuart Bruce, Nurdin Halid, Sepakbola Indonesia




    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : humorliner (at) yahoo.com


    Tsunami sepakbola. Mie mentah dan dingin campur saus plus sambal. Itu salah satu menu sarapan saya pagi itu. Ini kesalahan pemula. Kesalahan wong ndeso di kota metropolis Singapura. Karena saya tidak sadar bahwa di dekat nampan mie itu ada kompor gas kecil yang diatasnya terdapat kuali tembikar berisi kuah panas untuk menjerang mie tadi. Maklum saja, saya bukan ahli gastronomi.

    Sambil sarapan, saya membuka-buka majalah Newsweek edisi terbaru. Salah satu kolomnya ditulis editornya yang cemerlang, Fareed Zakaria. Hari itu, 17 Januari 2005, hanya berselang tiga minggu setelah tsunami dahsyat menghantam Aceh dan negara-negara di tepian Samudera Hindia.

    Fareed Zakaria menulis, dalam setiap kejadian bencana, fihak yang diuntungkan adalah justru kaum papa. Kaum miskin. Mereka terbiasa tidak memiliki apa-apa dan sesudah bencana, mereka kembali juga tidak memiliki apa-apa. Tetapi, lanjutnya, bencana tsunami 2004 itu lain. Kaum miskin kali ini juga sangat merasakan akibat fatalnya.

    Beberapa hari sebelumnya, saya memimpikan adanya sesisir penghiburan bagi para korban tsunami, juga bagi psyche bangsa Indonesia saat itu. Melalui sepakbola. Di final Piala Tiger 2004. Di semifinal tim kita bisa menghancurkan Malaysia 1-4 di kandang mereka, sungguh menggelorakan.

    Tetapi dalam pertandingan final leg pertama di Senayan, 8/1/2005, kita kalah ditekuk Phill Bennet dan kawan-kawan dari Singapura dengan 1-3. Gol tembakan bebas Mahyadi Panggabean tidak menyelamatkan saya, yang duduk di pinggir lapangan, karena nyaris dihantam bom botol air mineral berisi air kecing kekuningan yang dilemparkan oleh penonton kita yang frustrasi dari tribun stadion.

    “Heal the nation.” Itulah bunyi spanduk besar, rancangan saya dan Mayor Haristanto, yang pada tanggal 16/1/2005, terpampang di sudut timur laut Stadion Kallang, Singapura. Tergurat di sana harapan, melalui sepakbola sembuhkan luka bangsa Indonesia akibat bencana tsunami, dan bangkitlah Indonesia untuk meraih kemenangan dan kejayaan. Kita kalah lagi, 1-2. Agregat : 2-5 untuk kejayaaan Aedi Iskandar dan kawan-kawan dari Negeri Singa itu. Tsunami sepakbola Indonesia kali ini membawa dampak lebih jauh. Mengalir kepedihan sampai kini.

    Sepakbola fantasi. Esoknya, ada sedikit penghiburan. Koran utama Singapura, harian The Straits Times (17/1/2005) memuat ucapan saya. Bahwa saya masih punya optimisme terhadap masa depan sepakbola Indonesia. Saya masih mempercayai bahwa Peter Withe, pelatih timnas saat itu, akan mampu membuat timnas kita kembali berjaya.

    Optimisme saya itu mungkin optimisme buta. Saya hanya menganalogikan sukses yang dicapai oleh Peter Withe (sampai saya membuat kaos dengan slogan : I Believe The Withe Magic !) ketika melatih tim Thailand, akan juga berbuah sukses ketika melatih Ponaryo Astaman dan kawan-kawan.

    Ketika Peter Withe pergi, ketika Nurdin Halid masuk penjara karena tindak pidana korupsi dan ketika Nurdin Halid keluar dari penjara tetapi ia bersama kroninya tetap bersikukuh ingin memegang kendali PSSI, saya kali ini sudah putus harapan. Melalui stasiun televisi antv, beberapa hari lalu, tiba-tiba saya melihat siaran berisi acara peringatan HUT ke-79 PSSI.Dengan tajuk “PSSI Fantasy.” Maka saya pun segera semakin tahu kini : sepakbola Indonesia adalah sepakbola fantasi.

    Fantasi-fantasi itu, khayalan demi khayalan itu, memang yang hidup di kepala para pengelola persepakbolaan Indonesia. Berkhayal dengan mengirimkan tim berlatih ke luar negeri akan mampu mendongkrak prestasi. Rumus lama yang selalu didaur ulang walau hasilnya semata kegagalan selama ini. Lalu berkhayal sebagai penyelenggara Piala Dunia 2018 atau 2022. Termasuk mungkin berkhayal, bahwa saat itu ketua PSSI tetap digenggam oleh Nurdin Halid beserta kroni-kroninya.

    Mana aksi suporter kita ?. Tulisan Fareed Zakaria, juga cerita yang sering saya ulang mengenai final Piala Tiger 2004 di atas, muncul di benak lagi ketika ngobrol dengan Stuart Bruce. Ia suporter fanatik klub papan atas Skotlandia, Glasgow Rangers. Tempat ngobrolnya : Wonogiri, Kamis, 23 April 2009.

    “Sebagai seorang Scotland, Stu itu Rangers sejati, sampai ke tulang dan darahnya :),” demikian bunyi sms dari Ade Soediro, eksekutif Radio Istara FM, Surabaya. Ade adalah tunangan dari Stuart Bruce (foto). Bagaimana ceritanya seorang suporter Glasgow Rangers bisa main ke Wonogiri ? Keajaiban itu bisa terjadi berkat blog di Internet, karena Google, terutama karena keagungan cinta. Hal ini bisa menjadi cerita tersendiri, termasuk menyangkut naskah buku saya Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati.

    Stu kini tinggal di Manchester, Inggris. Sebagai seorang billy boys, sebutan bagi suporter Glasgow Rangers, ia pernah melanglang daratan Eropa. Juga sebagai seorang tartan army, sebutan bagi pendukung timnas Skotlandia. Suporter dari bangsa yang kaum prianya suka mengenakan rok kilt dan berbaris meniup alat musik bagpipe ini, tersohor tergolong sebagai kelompok suporter paling suportif dan sopan di Eropa.

    “The Tartan Army,” kata saya, “ dan juga Roligans dari Denmark, adalah kelompok suporter sepakbola yang perilakunya ingin menjadi suri tauladan kelompok suporter Indonesia.” Karena mereka bersahabat. Saat itu di pojok ruang tamu rumah saya, komputer sedang memutar CD saat kedatangan Pasoepati disambut meriah, gairah dan persahabatan, di tengah gemuruh Aremania di Stadion Gajayana, Malang, 21 Mei 2000. Saat itu tepat satu tahun reformasi di Indonesia !

    Stuart Bruce, yang pernah menjadi dosen Sastra Inggris di Unika Sugiyopranoto Semarang, kini mendukung tim divisi 3 Stockport City di Manchester. “Kalau tur keluar kota, saya yang menjadi supir truk untuk membawa rekan-rekan suporter itu,” katanya bangga dan bahagia. Pengalaman hidupnya mendukung tim Skotlandia dan juga Glasgow Rangers yang diakuinya kurang bersinar di kancah Eropa, memberinya kebijakan dan kearifan. “Sebagai suporter tim lemah itu nothing to lose, kita terbiasa mengalami kekalahan, maka kita berusaha menikmati saja proses dan bukan hasilnya,” katanya sambil tertawa.

    bambang dan stuart bruce
    Suporter sepakbola itu bersaudara. Keajaiban blog, Google, Internet dan keagungan cinta, membawa seorang suporter Glasgow Rangers, Skotlandia, berkunjung ke Wonogiri. Saya dan Stuart bersama kaos tim Glasgow Rangers.

    Terima kasih, Stuart. Dalam kunjungan ini Stuart Bruce “membaptis” saya sebagai salah satu bluenoses, sebutan sesama suporter Rangers, asal Wonogiri. Hadiahnya, kaos biru berplisir merah dari yang pernah dikenakan Giovanni van Bronckhorst, keturunan Maluku Selatan dan timnas Belanda sampai Andrei Kanchelskis, pemain sayap Rusia dan mantan MU itu, kini bisa yasa kenakan. Kepada Stuart Bruce, saya berikan buku kliping sejarah Pasoepati dan dokumentasi tur-tur Pasoepati dalam bentuk CD.

    “Congrats ! Selamat menjadi fans baru Rangers !,” lagi-lagi sms dari Ade Soediro dan Stuart Bruce dalam perjalanan kereta api Solo-Surabaya. Mungkin Ade dan Stu lupa, rumah saya pun sudah lama menandakan sebagai fans Rangers. Pagar, daun jendela dan daun pintu, semuanya berwarna : biru Rangers. Kedatangan tak terduga dari Stuart dari Glasgow akhirnya itu ibarat sebuah siklus yang sempurna. Karena pada tahun 2007, Broto Happy W., redaktur sepakbola nasional dari Tabloid BOLA, yang adik saya, pernah mengunjungi Ibrox Stadium, markas besar klub Glasgow Rangers.


    Teladan Gandhi. Teman-teman baru saya itu kini memang sudah meninggalkan Wonogiri. Tetapi ucapan Stuart Bruce masih membekas. Bahwa proses itu penting, walau hasil juga penting. Perjalanan itu penting, tujuan juga penting.

    Menurut hemat saya, insan-insan pemangku kepentingan sepakbola Indonesia harus mau banyak belajar dari pengalaman hidup Stuart Bruce tadi. Menurut hemat saya, kita selama ini semata terobsesi untuk merengkuh hasil tetapi melupakan proses. Bahkan demi merengkuh hasil itu kita tega berbuat menghalakan segala cara, bahkan sampai melakukan tindakan kriminal.

    Contoh aktual : aksi mengutak-atik bunyi peraturan FIFA oleh para petinggi PSSI kita, apakah juga perbuatan yang menghalalkan cara, sekaligus sebagai tindak kriminal ? Mungkin ikhtiar semacam ini bisa lolos. Tetapi hasil akhirnya akan dicatat oleh semesta, dan hanya kegagalan yang menyapa pada ujung-ujungnya.

    Di tengah carut-marut tindak rekaculika itu, lalu di mana suara para suporter sepakbola Indonesia ? Kalau upaya meluruskan apa yang terjadi dalam tubuh PSSI saat ini dilakukan dengan cara seperti melakukan demo, justru cara seperti ini yang “ditunggu” oleh mereka. Apalagi kalau ada tindak kekerasan. Kita para suporter akan terjebak dalam alunan gendang aksi mereka.

    Rekan-rekan suporter, beraksilah dengan metode di luar kotak. Tirulah cara Mahatma Gandhi (1869-1948) dalam menanggapi tindak kekejaman kolonial Inggris saat itu ketika India menjelang kemerdekaannya. Gandhi menyerukan pendukungnya untuk melakukan aksi anti kekerasan. Salah satu aksinya yang terkenal adalah satyagraha, aksi non-koperasi dengan penguasa sipil. Kalau seluruh suporter Indonesia kompak, melupakan dulu konflik semu antarkota, meminggirkan primodialisme, demi masa depan sepakbola Indonesia di tataran terhormat sepakbola dunia, kita mungkin mampu merubah keadaan.

    Ketika memperingati sewindu Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2008, bersama rekan-rekan suporter Solo, saya merancang melakukan aksi demo berdiam diri di Gladag, Solo. Pesannya adalah, untuk memprotes pengelolaan sepakbola Indonesia saat ini, menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan : tidak menonton pertandingan sepakbola Indonesia.


    Wonogiri, 24 April 2009